NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Tabiat Wanita

“Sepertinya ini penyebabnya.”

“Ada serpihan kaca yang bikin bengakak, ini yang jadi penyebab Azura demam.”

Penjelasan dokter Wira setelah menemukan bagian yang terlewat dari perhatian mereka membuat rasa bersalah kian menyeruak pada diri Anin.

“Ini salahku, Mas.” Anin menoleh lagi pada Harsa dengan air mata yang sudah menetes. Sebagai ibu, ia jelas sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Zura. Sebagai ibu, ia merasa sangat lalai dan tak becus.

Anin ingat, kemarin saat acara nge-grill di rumah mbak Gita, ada gelas yang pecah karena tersenggol dan mungkin serpihan itulah yang terinjak oleh Zura sehingga bayinya itu kemarin sempat menangis. Anin menyesal karena hal sekecil itu malah luput dari perhatiannya. Anin menganggap dirinya begitu ceroboh dan bodoh.

“Kemarin memang ada gelas pecah pas di rumah mbak Gita,” adu Anin pada Harsa yang mana ikut menarik atensi dokter Wira. Dokter itu ikut menoleh demi untuk mendengar penjelasan ibu pasiennya.

Anin yang mengerti pun lanjut menjelaskan dengan bahasa formal karena ia tak hanya sedang menjelaskan pada suaminya.

“Saya kira anak saya menangis karena memang sudah ngantuk sebagaimana biasanya dia selalu rewel kalau jam tidurnya udah lewat.”

“Saya gak nyangka kalau ternyata dia injak serpihan beling itu.” Anin berkata penuh penyesalan.

Pantas saja dari semenjak bangun tidur, Zura akan menangis setiap kali berdiri dan mencoba berjalan. Ternyata ada hal yang membuat kakinya sakit, itu jelas sangat tidak nyaman bagi bayi sepertinya.

Harsa hanya bisa menghembuskan napas gusar, sementara Dokter Wira ia kembali menyenter area yang nampak agak merah dan sedikit bengkak di telapak kaki pasien mungilnya.

“Ini harus segera di keluarkan,” ujarnya penuh penekanan. Ia kembali berdiri tegak dan menatap penuh keyakinan pada pasangan di depannya.

“Saya harus segera melakukan tindakan bedah kecil.”

Dan setelahnya, Zura tak lagi bisa tenang seperti tadi setelah jarum suntik mulai menusuk telapak kakinya yang jelas terasa sangat menyakitkan bagi manusia sekecil ia.

“Maa maa...,” lirihnya seraya memanggil sang mama. Sementara tubuhnya meronta, berusaha menjauhkan kaki dari dokter Wira yang tengah menyuntikkan bius.

“Iya, sayang?”

“Tahan ya, nak.” Anin balas berkata lirih. Dikecupnya Zura yang tengah meronta dalam pangkuannya. Bahkan Harsa yang melihatnya pun tak tega, ia tak sanggup melihat putrinya kesakitan.

“Ma ....” Anak sekecil Zura jelas akan mengerang kesakitan, tangisnya berubah jadi pekikan.

“Sabar ya sayang, ya.”

Dokter Wira mengizinkan Zura dipangku oleh ibunya agar memudahkan proses pembedahan dan mulai melakukan bedah kecil untuk mengeluarkan serpihan pecahan gelas di dalam kaki bayi 17 bulan ini.

Dan setelah beberapa saat kemudian akhirnya serpihan beling di kaki Zura berhasil di keluarkan. Kini Harsa, Anin, juga Zura baru saja ke luar dari rumah sakit setelah sebelumnya menebus obat terlebih dahulu.

Selama keluar dari ruangan dokter Wira, Anin tak henti-hentinya mengucap maaf pada pada sang anak. Sungguh ia merasa sangat bersalah, tak henti-hentinya ia menyalahkan diri atas kelalaian yang menjadi penyebab Zura jadi seperti ini.

“Pasti sakit banget ya, nak, ya?” tanyanya lagi seraya memerhatikan telapak kaki mungil yang sudah terbalut perban itu.

Mereka tengah bejalan menyusuri parkiran dengan Anin yang mengendong Zura, sementara Harsa melangkah sambil menenteng totebag istrinya. Zura sendiri tampak mulai cerewet, ia tak lagi banyak diam, demamnya pun sudah semakin turun. Bayi itu terus berceloteh riang sambil memerhatikan boneka lebah yang diberikan dokter Wira. Tak menyangka dokter spesialis anak itu benar-benar baik dengan memberikan mainannya secara cuma-cuma.

“Pelayanan dokter anak emang sebagus itu ya ternyata?” Anin menatap sang suami, ia baru membuka obrolan sejak tadi lama saling diam. Namun, bukannya menjawab, Harsa hanya diam sambil berlalu ke pintu kemudi. Membuat Anin mencebik heran dengan kediaman suaminya.

Tak ingin pusing, Anin langsung menyusul masuk ke dalam mobil.

“Mama bodoh, ya? Mama gak jaga Zura dengan baik.” Setelah duduk Anin kembali mengecup pipi kenyal anaknya, berseloroh dengan penuh penyesalan. “Harusnya Mama lebih peka pas anak mama nangis kemarin.”

“Hmmmm....” Entah bagaimana cara meredam rasa bersalah dalam dirinya. Anin menghembuskan napas gusar seraya mendekap erat Zura penuh sayang. Jika bisa bertukar posisi, maka Anin akan memilih agar dirinya bisa menggantikan Zura merasakan semua kesakitan. Sungguh ia tak bisa melihat anaknya menderita dan kesakitan. Semua ibu jelas akan merasakan hal yang sama jika ada di posisinya.

“Maaf, ya!” lirihnya sekali lagi seraya membuka kancing blouse yang dikenakan untuk memberi asi pada Zura yang sudah merengek kehausan.

Sementara Harsa, ia masih dalam mode diam dan mulai melajukan mobil ke luar dari halaman rumah sakit. Tangannya tergerak menurunkan sunvisor di sisi Anin saat cahaya matahari yang makin condong ke arah barat itu menerpa tubuh istri dan anaknya.

“Jangan lupa mampir ke supermarket, aku mau belanja.”

.

.

.

Mereka sudah tiba di rumah sejak dua jam lalu setelah sebelumnya sempat mampir di supermarket untuk berbelanja kebutuhan bulanan dan sepanjang itu pula Anin merasa Harsa sangat dingin, tampak tak berminat berbincang dengannya.

Sebenarnya Anin peka, ia sadar ada yang berbeda dengan sikap suaminya yang tak seperti biasa. Namun, karena terlalu sibuk memikirkan kondisi Zura dan larut dalam rasa bersalah membuat Anin tak terlalu memedulikan. Yang terpenting baginya adalah Zura, kalau Harsa terserah. Begitu isi kepalanya tadi, apalagi saat mengingat bagaimana laki-laki itu malah acuh saat ia bertanya soal pelayanan Dokter Anak yang mereka temui.

Tapi kini, Anin tak lagi bisa abai. Ia kesal dan dadanya terasa sesak karena Harsa masih diam dan acuh. Entah apa yang merasukinya.

Zura juga sudah tidur, bahkan mereka sudah melalui banyak hal tanpa suara. Tak ada sepatah kata pun sejak tadi. Dan ia baru saja selesai meng-asihi Zura yang entah sudah kesekian kalinya terbangun hanya untuk mencari asi lalu lanjut tidur lagi. Mungkin karena Zura baru bisa tidur nyenyak dan tak lagi merasa sakit.

Kini Anin tengah bersandar di ranjang setelah kembali menaikkan Zura ke ayunan. Ia mencebik melihat Harsa yang tampak sibuk sendiri , fokus pada ponselnya. Bahkan suaminya itu lebih memilih rebahan di sofa daripada di sampingnya, bercengkrama seperti biasa. Dia secara nyata menghindari.

Kesambet apa sih tu orang? Kesal Anin yang hanya bisa mendumel dalam hati.

Jika ada yang bertanya kenapa tidak dia saja yang lebih dulu bertanya? Jawabannya tentu saja tidak akan Anin lakukan, sebab dia terlalu gengsi untuk memulai pembicaraan jika sudah tahu dirinya tengah diabaikan. Apalagi sebenarnya Anin terlalu peka pada hal-hal kecil, sejujurnya dan sebenarnya ia tahu jelas di mana letak kesalahannya. Harsa bersikap dingin dan acuh tak acuh sejak tahu Zura terkena serpihan itu saat tengah pergi dengannya ke rumah mbak Gita. Tapi sebagai wanita, Anin terlalu gengsi untuk mengakui dan memulai perbincangan kalau sudah begini. Baginya Harsa tak seharusnya marah karena itu, toh ia juga tak sengaja.

“Gak jelas!” cibir Anin sambil berlalu ke luar. Ia yang salah, tapi malah dia pula yang kesal karena sikap Harsa dan wanita dengan tabiat anehnya itu lebih memilih untuk menghindar.

Memangnya Harsa saja yang bisa menghindar? Anin juga bisa. Toh, ini juga bukan sepenuhnya salahnya. Jadi, Anin tak akan mau memulai duluan. Begitulah isi kepalanya saat ini.

Yang mana perkataan Anin itu membuat Harsa menyerngit heran.

Ck. Ia balas berdecak, sudut bibirnya menyungging jengah melihat watak istrinya. Ya, penyakit istrinya itu adalah malah marah balik setiap kali ia sedang marah.

“Dasar perempuan. Memangnya yang boleh marah tuh cuma mereka, apa? Laki-laki kayak gak punya hak. Kalau kita marah, dia malah balik marah.” Harsa mendumel sambil geleng-geleng kepala tak habis pikir.

Sementara Anin. Ia yang gerah karena sikap Harsa lebih memilih tak berada di ruang yang sama agar emosinya tak semakin mencuat dan berujung pada ia yang mengungkit semua kesalahan yang pernah diperbuatnya dari zaman sejak bumi baru diciptakan. Ya, demikianlah. Anin dan penyakit mengungkit kesalahan suaminya adalah permasalahan nasional yang dialami oleh seluruh istri di Indonesia tercinta ini.

Sebenarnya di sudut hatinya, Anin sedikit merasa bersalah, itulah sebabnya ia lebih memilih menghindar, tapi sayangnya ia terlalu gengsi untuk mengakui karena Harsa malah lebih dulu menunjukkan marahnya lewat silent treatment yang diberi.

Tring....

Di saat yang bersamaan ponsel yang berdering membuat pandangan Anin teralih. Dengan wajah datar diangkatnya panggilan video tersebut seraya sebelah tangannya memencet remote tv lalu duduk di sofa.

“Kau lagi apa?” tanya sosok dari balik layar. Wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik itu tak lain adalah ibu Anin yang tengah berada di pulau seberang.

Ya, orang tua Anin dulunya pergi merantau ke pulau Sulawesi, tepatnya di kota Makassar–mereka memiliki beberapa usaha di sana. Namun, sekitar tahun 2000-an orang tua Anin pergi lagi ke Provinsi sebelah dan memilih menetap di desa setelah membeli beberapa perkebunan sawit di sana. Bahkan hingga kini mereka masih menetap di sana. Kadang sesekali pulang ke Jawa menyambangi keluarga di kampung halaman. Orang tua Anin sendiri sudah berpisah sejak Anin lulus SMA dan menempuh pendidikan Pramugari.

“Gak ada, lagi nonton aja ini.”

“Zura mana?” tanya sang ibu yang Anin panggil dengan sebutan Mamak, panggilan khas orang di Sulawesi sana.

“Ada, di kamar lagi tidur.” Anin menjawab singkat sambil menunjuk ke arah kamarnya. Sebenarnya Anin ingin laporan jika Zura tengah sakit, tapi Anin takut diomeli dan akan semakin menambah buruk suasana hatinya. Jadilah ia lebih memilih diam dan mengalihkan pembicaraan ke pembahasan lain.

“Mamak lagi apa? Lagi di kebun, kah?” tanyanya saat melihat ibunya tengah duduk di sebuah pondok dengan penampilan khas orang ke kebun. Memakai topi lebar dengan bedak basah setebal tepung.

“Iya, ini lagi jadwal panen. Mau sekalian petik sayuran.”

Semenjak berpisah, Mamak Anin tak menikah lagi. Ia tinggal berdua dengan adik bungsu Anin yang masih duduk di bangku SMA.

“Memangya banyak sayur kah di kebun?” Logat Sulawesi Anin tiba-tiba keluar. Ia yang biasanya sangat fasih menggunakan aksen Jakarta tak disangka pandai juga mengubah logat, apalagi jika bersama keluarga, ia juga bahkan pandai menggunakan logat Jawa.

Anin memang terbilang menguasai semua dialeg yang ada. Maklum, dia dulu tumbuh di lingkungan yang terdiri dari berbagai macam suku dan budaya, sebagai anak yang tumbuh di tanah rantau jelas ia dengan mudah bisa menguasai hal yang tak semua orang bisa melakukan.

“Banyak, sengaja tanam biar ndak beli-beli sayur. Kalau mau tinggal petik, sekalian bisa berbagi ke tetangga.”

Mendengar penjelasan sang Ibu, Anin lantas memberenggut manja. Ia jadi rindu tanah rantau itu, sudah lama ia tak menginjakkan kaki di sana, seusia dengan pernikahannya ia tak pernah pulang.

“Jadi kangen pulang ke situ,” lirih Anin melow. Ia juga tiba-tiba rindu adik dan orang tuanya di sana. Meski telah berpisah, Ayahnya juga masih menetap di sana.

Dalam hati Anin mengutuk keadaan, tak menyangka takdir membawa langkah mereka berpencar kian berjauhan. Orang tua dan adik bungsunya masih di pulau seberang, sementara ia yang dulu menempuh pendidikan di tanah asal orang tuanya kini malah semakin terlempar jauh setelah menikah.

“Nanti sekali-kali ajak Harsa ke sini, sekalian sama mbakmu juga.”

“Iya kalau mas Harsa ada libur panjang, paling-paling mau ke Semarang dulu.”

“Ya, sekali-kali ajak pulang ke sini lah, emang dia ndak rindu apa sama mamaknya, ndak mau nyekar ke makam mertuamu, kah?” sergah Mamak yang membuat Anin manggut-manggut.

Ya, ia dan suaminya memang sudah lama tidak berziarah ke pusara ibu Harsa yang disemayamkan di tanah Sulawesi sana. Sekedar informasi, Harsa sendiri berdarah campuran–JaBu alias Jawa Bugis, ibu Harsa asli berdarah Bugis dan sudah meninggal sejak awal 2023, beberapa bulan sebelum mereka menikah.

“Tadi Gauri nelpon, katanya Bapakmu sudah sampai tadi malam.”

Mendengar ucapan ibunya, Anin lantas terkejut. Ayahnya pulang ke Jawa dan ia sama sekali tidak tahu itu.

“Loh, masa'? Memangnya kapan pulang? Kok saya ndak tahu.”

“Pulang mendadak, katanya ada tanah warisan yang mau dijual dan harus ada tanda tangan bapakmu sebagai anak pertama.”

Anin manggut-manggut mengerti. Pantas saja ia tak tahu, padahal dua hari yang lalu saat bertelepon Bapaknya tak mengatakan apa-apa apalagi rencana pulang ke Jawa dalam waktu dekat.

“Paling nanti kalau mau pulang mampir ke kau dulu, baru lanjut ke sini.”

“Iya, nanti kutelepon. Soalnya sudah berapa hari memang ndak ada chatan sama Mbak Uri.”

“Adalah itu nanti bagian kalian kalau tanahnya langsung laku. Jangan lupa minta yang banyak, terus pakai beli kebun di sini buat masa depan anak-anak kalian.”

Anin kembali manggut-manggut mendengar saran ibunya. Percakapan antara ibu dan anak itu tampak mengalir asyik.

“Nanti tanya mas Harsa kalau dia mau berkebun.”

Jawaban Anin membuat ibunya yang bernama Harita itu lantas menyela dengan nada julid pada anak keduanya.

“Eh, Anin, gak harus jadi pekebun dulu baru bisa punya kebun. Emang harus jadi supir dulu kah baru bisa punya mobil? Ndak, toh?”

“ Itu kan sama aja aset, kau dan suamimu gak harus di sini, kan bisa gaji orang buat rawatkan. Nanti hasilnya bisa dikirim. Gimana sih pikiranmu, nduk, nduk?”

Dan pembahasan itu pun mengalir seperti air, banyak hal yang keduanya bicarakan. Tak lupa pula Anin menanyakan keberadaan adik bungsunya–Hingga akhirnya telepon itu baru berakhir setelah Anin membahas Auriga.

Kini Anin tengah berdiri, di balik balkon rumah minimalis mereka yang berkonsep industrial modern. Menghirup udara sore sembari melihat suasana lorong depan rumah yang mulai ramai dengan anak-anak yang bermain di sana. Lalu setelahnya ia masuk kembali dan tatapannya seketika berubah sinis saat melihat Harsa yang entah sejak kapan duduk di sofa padahal ia belum lama ke luar.

“Kamu tuh aneh, tahu!”

Dan Anin semakin mencebik heran saat mendengar ucapan suaminya itu. Tatapannya jelas mengatakan apa-apaan suaminya ini. Akan tetapi ia lebih memilih cuek, balas acuh seperti yang sebelumnya Harsa lakukan. Biasalah, tabiat wanita memang demikian.

“Anin!” sentak Harsa yang tak bisa lagi menahan diri. Kesal karena tadinya ia marah karena keteledoran Anin, tapi bukannya bertanya Anin malah balas melakukan hal yang sama dengan mendiaminya seperti ini.

“Apa sih, mas?” sentak Anin saat Harsa malah mengikutinya menuruni tangga sambil menoyor bahunya.

“Ya, aku marah sama kamu, tapi kamu malah gitu.” Akhirnya Harsa buka suara juga. Niat hati berharap Anin menanyakan kenapa dia diam, sayangnya ia malah balas didiamkan dan berakhir dengan ia yang klarifikasi sendiri.

“Ya, lagian kamu marah kenapa sih? Aku kenapa?” tanya Anin saat kini ia tengah membuka kulkas mengambil air dingin untuk diteguk.

Harsa menghembuskan napas kesal. Frustasi menghadapi tabiat wanita. Coba saja dia yang mendiami, sudah dipastikan Anin akan makin mengamuk karena tak ia bujuk, tapi lihatlah istrinya ini, dengan wajah tak berdosa ia malah bertanya apa kesalahannya. Hell, sungguh Harsa tak habis pikir.

“Ya, aku marah karena ternyata kamu yang bikin Zura gitu.”

“Loh, kok aku?” tanya Anin tak terima. Tebakannya benar, bukan? Tapi entah kenapa ia tak terima bila harus dikatai sebagai penyebab Zura terluka sementara ia tak tahu apa-apa, lagipula ibu mana yang ingin anaknya terluka? Ia bertanya tak habis pikir.

“Ya, karena kamu teledor. Kamu gak merhatiin anak kamu sampai dia bisa kayak gitu.”

“Coba aja kalau aku yang gitu, udah pasti kamu marahin abis-abisan. ” Harsa ungkapkan isi hatinya tanpa takut, apalagi saat ia teringat kejadian saat ia membawa Zura main ke rumah Brama saat itu dan Zura sakit, Anin langsung mencecar dan menyalahkannya. Jadi, apa salahnya jika ia bereaksi sama karena menghawatirkan Zura.

Anin yang paham maksud suaminya pun berkata, “Ya, itu beda lah. Kamu sengaja bawa Zura pulang malam, terus pas cuaca lagi gak bagus, makanya waktu itu Zura sampai flu. ”

Sialan! Harsa mengumpat dalam hati. Mengapa ia tak pernah menang mendebat istrinya sendiri. Bahkan ia tak pernah punya hak untuk marah.

“Aku gak terima, ya, Nin!” Harsa yang kekesalannya tak dapat ia kendalikan langsung mendekap tubuh istrinya dan menyerangnya dengan gelitikan yang membuat Anin tertawa kegelian.

“Ih, mas. Geli!” pekik Anin disela kekehan sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Harsa.

“Aku gak terima ya. Kamu seenaknya, aku selalu salah dan kamu gak pernah salah.”

“Aku kesal karena kamu boleh marah, tapi aku gak boleh.” Harsa mengungkapkan isi hati sambil terus menyerang istrinya dengan gemas. Sungguh ia kesal karena selalu ditekan, ia tak pernah dibiarkan menang dan selalu di tempatkan di situasi bersalah.

“Nih, rasain. Pokoknya aku kesel banget!” seru Harsa sambil terus melaksanakan misi balas dendamnya dengan sesekali menggigit Anin saat tubuh itu kini sudah ia bawa ke dalam gendongannya lalu melangkah naik ke lantai atas.

Anin terkekeh, perutnya sakit sekali merasakan sensasi geli dan sesak karena serangan Harsa tanpa bisa melawan.

“Haha, iya mas. Ampun, geli tau, ih! Lepas! ” serunya yang meronta untuk dilepaskan saat Harsa kini merebahkannya kembali ke sofa depan tv di lantai atas.

“Sumpah, kamu ngeselin banget!” Harsa masih mengukung Anin dan meluapkan kekesalannya dengan cara paling berbeda seperti ini. “Pengen tak, hih! ” ia berujar gemas dengan gerakan seolah ingin menerkam Anin yang sudah ia lepaskan. Kasihan kalau lama-lama ia kukung, bisa-bisa pipis di celana istrinya itu.

Kini Harsa duduk melantai di atas karpet dengan kaki berselonjor, membelakangi Anin yang berbaring terengah di belakangnya karena ulahnya. Tangan Harsa mulai meraih remote dan mengganti chanel yang ingin ia tonton.

Sementara Anin, ia masih terkekeh dan menikmati debaran jantung yang berdetak cepat karena ulah gila suaminya. Senang karena Harsa selalu berhasil membuat hubungan mereka seseru ini. Ia yang tak terima lalu balas memiting Harsa, membuat suaminya mendongak padanya setelah ia melingkarkan kaki di atas bahu dan leher pria itu, sementara tangannya menarik wajah Harsa hingga menatapnya.

“Sakit, Nih. Lepas!” seru Harsa seraya memukul lengan istrinya agar terlepas.

“Bilang ampun!” perintah Anin dengan gemas.

“Iya, ampun!”

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!