Arsen Winston, seorang lelaki berhati beku, menyimpan sisi kelam di balik ketampanan yang memukau. Ia bagaikan musim dingin yang mematikan bunga—dingin, keras, dan tanpa belas kasih. Pernikahan yang menjeratnya bukanlah pilihan hati, melainkan takdir yang mengikat dengan rantai yang tak terlihat.
Amey Agatha, gadis berparas jelita dengan jiwa secerah mentari pagi, tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang kini menjadi pendamping hidupnya bukanlah sosok penuh kasih yang ia bayangkan. Di balik senyum Arsen yang memikat, tersembunyi tabiat yang tajam dan menyakitkan, seperti duri yang melukai tanpa terlihat.
Takdir kejam menyingkap rahasia yang tak terduga—calon suami yang ia nantikan telah tiada, digantikan oleh sosok kembar bernama Arsen. Maka, Amey harus belajar menerima kenyataan pahit, berjalan di sisi seorang pria yang wajahnya serupa, tetapi jiwanya asing dan menakutkan.
.
.
©Copyright by Stivani, Agustus 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agen Mata-mata
Mark menurunkan Amey di depan lobby hotel. Tanpa menunggu Mark untuk membukakannya pintu ia langsung turun dngan perasaan kesal sembari membanting pintu mobil. "Dasar bule tidak jelas!" gumamnya.
"Hey!" teriak Arsen.
Amey tidak menggubris dan tetap berjalan lurus ke depan. Akhirnya pria itu memutuskan untuk mengejar Amey. Ia juga sengaja memperlihatkan pada orang-orang jika dia memanglah suami idaman yang perduli dengan istrinya.
Arsen menghalangi jalan Amey. Sorot mata khalayak kembali memandangi pasangan serasi itu. Arsen memainkan sandiwaranya dengan berwajah manis di depan Amey. "Jangan berbuat yang aneh-aneh! Kita sedang disoroti. Kau tidak ingin WS Group hancur kembali bukan?" bisik Arsen.
"Hufth!" mendengus kesal.
"Berikan ponselmu."
Amey menurutinya dengan malas.
Arsen mulai mengisi nomor teleponnya dan menghubungi nomor itu. Ketika ponsel Arsen berbunyi, ia menyerahkan kembali ponsel itu di tangan Amey. "Kirimkan juga nomor nenekmu."
Amey menurutinya. Ia memberikan nomor telepon Soffy. "Sudah."
"Bagus. Teruslah menurut jika tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada orang-orang terdekatmu," ancam Arsen.
"Hey! Kau jangan mengancamku!"
"Diam dan menurut." tutur Arsen mengelus kepala Amey dengan lembut.
Deg!
Jantung Amey berdenyut hebat. Untuk pertama kalinya Arsen bersikap seperti itu. Pria yang tidak pernah tersenyum itu melemparkan lekukan kecil di wajahnya sehingga ia sangat mirip sekali dengan Arka.
Amey mengatur kembali rambutnya yang berantakan akibat ulah Arsen. Ia menatap punggung Arsen sembari membayangkan sosok Arka yang selalu bersikap lembut padanya.
Perilaku Arsen tadi persis dengan yang selalu dibuat Arka pada Amey. Jika Amey melakukan sesuatu hal yang menggemaskan pastilah Arka akan mengusap rambut Amey sehingga terlihat acak-acakan.
"Apa itu tadi?" gumam Amey memegang dadanya.
Amey merasakan ada yang aneh dengan perasaannya. Perlahan hati wanita itu mulai luluh dengan perlakuan Arsen. "Tidak! Aku tidak boleh menyukainya! Dia bukan Arka, Mey. Dia Arsen, pria kasar yang sangat kau benci." gumam Amey seraya melanjutkan perjalanannya.
Di dalam mobil Mark memperhatikan tingkah Arsen yang aneh. Ia terus tersenyum tidak seperti biasanya. Ia menatap ponselnya sambil melekukkan bibir. Entah apa yang dipikirkan Arsen.
"Mark kau menyukaiku?"
"Permisi, Tuan?"
"Berhenti menatapku seperti itu! " tutur Arsen membuat Mark menelan saliva.
"Ba--baik Tuan."
Wajah Arsen kembali datar saat mengetahui Mark mengintipnya dari spion. Ia kembali memainkan gawainya. Ia mengirimkan nomor Soffy di grup Whatsapp K*ntil yang beranggotakan tiga orang.
Seketika grup chat menjadi ramai. Kai dan Jay sangat tergila-gila dengan Nensi yang ternyata adalah Soffy. Untunglah foto profil Soffy di Whatsapp buka foto dirinya, melainkan foto artis Korea, Park Shin Hye.
***
"Hwaaaaaa!" teriak Soffy histeris.
Ia terperangah saat melihat kedua nomor baru yang mengiriminya pesan, yang tak lain adalah Kaisar dan Jayden, bule tampan yang sangat didambakannya. Ia melompat-lompat kegirangan di atas sofa.
Hey Cantik.
"Mamamia! Kedua bule itu memanggil ku cantik," cengengesan. "Aku harus membalasnya, Haha."
Hay juga ganteng.
Secepat kilat Kai dan Jay membalas pesan Soffy. Dengan ekspresi yang sangat gembira, wanita tua itu membalas chat Kai dan Jay secara bergantian.
Chattingan masih berlanjut. Arsen berhasil mengerjai kedua sahabatnya itu. Entah bagaimana ekspresi Kai dan Jay saat mengetahui jika Nensi sebenarnya adalah Soffy, Nenek Rempong yang sangat ingin mereka jauhi.
***
Amey berjalan menuju ruangannya. Tentu saja dengan raut yang kesal. Ia bahkan membanting pintu ruangannya dan membuat semua bawahannya melonjak karena kaget.
Tidak terkecuali Jen. Ia terlihat kawatir dengan Amey. Tidak biasanya Amey terlihat jengkel seperti itu. Jen memandangi sekelilingnya, berharap Arsen tidak mengikuti Amey dari belakang.
Ketika melihat situasi aman, Jen segera berlari menghampiri Amey.
"Cihh! Dasar pria gila! Dia membuang waktuku yang sangat berharga. Apa coba yang merasukinya? Dia mengajak aku keluar hanya untuk berputar-putar tidak jelas menyusuri jalanan yang macet di Kota Jakarta." gumam Amey.
"Mey!" panggil Jenifer. "Kau baik-baik saja? Apa bos menyakitimu?" tanya Jen panik.
"Jen, kau tahu? Si buruk rupa itu mengajakku ke luar kantor untuk apa?"
"Apaan?" mengangkat bahunya.
"Hanya untuk mengelilingi panas dan macetnya Kota Jakarta! Hampir tiga jam aku bersama dia di dalam mobil tanpa tujuan. Menurutmu itu gila nggak sih?" tutur Amey sangat geram.
"Astaga! Mungkin saja bos ingin menghabiskan waktu bersamamu."
"Bwuahahahha." Gelak tawa Amey pecah memenuhi ruangan itu.
Jen mengerutkan dahi saat melihat tingkah sahabatnya itu yang tiba-tiba terbahak. "Kenapa kau tertawa?"
"Jen, Jen! Kau mau ngelawak ya? Sumpah, candaanmu ini sangat lucu. Hahah!"
Jenifer semakin bingung.
"Jen!" panggil Amey seraya menatap Jen dengan tajam. "Mana mungkin pria itu ingin bersamaku lebih lama? Sedangkan disentuh olehku saja sudah membuat darahnya naik. Apa lagi kau bilang dia ingin bersamaku lebih lama." jelas Amey.
"Hmm, siapa yang tahu perasaannya," lirih Jen memegang dagunya. "Ohya Mey, sebentar kita ada perayaan kecil-kecilan. Mau join?"
"Perayaan apa?"
"Ituloh, si Melly."
"Oh iya benar. Dia karyawan yang baru dipromosikan menjadi wakil manajer umum bukan?" tanya Amey.
"Iya benar. Kau tidak lupa 'kan jika kita harus mengadakan pesta penyambutan?"
"Iya dong. Jadi jam berapa acaranya?"
"Sekitar jam tujuh malam. Kau akan datang 'kan?'
"Tentu saja."
"Tapi, apa suamimu menginjikanmu keluar bareng kita?"
"Ehh busyettt! Ngapain dia melarangku. Enak saja!"
"Hmm, baiklah. Aku kabari kamu nanti malam." ucap Jen, meninggalkan ruangan Amey.
"Akhirnya aku bisa menghirup udara segar. Rasanya sangat sesak jika aku terus-terusan bersama pria gila itu." gumam Amey.
***
Sorot mata tajam terus memandangi Amey yang sudah begitu rapi. Ada rasa penasaran yang teramat besar menggerogoti batinnya. Namun karena gengsi, maka bibir Arsen tidak dapat terbuka untuk melontarkan pertanyaan.
Amey terlihat begitu cantik. Gaun merah yang terbelah di paha kanannya membuat wanita itu begitu anggun dan mempesona. Siapa pun yang melihat Amey pasti akan terpesona. Tidak terkecuali Arsen.
"Aku akan keluar." tutur Amey.
"Mau ke mana kau?"
"Bukan urusanmu."
Arsen mengepalkan tangannya. Ia kembali naik darah saat Amey tidak memberitahu ke mana dirinya akan pergi. "Kau tidak boleh ke mana-mana!" tegas Arsen menghentikan langkah Amey.
"Bukannya kau sendiri yang mengatakan jika aku tidak boleh ikut campur dengan urusanmu? Jadi begitu pun sebaliknya, jangan ikut campur dengan urusanku, bye!" tukas Amey menghempas rambutnya yang terurai rapi.
F*ck! Bisa-bisanya dia membuatku emosi kembali!
Arsen dengan secepat kilat turun dari ranjang. Ia segera menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
Setelah ia sudah terlihat rapi dan mempesona, ia mengambil gawainya.
"Mark! Bersiaplah!"
"Apa Tuan ada pertemuan dengan kolega?" tanya Mark dari balik telepon.
"Tidak! Kita akan jadi agen mata-mata."
"Hah? Siapa yang korupsi Tuan?"
"Berhenti bertanya! Dalam satu menit kau harus tiba di mansion."
tut ... tut ... tut
Arsen mematikan sambungan telepon.
"Arghhh! Ke mana dia akan pergi? Aku harus menyusulnya!"
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘
(Itu akan membantu author lebih semangat menulis hehe)