Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama
"Astaga, maaf nona biar Rosa....." Wanita itu dikejutkan dengan kehadiran Rosa yang duduk di pangkuan Alina. Tentu saja Alina yang sedang memejamkan matanya terbuka perlahan. Dia sedang mengumpulkan kesadaran dan fokusnya.
"Bibi membangunkan nona. Maaf, Rosa biar....."
"Tidak perlu bi. Biarkan saja." Rosa tampak terlelap dalam pangkuan Alina. Bayi gembul itu menyembunyikan sepasang tangannya, meringkuk seolah ingin kehangatan itu tidak hilang.
"Nona yakin?" Tanya bibi, dia akan senang sekali Alina menerima Rosa, tapi kalau secepat ini.....
"Iya, dia membuat ku tidur nyenyak. Pertama kalinya bi, setelah kejadian itu. Aku merasa tidur dengan tenang, tidak ada kecemasan ataupun mimpi buruk. Apakah Rosa bisa disebut penangkal nya. Batin Alina bertanya-tanya.
"Nona, apapun itu bibi berharap nona tidak sekedar menjadikannya penangkal ataupun obat." Jelas bibi. Seolah bisa tau dan dipikirkan oleh Alina.
"Nona mau makan? Biar Rosa dengan bibi." Jelas bibi membawa Rosa dalam dekapan nya.
**********************
"Mammamaa." Panggilan itu menyadarkan lamunan Alina. Rosa menepuk paha nya dan meminta gendong.
"Mammamaa ." Panggil nya kembali.
"Mau keluar?" Seolah paham, Rosa mengangguk.
"Ok." Halaman dengan nuansa hijau yang menyenangkan langsung menyambut mata Alina dan juga Rosa. Seolah ingin berjalan, Rosa melonjak untuk segera diturunkan.
"Ingin turun ya." Alina menurunkan Rosa. Saat kakinya menyentuh rumput yang bertekstur tapi tidak melukai itu, dia tampak kegirangan. Kegirangan Rosa seolah menyebar ke Alina, wanita itu juga ikut tersenyum. Dia melihat Rosa yang terus-menerus berjalan.
"Waaaaaa." Rosa mengejar kawanan burung yang sesekali singgah di rumput dan terbang saat didekati. Entah mengapa Alina semakin tersenyum melihat nya.
"Nona, kalau seandainya bibi tidak ada. Bibi berharap hati nona sudah menyayangi Rosa." Ucapan itu langsung membuat Alina menoleh, wajahnya yang tadi tersenyum langsung berubah.
"Bibi ini bicara apa. Jangan sembarangan." Jelas Alina.
Tapi dia tersenyum kecil. "Nona, bibi hanya berharap akan itu. Bibi tau, hati nona baik."
"Jangan sembarangan bicara bibi. Aku tidak suka!"
"Iya nona. Tapi usia tidak ada yang tau."
"Nona, nona tidak akan meninggalkan Rosa ataupun menyerahkan nya suatu hari nanti bukan?"
"Bibi, tidak perlu bicara hal yang belum terjadi."
"Kalau begitu jangan biarkan terjadi nona. Meksipun kita pergi jauh, tapi bibi merasa orang-orang itu mungkin akan menemukan nya. Bibi hanya minta satu hal, kalau memang nona tidak bisa menyayangi nya seperti anak sendiri maka jangan tinggalkan dia sendiri nona. Berjanjilah pada bibi!" Alina terkejut saat tangannya didekap dengan sebuah janji diatasnya. Tatapan bibi tidak teduh seperti biasanya.
*************
"Hari ini aku akan pulang jam 4 sore. Bibi bisa menghabiskan waktu di halaman ataupun melakukan hal yang bibi suka." Jelas Alina.
"Iya nona."
"Mama pergi ok?" Rosa tersenyum girang, dia masuk ke dalam dekapan Alina yang terbuka. Alina tersenyum kecil dan mengelus pelan kepala itu.
"Mammamaa."
"Ya, sampai jumpa nanti. Aku pergi bi."
"Hati-hati nona." Alina mengangguk dan meninggalkan rumah. Menaiki perahu kecil seperti biasanya, matanya perlahan menjauh dari rumah dan juga senyuman lebar Rosa.
Alina menghela napas panjang sebelum memasuki gedung besar itu. Ini hari pertama dia bekerja, mengambil langkah mantap, dia memasuki gedung dengan perlahan. Pakaiannya terlihat rapi dan tentunya meninggalkan aroma yang lembut.
"Oh, sudah datang. Silakan langsung ke tempat mu. Kau sudah tau kan Ms. Visser?"
"Iya, sudah." Balas Alina.
"Kalau begitu silahkan. Selamat bekerja."
"Terimakasih." Balas Alina dengan senyuman kecil. Dia akhirnya tiba dan verifikasi dibalik meja dengan buku, komputer dan alat komunikasi itu.
"Ok Alina, hari pertama mu bekerja." Jelas Alina, dia memberikan senyuman terbaiknya. Tak lama pintu kaca itu terbuka, seorang pria masuk.
"Selamat datang tuan, ada yang bisa dibantu?" Ujar Alina, pria itu menatap nya.
"Iya."
"Sudah melakukan reservasi sebelum nya Tuan?" Tanya Alina kembali. Tapi pria itu diam sejenak.
"Resepsionis baru ya?" Tanya pria itu, Alina yang merasa pria ini merupakan tamu langganan tersenyum tipis. "Iya Tuan. Apa tuan mengalami kendala dengan layanan atau kamar?"
"Tu...." Percakapan itu terhenti dengan kedatangan sosok pria dengan setelan rapi dan kacamata yang bertengger di hidung nya. Dan pria ituu bicara dengan Alina langsung memberikan tatapan dan membuat pria itu diam.
'Mungkin sekretaris nya.' pikir Alina.
"Jadi, bagaimana Tuan?" Tanya Alina kembali dan fokus dengan tamu dihadapannya.
"Ya, aku pesan satu kamar."
"Baiklah, mau yang mana. Hotel kami ada tipe Suite. Junior Suite, Executive Suite, Presidential/Royal Suite atau deluxe room dengan pemandangan kanal yang menawan." Jelas Alina.
"Menurut mu, bagus yang mana?"
"Tentunya sesuai dengan kebutuhan dan juga keuangan saya tuan. Bagaimana dengan keinginan tuan?" Balas Alina, kalau dia punya uang, lebih baik membangun usaha dibandingkan menginap disini.
"Pesankan aku satu kamar royal suite." Ujarnya.
"Baiklah Tuan. Silahkan tunjukkan SIM atau kartu kredit. Untuk identitas." Jelas Alina.
"Tentu." Balasnya mengeluarkan kartu kredit nya.
"Ok, tunggu sebentar." Jelas Alina menerima dan melakukan pengisian. Selama Alina memasukkan huruf dan angka, pria itu melirik tag nama di pakaian Alina.
"Baiklah Tuan Jansen. Silahkan, ini kartu akses nya."
"Ok, terimakasih."
"Sama-sama."
Setelah menaiki lift, mulut yang tadinya diam akhirnya bicara. "Tuan, kenapa anda tidak....."
"Aku ingin data resepsionis baru itu. Apakah dia bagian dari perekrutan waktu itu atau tidak. Aku ingin segera." Jelasnya.
"Baik Tuan. Apa anda ingin mengeluarkan nya? Karena dia....."
"Tidak! Aku suka kinerja pertama nya. Dia bahkan berani dan sungguh tidak tau dengan pemilik tempat dia bekerja. Kau lihat sikapnya? Aku suka hal seperti itu. Lakukan yang aku minta!"
"Baik tuan."
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🙏