Krystal, gadis berusia 22 tahun terpaksa menikah dengan kakak iparnya sendiri karena sebuah surat wasiat, yang kakak kandungnya tinggalkan satu hari sebelum dia meninggal.
Mau tidak mau, Krystal menerimanya meski sebenarnya hatinya menolak.
“Berpura-pura lah menjadi istriku. Dan tanda tangani surat perjanjian kontrak ini. Tapi, kamu harus ingat, jangan sampai jatuh cinta padaku.” Bara Alfredo.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Jangan sampai kamu tergoda dan jatuh cinta padaku, Kakak Ipar.” Krystal Alexander.
Akan seperti apa kehidupan rumah tangga mereka yang tidak di dasari dengan perasaan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 028
"Cukup, Kak! Aku sudah tidak kuat lagi. Capek!" Krystal mencoba mendorong dada bidang Bara yang masih terus bergerak liar di atas tubuhnya.
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul tiga pagi. Tapi, sepertinya Bara tidak juga segera mencapai pelepasan.
"Kamu lupa aku bilang apa kemarin?" tangan Bara menarik dagu Krystal dan me lu mat bibir ranum wanita itu. "Di sini, aku akan menanam saham," ucapnya setelah ciuman itu terlepas dan tangannya bergerak turun, mengusap perut wanitanya.
Ya, wanitanya. Sejak semalam, Bara mengklaim Krystal sebagai miliknya.
"Aku tidak mau! Kamu juga lupa kalau diantara kita tidak ada yang boleh jatuh cinta," ucap Krystal dengan manik mata berkaca-kaca."Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu!" menghapus air matanya, Krystal tersenyum kecut.
Krystal tidak peduli jika miliknya di bawah sana terasa kebas dan perih akibat perbuatan Bara yang tanpa henti terus meng hu jam nya.
Yang ia mau, Bara segera menyelesaikan permainan mereka.
"Shiit! Berani sekali dia menolak benihku. Kalau bukan karena mama dan papa aku juga tidak mau menyentuhmu!" umpat Bara dalam hati.
Tangannya terkepal erat. Rahangnya mengeras mendengar penolakan Krystal. Wanita yang dia anggap murahan nyatanya masih tersegel.
Dan dialah satu-satunya pria yang berhasil mendapatkan mahkota Krystal.
"Ahh..." lenguhan panjang terdengar dari bibir Bara. Setelah bermain hampir tujuh jam, akhirnya Bara memutuskan untuk menyudahinya.
Bara merebahkan tubuhnya di samping Krystal, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.
"Mau kemana?" tanya Bara, melihat Krystal hendak turun dari tempat tidur.
"Kamar mandi," jawabnya ketus.
Bara menahan pergelangan tangan Krystal, menariknya hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.
"Lepas! Kamu mau apalagi?!"
"Tunggu tigapuluh menit, setelah itu kamu boleh ke kamar mandi." Bara menenggelamkan wajah Krystal kedalam dekapannya.
Bukan tanpa alasan Bara melakukan itu, bukankah benih itu bisa terbuang sia-sia jika Krystal buang air kecil.
"Aku kebelet dan kamu menyuruhku untuk menahannya? Gila kamu!"
"Tahan sebentar apa salahnya. Jangan jadi istri durhaka!" karena kesal Bara memukul pan tat Krystal cukup kuat, membuat wanita itu mengaduh kesakitan.
"Bara!" Krystal melotot tajam.
"Apa? Mau dipukul lagi?"
Krystal memutar bola mata malas. Ia memilih diam dan menuruti kemauan Bara. Selain menyebalkan, pria itu juga mesum, pikirnya.
*
*
Pagi menjelang, Krystal sudah berangkat terlebih dulu karena hari ini ada pemotretan.
Bara yang sudah memakai setelan rapi, menuruni anak tangga menghampiri kedua orangtuanya dan juga Lio.
"Alo, Papa," sapa gemas Lio tersenyum pada Bara.
Sama seperti biasanya Bara hanya berdehem pelan dan fokus dengan makanan yang ada di depannya.
Lio nampak murung. Bocah itu menoleh ke arah Anaya. "Oma..."
"Ia sayang, Lio mau apa, hum?" seakan tahu apa yang Lio rasakan, Anaya mengusap kepalanya penuh kelembutan.
"Papa, Oma..." lirih Lio menunjuk Bara yang sedang fokus menyeruput segelas.
"Nanti, kita beli es krim aja, ya. Lio mau?" Lio mengangguk dan Anaya pun menggendong Lio, mengajaknya masuk ke kamar.
Melihat kepergian mereka berdua, Bara menghela nafas kasar. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya. Apalagi saat melihat rambut hitam Lio yang mulai menipis tak seperti biasanya.
"Pa, aku—"
"Jangan bicara sama Papa kalah kamu masih bersikap dingin pada Lio," sahut Abian memotong ucapan Lio.
"Bukan begitu maksud aku, Pa. Harusnya Papa ngerti kalau aku melakukan ini demi kebaikan Lio. Aku nggak mau Lio jadi pelampiasan kemarahan aku."
Abian meletakkan sendok dan garpunya lalu menatap tajam Bara. "Kamu pikir Papa peduli, Bara! Dia masih anak-anak dan tidak mengerti apapun! Harusnya kamu pikirkan perasaannya, bukan malah bersikap egois dan keras kepala!"
"Kematian Berlian adalah takdir, dan kelahiran Lio bukanlah sebuah kesalahan! Jangan sampai kamu menyesali keputusan bodoh mu ini." selesai bicara, Abian bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Anaya juga Lio.
Meninggalkan Bara seorang diri agar pria itu memikirkan lagi apa kesalahannya.
"Argh! Aku nggak bisa, Pa. Nggak akan pernah bisa," gumam Bara mengusap wajah frustasi, menatap kamar Lio yang sedikit terbuka.
Bara melangkah dan menghampiri ruangan itu, dimana banyak berbagai macam mainan anak kecil dan harum aroma khas baby.
Ditatapnya wajah Lio yang sedang merenung melihat keluar jendela. Tubuhnya terlihat semakin kurus. Lio juga harus menjalani therapy demi kesembuhannya.
Bara hendak melangkah masuk, namun langkahnya terhenti mendengar ponselnya bergetar.
"Ada apa?" tanya Bara pada pria yang ada di seberang sana.
"Tuan Abian dan Nyonya Anaya sudah tahu mengenai Lio, Tuan. Besok malam, Lio akan terbang ke Singapura untuk menjalani pengobatan. Nona Krystal juga akan ikut."
"What?" pekiknya.
Ponsel yang berada di tangan Bara jatuh begitu saja ke lantai. Dia cukup terkejut mendengar kabar tersebut.