NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keperdulian yang berlebih?

Hamka memapah Naura keluar dari UKS menuju parkiran, lengannya mantap menopang bahu gadis itu. Tatapan-tatapan penasaran dan bisik-bisik di sekitar mereka sama sekali tak ia pedulikan. Fokusnya hanya satu: memastikan Naura sampai dengan aman.

“Pelan aja,” ucap Hamka, suaranya lebih rendah dari biasanya.

Beberapa langkah kemudian, ia melirik Naura yang berjalan makin tertatih. “Apa perlu gue gendong?” godanya ringan.

Naura mendengus lemah. “Gue berat. Lo nggak akan bisa.”

“Wah, parah. Lo nyepelein otot gue?” Hamka terkekeh. “Si Edo aja bisa gue panggul, apalagi elo.”

Naura hanya menghela napas pelan. Tubuhnya terasa lemas, perutnya masih berdenyut tak nyaman. Tak ada tenaga lagi untuk membalas celotehan laki-laki di sampingnya itu.

Mereka akhirnya tiba di parkiran. Tanpa banyak pikir, Hamka mengambil helm dan dengan gerakan lembut langsung memakaikannya ke kepala Naura. Tangannya sedikit gemetar—entah karena terburu-buru atau karena jarak mereka yang terlalu dekat. Naura otomatis diam, matanya mengerjap menatap sepasang mata Hamka yang kini hanya terpaut beberapa sentimeter.

“Jangan kelamaan lihat gue,” ujar Hamka, berusaha santai.

“Entar jadi suka. Gue nggak tanggung jawab, lho,” lanjutnya sambil mengetuk pelan helm Naura.

“Ehm… apaan sih lo,” balas Naura asal. “Gue cuma liat… kayaknya bulu idung lo kepanjangan.”

Refleks Hamka langsung menoleh ke kaca spion. “Mana ada, Naw. Bulu idung gue mah masih duduk cakep di dalam ruangan,” kekehnya.

Naura mendelik, lalu bersiap naik ke boncengan. Hari itu terasa seperti paket lengkap.Hamka mengantar pergi dan pulang sekolah, tanpa banyak protes, tanpa mulut jahil berlebihan. Dan seperti biasa, ia berkilah dengan alasan andalannya: demi peri ketetanggaan.

“Pegangan yang bener,” kata Hamka tiba-tiba, menarik pelan lengan Naura hingga melingkar di perutnya.

Bukan untuk iseng. Kali ini, ia benar-benar khawatir—takut Naura terjatuh, takut tubuh yang masih lemas itu tak sanggup menahan perjalanan.

Mesin motor menyala, dan di balik helm, Naura tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, kepedulian Hamka terasa lebih nyata daripada segala godaannya.

Motor berhenti tepat di depan rumah Naura. Hamka turun lebih dulu, lalu menahan motor agar tetap stabil saat Naura turun dengan gerakan pelan. Ia tidak langsung pergi—justru mematikan mesin dan menuntun Naura masuk ke dalam rumah, seolah itu hal paling wajar di dunia.

“Hamka, gue bisa sendiri,” ucap Naura pelan.

“Bisa nanti,” jawabnya singkat. “Sekarang belum.”

Naura terheran. Laki-laki ini bahkan tak berhenti di ruang tamu. Ia ikut melangkah sampai ke depan kamar Naura, memastikan gadis itu duduk di tepi ranjang dengan posisi nyaman. Hamka berdiri di ambang pintu, memperhatikan setiap geraknya, seolah takut ada yang terlewat. Bukan Naura tak senang—justru itu yang membuatnya bingung. Pedulinya… berlebihan.

Wajah khawatir Hamka, ucapannya yang lebih lembut dari biasanya, hingga sikapnya di UKS tadi,semuanya tak bisa Naura anggap biasa. Ada jeda hening yang canggung. Naura menunduk, sementara Hamka mengusap tengkuknya sendiri, gelisah.

“Lo istirahat,” katanya akhirnya. “Jangan sok kuat.”

Naura mendongak. “Sejak kapan lo jadi sebijak ini?”

Hamka mendengus kecil. “Sejak elo pucet dan bikin gue pusing.”

Hamka pamit tak lama kemudian, tapi bukannya pulang, ia justru mampir ke rumahnya sendiri. Begitu masuk dapur, ia langsung bersuara, nadanya sok santai.

“Ma, bikinin sup dong. Yang anget.”

Bu Tika menoleh heran. “Tumben. Kamu sakit?”

“Bukan aku .” jawab Hamka cepat. “Naura.”

Alasannya menyusul kemudian, setengah bergurau. “Demi peri ketetanggaan.”

Bu Tika terdiam sesaat. Ada rasa aneh, tapi juga hangat, melihat putranya yang biasanya keras dan cuek kini meminta dengan wajah serius. Senyum kecil mengembang di bibirnya. “Tunggu sebentar,” katanya lembut.

Tak lama, Hamka kembali ke rumah Naura dengan mangkuk sup hangat di tangannya. Uapnya mengepul pelan, mengisi udara kamar dengan aroma menenangkan.

“Makan,” ucap Hamka sambil meletakkan mangkuk itu di meja kecil. “Biar mendingan.”

Naura menatapnya lama, bingung yang bercampur perasaan asing. “Hamka… lo kenapa sih?”

Laki-laki itu terdiam, lalu mengangkat bahu. “Nggak kenapa-kenapa.”

Namun sorot matanya berkata sebaliknya. Peduli itu nyata..dan untuk pertama kalinya, Naura sadar, mungkin selama ini ada sesuatu yang pelan-pelan berubah di antara mereka.

Naura menyendok sup itu perlahan. Hangatnya merambat turun, sedikit demi sedikit meredakan nyeri yang sejak tadi mengikat perutnya. Hamka berdiri di dekat jendela, berpura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal sesekali matanya mencuri pandang ke arah Naura ,memastikan setiap sendok benar-benar masuk.

“Lo nggak pulang?” tanya Naura akhirnya.

Hamka melirik sekilas. “Nunggu.”

“Nunggu apa?”

“Nunggu elo kelihatan hidup lagi.”

Naura mendengus kecil, tapi bibirnya tanpa sadar melengkung. Hening kembali jatuh, hening yang aneh tapi tak canggung. Hanya suara sendok beradu pelan dengan mangkuk.

Beberapa menit kemudian, Hamka mendekat. “Masih sakit?”

“Udah mendingan,” jawab Naura jujur. “Makasih… buat semuanya.”

Hamka mengangguk, tapi wajahnya justru terlihat ragu. “Naw… kalo nanti malem sakit lagi.."

Naura menyela cepat “Sejak kapan lo peduli segininya?”

Hamka terdiam. Kali ini lebih lama. Ia mengusap wajahnya sendiri, lalu berkata pelan, nyaris tak terdengar, “Sejak gue sadar kalo elo kenapa-kenapa, gue nggak tenang.”

Kalimat itu menggantung di udara. Jantung Naura berdetak lebih cepat dari seharusnya. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, tapi tak sanggup ia ucapkan.

Hamka berdiri. “Gue pulang dulu."

Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti sejenak. “Oh iya… jangan lupa minum obat. Gue taruh di meja.”

Naura mengangguk.

Saat pintu tertutup, Naura merebahkan diri. Dadanya terasa hangat, bukan hanya karena sup. Di sisi lain, Hamka berjalan pulang dengan langkah gontai, tangannya mengepal pelan.

“Demi peri ketetanggaan,” gumamnya sendiri.

Tapi untuk pertama kalinya, alasan itu terdengar seperti kebohongan yang tak lagi ia percaya.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!