Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Impoten
"Apa maksud pertanyaanmu?" Setyo menatap Sisca dengan tatapan tidak suka. Ia tak mau ada orang yang mencampuri urusan pribadinya, terutama saat ini, ketika Setyo sedang bermasalah dengan kejantanannya.
"Maaf jika aku terlalu lancang, Mas. Setahuku, salah satu kunci keharmonisan dalam rumah tangga adalah keberhasilan di atas ranjang. Salah satu penyebab dari pasangan ada yang berpaling, biasanya karena hubungan mereka di atas ranjang yang memburuk. Bisa saja karena alasan tidak puas dengan pasangannya lalu mencari kepuasan di tempat lain? Siapa yang tahu?" Sisca tersenyum saat melihat Setyo mulai terpengaruh dengan perkataannya.
"Ah... tidak mungkin. Tidak seperti itu." Setyo berusaha mengelak namun kebohongannya terbaca dengan jelas oleh Sisca.
"Kalian... tidak ada masalah di ranjang, bukan?" Sisca menatap Setyo dengan lekat. Ia tahu Setyo menyembunyikan sesuatu. "Mas tak perlu malu. Katakan saja sejujurnya. Aku di sini mau membantu Mas mencari jalan keluarnya."
"Tidak ada. Tidak ada masalah," jawab Setyo dengan gugup dan cepat.
"Iya sih. Mas Setyo memang tidak bermasalah. Apa mungkin Mbak Tasya yang bermasalah?" Sisca pura-pura berpikir keras.
Setyo mengernyitkan keningnya. "Apa maksud kamu? Mengapa kamu yakin sekali kalau aku tidak bermasalah?" Setyo tertarik dengan apa yang Sisca katakan. "Mengapa kamu malah berpikir kalau Tasya yang bermasalah?"
"Loh, memang Mas Setyo tidak ada masalah, bukan? Waktu itu saja, aku bisa merasakan punya Mas Setyo yang bereaksi saat berada di dekatku. Berarti masalahnya bukan di Mas Setyo." Sisca semakin memanasi suasana. "Oh, maaf, Mas. Aku terlalu lancang." Sisca menepuk pelan bibirnya.
"Tak apa, Sis." Setyo tersipu malu. Ia jadi teringat malam itu, saat ia tergoda dengan Sisca yang berada sangat dekat dengannya. Ia tidak impoten, ia masih normal. Buktinya tubuhnya bisa bereaksi saat dekat dengan Sisca. "Jujur saja... aku tidak yakin, Sis."
Sisca menatap Setyo dengan lekat. "Tidak yakin bagaimana, Mas?"
"Ya... tidak yakin dengan diriku sendiri. Bisa saja Tasya berubah karena aku... yang tak lagi sama," ucap Setyo pelan. "Ya kamu tahulah, aku ini pasien. Efek dari kecelakaan itu... begitulah."
Sisca tersenyum licik. Ia sudah menduga kalau kejantanan Setyo akan bermasalah karena efek kecelakaan namun saat tahu kalau dengannya Setyo baik-baik saja, ia merasa memiliki peluang besar. Melihat Setyo yang nampak malu mengakui kekurangannya, Sisca makin melancarkan serangannya.
"Mas, Mas Setyo tetap sama kok. Buktinya, Mas tetap seorang lelaki yang memiliki hasrat saat berada di dekat perempuan." Sisca meraih tangan Setyo lalu berbicara sambil mengusap dengan lembut punggung tangannya. "Mas hanya kurang percaya diri saja. Mas butuh dukungan untuk bangkit."
Setyo yang semula malu ketika mengakui kekurangannya kini berani mengangkat wajah dan menatap Sisca dengan lekat. "Dukungan? Dukungan apa yang kubutuhkan agar bisa bangkit, Sis?"
Sisca kembali tersenyum. Dengan lembut, ia mengusap wajah Setyo yang belum bercukur, nampak bulu halus mulai tumbuh namun Setyo tetap tampan di mata Sisca. "Dukunganku. Katakan padaku, apa Mas tak bisa... begitu... ya, Mas tahulah, saat bersama Mbak Tasya?"
Setyo tak langsung menjawab. Mengiyakan berarti mengakui kalau dirinya impoten secara terang-terangan. Ia masih malu namun ia butuh dukungan agar bisa sembuh. Perlahan, Setyo menganggukkan kepalanya. "Iya."
"Iya apa, Mas?" Sisca pura-pura tak mengerti.
Setyo menunduk. "Dia... tidak bereaksi. Anehnya, kalau sama kamu, dia... bereaksi." Setyo tiba-tiba mengangkat wajahnya lalu mengoreksi ucapan sebelumnya. "Maksud aku, entah mengapa kalau sama kamu... dia bereaksi gitu."
Setyo menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia grogi dan takut salah bicara.
"Oh... begitu." Sisca menatap Setyo dengan lekat. "Mas mau aku bantu?"
"Ba-bantu? Bantu apa?" Setyo gelagapan menjawab pertanyaan Sisca.
"Tentu saja bantu agar Mas sembuh lagi. Apa Mas tidak mau membuktikan sama Mbak Tasya kalau Mas ini lelaki sejati?" Sisca kembali memanasi Setyo.
"Mau, tentu saja aku mau membuktikan," jawab Setyo cepat. "Tapi... aku tak enak sama kamu. Kamu-"
"Sst!" Sisca menaruh jari telunjuknya di bibir Setyo. "Tak perlu terlalu banyak berpikir. Mas mau kita mulai terapi sekarang?"
"Sekarang?" Susah payah Setyo menelan salivanya.
"Boleh aku periksa apakah benar masih bereaksi padaku?" Sisca menyentuh area pribadi Setyo.
Setyo terkejut. Ia agak malu dan dalam hati merasa tak yakin kalau miliknya akan bereaksi. Namun tak disangka, perlahan miliknya bereaksi hanya dari sentuhan Sisca.
"Loh, benar bisa ternyata?" Setyo makin terkejut. Rasa senang menguasai dirinya. Ia menatap Sisca dengan mata berbinar. "Aku tidak impoten, Sis. Kamu benar. Aku akan mencoba lagi dengan Tasya."
"Dengan... Mbak Tasya?" Sisca mengulangi ucapan Setyo. Ia nampak kecewa dengan keputusan yang Setyo buat.
"Iya. Memang ada yang salah dari ucapanku?" balas Setyo. "Tak ada, bukan?"
"Tidak sih."
Setyo menjauhkan tangan Sisca dari miliknya. "Sudah cukup, Sis. Terima kasih banyak. Berkat kamu, aku jadi yakin kalau aku ini tidak impoten."
"Oh... iya, Mas. Aku... pamit ke kamarku ya, Mas." Dengan hati dongkol, Sisca kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu lalu melemparkan tubuhnya di atas kasur.
"Sial!" rutuk Sisca. "Aku yang berhasil membangunkan miliknya, mengapa Tasya yang ia pikirkan?"
Sisca menggelengkan kepalanya. "Tak akan. Aku tak akan menyerah. Aku akan memiliki Mas Setyo. Harus."
.
.
.
Keesokan hari, suasana nampak bak sedang gencatan senjata. Tidak ada yang perang mulut di dalam ruangan, namun dari sorot mata bisa terlihat kalau hubungan antar anggota keluarga di rumah mewah tersebut tidak baik-baik saja.
Tasya nampak sudah rapi, memakai kaos lengan pendek dilapisi cardigan warna cokelat muda yang dipadukan dengan celana kulot warna cokelat tua. Ia menyampirkan tas selempang di bahunya.
"Kamu mau pergi, Sya? Bukankah hari ini kamu libur kerja?" tanya Setyo, matanya menatap penuh selidik.
"Aku mau ke tempat Dicky," jawab Tasya.
"Mau aku temani?" tanya Setyo. Ia merasa bersalah karena semalam sudah membentak Tasya. Selama menikah, Setyo sama sekali tak pernah membentak Tasya. Ini yang membuat Tasya menjaga jarak.
"Tak perlu, Mas," tolak Tasya.
"Kenapa? Kamu takut Mas nyusahin?"
Tasya menghembuskan nafas kesal. "Kita baru bertemu dan kamu sudah kembali membuatku kesal," sungut Tasya. Ia menatap Setyo dengan lekat. "Aku tak mau kamu mengantarku, Mas. Bukan karena kamu menyusahkanku namun karena sikapmu yang semakin menyebalkan."
"Wah, semakin kurang ajar sekali dia sama kamu, Yo. Dia masih istrimu, bukan? Apa pantas bersikap kurang ajar seperti itu pada suami?" Ibu Welas mulai ikut campur. Tak ada satu hal pun dalam rumah ini yang tidak ia ikut campuri. "Memang ya, anak tanpa didikan orang tua memang beda. Kurang ajarnya tidak kira-kira. Beda kalau anak dididik dengan baik oleh orang tuanya, macam Sisca. Sopan, baik dan tahu bagaimana memperlakukan orang lain, tidak kurang ajar!"
Tatapan Tasya kini tertuju ke arah Ibu Welas dengan tajam. "Aku memang tumbuh tanpa didikan orang tua, namun aku belajar dari kerasnya dunia ini, bahwa ada orang tua yang sengaja menjadi pengadu domba anak dengan pasangannya. Bukannya menciptakan kedamaian namun lebih suka jika terjadi perang."
"Kamu!" Ibu Welas menunjuk Tasya dengan sorot mata penuh kemarahan. "Keluar kamu dari rumah ini! Dasar menantu kurang ajar!"
Tasya tersenyum tipis. "Oke. Memang sejak semalam aku sudah diusir, bukan?"
"Tunggu, kamu tak boleh pergi, Sya!" Setyo menghalangi kepergian Tasya. "Tak ada yang akan keluar dari rumah ini selama masih ada aku."
Tasya menatap wajah Setyo dengan serius. "Maaf, Mas. Aku tak sanggup begini terus. Aku akan pergi dari rumah ini."
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣