WARNING!!
Segala bentuk penjiplakan bisa di laporkan yaaa, bijaklah dalam berkarya..
Berawal dari Agam, seorang murid baru yang mendapat tantangan dari Maxim untuk masuk ke dalam gudang angker di sebuah sekolah, menyebabkannya bertemu dengan hantu Kuntilanak Laki-laki dengan segala praharanya.
Hingga pada akhirnya masalah pelik mengikutinya, membuat Agam mau tak mau harus membantu Kuntilanak tersebut dalam mengungkap siapa dalang pembunuhannya.
Kasus 16 tahun lalu yang begitu kelam pun terbuka, dengan seorang tersangka yang harus di kuak oleh Agam dan teman-teman.
Namun sekali lagi, kepolisian, detektif, jurnalis dan keluarga dari pawang sekolah, harus mati karena berusaha ikut campur. Korban siswi sesuai dengan inisial nama de
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danau Kaolin / Kulong Biru
Lantas ibu yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya pun segera beranjak dari sana, bahkan tak sempat untuk menutup pintunya. Ia menghampiri kami sambil membawa bedak di tangannya. Kelihatannya ia sedang berdandan untuk bersiap pergi ke kantor, namun buru-buru keluar ketika mendengar suara gaduh. Ayah pun sudah nampak rapi, tapi kenapa ia masih sibuk berdiri di pintu kamarku?
"Kalian berdua berantem?" Tanya ibu takjub. Pasalnya, di umurku yang sebesar ini, tak pernah sekalipun aku bercekcok mulut dengan kedua orang tuaku. Apalagi sampai berantem?? Aah, kata-kata macam apa itu?
Tentu aku tersentak. Apalagi Kun bilang kalau gestur tubuhku seolah menantang. Aku memperbaiki sikapku secepat mungkin. Meski marah, tindakkan seperti ini tidaklah terpuji. Aku bisa marah dengan tindakkan yang lebih baik kan?
"Apa tuh bu?? Ya enggak lah!" Dalihku sambil tersenyum kaku. Ayah pun melemaskan otot-ototnya yang sempat menegang, mungkin karena terbawa suasana ketika melihat sikap burukku.
"Alhamdulillah!" Desah ibu lega. "Ibu sampai buru-buru keluar kamar, ibu kira kalian berantem." Aku menggeleng lemah.
"Gak kok." sahutku.
Ibu tersenyum sambil menatapku, namun senyumnya seketika sirna, berganti dengan kerjapan mata cepat dengan mulut yang sedikit menganga. Ia memperhatikan penampilanku agaknya.
"Bukannya hari ini sekolah kamu libur ya, nak? Kenapa kamu bawa-bawa tas gunung?" Tanya ibu dengan wajah tegang. Aku menoleh sesaat ke arah tas yang kini berada di kakiku.
"Mau jawab apa?" Sambung Kun resek. Suka sekali dia ikut campur.
"Karena libur, jadi Agam mau pergi!" Ucapku hingga membuat Ayah tercekat mendengarnya. Ia lantas kembali menatapku dengan sengit, seolah tak terima dengan perkataanku.
"Mau kemana kamu?!" Tanyanya dengan nada membentak. Ibu langsung terkesiap, dan menatap ayah dengan heran. Ya, kedua alisnya bertautan, dan ia membiarkan beberapa kerutan tercipta di dahinya.
"Ke rumah nenek!!" Sahutku dengan nada yang menekan, membuat suasana rumah kian mencekam. Kini perhatian ibu teralih padaku.
"Ngapain kamu ke rumah nenek?!!" Balas ayahku, tak kalah menekan suaranya. Dan ia pun memberikanku perasaan mencekam, seperti yang baru saja ku berikan padanya tadi. Kini ibu kembali menatap ayah.
"Kangen!!" Singkatku, masih dengan nada yang sama.
Kini aku dan ayah saling berpandangan satu sama lain. Aku menatapnya penuh benci, dan pasti dia tahu kan maksud di dalam hatiku ini. Tentu aku pergi karena tak ingin melihat wajahnya untuk sementara waktu. Pergi ke rumah nenek yang jaraknya 123,6 km, cukup untuk memberikan aku waktu menenangkan diri. Terlebih lagi beruntungnya aku, sekolahku pun di liburkan karena kesurupan massal tersebut.
"Wah wah wah!!" Kalian lagi main drama ya?" Ledek ibu sambil berdiri di antara kami.
"Ya!! Sinetron bod*h macam apa ini yang sedang saya tonton!! Saya sakit mata jadinya!" Keluh Kun sambil mengusap matanya.
Ibu menghadapkan tubuhnya padaku, sambil menatapku dengan raut lembut.
"Oke, gak apa-apa kalau kamu mau ke rumah nenek. Mumpung libur juga kan, ya kan yah?" ucap ibu sambil melirik ke arah ayah, seolah meminta persetujuan dari suaminya itu. Namun ayah hanya mengalihkan pandangannya dari ibu. Aku tau ia tak setuju pada perkataan ibu. Karena tentu ia tahu, alasanku ke rumah nenek bukan karena rindu, tapi karena tak mau melihat wajahnya untuk sementara waktu.
"Agam pengen bawa motor!" Ucapku lagi hingga membuat ayah kembali terkesiap dan menatapku dengan alis terangkat dan mata yang terbuka lebar.
"Oke, ibu ambil kuncinya ya.." Sahut ibuku seraya masuk ke dalam kamar. Membiarkan aku saling berhadapan dan terdiam bersama ayah.
"Ayahmu khawatir tuh!" Ucap Kun hingga membuatku terkesiap. Aku lantas menatap ke arahnya, memastikan apakah ia berkata jujur atau tidak.
"Dia ayahmu, tentu dia akan khawatir kalau membiarkan anaknya pergi dalam keadaan emosi yang tidak stabil, naik motor lagi!" Terangnya lagi. Dan ku rasa, ini memang isi hati ayahku.
Mau bagaimana lagi, aku tak bermaksud berbuat seperti ini. Tapi, pada dasarnya aku tetaplah remaja enam belas tahun, dan tentu mengendalikan emosi adalah hal yang begitu sulit untuk anak seusiaku.
Aku menatap ayah lagi. Melembutkan tatapanku padanya. Ku lihat matanya kian berkaca, dan wajahnya nampak muram. Ia terdiam, dan ku yakin diamnya itu menyimpan sebuah beban dan rasa bersalahnya. Berkali-kali ku lihat ia menghela napas panjang, seolah memaklumi kalau remaja seusiaku, memang akan melakukan hal seperti ini jika merasa kecewa. Syukur-syukur kan aku tak mengajaknya duel di ring tinju, atau kabur dengan membawa dokumen penting perusahaannya. Bisa-bisanya aku berpikiran buruk begitu! Efek sinetron agaknya.
"Ini kuncinya!!" Seru ibu yang entah kapan telah berada di hadapanku. Tentu aku sedikit terkesiap, dan segera mengambil kunci dari tangannya.
Aku merunduk, mengambil tas yang sempat ku lepas dari tanganku. Setelah mendapatkannya, aku menyandangkannya ke punggungku.
"Pamit bu.." Ucapku sambil menyalami tangan ibu. Kini aku terdiam, menatap lelaki yang berdiri bak patung sambil menatapku.
Aku berjalan ke arahnya, dan ku ambil tangan kanan yang ia letakkan di samping tubuhnya. Ketika aku menyalaminya, aku bisa merasakan tangan yang satunya menepuk pundakku beberapa kali dengan lembut, selagi aku merunduk.
"Pamit yah." Ucapku sambil mengangkat kepala dan menatapnya datar. Ia hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Assalamualaikum!" Salamku seraya berlalu dan berjalan gontai menuju pintu.
"Saya akan jaga anak kalian! Jadi jangan khawatir yaa.." Sambung Kun seraya mengekoriku.
.
.
.
.
Di perjalanan Kun yang bisa terbang malah memilih duduk manis di boncengan belakangku. Itu tak masalah bagiku, meskipun ia tak mengenakan helm, dan duduk di atas motor besarku. Tapi, setidaknya duduklah yang tenang, aku jadi tidak fokus mengendarai motor ini.
"Gam!!" Sapanya samar-samar, karena deru angin meniup dari arah depan ke belakang. Terlebih lagi aku sedang mengenakan helm, yaah menjadi budek di atas motor adalah hal yang wajar kan?
"Apa?" Sahutku sambil tetap fokus ke depan.
"Kamu mau mati ya?? Nyusul saya??" Aku mengernyit mendengarnya.
"Apasih?"
"Kamu ngebut!! Saya sih tidak masalah, karena sudah mati sekali. Kamu kan belum!! Sakaratul maut itu sakit loh.. rasa dikuliti hidup-hidup!" Teriaknya ke dekat telingaku. Aku langsung tersentak mendengarnya.
"Marah boleh sih pada ayahmu. Tapi kalau nanti kamu kecelakaan dan jatuh, terus mati.. kan kasian ibumu." Ucap Kun lagi hingga membuatku merenung.
Dia setan sih, tapi apa yang dikatakannya itu benar. Kalau aku mati.. terus yang jaga ibu siapa?? Kalau ayah menyakitinya bagaimana? Tidak ada yang melindunginya.
Aku mengendurkan gas motorku. Mengalahkan egoku sendiri. Padahal sakaratul maut tadi nampak asik. Kalau seandainya aku balap dengan Valentino Rossy, mungkin aku sudah juara tadi.
"Berhenti dulu deh.. Ada pantai!!" Ucap Kun ketika kami melewati pantai di pinggir jalan. Aku terus melaju, karena aku tahu tempat yang lebih bagus untuk mampir.
"Nanti aja.. Gue bakal ajak lu ke tempet yang bagus.." Ucapku seraya terus memacu kuda besiku.
"Ini juga bagus kok.. Sudah lama saya tidak jalan-jalan dan lihat pantai." Gumam Kun sambil terus memandangi ombak yang saling berkejaran.
Aku pun mengarahkan motorku ke sebuah tikungan. Anak panah telah memberitahukanku bahwa aku berada di jalan yang benar.
"Danau Kaolin??" Apanih?? Kamu mau ajak saya berenang??" Tanyanya polos.
"Kalau lu mau berenang sih gak apa-apa, tapi gue ogah!" Sahutku hingga membuatnya terdiam.
Kami melewati jalan yang mulus. Kelihatannya akses menuju sana sudah di perbaiki. Dulu sih pas datang pertama kali, jalannya belum semulus ini.
Tapi kalau main ke daerahku, jangan lupa untuk mampir kesini. Suasananya indah bak di luar negeri.
Kami pun sampai, setelah beberapa kali melewati pepohonan dan juga danau dengan paras serupa, tapi masih kalah indah dengan yang baru saja ku datangi ini.
"Woaaaah!!!" Pekik Kun takjub sambil turun dari atas motorku. Aku pun melakukan hal serupa setelah memasang standar motor. Tak lupa ku pasang batu di bawahnya, agar motorku tidak tumbang karena standar motor yang melesak ke tanah yang lemah.
Aku bisa melihat kedua matanya terbuka lebar. Wajahnya nampak berbinar-binar, dan ia tak henti-hentinya membelalak dan menganga.
Yah, walaupun aku sudah pernah datang kesini, tapi aku tak pernah bosan merasa kagum. Betapa tidak, tempatnya indah.. Dengan hamparan pasir putih bak sagu, kalau di lihat sekilas, ini nampak seperti gumpalan salju. Pasir putih yang halus dan lembut. Hampir semua pasir pantai di daerahku berwarna putih bersih, tapi ini bukanlah pantai.. ini adalah danau dengan lautan berwarna biru langit cerah, terkadang berwarna hijau, dan kadang juga biru muda. Intinya tempat ini luar biasa indah.
Ada beberapa orang ku lihat di antara kami. Tak banyak, dan tentunya mereka mengabadikan kehadiran mereka di tempat ini. Kemarin aku pergi saat hari libur, hampir semua tempat penuh dengan manusia meskipun tempat ini panas dan tak ada pohon untuk meneduhkan. Jadi ku sarankan, kalau mau datang, datanglah di hari sibuk. Bukan hari libur.
"Saya sudah masuk surga kah?" Tanya Kun polos. Memang membandingkannya dengan surga terdengar sedikit berlebihan, tapi memang sih tempat ini indah.
"Ini tempat apa Gam?? Danau Kaolin??" Aku mengangguk membenarkan ucapannya.
"Orang Bangka bilang sih, ini Kulong Biru." Sahutku.
Kalau kalian juga ingin lihat, aku sudah mengambil beberapa foto dari internet. Ini dia!!!
"Cantik kan???" Tanyaku pada Kun. Ia mengangguk dengan riang.
"Ini tempatnya bagus!! Pasirnya cantik.. putih dan lembut.." Aku tersenyum bangga mendengarnya.
"Di dalam sana ada siluman buaya gak ya??" Tanyanya hingga membuat ekspresiku mendatar. Hantu ini, masih sempat-sempatnya ya buat nyari keberadaan temannya di tempat seindah ini.
"Mana gue tau! Nyebur aja sana kalau mau tau!!" Balasku.
"Kenapa airnya biru?? Ini danau apa sih??"
"Ini fenomena alam.. Terlahir dari semesta yang terluka akibat ulah manusia!" Terangku hingga membuat Kun menoleh.
"Apa maksudnya itu?"
"Kepulauan gue ini terkenal dengan hasil alam timah yang melimpah, danau indah yang sekarang kita lihat ini adalah bentuk dari salah satu korban penindasan terhadap semesta.."
"Danau yang tercipta akibat bekas pertambangan yang di tinggalkan begitu saja."
"Sesuatu yang nampak indah pun terlahir melalui luka yang menyakitkan." Terangku sambil menghela napas panjang.
Ya, berlaku pula sebaliknya.. sesuatu yang terlahir indah pun, dapat berakhir menyakitkan, dan aku harap.. keluargaku yang tercipta dengan kebahagiaan, tidak berakhir dengan penderitaan.
Aku tertegun. Merasakan terik panas yang menghantam kepalaku, meskipun semilir angin dingin berhembus kencang bak di tengah pantai. Aku enggan berteduh, dan enggan mengalihkan pandanganku barang satu detik pun.
Hingga tanpa ku sadari, orang-orang yang berada di sekitarku tadi telah pergi. Apa selama itu aku berdiri sambil menatap langit yang berwarna selaras dengan air, dan di batasi dengan pasir putih?
Sepertinya memang selama itu aku di sini. Aku pun menoleh, menatap Kun yang masih mematung, menikmati angin. Tak di sangka, dia begitu cocok untuk di ajak berhamonisasi dengan alam.
Kalau kemarin, saat pergi bersama manusia, mereka hanya sibuk dengan ponsel masing-masing.. Seolah tak perduli dengan pemandangan seindah ini untuk dinikmati.
Aku lebih suka mengabadikan apa yang ku lihat dengan lensa mata, bukan dengan lensa kamera.
"Yuk Kun.. Udah hampir siang!" Ajakku seraya berlalu. Ia nampak terkesiap dan segera memandangku. Aku berjalan menuju motorku.
Ia pun mengikutiku tanpa protes seperti yang biasa ia lakukan. Ternyata tempat ini memang mampu memberikan ketenangan, apalagi kalau pergi dengan kondisi sepi seperti ini.
.
.
.
Kami kembali melanjutkan perjalanan. Aku bisa membawa motor lebih tenang setelah mampir ke Kulong Biru tadi.
Sebenarnya ada tempat yang bagus juga selama perjalanan menuju ke selatan Bangka, namun aku pergi bukan untuk mampir dan jalan-jalan ke setiap tempat yang ada.
Lagi pula kenapa hantu di belakangku ini lebih tenang? Apa dia ketiduran? Apa hantu bisa tidur juga??? Aku tak pernah melihatnya terlelap sih. Saat ku tidur, dia masih sibuk dengan laptopku. Dan saat aku bangun untuk shalat malam, aku tak lihat ada dia juga di kamarku.
"Kun.." Sapaku sambil menoleh ke belakang.
"Lu tidur?" Tanyaku lagi. Namun tiba-tiba ketika memasuki salah satu daerah sebelum kota nenekku, aku menyebutnya desa rumah kereta api, saking panjangnya rumah mereka, Kun sedikit terkesiap. Tak tahu kenapa, tapi aku bisa merasakannya, karena ia duduk di belakangku.
"Tidak!" Sahutnya singkat dengan wajah yang sedikit menegang. Sesekali aku menatap pantulan wajahnya dari spion motor.
"Hitam!" sambung Kun hingga membuatku mengernyit bingung. Hitam apanya? Padahal ini kan masih di bawah jam sepuluh pagi. Apa dia ngelindur?
Aku kembali fokus mengendarai. Tak ku hiraukan perkataan Kun tadi, hingga kami melewati hutan setelah desa rumah kereta api tadi.
Tanpa sengaja, aku melihat monyet putih di antara pepohonan yang tinggi meskipun dari kejauhan. Ia memanjat dahan, dan kenapa tiba-tiba mataku bisa menangkapnya. Padahal sejak tadi aku hanya fokus ke jalanan.
Seketika tubuhku bergidik. Aku langsung menggeliat singkat bak menggigil. Ku rasa kini Kun menggenggam tasku. Entah kenapa.. Apa ia melihat ada sesuatu?? Seperti apa yang sedang ku rasakan kini?
Semakin memasuki daerah paling selatan pulau Bangka, aku merasa Kun makin mengeraskan tubuhnya. Kenapa lagi sih dia?? Apa terjadi sesuatu??
Sialnya aku tak bisa melihat hantu selain Kun. Aku tak terlahir memiliki kemampuan seperti indigo. Aku hanya bisa merasakannya sedikit. Namun aku yakin, sepertinya ada sesuatu yang telah mengikuti kami sejak aku melihat penampakkan monyet tadi. Terus terang saja, tubuhku tak berhenti merinding sejak tadi.
"Kenapa Kun??" Tanyaku sambil sesekali menoleh ke arahnya dari spion.
"Gelap.." Balasnya.
"Mati lampu?" Ledekku. Karena aku memang tak mengerti, gelap seperti apa yang ia bicarakan.
"Bukan.."
"Saya merasa di sini lumayan kental." Aku kembali mengernyit.
"Apanya??"
"Ilmu magisnya.." Singkat Kun, dan entah kenapa, semilir angin dingin ku rasa menembus masuk ke hoodie tebalku. Apa aku.. sedang merinding karena takut???
.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Note :
Hai readers, di bab kali ini.. aku mau ngenalin kalian sama beberapa wisata cantik di daerah aku. Bukan hanya terkenal dengan pantainya, tapi juga ada Kulong birunya.
Tepatnya di daerah Bangka tengah..
Aku juga sempet mampir pas ada acara nikahan keluarga di sana. Karena rutenya deket, kami mampir lah ke Danau Kaolin tadi..
Berhubung perginya selesai dari kondangan, yaa kami jadi terkesan salah kostum gitu. Padahal orang yang main ke sana pakai baju santai, laah keluarga author malah pakai kebaya semua.
Masih ada fotonya..
ini hehehee
kalau ada waktu, bolehlah main2 kesini....
.
.
Btw, author mau kasih kabar buat kalian.. Dalam rangka merayakan hari raya Idul Adha, aku bakal up 2 bab di tanggal 31 besok..
Tepatnya di jam 8 Pagi dan jam 2 siang..
Jangan sampai ketinggalan yaaaa~ 😆
Happy reading!!!
Jgn lupa dukung author dengan cara like, komen, rate5, dan vote karya author..
Terimakasih atas dukungan dari kalian semuaaa..
membaca nya, berasa aku jga trbawa dalam cerita nya.
Masya Alloh author nya pinter bgt buat novel yg bukan cma hiburan, tp banyak jg ilmu" agama nya, smpai" aku pn bljar keseharian mnurut sunah rosul, sperti ritual sblum tidur mnurut agama Islam. mksih bgt kakak author buat novel nya.🥰
coba kk Rima lanjutin novel kun lg ya...smpe agam nikah sm dara...khihihi...pasti seruuu