Laura benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi dengan Kakak angkatnya Haidar. Ini benar-benar petaka untuknya, kenapa bisa dia muncul lagi dalam hidupnya.
Ini sudah 5 tahun berlalu, kenapa dia harus kembali saat Laura akan menjalani kisah hidup yang lebih panjang lagi dengan Arkan. Ya Laura akan menikah dengan Arkan, tapi kemunculan Haidar mengacaukan segalanya. Semua yang sudah Laura dan Arkan rencanakan berantakan.
"Aku benci padamu Kak, kenapa kamu tak mati saja" teriak Laura yang sudah frustasi.
"Kalau aku mati siapa yang akan mencintaimu dengan sangat dalam sayang" jawab Haidar dengan tatapan dinginnya tak lupa dengan seringai jahatnya.
Bagaimana kah kisa selanjutnya, ayo baca. Ini terusan dari Novel Berpindah kedalam tubuh gadis menyedihkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn dewi88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laura di culik
Hari pernikahan yang selama ini Arkan dan Laura tunggu tunggu akhirnya sampai juga hari ini, namun entah kenapa Laura begitu gelisah. Takut semua kejadian yang terjadi beberapa Minggu yang lalu Kakaknya Haidar akan datang.
Banyak surat yang datang, ancaman, hadiah, pesan yang meneror dirinya. Bahkan Minggu lalu Andi juga terkena teror semua keluarga kena juga. Kaca kamar Andi pecah dan membuat serpihan kaca itu jatuh dan melukai kaki Andi. Sungguh terornya itu begitu keterlaluan.
Semalam juga Laura mendapatkan surat dan makin membuat nya takut saja kalau pernikahannya ini akan gagal. Ini adalah impian terbesar dirinya untuk menikah dengan Arkan dan memiliki keluarga kecil.
Laura membuka surat kemarin yang isinya.
Sayang tunggu aku, kita akan menikah besok aku yang akan menjadi pengantin prianya bukan Arkan. Aku jamin hidupmu akan bahagia denganku dan aku tak akan pernah mengusik lagi kehidupan keluarga dirimu itu.
Asalkan dirimu ada di sampingku, mereka akan aman tunggu pangeran mu ini Laura. Lihat saja besok apa yang akan terjadi di pernikahan kamu dan Arkan.
Laura meremas surat itu dan membuangnya dengan sembarangan, tersenyum pada Anya yang datang menemuinya. Dia sudah sembuh dan tak takut lagi keluar.
Anya langsung memeluk Laura dengan erat "Aku bahagia sekali kamu akhirnya menikah juga dengan Arkan. Penantianmu akan segera tercapai Laura, kamu sangat cantik sekali aku ingin menangis" Anya melepaskan pelukannya, mengipas-ngipas dekat matanya agar air mata tak keluar.
"Aku hanya akan menikah Anya, bukan pergi jauh" ucap Laura dengan senyum kecil, mencoba untuk tak membuat keluarganya khawatir dengan kegelisahannya ini.
"Tetap saja, kita tak akan serumah lagi kamu akan bersama Arkan. Dirumah pasti akan sepi"
"Aku akan sering-sering menginap nanti"
Anya dengan semangat menganggukkan kepalanya, saat akan kembali berbicara pintu terbuka kembali dan datang Ayah. Anya yang tak mau menganggu pembicaraan mereka izin keluar dari kamar pengantin.
Ayahnya tersenyum dengan lebar, Laura juga sama ikut tersenyum saat melihat kebahagiaan Ayahnya. "Kamu cantik sekali seperti Ibumu Laura, kalau dia ada disini pasti akan sangat bahagia melihat putri satu-satunya akan menikah"
"Kalau saja ya Ayah"
Ayahnya menundukkan kepalanya dan mengusap air mata yang terjatuh "Ayah begitu bahagia masih bisa mendampingi kamu menikah, kalau saja Ayah telat menyadari kesalahan Ayah dan tidak minta maaf sama kamu Ayah tak akan pernah ada di posisi ini Laura. Ayah begitu menyesal telah memperlakukan kamu tidak baik dahulu, Ayah memang orang tua yang buruk"
Laura segera menggelengkan kepalanya, mereka saling berpelukan dan menangis bersama-sama. Bukan menangis karena takut dirinya menikah dan tinggal bersama Arkan, tapi Laura takut kalau dirinya dan Ayahnya tak akan bertemu lagi setelah berbagai ancaman yang dirinya terima dari Haidar.
"Ayah tak usah membahas masa lalu, sudahi segalanya kita sudah bahagia sekarang"
Ayahnya melepaskan pelukannya mengusap air mata putrinya dengan lembut "Jangan menangis sayang, kamu harus sangat terlihat cantik nanti saat menikah"
Laura menunduk dan menganggukkan kepalanya, terlihat baik-baik saja di hadapan Ayahnya tidak masalah bukan.
...----------------...
Saat pintu yang menghalangi tempat ijab kabul dan kedatangan Laura serta Ayahnya dibuka tak ada siapa-siapa disana kosong.
Pada tamu dan Arkan yang sedang menunggu kedatangan Laura untuk melakukan ijab kabul tentu saja bingung, seharusnya Laura datang dari pintu itu dengan Ayahnya dan segera melakukan ijab kabul dengan Arkan, namun tidak ada kosong.
"Arkan mana Laura, jangan sampai Laura mempermalukan keluarga kita" kesal Ibunya Arkan.
"Sebentar Bu, aku yakin Laura masih bersiap-siapa"
"Ini sudah jam 10.00 tamu sudah datang semua jangan macam-macam dengan memberi alasan sedang bersiap-siap, cepat cek sekarang"
Arkan dengan khawatir segera pergi meninggalkan tempat pernikahan mereka, berjalan dengan tergesa-gesa ke kamar yang Laura pakai.
Banyak orang-orang yang tergeletak didepan pintu dengan luka yang cukup parah, bahkan didepan juga penjaga sudah tumbang. Perasaan Arkan makin tak enak. Saat pintu dibuka tidak ada siapa-siapa kosong.
"Laura kamu dimana, sayang jangan membuat aku khawatir ini bukan kejutan dari kamu kan" hening tak ada jawaban.
Kamar mandi tak luput Arkan cek, tak mungkin itu dia lewatkan kosong tak ada siapa-siapa disana. Saat Arkan keluar dari gedung ada Andi yang ngos-ngosan dan mengguncang tubuh Arkan setelahnya.
"Ada yang menculik Laura, Ayah pingsan dibuat oleh laki-laki itu. Aku sudah mengejarnya tapi tak bisa ada beberapa mobil yang menghalanginya Arkan"
"Kenapa tak bicara dari awal, kenapa diam saja"
"Kejadiannya begitu tiba-tiba dan aku tidak tahu akan ada kejadian seperti ini, penjaga juga kalah oleh dia hanya keluarga inti yang tidak dilukai"
Arkan tanpa menjawab segera pergi mengunakan mobilnya, mengebut mencari keberadaan calon istrinya.
"Sialan, siapa sih yang sudah menculik Laura, kenapa bisa seperti ini sih di hari bahagia kita siapa yang ingin menghancurkan aku"
Arkan membelokan mobilnya kesebuah rumah yang begitu dirinya kenal, memberhentikan mobilnya dan masuk kedalam rumah itu. Bahkan tanpa mengetuknya sama sekali.
"Apaan sih masuk ke rumah orang tanpa ketuk dulu, main nyelong-nyelonong saja, ngapain"
Ditariknya kerah pakaian laki-laki itu dan dihadiahi sebuah tinjuan oleh Arkan. Arkan segera melangkah mencari Laura, semua pintu dibuka semua di cek tak ada yang tersisa.
"Apa-apaan sih lo datang-datang ke rumah gue main mukul dan ga sopan buka-buka ruangan rumah gue"
Arkan berbalik "Dimana Laura"
"Lo gila cari-cari calon istri lo ke sini, ya ada di gedung lah ngapain juga lo cari ke sini ogah amat gue bawa pembunuh itu ke rumah ini"
"Jangan macam-macam lo, di mana Laura dia ga ada"
Rayan tertawa senang bertepuk tangan dan memeluk saudaranya itu "Sudah gue bilang kan pernikahan kalian berdua itu ga akan pernah terjadi. Baru saja mau nikah sudah hancur. Gimana kalau rumah tangga dia bisa kabur sudah gue bilang dia tuh bukan perempuan baik-baik"
Arkan mendorong Rayan dengan kesal mengatur nafasnya yang memburu "Jangan main-main Rayan dimana Laura, katakan sekarang orang yang paling tidak setuju aku menikah dengan Laura adalah dirimu"
"Ga tahu, mungkin kabur sama pacarnya yang lain. Makannya kalau dikasih tahu saudara itu percaya bukannya ngeyel, sudah kayak gini bikin malu keluarga kan. Ga ada gunanya juga gue culik perempuan pembunuh itu, yang ada gue mati duluan" kesal Rayan yang terus saja di tuduh.
"Ga berguna lo" teriak Arkan.
Arkan benar-benar bingung sekarang, kalau bukan Rayan siapa yang menculik Laura. Kenapa harus Laura yang di culik kenapa tidak pengantin lain saja.