NovelToon NovelToon
The Kings And The Woman

The Kings And The Woman

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lilly✨

Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.

"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Setelah perbincangan mereka, kesalahpahaman usai.Cassandra sering sekali pergi mengunjungi mansion Selena di inggris, Lebih tepat nya itu adalah mansion yang diberikan oleh ratu untuk nya dan pelayan yang di bayar oleh istana.

Terkadang mereka juga bermain catur di taman Selena, menikmati hari hari mereka, meskipun banyak pekerjaan Cassandra dia tetap ingin menyampingkan nya dan bersama dengan Selena.

"Argh!! Selena bagaimana kau bisa hebat bermain catur!?"ujar Cassandra memegang kepala nya seperti tidak habis pikir.

Selena menarik senyum kecil nya dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya.

"Cassandra, kau terlalu ceroboh dalam melindungi rajamu," ujar Selena dengan nada tenang, matanya menatap papan catur di hadapannya.

Cassandra mendengus kesal. "Kau selalu mengatakan itu, tapi tetap saja aku tidak bisa mengalahkanmu! Aku bahkan sudah belajar dari grandmaster kerajaan!"

Selena tersenyum kecil, lalu mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya dengan elegan. "Mungkin kau hanya perlu lebih sabar, Cass. Catur bukan hanya tentang strategi, tapi juga kesabaran dan ketenangan."

Cassandra menyandarkan kepalanya ke meja dengan wajah frustrasi. "Ugh… aku menyerah. Apakah karena kau seorang penasihat?."

Selena tertawa pelan. "Jangan berlebihan. Jika kau terus berlatih, mungkin suatu hari kau bisa mengalahkanku."

Cassandra mendongak dengan mata berbinar. "Benarkah?"

"Tentu saja."

Hari itu berlanjut dengan tawa dan percakapan ringan di bawah sinar matahari yang hangat. Meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, persahabatan mereka terasa alami—seperti dua jiwa yang saling melengkapi dalam dunia yang penuh dengan intrik dan tanggung jawab.

London, Inggris – Mansion Selena

Selena berdiri di dekat jendela besar kamarnya, memandang ke luar dengan tatapan kosong. Di luar, langit London tampak mendung, dan hujan gerimis mulai turun, membasahi taman luas di halaman mansionnya.

Tangannya perlahan meraba dadanya, merasakan detak jantung yang sedikit tidak teratur. Rasa nyeri halus menjalar di sana, tidak terlalu menyakitkan, tapi cukup untuk membuatnya merasa tidak nyaman.

Dia menghela napas pelan sebelum melangkah menuju meja kecil di samping ranjangnya. Dengan gerakan tenang, dia mengambil ponselnya dan menekan nomor yang sudah sangat dikenalnya.

Nada sambung berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya sebuah suara terdengar dari seberang.

“Selena? Jarang sekali kau menghubungiku lebih dulu. Ada apa?”

Selena tersenyum tipis, mengenali suara pria itu—teman kakaknya sekaligus seorang dokter spesialis jantung yang pernah menangani operasinya.

“Aku ingin menanyakan jadwal pemeriksaanku,” katanya langsung ke inti pembicaraan. “Bisakah kau melihat apakah ada jadwal yang kosong dalam waktu dekat?”

Hening sesaat di seberang sana sebelum pria itu menjawab, suaranya lebih serius. “Kau merasa tidak enak badan?”

Selena menggigit bibirnya, sedikit ragu untuk mengakui. “Tidak terlalu buruk… hanya sedikit nyeri di dada. Tidak parah, tapi aku rasa lebih baik diperiksa.”

“Selena…” suara pria itu terdengar sedikit khawatir. “Kau tidak boleh mengabaikan gejala sekecil apa pun, apalagi dengan riwayat jantungmu. Kau masih sering merasa lelah atau mengalami sesak napas?”

Selena menghela napas sebelum mengakui, “Kadang-kadang. Tapi aku pikir itu hanya karena aku terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini.”

“Itu bukan alasan untuk mengabaikannya.” Nada suara pria itu berubah lebih tegas. “Aku akan mengatur jadwal pemeriksaan untukmu di rumah sakit kami di Kairo. Aku ingin kau datang secepat mungkin.”

“Kairo?” Selena mengernyit.

“Ya, aku sedang bertugas di sana untuk beberapa minggu ke depan. Aku ingin memeriksamu secara langsung.”

Selena terdiam sejenak, menatap jendela dengan tatapan menerawang. Mesir…

“Aku mengerti,” akhirnya dia berkata. “Aku akan mengatur perjalanan ke sana.”

“Bagus. Jangan menunda-nunda, Selena.”

Setelah beberapa kata perpisahan, panggilan pun berakhir.

Selena meletakkan ponselnya kembali di meja, lalu menyandarkan diri ke kursi. Dia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan perasaan tidak nyaman di dadanya.

Keesokan harinya -

"jika Cassandra mengunjungi mansion, katakan saja aku pergi ke Yunani sebentar,karena ada urusan keluarga."ujar nya membuka pintu mobil.

"Baik..madam."balas pelayan memberikan hormat nya

Setelah perpisahan dia mematikan ponselnya dan menghela nafas nya.

Pesawat -

Selena duduk di kursi first-class pesawat yang membawanya ke Kairo. Di luar jendela, hamparan awan putih terlihat sejauh mata memandang, sementara langit biru membentang luas.

Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, mencoba rileks, tapi pikirannya terus berputar. Rasa nyeri di dadanya memang tidak sekuat sebelumnya, tetapi dia tahu lebih baik untuk tidak mengabaikannya.

Seorang pramugari datang menghampirinya dengan senyum ramah. "Miss Selena, apakah Anda memerlukan sesuatu?"

Selena menggeleng pelan. "Tidak, terima kasih."

Namun, begitu pramugari pergi, tangannya tanpa sadar kembali menyentuh dadanya. Jantungnya berdetak stabil, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Kairo, Mesir – Rumah Sakit Internasional Al-Qasr

Selena menatap jendela besar di samping tempat tidurnya, melihat matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala kota Kairo. Cahaya keemasan membias di gedung-gedung tua dan sungai Nil yang mengalir tenang di kejauhan.

Mesir... Sekarang dia kembali ke sini, tapi dalam keadaan yang berbeda.

Dulu, dia menjelajahi tanah ini sebagai seorang pengelana waktu, menyaksikan kejayaan Mesir kuno. Sekarang, dia datang sebagai pasien, mencari jawaban tentang kesehatannya yang semakin rapuh.

Pintu kamar rumah sakit terbuka, dan seorang pria berjas putih masuk dengan berkas di tangannya. Wajahnya tegas namun ramah, dengan sorot mata yang penuh perhatian. Dia bukan sekadar dokter biasa—dia adalah teman kakaknya, seorang spesialis jantung ternama

“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanyanya sambil meletakkan berkas di meja kecil di samping tempat tidur.

Selena menoleh dan tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah.”

Pria itu menghela napas kecil sebelum menarik kursi dan duduk di dekatnya. “Selena, kau tahu aku tidak akan percaya jawaban seperti itu begitu saja.”

Dia tertawa kecil, tapi tidak membantah.

Dokter itu membuka berkasnya, membaca hasil pemeriksaan terbaru. “Hm... sebaiknya kau jangan terlalu memaksakan diri. Operasi jantungmu satu tahun yang lalu berjalan sukses, tapi tubuhmu masih butuh waktu untuk benar-benar pulih. Kau harus lebih berhati-hati.”

Selena menunduk, jemarinya saling menggenggam erat. “Aku tahu. Tapi... aku merasa tubuhku baik-baik saja. Aku hanya sedikit kelelahan karena perjalanan panjang.”

Dokter itu menutup berkasnya, menatapnya lekat-lekat. “Selena, tubuhmu mungkin terlihat baik-baik saja di luar, tapi jantungmu masih rentan. Aku tahu kau tidak suka dikekang, tapi kau harus lebih memerhatikan kondisimu. Apalagi dengan tekanan yang sering kau hadapi.”

Selena terdiam. Dia tahu pria ini benar. Sejak operasinya tahun lalu, dia sering merasakan kelelahan mendadak, sesak napas ringan, bahkan terkadang jantungnya berdebar lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Tapi dia selalu mengabaikannya, berpura-pura semuanya baik-baik saja.

“Tapi aku tidak bisa hanya duduk diam,” gumamnya pelan. “Aku tidak ingin merasa seperti orang sakit sepanjang waktu.”

Dokter itu menghela napas, lalu tersenyum sedikit. “Aku tidak meminta kau berhenti menjalani hidupmu, hanya saja... berjanjilah padaku, Selena. Jangan memaksakan diri. Jika tubuhmu memberi tanda-tanda kelelahan, beristirahatlah. Jangan abaikan kesehatanmu.”

Selena menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Aku mengerti.”

Dokter itu bangkit, merapikan jasnya. “Baik. Aku akan mengatur jadwal pemeriksaan lanjutan besok. Untuk sekarang, istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir.”

Saat pria itu berjalan menuju pintu, Selena menatap cincin di jarinya."Hei Elias... Seperti nya kau sangat betah dengan Mesir ini,ya?."kata Selena menatap pria itu.

pria itu, mengangkat kaca mata nya dan menjawab,"sungguh kalimat yang ambigu."lalu dia melakukan Kalimat nya dan berkata,"Kenapa tidak menginap di apartemen ku saja? kebetulan besok hari libur...kenapa tidak berjalan jalan di Mesir?."tanya Elias menyilangkan kedua tangannya di dada.

"baiklah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!