Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Paginya aku bangun dengan perasaan takut, kenapa aku tidak bisa melupakan kata-kata Ardi semalam. Bara tersenyum menatapku, dia mengusap lembut wajahku.
"Kau sudah bangun? Bagaimana mimpimu tadi malam?" tanya Bara.
Aku bangun dan duduk ditepi tempat tidur, teringat kejadian tadi malam yang begitu mengejutkan aku. Aku mandi dan mengganti pakaianku. Bara menuntunku menuju meja makan, aku menatap Ardi ada disana. Sikapnya acuh dan dingin, seolah tak terjadi apa-apa semalam.
Aku menarik nafas panjang, berjalan pelan lalu duduk disamping Ibu Bara. Aku masih bingung, apa Ardi tidak sadar dengan apa yang dia lakukan semalam?
"Chika. Kenapa melamun? Ayo, makan sarapan mu," ucap Ibu.
"Iya."
"Oh, iya. Ardi, semalam kamu tidur dimana? Tumben, pagi-pagi sudah ada di rumah!" tanya Ayah, Ardi terlihat terkejut mendengar pertanyaan Ayahnya.
Ardi menoleh kearah ku, lalu kembali menatap Ayahnya.
"Ardi semalam tidur disini, Yah." Ucap Ardi.
"Kapan pulang? Ibu tidak tahu kau datang!" kata Ibu.
"Ardi pulang kerja larut malam, jadi tidak berani membangunkan kalian. Ardi juga pakai kunci cadangan, jadi kalian tidak perlu repot-repot bangun, untuk buka pintu," ucapnya.
Aku masih menatap kearah Ardi dengan tatapan tajam, kenapa dia membohongi kedua orang tuanya. Apa aku harus mengatakan pada mereka, kalau semalam Ardi mabuk dan membawa wanita kedalam kamarnya. Sudahlah Chika, berhenti mencampuri urusan Ardi, biar dia melakukan hal yang menurut dia benar. Tapi jelas, yang Ardi lakukan adalah sebuah kekeliruan.
"Kenapa? Kau sedang memikirkan apa?" tanya Bara.
"Tidak."
"Aku yakin ada yang kau sembunyikan, coba katakan!" kata Bara.
Ardi menatap kearah ku, namun sikapnya masih dingin. Mungkin karena dia takut pada Bara yang beberapa kali pernah memukulnya.
"Chika, tadi pelayan rumah ini minta cuti satu hari. Ibu bisa minta tolong padamu?" tanya Ibu.
"Apa yang bisa ku bantu, Bu?" tanyaku.
"Nanti akan ada petugas laundry datang kemari untuk mengambil pakaian kotor. Tolong kau kumpulkan pakaian yang ada di setiap kamar," kata Ibu, aku hanya mengangguk.
Selesai sarapan, aku memulai tugasku. Aku mengumpulkan pakaian Marcell, Cindy dan Alesha. Aku juga sudah mengumpulkan bajuku, baju Alghi dan baju Bara. Aku menaruh semua pakaian itu di keranjang pakaian besar. Ibu menatap kearah ku sambil menggendong Alghi ditangannya.
"Sudah selesai?" tanya Ibu.
"Sudah." Ucapku.
"Baju kotor dikamar Ardi, sudah?" tanya Ibu lagi.
Aku menggelengkan kepalaku, mataku menatap wajah Ibu, berharap dia mengerti maksudku. Aku benar-benar tidak mau masuk kedalam kamar Ardi, sekalipun itu permintaan Ibu.
"Kenapa? Kau masih belum bisa melupakan kejadian itu? Chika, Ardi sudah berubah. Dia sudah kembali jadi anak Ibu yang baik. Percayalah, Ardi tidak akan melakukan hal buruk lagi padamu," kata Ibu.
Andai saja Ibu tahu, apa yang dilakukan Ardi semalam. Mungkin dia akan sangat kecewa, dan menyesal mengatakan kata-katanya barusan. Tapi aku mana mungkin memberi tahu Ibu tentang kejadian semalam. Cukup banyak hal yang sudah terjadi di rumah ini, aku tidak mau membuat dia khawatir.
Aku berjalan menuju kamar Ardi, aku membuka pelan-pelan pintu kamar itu. Dadaku berdebar keras, aku benar-benar takut Ardi kembali melakukan hal buruk padaku. Aku menatap kamar Ardi kosong, ah... Syukurlah! Untuk beberapa saat aku bisa bernafas lega.
Aku berjalan masuk ke kamar itu, lalu mengambil pakaian yang ada di keranjang kotor. Tiba-tiba Ardi keluar dari kamar mandi, sontak Aku berlari menuju pintu keluar.
"Ada apa? Kenapa lari?" tanya Ardi.
Aku menghentikan langkahku, namun enggan berbalik badan. Jantungku berpacu tak terkendali. Mudah-mudahan tidak akan terjadi hal buruk padaku hari ini!
Ardi memegang tanganku, membalikkan tubuhku agar menatap wajahnya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Ardi.
Kenapa dia terlihat biasa saja? Apa dia benar-benar lupa kejadian semalam? Apa orang mabuk bisa lupa ingatan? Atau ini hanya sandiwara Ardi saja?
"Aku bertanya padamu? Apa yang kau cari?" tanya Ardi.
"Aku diminta Ibu mengambil pakaian kotor di kamarmu!" ucapku pelan.
Aku bahkan menundukkan kepalaku, takut dia melakukan hal buruk padaku. Tapi Ardi tidak melakukan apa-apa, dia mengambil pakaian kotornya, lalu menyerahkan semua pakaian itu padaku.
"Ini..." kata Ardi.
Aku mengambil pakaian ditangan Ardi, tapi tiba-tiba saja aku lihat kecoa di kakiku. Bintang menjijikkan yang paling aku benci. Aku membuang semua pakaian Ardi dan memeluk tubuh Ardi. Memeluk? Ya Tuhan, kenapa aku berada diposisi sulit seperti ini. Antara takut pada Ardi atau takut pada binatang menjijikkan itu.
Aku menatap wajah Ardi, dia menyingkirkan kecoa itu dari kakiku tanpa bicara apa-apa.
"Sudah," ucapnya sambil melepaskan pelukanku.
Kenapa dengan Ardi? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia jadi cuek dan sedingin ini padaku? Padahal jelas-jelas tadi malam dia...
Aku memunguti pakaian kotor Ardi yang berserakan dilantai. Saat aku mau berdiri, aku tersandung kaki meja. Aku terjatuh menimpa tubuh Ardi, dan bibirku mengecup bibirnya. Ini benar-benar ketidak sengajaan. Aku menatap wajah Ardi yang berada tepat didepan wajahku.
"Kau ingat. Pertemuan pertama kita saat kuliah? Kau bahkan masih ceroboh seperti ini setelah menikah!" ucapnya.
Aku ingat pertemuan pertamaku bersama Ardi. Waktu itu aku menabrak tubuhnya, lalu tidak sengaja mencium bibirnya. Tapi waktu itu aku belum menikah, sekarang aku ini istri Bara. Aku beranjak bangun, tapi tangan Ardi menahan tubuhku agar tetap berada di atas tubuhnya. Bukankah ini gila?
"Ardi, lepaskan aku! Aku mohon berhenti menggangguku," ucapku sambil mencoba melepaskan diri.
"Aku sudah mencoba melepaskan mu, tapi bayang-bayang mu terus menggangguku. Kau tidak lihat, aku berusaha menjauhi mu tapi takdir terus mendekatkan aku padamu," ucap Ardi masih menahan tanganku agar tetap berada di atas tubuhnya.
Entah apa yang akan dilakukan Bara, jika melihat kami dalam keadaan seperti ini. Keringatku mulai bercucuran, aku benar-benar takut, jika Bara melihat aku bersama Ardi. Matilah aku!
"Chika..." suara Bara memanggilku. Habislah aku!
Aku melotot menatap Ardi, aku benar-benar kesal dengan ulahnya.
"Lepaskan aku! Kakakmu memanggilku. Kau mau dia membunuhmu, jika melihat keadaan kita sekarang," bisikku.
"Biar kita dibunuh sama-sama ditangan Kakakku," bisik Ardi.
"Benar-benar sudah gila," ucapku sambil berusaha melepaskan diri.
Tubuhku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Ardi, aku benar-benar takut Bara melihat kami. Suara Bara semakin dekat, aku sudah menyerah. Mungkin aku akan mati ditangan suamiku setelah ini.
"Chika, Alghi mau dibuatkan susu. Lihat, dia tidak berhenti merengek," teriak Bara.
Melihat aku yang sudah pasrah dan tak melawan, Ardi malah melepaskan tangannya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, aku lari keluar dari kamar Ardi. Bara terkejut menatapku, mungkin wajah panik ku terlihat begitu jelas dimatanya.
"Kenapa Chika? Ada apa?" tanya Bara.
Ardi keluar dari kamar, dia tersenyum menatap Bara, senyuman licik yang sangat aku takutkan.
"Tadi Chika dan aku..." Ardi menghentikan ucapannya.
"Ada apa? Tadi kau dan Chika kenapa?" tanya Bara bingung.
"Aku dan Chika..." Ardi masih berusaha bicara tapi aku melanjutkan ucapannya.
"Tadi aku lihat kecoa di kamar Ardi. Ibu menyuruhku mengambil pakaian kotor di kamarnya. Tapi aku kaget, aku melihat kecoa di kakiku. Makanya aku panik," ucapku sekenanya.
"Baiklah, ikut aku sayang!" ucap Bara sambil menarik tanganku. Aku menoleh kearah Ardi. Jelas, dia tersenyum puas menatap kearah ku.
Bara membawaku ke kamar, aku melihat Alghi menangis dalam keranjang bayinya. Aku segera membuatkan susu untuknya. Tak lama Alghi terlelap.
"Alghi sudah tidur?" tanya Bara.
"Iya."
"Kenapa? Sepertinya, ada yang kau pikirkan?"
"Bisa tidak, kita pindah dari sini? Bukankah kau bilang kau sedang mencicil rumah? Bagaimana jika kita tempati sekarang!"
"Memangnya kenapa?"
"Aku hanya..." Aku bingung mau jawab apa.
"Apa karena Ardi tinggal di rumah ini lagi?" tanya Bara.
Aku tidak menjawab, tapi sorot mataku mengiyakan semua yang diucapkan Bara. Bara tersenyum, mengarahkan wajahku kearah wajahnya.
"Besok kita pindah ke rumah baru kita ya!" ucap Bara.
Hatiku langsung tenang, akhirnya aku bisa juga pergi jauh dari bayangan Ardi yang terus menggangguku. Semoga setelah aku pergi dari rumah ini, Ardi bisa segera melupakan aku.
Double Up nih Kak, untuk para pembaca setia. Jangan lupa beri dukungan untuk Author. Tinggalkan jejak Komen, Like atau Jempol, Vote juga ya. Dukungan dari kalian menjadi semangat tersendiri untuk Author.
Salam santun Author.💕
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂