persahabatan segitiga antara Tobia, seorang laki-laki tampan cekatan dan penyayang yang sudah bekerja sebagai perawat dengan Mada, seorang gadis periang yg masih kuliah semester 5, mereka tumbuh bersahabat sejak Mada pindah rumah saat usianya 9 tahun. Akankah persahabatan ini berubah menjadi rasa lain atau akankah persahabatan ini menjadi aneh karena kehadiran dokter Harun diantara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOUR VOICE
Kita kembali ke Dokter Harun dan Mada yang....☺️☺️☺️☺️
Dokter Harun yang 60% kesadarannya dikuasai oleh alkohol, menatap tajam kekasih yang telah lama ia perhatikan.
Dokter Harun terus memperhatikan Mada yang sibuk membantunya melepas jaket, sepatu,kemudian mengambilkan air putih untuknya.
"Kamu sudah lebih baik?" tanya Mada lembut sambil menerima gelas dokter Harun dan meletaknya ke meja disebelahnya.
Dokter Harun tersenyum lembut,masih dengan tatapan hangat.
"Sangat baik."jawab dokter Harun.
"Dasar.... Mana boleh seorang dokter mabuk. Kalau ada pasien gawat darurat gimana?" kalimat Mada terdengar sangat lembut di telinga dokter Harun.
"Akulah pasien gawat daruratnya" ☺️☺️kalimat Dokter Harun mulai meracau.
"😏😏😏Mau kuapakan? Aku tak paham mengobati orang mabuk."Mada menjawab dengan santai.
"Kamu tak tahu?" 😊😊 dokter Harun mendekatkan wajahnya menatap lekat Mada.
"Kamu... Mau apa?" 😳 Mada tersipu salah tingkah menatap wajah kekasihnya yang hanya berjarak beberapa centimeter.
Dokter Harun meraih tengkuk Mada dengan tangan kanannya. Ia mendaratkan ciuman ke bibir Mada.
Mada yang saat itu dikuasai rasa kangen pun tak menolaknya. Ia membalas perasaan dokter Harun dengan gairah membara.
Begitu pula dengan dokter Harun yang hampir dikuasai alkohol seluruhnya, ciuman penuh nafsu dan gairah tanpa celah.
Namun, sesuatu menyadarkan dokter Harun. Rasa bersalah mulai menguasainya. Membabi buta menghancurkan gairah cintanya.
Air mata merembes membasahi wajah lelaki tampannya. Membuatnya tak mampu lagi melanjutkan panasnya nafsu malam itu. Ia memejamkan mata dan ambruk dalam pelukan Mada.
"Ay... Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?" Mada menepuk pelan punggung kekasih hatinya.
Dengan nafas dan jantung yang masih tak beraturan, Mada pun merasakan detak jantung sang kekasih memiliki ritme yg sama dengannya.
Tak ada sahutan ataupun jawaban dari pertanyaannya. Dokter Harun terdiam memejamkan mata. Mada merapikan bibirnya dengan tangan kirinya.
Mada mengatur nafasnya beberapa saat, banyak hal tiba-tiba berkecamuk menyerang dalam benaknya. Ia menghela nafas sambil tetap menepuk-nepuk pelan punggung dokter Harun.
"Ay... Kamu capek banget ya? Kamu tidur beneran kah?" tanya Mada sambil menggigit pelan ujung bibir nya.
Namun tak ada kalimat apapun dari dokter Harun. Mada hanya mendengar dengkuran halus dari kekasihnya yang seperti nya terlelap dalam pengaruh alkohol.
"Dasar syalan,,bisa-bisanya langsung tidur." gumam Mada sendiri dengan ekspresi sedikit kesal,namun terkekeh sendiri sambil menepuk jidat.
Mada membaringkan tubuh dokter Harun di sofa dengan perlahan. Dia bantu kekasihnya agar bisa istirahat dengan benar.
Mada memandangi wajah tampan dokter Harun, sambil mengusap perlahan kepala kekasihnya itu. Dirapikannya rambut dokter Harun, lalu memberikan selimut agar sang kekasih tidak merasa dingin.
Malam sudah sangat larut. Mada masih belum beranjak dari rumah dokter Harun. Ia tak bisa memutuskan sendiri apa yang akan ia lakukan.
Mada beringsut mengelilingi seisi rumah dokter Harun,yang tak begitu besar. Namun rumah itu tampak kosong. Tak ada vas bunga ataupun lukisan dinding satupun.
Mada menuju dapur. Rasa lapar membuatnya mendekati kulkas.
"Mas Tobia biasanya nyimpen makanan kesukaanku dikulkas. Dokter Harun juga nggak ya?" gumamnya spontan sambil membuka pintu kulkas.
Matanya mengelilingi seisi kulkas. Namun ia tak menemukan apa yang ia inginkan.
"Ah, benar juga. Ini kan bukan rumahku, mana mungkin mas Tobia kelayapan masukin makanan kesini." gumam Mada lagi sambil menepuk jidat dan tertawa terkekeh.
Setelah berpikir beberapa saat, Mada mengambil beberapa butir buah anggur dan sebutir buah jeruk.
"Apa memang tiap hari cuma makan buah-buahan saja? Tak ada satupun makanan berat yang kutemukan." gerutu Mada sambil mengunyah buah yang ia ambil dari kulkas.
"Sehat ya sehat. Tapi dia kalau makan dimana? alat masak nasi pun tak ada. Apa dia beli terus ya? Ah,,, mungkin dia akan ke rumah orang tuanya untuk makan." Mada terus bergumam sendiri dengan mulut di penuhi buah.
Mada kembali menuju ke depan. Ia duduk berseberangan dengan tempat dokter Harun terbaring dalam lelap. Mada menyandarkan punggungnya mencari posisi ternyaman.
Banyak hal yang tiba-tiba mengganggu fokusnya. Dia mengambil ponsel dari ransel kecilnya. Dia membuka galeri dan memandangi foto-foto kenangannya.
Beberapa saat kemudian ia menemukan video-video lama dan diputarnya kembali. Tampak disana ia sedang menggoda Tobia.
"Mas... Lihat kamera dong,,, tunjukkan wajah tampanmu." kata Mada dalam video itu.
Tobia hanya tampak menggeleng,dengan tangan kanan menutup wajah dan tangan kiri melambai lambaikan tangan memberikan isyarat agar Mada si pembawa kamera menjauh.
"Ayolah Mas... Lihat sekali aja... Biar wajah ganteng belepotanmu bisa aku simpan. Nanti akan aku tunjukkan ke anakmu. Hahahaha....."
Dalam video itu,tampak Mada terus menggoda Tobia, yang sedang mengenakan celemek penuh cipratan cat dinding.
"Kamu makin keren dengan wajah penuh cat itu. Hahahaha." Mada terkekeh sambil terus mengarahkan kamera ke arah Tobia.
"Kamu milih matiin itu kamera, apa milih tak gendong,tak masukin karung, terus tak kirim ke antartika pakai kurir ekspres?! " kata Tobia sambil membelalakkan mata membalas kejahilan Mada.
Mada yang mulutnya masih penuh dengan buah jeruk, tertawa saat melihat kembali video lama di henpon nya itu.
Tanpa sadar ia tersenyum tersipu menatap wajah Tobia.
"Ya Tuhan... Aku kangen mas Tobia. Kangen macam apa ini?" gumamnya perlahan sambil menghela nafas.
"Rasa sesak macam apa ini? Kenapa suaranya masih saja penuh dikepalaku?"
Mada tampak frustasi. Raut wajahnya berubah sendu dan kesal. Mada kembali menatap dokter Harun yang tertidur dalam dengkuran manis tepat di depannya.
"Kenapa rasa sakit ini tak kutemukan saat aku menatap wajahnya?" gumamnya lagi sambil memandang lekat ke wajah dokter Harun.
...****************...
To be continue.......😁😁😁😁😁
ah tapi lucu
Makasih bang yosh,kereen novelnya
habis ini otw baca yang lainnya... apalagi yang burn out tuh,bikin penasaran 😄😄
maauu dong Tobia buat aku aja😂😂