Di kehidupan sebelummya Clarissa adalah gadis yang sangat penurut. Selalu patuh dengar dengan apa yang dikatakan oleh sepupunya yang bernama Sarah dan Bibinya yang bernama Matilda.
karena rasa sayangnya kepada Sarah, dengan bodohnya Clarissa mengakui kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Clarissa menerima kesalahan Sarah yang telah mencelakai Nyawa Ethan, adik dari Dean Efrat.
Untuk membayar hutang nyawa Ini, Dean Efrat tidak mengirim Clarissa ke penjara, namun dia akan memberikan penjara yang akan merenggut seluruh rasa ingin hidup Clarissa.
Clarissa harus menebusnya dengan menjadi Istri Ethan yang Koma yang tak bedanya seperti mayat hidup.
"Hidupmu adalah milikku!" ucap Dean Efrat.
"Aku ingin bercerai saja!" pinta Clarissa.
"Mimpi saja, bercerai ! tidak akan. Kecuali kau mati!" jawab Dean Efrat.
Clarissa masih menatapi Dean yang pergi dengan angkuhnya, tanpa disadari sebuah sepeda motor menabrak tubuh Clarissa dan menghempaskannya bagai kapas.
Bagaimana kelanjutan hidup Clarissa ketika Clarissa diberikan satu kali lagi kesempatan untuk mengulang hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIA
Elazar membawa berkas yang sudah di tanda tangani oleh Clarissa. Elazar meletaknnya di atas meja kerja Dean.
"Nona Clarissa telah menandatanginya," ujar Elazar.
Dean mengambilnya dan membacanya, tergurat seringai senyum samar di wajah Dean. Wajah Dean berubah menjadi dingin kembali dalam sekejap ketika mengingat Ethan sudah tidak bersamanya lagi.
Semua bukti mengarah kepada Clarissa, sidik jari di peralatan medis yang digunakan kepada Ethan hanya ada sidik jari Clarissa.
Clarissa adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama Ethan, Clarissa lah yang bertanggung jawab atas obat-obatan Ethan. Dan yang lebih penting lagi, dikamar Clarissa ditemukan botol kecil yang di sisa-sisa cairannya, setelah diselidiki itu adalah cairan yang sama yang mengambil nyawa Ethan.
Di dalam kamar lamunan Clarissa, terbuyarkan ketika beberapa pelayan memasuki kamar Clarissa dan langsung menarik Clarissa ke kamar mandi untuk bersiap pergi.
"Hei, ini mau apa!?" tanya Clarissa.
"Tuan meminta Nona untuk bersiap pergi ke hotel," jawab salah satu pelayan.
"Hotel?" tanya Clarissa.
"Untuk apa aku harus kesana?" tanya Clarissa lagi.
"Kami hanya menjalankan perintah," jawab mereka.
Setelah itu Clarissa diminta turun, Elazar tengah menunggunya, untuk membawanya ke Hotel. Setelah sampai disana Elazar membawa Clarissa ke salah satu kamar Suite.
Clarissa masuk dengan meragu, namun Elazar mendorongnya masuk ke dalam. Disana bukan hanya ada Dean namun juga teman-temannya.
"Kemari!" panggil Dean.
Clarissa patuh dan melangkah mendekati Dean. Clarissa berdiri di hadapan Dean yang memandangi dari atas kepala sampai ke ujung kaki Clarissa.
"Hei! wanita ini sangat cantik dan terlihat polos," ujar salah satu teman Dean.
"Jangan pernah menilai buku hanya dari sampulnya saja," jawab Dean sambil menyindir tertawa.
Dean berdiri lalu sedikit menunduk berbisik kepada Clarissa dengan ekspresi datar dan nada suara yang dingin tak perduli.
"Kau disini saja malam ini, temani teman-temanku bermain!" perintah Dean.
"Maksudmu apa?" tanya Clarissa dengan tatapan ketakutan.
"Bukankah aku istrimu, mengapa kau memberikanku kepada teman-temanmu!?" tanya Clarissa dengan nada marah.
"Tujuanku menikahimu, agar aku bisa tetap menghukummu," Jawab Dean.
Dean benar-benar sudah dibutakan dengan kebencian dan amarahnya kepada Clarissa. Tak ingin melihat hal lainnya, Clarissa adalah satu-satunya pelaku bagi Dean.
"Merasa takut, baru mengaku sebagai istriku!" sindir Dean masih dalam bisiknya.
"Nikmatilah, aku pergi!" ujar Dean meninggalkan Clarissa dalam kelimbungan.
Clarissa segera saja mengembalikan kesadarannya, melangkah lari memeluk Dean dari belakang. Seraya memohon dengan lirih.
"Jangan! jangan tinggalkan aku disini!" pinta Clarissa.
Bukannya mendapatkan perlindungan, malah Dean menarik lepas tangan yang melingkar di pinggangnya, kemudian melemparkan tubuh Clarissa ke lantai.
"Hei! kau temani saja kami disini," ucap salah satu dari mereka yang ada di dalam kamar suite ini sambil bersimpuh di depan Clarissa.
"Tidak! jangan menyentuhku!" teriak Clarissa sambil berdiri menjauhi mereka.
Namun salah satu dari mereka berhasil mendekap Clarissa. Dengan serampangan pria itu menciumi Clarissa. Dean memerintahkan mereka untuk bermain sampai puas dengan Clarissa, siapa yang berani menolak perintah seenak ini.
Clarissa meronta-ronta sementara yang lain masih asyik mengamati sambil menyesap anggur merah mereka dan sambil tertawa karena merasa terhibur. Clarissa berhasil memukul bagian bawah pria yang memeluknya itu lalu berlari masuk ke kamar mandi.
Dengan cepat Clarisa mengunci pintu kamar mandi tersebut, Clarissa melihat sebuah pisau cukur yang ada di meja. Clarissa mengambilnya untuk alat melindungi dirinya.
Pintu kamar mandi berhasil dibuka, Clarisa bereakasi mengacungkan pisau yang ada di tangannya ke arah pria tersebut.
"Menjauhlah!" ancamnya sambil mengayunkan pisau tersebut.
herannn
Kalo novel gendre kaya begini memang harus di baca dari awal dan jangan sesekali skip episode nya
Sama serperti kita nonton drakor kalo kita gak nonton dari awal kita akan kesusahan untuk tau alur cerita nya