Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Taksi hitam itu berhenti dengan sangat mulus tepat di depan gerbang utama. Begitu Jelita melangkah keluar, kendaraan itu seolah meleleh ke dalam aspal dan menghilang begitu saja di antara kerumunan mahasiswa lainnya.
Ira dan Dinda yang sudah menunggu di dekat tiang gerbang langsung berlari menghampiri. Dinda, seperti biasa, tampak sangat heboh dengan ponsel yang masih menyala di tangannya.
"JELITA! Akhirnya sampai juga!" seru Dinda sambil napas terengah-engah. "Kamu sudah dengar belum? Berita paling panas pagi ini! Rian, si cowok yang kemarin berani-beraninya menggodamu di koridor, dia benar-benar 'cabut' dari kampus!"
Ira mengangguk pelan, wajahnya tampak lebih tenang namun tetap menyimpan rasa ingin tahu. "Iya, Jel. Tadi pagi pengumuman di grup angkatan, dia minta pindah kampus mendadak dengan alasan trauma psikologis. Katanya, semalam dia bermimpi didatangi ksatria raksasa yang membawa pedang sebesar pintu rumahnya."
Jelita hanya bisa tersenyum tipis, sambil diam-diam merapatkan tasnya. Ia tahu betul siapa "ksatria raksasa" yang masuk ke mimpi Rian itu. Arjuna memang tidak pernah main-main soal memberikan peringatan.
"Sudahlah, mungkin itu lebih baik buat dia daripada dia terus-terusan mengganggu mahasiswi lain," sahut Jelita mencoba netral.
"Tapi Jel, tunggu..." Dinda tiba-tiba berhenti dan mengendus-endus udara di sekitar Jelita. "Wangimu... kok beda lagi? Hari ini wangi kamu lebih... gimana ya? Mewah! Kayak wangi istana, tapi ada aroma bunga yang asing."
Dinda yang tidak bisa diam mulai mengintip ke dalam tas Jelita yang sedikit terbuka. "Eh, apa ini yang berkilau di dalam tasmu?"
Sebelum Jelita sempat mencegah, Dinda sudah melihat kilauan dari Mawar Hitam Kristal yang tersimpan di sana.
"ASTAGA! Jelita! Ini mawar apa?!" pekik Dinda hampir histeris, membuat beberapa mahasiswa yang lewat menoleh penasaran. "Ini nyata? Kristal? Atau asli? Kenapa bisa berkilau seperti ini?"
Ira mendekat, matanya memicing melihat mawar itu. "Jel, aku merasakan energi yang sangat kuat dari bunga ini. Ini bukan bunga sembarangan, kan?"
Jelita akhirnya mengeluarkan mawar itu sedikit agar kedua sahabatnya bisa melihat. "Ini pemberian Arjuna semalam. Dia bilang ini untuk menjagaku jika aku rindu atau butuh bantuannya di siang hari."
Dinda langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca karena iri sekaligus kagum. "Jel... fiks, aku resmi jadi ketua fans club Arjuna. Dia romantisnya nggak masuk akal! Kasih mawar kristal yang bisa buat komunikasi? Itu mah lebih canggih daripada smartwatch termahal sekalipun!"
Saat mereka bertiga mulai berjalan masuk menuju gedung perkuliahan, Jelita merasa semua mata tertuju padanya. Bukan hanya karena mawar itu, tapi karena aura "Ratu" yang ia bawa dari istana semalam masih melekat kuat.
Langkah Jelita terasa ringan, seolah-olah lantai yang ia injak selalu memberikan dukungan. Bahkan, beberapa kakak tingkat yang biasanya sok berkuasa, secara otomatis memberikan jalan saat Jelita lewat, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang mendorong mereka untuk bersikap sopan.
"Jel, lihat mereka..." bisik Ira heran. "Mereka semua seperti... segan padamu. Padahal kemarin-kemarin mereka cuek saja."
Jelita hanya tersenyum tenang. Ia tahu, di belakangnya, bayangan Arjuna tidak pernah benar-benar jauh.
Suasana kelas pagi itu sebenarnya sangat tenang. Pak dosen sedang asyik menjelaskan rumus-rumus sains yang rumit di depan papan tulis, namun pikiran Jelita melayang jauh melintasi dimensi. Di tengah bisingnya kapur yang beradu dengan papan, hati Jelita tiba-tiba dipenuhi rasa rindu yang mendalam pada Arjuna.
Ia meraba kelopak mawar hitam kristal di dalam tasnya yang ada di bawah meja. Seketika, mawar itu memancarkan kehangatan yang menjalar ke jemarinya, seolah Arjuna sedang membelas tangannya dari kejauhan. Jelita tersenyum sendiri, membayangkan tatapan tajam namun memuja dari sang Pangeran.
Namun, momen syahdu itu seketika buyar karena bisikan heboh dari samping kirinya.
"Jel... Jelita..." panggil Dinda dengan suara ditekan namun tetap terdengar berisik. "Gimana? Apakah lamaran aku untuk menjadi pacar hantu sudah diproses? Apakah pelayan-pelayan atau ksatria di sana beneran nggak ada yang tertarik denganku?"
Jelita menoleh dan mendapati wajah Dinda yang tampak sangat serius, seolah ia baru saja mengirim CV ke perusahaan besar.
Ira yang duduk di sebelah kanan Dinda langsung memutar bola matanya jengah. Tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatannya, Ira menyindir dengan tajam, "Bagaimana mereka mau tertarik, Dinda... kalau kamu lebih cerewet dari Mak Lampir? Hantu-hantu di sana itu butuh ketenangan, bukan radio rusak kayak kamu."
Dinda langsung mengerucutkan bibirnya, tidak terima. "Heh! Ini namanya komunikatif, Ira! Siapa tahu ada hantu ksatria yang kesepian selama ratusan tahun dan butuh hiburan seperti suaraku yang merdu ini!"
"Merdu menurutmu, horor menurut mereka," balas Ira telak, membuat Jelita tidak bisa menahan tawa kecilnya di tengah kelas.
Tiba-tiba, mawar hitam di dalam tas Jelita bersinar lebih terang dari sebelumnya. Suhu di sekitar meja mereka bertiga merosot tajam secara mendadak. Dinda dan Ira sampai berjengit karena kedinginan.
Tiba-tiba, di atas buku catatan Dinda yang kosong, muncul tulisan dari butiran es tipis yang perlahan membentuk kalimat:
[Kesabaran adalah kunci, wahai manusia yang berisik. Satu ksatria sedang mengamatimu, namun ia lebih suka jika kau belajar diam sejenak.]
Dinda hampir saja berteriak histeris jika Ira tidak segera membekap mulutnya. Mata Dinda melotot menatap tulisan es yang perlahan mencair itu.
"Dia... dia dengar?! Dan dia bilang ada yang mengamatiku?!" bisik Dinda dengan gemetar, namun anehnya ia malah terlihat sangat senang daripada takut. "Jel! Aku beneran dapet perhatian dari 'sana'!"
Jelita menggeleng-gelengkan kepala. "Tuh, dengar kata mereka. Kamu harus sedikit tenang kalau mau didekati."
"Jelita, Dinda, Ira... apakah ada hukum sains yang ingin kalian diskusikan dengan suara sekeras itu?" tanya Pak Dosen tiba-tiba, menghentikan penjelasannya.
Seluruh kelas menoleh ke arah mereka. Namun, sebelum Pak Dosen bisa menegur lebih lanjut, tiba-tiba sebuah angin sejuk yang sangat harum melati berhembus di dalam ruangan kelas yang tertutup itu, membuat Pak Dosen tertegun dan lupa akan kemarahannya.
"Aroma ini... sangat menenangkan," gumam Pak Dosen bingung, lalu kembali melanjutkan penjelasannya seolah terhipnotis oleh kehadiran energi Arjuna yang melindungi Jelita.
Setelah kelas usai, suasana hening yang dipaksakan oleh "hawa dingin" Arjuna tadi perlahan mencair. Namun, Dinda benar-benar berubah. Ia mendadak tutup mulut, melangkah dengan sangat hati-hati, bahkan duduk di kantin pun ia hanya diam sambil sesekali melirik bayangannya sendiri di lantai.
"Tuh kan, kalau dia diam begini malah jadi seram," bisik Ira pada Jelita sambil menyuap siomay. "Biasanya kantin berasa konser dangdut kalau ada dia, sekarang malah kayak perpustakaan."
Jelita terkekeh pelan. Ia melirik ke arah tasnya di mana mawar kristal itu berada. Ia bisa merasakan "seseorang" sedang tersenyum puas di dimensi lain karena berhasil menjinakkan kebisingan Dinda.