Dimalam pengantin yang seharusnya sakral ternyata menjadi mimpi buruk bagi Luna dimana ia melakukan ritual olahraga pertamanya dengan adik iparnya yang bernama Damian.
Suami Luna yang bernama Sebastian langsung menjatuhkan talak kepada Luna.
Orang tua Luna sangat murka dan ia meminta Damian untuk menikah dengan Luna.
Luna berjanji akan membalas dendam kepada Damian yang sudah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Luna meminta Jayden untuk menghentikan mobilnya di dekat perusahaan Jayden.
"Luna, kenapa kamu minta berhenti di sini?" tanya Jayden.
"Aku tidak mau membuat karyawan lain iri akan kedatanganku yang tiba-tiba muncul dan menjadi sekretaris." jawab Luna.
Luna meminta Jayden untuk berpura-pura tidak mengenalinya.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan." ucap Jayden yang kemudian melajukan mobilnya menuju ke parkiran.
Luna melanjutkan dengan berjalan kaki menuju ke perusahaan Jayden.
Sesampainya di perusahaan Luna langsung menuju ke ruang resepsionis.
"Selamat pagi, apa ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis yang mempunyai nama Emerald.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Jayden." jawab Luna yang juga memberitahukan kalau ia sudah buta janji untuk bertemu dengan Jayden.
Emerald menghubunginya Jayden untuk memberitahukan kalau Luna ingin bertemu dengannya.
"Baik Tuan Jayden." Emerald meminta Luna untuk naik ke lantai 7.
Luna segera masuk kedalam lift dan ia menekan tombol nomor 7.
Setelah sampai di lantai 7 Luna berjalan menuju ke ruangan Jayden.
Banyak sorot mata yang melihat Luna masuk ke dalam ruangan Jayden.
Luna mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Jayden.
"Aku kira kamu tadi tersesat." ucap Jayden sambil tersenyum tipis.
"Bagaimana bisa aku tersesat kalau kamu menurunkan aku dekat dengan perusahaanmu." ujar Luna yang kemudian bertanya tentang dimana ruangan kerjanya.
Jayden memanggil Edward agar mengambil meja dan kursi untuk Luna yang akan bekerja di satu ruangan yang sama
Edward memanggil beberapa OB untuk membawa meja dan kursi.
Beberapa karyawan berbisik-bisik dan mengatakan kalau tidak seperti biasanya Jayden menaruh sekretarisnya di ruangan yang sama.
"Jangan-jangan dia wanita penggoda." ucap Sherly yang tidak suka dengan Luna yang langsung mendapatkan tempat istimewa dari Jayden.
Sudah lama Sherly menyukai Jayden, tetapi ia tidak punya keberanian untuk mengatakannya.
Sejak kematian istri Jayden, Sherly mencoba untuk mendekati Jayden, tetapi selalu gagal.
"Sepertinya ada yang patah hati nih." ledek Kimberly sahabat Sherly.
Sherly mendekati Kimberly dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
Kimberly menganggukkan kepalanya dan ia setuju dengan Sherly.
Setelah meja dan kursi di tata di samping meja kerja Jayden.
Luna mulai menghidupkan laptopnya dan ia mulai mengerjakan pekerjaannya.
Satu jam berlalu Luna melihat Jayden yang sedikit mengantuk.
"Apakah Tuan Jayden mau kopi?" tanya Luna.
Jayden menganggukkan kepalanya dan setelah itu Luna bangkit dari duduknya.
Luna keluar dari ruangan dan berjalan untuk mencari pantry.
Ia melihat ada tulisan pantry di dekat gudang dan segera ia masuk untuk membuat kopi.
Disaat sedang membuat kopi tiba-tiba Sherly dan Kimberly datang.
"Siapa nama kamu dan punya hubungan apa kamu dengan Tuan Jayden?" tanya Kimberly dengan nada sinis.
"Namaku Luna dan hubunganku dengan Tuan Jayden sepertinya kalian tidak perlu tahu." jawab Luna yang tidak suka dengan pertanyaan Kimberly.
Ditambah lagi dengan kelakuan Sherly yang bermain-main dengan rambut Luna.
Sherly meminta Luna untuk menjauh dan tidak menggoda Jayden kekasihnya.
Luna mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan Sherly.
"Kalau punya kekasih seharusnya dijaga dong." ucap Luna yang langsung keluar sambil membawa secangkir kopi.
Luna berjalan sambil bergumam sendiri sampai ia tidak sadar jika Jayden berdiri dihadapannya.
"Kamu kenapa?" tanya Jayden.
"Tidak kenapa-kenapa." jawab Luna yang langsung meletakkan kopi ke atas meja Jayden.
Luna kembali mengerjakan pekerjaannya tanpa mengajak bicara Jayden.
Ia tidak mau di hari pertamanya bekerja malah membuat Jayden bertengkar dengan Sherly.
Jam menunjukkan pukul lima sore dan Jayden mengajak Luna untuk pulang.
"Jayden, sepertinya aku naik taksi saja. Aku tidak mau kekasih kamu marah." ucap Luna yang kemudian mengambil tasnya.
Jayden langsung mengunci pintu ruang kerjanya dan menutup tirai.
"Apa maksud kamu Luna? Kekasih siapa?" tanya Jayden yang bingung dengan perkataan Luna.
Luna menghela nafasnya dan menceritakan semuanya tentang pertemuannya dengan Sherly saat di pantry.
"Aku tidak mau di hari pertama kerja sudah mendapat masalah seperti ini." ucap Luna yang tidak enak dengan Jayden yang sudah menolongnya.
"Luna dengarkan aku, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Sherly. Setelah istriku meninggal dunia aku tidak dekat dengan wanita manapun." ujar Jayden.
Jayden mengajak Luna pulang dan ia akan menjelaskan semuanya kepada Luna tentang siapa dirinya.
Setelah itu Jayden membuka kunci ruangan kerjanya dan mengajak Luna untuk pulang.
Sherly dan Kimberly melihat Luna yang masuk ke dalam mobil Jayden.
"Sepertinya kita harus memberikan pelajaran kepada wanita itu." ucap Kimberly.
"Lihat saja besok aku pasti akan membuatnya keluar dari perusahaan ini." Sherly mengajak Kimberly untuk masuk ke dalam mobil.
Sementara itu sebelum pulang ke rumah Jayden mengajak Luna mencari makan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Jayden.
"Bagaimana kalau kita makan steak." jawab Luna.
Jayden menganggukkan kepalanya dan ia melajukan mobilnya menuju ke restoran mewah yang menyediakan steak.
Sesampainya di restoran mereka langsung disambut oleh pemilik restoran.
"Selamat datang Tuan Jayden, kami sudah menyiapkan ruangan khusus untuk anda."
Jayden menggandeng tangan Luna dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.
"Seharusnya kita tadi pulang dulu." ucap Luna dengan suara lirih.
"Tidak apa-apa, aku suka seperti ini." ujar Jayden.
Jayden meminta pelayan untuk menyiapkan semua makanan yang ada disini.
Sambil menunggu pesanan mereka, Jayden mengajak Luna mengobrol.
Jayden mengambil dompetnya dan ia mengambil foto mendiang istrinya.
Luna langsung membelalakkan matanya saat melihat wajah mendiang istri Jayden yang sangat mirip dengannya.
"K-kenapa wajahnya mirip sekali denganku?" tanya Luna.
"Entahlah, Pertama kali waktu kamu menyelamatkanku. Aku kira kalau aku sudah berada di surga." jawab Jayden.
Jayden mengatakan kalau istrinya yang bernama Michelle meninggal dunia karena kecelakaan dengan Dilan.
"D-dilan? Dilan kakak Ayana?"
Jayden menganggukkan kepalanya sambil meneteskan air matanya.
Luna langsung memeluk tubuh Jayden dan memintanya untuk mengikhlaskan kepergian Michelle.
"Apakah kamu dan Michelle saudara kembar?" tanya Jayden.
"Aku anak tunggal dan sepertinya Michelle bukan saudara kembarku." jawab Luna.
Jayden menatap wajah Luna yang sedang tersenyum kepadanya.
Tak berselang lama makan mereka berdua telah dihidangkan.
Jayden meminta Luna untuk menikmati steak dan makanan lainnya yang sudah ia pesan.
"Steak ini enak sekali Jayden." ucap Luna yang baru pertama kali menikmati steak yang sangat enak.
"Selera kita sama Luna." ujar Jayden yang kemudian melanjutkan makannya.
Jayden merasa bahagia melihat Luna yang sudah tidak seperti kemarin.
Setelah selesai makan Jayden mengajak Luna untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Edward membisikkan sesuatu ke telinga Jayden.
"Luna, lekaslah istirahat. Aku masih ada urusan sebentar." ucap Jayden yang kembali masuk kedalam dalam mobil bersama dengan Edward.
Luna melihat Jayden yang melajukan mobilnya sekencang mungkin.
"Apa ada masalah di perusahaan?" gumam Luna yang tidak tahu jika ada penyusup di gudang senjata milik Jayden