Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
"Zayyan, ayo cepat pakai sepatunya, Sayang!" seru Arin dari balik meja kecil tempat ia menyiapkan kotak bekal. "Ojolnya udah mau sampai, tuh. Nanti kamu telat masuk kelas."
Zayyan yang sedang duduk di tepi kasur sambil memegang sebelah sepatunya mendongak, wajah kecilnya tampak ditekuk penuh kebingungan.
"Aku nggak dijemput sama Om Regan, Bu?" tanya Zayyan polos, tangannya berhenti mengikat tali sepatu.
Arin mendadak terdiam. Jemarinya yang memegang kotak bekal sempat kaku sejenak sebelum ia memaksa tersenyum dan menghampiri anak semata wayangnya itu. Ia berlutut di hadapan Zayyan, membantunya membetulkan letak sepatu.
"Nggak, Sayang..." Arin mengelus rambut Zayyan lembut, berusaha menjaga nada suaranya agar terdengar sebiasa mungkin.
"Om Regan itu orang sibuk, jadi nggak bisa jemput kamu tiap hari."
"Tapi kata Om Regan semalem, dia mau ajak Zayyan naik mobilnya lagi..." gumam bocah itu pelan, bibirnya sedikit cemberut.
"Om Regan kan punya pekerjaan besar. Banyak yang harus Om urus," bujuk Arin sabar sambil menepuk pelan bahu Zayyan.
Zayyan akhirnya mengangguk pelan, walau binar kecewa jelas terpancar di matanya.
"Iya deh, Bu..."
Tepat saat Arin berdiri dan meraih tasnya, ponsel di atas meja bergetar menyalakan layar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenali—nomor Regan.
‘Supirku udah sampai di depan mess. Kalian berangkat naik mobil itu aja. Hari ini panas, kasihan Zayyan kalau naik motor.’
Arin mematung menatap layar ponselnya, sementara suara klakson motor ojek online yang ia pesan dari aplikasi justru baru saja terdengar berhenti di depan mess-nya.
Arin sengaja mengabaikan pesan singkat dari Regan. Ia mengunci layar ponselnya rapat-rapat dan memasukkannya ke dalam tas, menolak untuk larut dalam perhatian pria itu.
"Udah selesai, kan? Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Arin sambil memastikan kembali zipper tas sekolah Zayyan sudah tertutup rapat.
"Nggak ada, Bu. Kotak bekalnya udah masuk," jawab Zayyan menurut.
"Ya udah, ayo Ibu antar ke depan. Ojolnya udah nyampe," ajak Arin seraya menggandeng tangan kecil putranya melangkah keluar dari tempat tinggal mereka.
Di sana, seorang pengemudi ojek online dengan helm hijaunya sudah menanti. Namun, tak jauh dari posisi motor itu parkir, sebuah mobil hitam mewah bertaut kaca gelap juga tampak berhenti tenang di pinggir jalan, pasti supir kiriman Regan. Arin pura-pura tidak melihat mobil itu dan fokus menuntun Zayyan mendekati sang abang ojol.
Sebelum naik ke atas motor, Zayyan berbalik menghadap ibunya. Anak kecil itu meraih tangan Arin dan mencium punggung tangannya penuh takzim.
Arin tersenyum hangat, membungkuk sedikit untuk membantu Zayyan mengenakan helm anak dan memasang posisi duduknya di jok belakang motor agar aman.
"Zayyan pergi sekolah dulu, Bu. Assalamualaikum," pamit bocah itu dengan suara nyaring khas anak-anak.
"Waalaikumsalam... Hati-hati di jalan ya, Pak," balas Arin lembut pada sang pengemudi, yang langsung disambut anggukan ramah.
Motor matic itu pun perlahan mulai melaju membelah keramaian jalan raya pagi hari. Dari atas motor yang kian menjauh, Zayyan melambaikan tangan kecilnya antusias ke arah sang ibu.
"Dadah, Ibu!" teriaknya ceria.
"Dadah, Sayang!" Arin melambaikan tangan balasan sampai sosok anaknya menghilang di tikungan jalan.
Begitu motor itu benar-benar tak terlihat lagi, senyum Arin perlahan pudar. Ia membalikkan badan, dan pandangannya langsung bertabrakan dengan pintu mobil hitam yang kini perlahan terbuka.
"Selamat pagi, Mbak Arin," sapa pria paruh baya itu ramah sambil mengangguk hormat.
"Saya Pak Yanto, supir yang diutus Pak Regan untuk mengantar Mbak dan Mas Zayyan."
Arin menghela napas pelan, mengusap wajahnya yang terasa lelah meski hari baru saja dimulai. Perhatian Regan yang bertubi-tubi justru terasa menekan baginya.
"Selamat pagi, Pak," balas Arin seadanya, berusaha menjaga jarak.
"Maaf ya, Pak Yanto sudah repot-repot datang ke sini pagi-pagi. Tapi seperti yang Bapak lihat, Zayyan sudah berangkat sekolah naik ojol."
Pak Yanto tersenyum maklum, tampak sudah menduga reaksi Arin. "Iya, Mbak. Tadi saya lihat. Tapi Pak Regan mewanti-wanti saya untuk tetap berada di sini sampai Mbak Arin berangkat kerja. Pak Regan minta saya mengantar Mbak ke tempat kerja."
"Ngapain saya berangkat pakai mobil, Pak?" ucap Arin sambil menunjuk sebuah restoran mewah bertingkat dua di samping mereka. "Tempat kerja saya ini."
Pak Yanto ikut menoleh ke arah restoran megah berarsitektur modern itu, lalu kembali menatap Arin dengan wajah serba salah dan agak terkejut.
"Eh... iya ya, Mbak," kekeh Pak Yanto pelan, makin menggaruk kepalanya.
"Pak Regan cuma kasih alamat mess Mbak Arin, saya nggak tahu kalau restoran mewahnya persis di sebelah sini."
Arin menghela napas, tak bisa menahan senyum tipis melihat situasi konyol ini. "Makanya, Pak. Saya biasa jalan kaki nggak sampai dua menit. Jadi Bapak tenang aja, saya udah sampai di tempat kerja dengan aman, kok. Bapak nggak bakal dimarahi Pak Regan."
"Aduh, maaf ya, Mbak Arin," ucap Pak Yanto lega.
"Kalau gitu saya pamit kabarin Pak Regan dulu."
"Iya, Pak. Terima kasih ya," balas Arin.
Baru saja Arin mendorong pintu kaca restoran tersebut dan menginjakkan kaki di dalam, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Nama Regan terpampang jelas di layar, memanggilnya.
Arin menghela napas panjang melihat nama itu terus berkedip di layar. Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya sambil terus melangkah menuju ruang ganti karyawan di bagian belakang restoran.
"Halo," sapa Arin pelan, berusaha menetralkan suaranya.
"Kenapa Zayyan diantar naik ojol?"Suara Regan langsung menyambar di seberang telepon, bernada menuntut tanpa basa-basi.
"Pak Yanto bilang kamu tolakan mobilnya dan Zayyan berangkat naik motor. Rin, jalanan pagi itu padat dan berbahaya buat anak kecil!"
Arin menghentikan langkahnya di depan loker karyawan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menahan rasa kesal yang mulai menyulut dadanya.
"Regan, Zayyan itu anak aku. Selama ini dia biasa naik ojol sama aku dan nggak pernah ada masalah," jawab Arin dingin namun tegas.
"Lagipula, aku nggak mau mengajari Zayyan buat bergantung sama kemewahan yang bukan milik kita."
"Bukan milik kalian gimana maksud kamu?" nada suara Regan meninggi, terdengar frustrasi.
"Semua yang aku punya itu milik kamu dan Zayyan, Rin! Kenapa sih kamu selalu jual mahal dan menolak bantuan aku?"
"Karena ini bukan soal jual mahal, Regan!" potong Arin cepat dengan suara tertahan agar tidak terdengar oleh rekan kerjanya.
"Ini soal batasan. Kamu nggak bisa tiba-tiba datang dan mengatur hidup kita seolah-olah sembilan tahun kemarin itu nggak pernah ada!"
Hening sejenak di seberang telepon. Hembusan napas berat Regan terdengar jelas.
"Rin... aku cuma mau yang terbaik buat anak kita,"ucap Regan, suaranya melunak, sarat akan penyesalan.
"Aku cuma nggak mau dia kenapa-napa."
"Zayyan baik-baik aja sama aku, seperti yang sudah-sudah," tegas Arin. "Udah ya, aku harus kerja. Jangan telepon lagi."
Tanpa menunggu jawaban dari Regan, Arin langsung mematikan sambungan telepon tersebut dan menyandarkan punggungnya di pintu loker, menatap lurus dengan pikiran yang makin kalut.
Di seberang sana, di dalam ruang kerjanya yang luas di lantai atas gedung pencakar langit, Regan mengepalkan tangannya erat-erat saat mendengarkan nada tut-tut-tut tanda panggilan diputus sepihak oleh Arin.
Ia menurunkan ponsel dari telinganya, menatap layar hitam itu dengan napas yang memburu. Perasaan bersalah, frustrasi, dan rasa takut kehilangan bercampur aduk menguasai dadanya.
"Batasan, Rin?" bisik Regan lirih pada dirinya sendiri, menatap kosong ke arah pemandangan kota di balik dinding kaca kantornya.
"Gimana bisa aku bikin batasan kalau tiap kali ngeliat kamu dan Zayyan, aku makin sadar betapa brengseknya aku dulu?"
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berjalan mondar-mandir di depan meja kerjanya. Kemandirian Arin yang begitu kokoh justru menjadi benteng paling sulit untuk ia tembus. Arin yang sekarang bukan lagi gadis muda polos yang pasrah, Arin yang sekarang adalah seorang ibu yang bersiap memajukan perisai terkuatnya demi melindungi anaknya.
''Aku paham kamu marah. Tapi aku nggak akan berhenti, Rin. Sampai kapan pun, Zayyan tetap anak aku, dan kamu tetap istri aku.’'