Kirana, gadis berusia 20 tahun yang baru saja menginjak semester tiga di kampusnya, ternyata sudah pernah menikah dan bercerai.
Rian, Dosen Fisika paling killer se-kampus yang biasanya hanya mengajar mahasiswa tingkat akhir dan S2, malah tiba - tiba menjadi dosen Kirana.
Siapa sangka, dosen killer itu adalah Rian yang sama yang pernah menikahi dan menceraikannya tiga tahun yang lalu.
Saat hatinya sudah mantap melupakan masa lalu, Kirana justru bertemu kembali dengan orang yang paling dia hindari selama ini.
Apakah Kirana masih mengharapkan cinta Rian?
Atau Kirana justru berpaling pada Radit, sang Ketua BEM yang menaruh hati padanya?
Mungkinkah Kirana justru bermain hati dengan Raka, mahasiswa baru dari luar negeri yang tiba - tiba jadi pacar pura - puranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hermosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Dosen Killer mulai Mengajar Bagian 2
Bulu kuduk Ghea langsung berdiri karena dia yakin salah satu yang dibicarakan Rian adalah dirinya. Jantung Ghea langsung berdetak dengan kencang. Dan mulutnya tertutup rapat.
Kirana, dia sudah terbiasa dengan tampilan Rian tapi tak pernah masuk ke kelasnya dengan mode galan on seperti ini. Pria yang ada di depannya bukanlah Rian yang dia kenal. Tapi Pak Rian, dosen di kampusnya.
Meski tidak sampai se-lebay Ghea, namun Kirana mengakui dia sedikit terkejut saat Rian mengatakan hal itu pada mereka. Dia takut Rian akan mengusir mereka keluar dari kelas dan hal tersebut tentu akan membuat Kirana malu.
Beruntung, setelah mengatakan kalimat itu, Rian kembali ke meja dosen dan mengaktifkan proyektor dari ponselnya. Materi kuliah yang paling dia benci dan dosen yang paling tidak ingin ditemui selanjutnya akan menyiksanya selama satu semester ini.
Rian langsung memulai mata kuliahnya dengan menampilkan slide presentasi dan menjelaskan materi. Kelas berlangsung selama 50 menit.
“Sampai ketemu lagi di kelas selanjutnya.”, setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rian langsung keluar dari ruangan.
Semua mahasiswa langsung menghela nafas dan menurunkan bahu tegap mereka. Seolah, mereka sudah menahan sikap sempurna selama kelas berlangsung.
“Wah.. aku hampir saja kehabisan nafas selama kelas. Untuk satu jam mata kuliah saja begini, bagaimana nanti menghadapi yang dua jam mata kuliah. Sepertinya aku harus minum yogurt dulu supaya bisa tenang.”
“Tapi, Pak Rian langsung masuk ke intinya dan tidak membuang sedikit waktupun. Beda sama kelas sebelah. Penjelasan dari dia juga lebih mudah dimengerti.”
Para mahasiswa saling memberikan komentar tentang pengalaman pertama mereka masuk ke kelas Pak Rian.
Sebelumnya, saat Rian menggantikan Bu Rika, mereka tidak melihat sama sekali bagaimana pria itu saat mengajar. Karena Rian langsung meminta para mahasiswa untuk menyelesaikan tugas. Dia juga tidak banyak berbicara.
“Sepertinya kita harus belajar ekstra agar bisa lulus di kelas beliau. Dia bukan tipikal dosen yang akan kasih nilai gaib.”
Sebagian sudah pergi menuju kelas selanjutnya sementara sebagian lagi masih berkumpul saling berkomentar tentang pengalaman diajar oleh Dosen seperti Rian.
“Lo mau langsung ke ruang BEM?”, tanya Ghea.
Hari ini, Kirana akan melanjutkan kelas berikutnya setelah makan siang. Sementara Ghea sudah harus berpindah ke kelas selanjutnya sekarang.
“Hn.. waktu pelaksanaan project sudah dekat. Gue akan lebih sering meeting mulai sekarang.”, balas Kirana.
“Hm.. bareng Radit?”, tanya Ghea tersenyum jahil.
“Ngapain bareng dia. Dia kan BEM Kampus, bukan Fakultas. Tugas dia itu seharusnya di BEM Kampus, ngapain sibuk ngurusin project BEM Fakultas yang skalanya lebih kecil.”, komentar Kirana.
“Oiya.. gue lupa nanya. Jadi gimana nasib tugas Fisika lo yang waktu itu jadi peringkat terendah. Lo jadi tanya Pak Rian?”, Ghea yang sudah siap berjalan menuju kelas selanjutnya malah teringat pada hal itu.
“Belum. Gue kehilangan mood untuk bertanya.”, ujar Kirana.
“Iyaa.. bener. Lo gak usah tanya aja. Lagian berapa persen sih tugas seperti itu. Gak penting. Mending lo usahain di UTS sama UAS aja yang persentasenya lebih tinggi.”, ucap Ghea memberikan saran.
Di banyak kesempatan, Ghea hampir tidak pernah memberikan nasehat, saran, atau perkataan yang sifatnya memberikan dukungan. Entah ada apa dengan anak itu hari ini. Bisa sebijak itu.
“Gue cuma gak lagi mood aja. Bukan berarti gue gak akan tanya ke Pak Rian. Bukan masalah gede atau kecil persentasenya, tapi gue gak rela aja kalau ternyata ada yang sedang ngusilin gue. Apalagi kalau itu Pak Rian.”, ucap Kirana dengan nada menantang.
“Heh - heh.. Yaa ngapain Pak Rian ngusilin nilai Fisika, lo. Gak ada untungnya buat dia sama sekali. Udah sana ke ruang BEM. Daripada lo punya ide - ide aneh lagi. Gue cabut ya.”, kata Ghea pamit karena dia harus ke gedung satu lagi.
‘Hm..’, Kirana melihat jam tangannya.
Masih ada sekitar 25 menit lagi sampai waktu pertemuan rapat penanggung jawab acara di lakukan. Itu artinya, dia masih punya banyak waktu.
Kirana berbalik arah dan malah berjalan ke arah gedung seberangnya. Disana adalah gedung para dosen, petinggi fakultas, dan sebagian lab. Kirana dengan langkah pasti segera berjalan menuju lantai dua dimana ruangan Pak Rian berada.
‘Dia bisa bersikap biasa saja. Aku juga bisa melakukannya.’, ujar Kirana dalam hati.
“Oh?”, tak seperti hari - hari sebelumnya dia kesini. Ruangan dosen Fisika terbuka.
Kemungkinan dosen yang lain juga ada disana.
“Baiklah, tidak masalah. Kenapa memangnya kalau ada dosen yang lain.”, ucap Kirana pada dirinya sendiri.
Tok tok tok tok
Sayangnya, Kirana tidak melihat ada Rian di kursinya. Sementara kursi yang lain, semua dosen hadir lengkap.
“Iya, cari siapa?”, tanya salah seorang dosen perempuan.
Seperti Dejavu. Itu adalah dosen yang sama yang menyapa Kirana sebelumnya.
“Maaf Bu, saya sedang mencari Pak Rian.”, jawab Kirana.
“Cari saya?”, bagaikan hantu, Rian sudah ada di belakang Kirana dan membuatnya terperanjat kaget.
Karena semua berlangsung tiba - tiba, Kirana tanpa sengaja menginjang palang pintu yang biasa digunakan para dosen agar pintu ruangan mereka tetap terbuka. Beberapa hari ini AC ruangan mereka rusak, sehingga mereka harus membuka pintu agar setidaknya AC dari luar bisa masuk.
Kirana tak sengaja menginjak itu dan hampir terjatuh. Rian yang persis berada di belakangnya langsung sigap menahannya. Untuknya, kejadian itu juga berlangsung sangat cepat. Rian memegang apa yang bisa dia pegang dalam kejadian yang berlangsung sepersekian detik itu.
Pinggang Kirana. Dia tertangkap memegang pinggang Kirana agar menahan gadis itu jatuh. Untuk beberapa saat mereka nampak mematung.
“Gak bangun?”, tanya Rian dengan suara tegas dan jutek khas miliknya.
“Ah.. iya Pak. Makasih.”, jawab Kirana.
Kirana melihat ke arah para dosen yang duduk di bangku mereka masing - masing karena merasa malu. Tapi sebaliknya, tak satupun dari mereka yang nampak peduli. Mereka nampak mengerjakan pekerjaan mereka masing - masing.
“Hati - hati. Kamu orang ke sekian yang tanpa sengaja menginjang penahan itu. Lagipula, ini AC belum di benerin juga?”, ucap salah seorang dosen yang baru saja muncul di depan pintu.
“Iya ni Pak. Bilang dong ke pengurus. Masa AC mati dibiarin. Panas nih. Panas karena mahasiswa makin panas lagi masuk ruangan.”, celetuk salah seorang dosen pria dari dalam.
“Masuk.”, ucap Rian pada Kirana.
“Hm..”, jawab Kirana singkat mengikuti arah jalan Rian.
‘Bukannya dari tadi memang udah masuk ya.’, gumam Kirana dalam hati.
“Ada apa kamu menemui saya?”, ucap Rian dengan nada serius.
‘Dasar, pinter banget aktingnya. Harus dapat penghargaan nih orang.’, komentar Kirana dalam hati.
“Kirana?”, panggil Rian kembali.
“Ah.. iya Pak. Saya mau menanyakan kembali tentang lembar jawaban saya untuk tugas waktu itu. Saya yakin itu bukan lembaran jawaban milik saya, Pak. Kalau boleh diizinkan, saya mau lihat lembar jawaban milik saya. Pasti ada perbedaan, Pak.”, ucap Kirana.
“Hah.. baiklah. Duduk.”, ujar Rian menghela nafas.
Pria itu berdiri dan berjalan ke ruangan sebelah. Kemungkinan itu adalah tempat mereka menyimpan dokumen. Kemudian tak lama, Rian keluar dengan sebuah lembar jawaban dan meletakkannya di atas meja.
“Silahkan dilihat.”, ucapnya pada Kirana.
Kirana melirik ke arah Rian sebentar meyakinkan dirinya kalau pria itu benar - benar memperbolehkannya untuk melihat lembar jawaban ini. Beberapa dosen yang ada di sana sedikit melirik ke arah mereka karena penasaran.
Selanjutnya, Kirana mencoba untuk melihat lembar jawaban yang sudah ada di meja. Karena kurang jelas, dia mengangkat kertas itu dengan tangannya.
“Pak, ini bukan lembar jawaban punya saya.”, ucap Kirana segera setelah menemukan adanya perbedaan dengan lembar jawaban miliknya.
“Kamu yakin? Nama yang tertera disana adalah nama kamu. Tidak ada lembar jawaban lain yang saya temukan atas nama kamu. Hanya itu satu - satunya.”, jawab Rian heran.
Namun, beruntungnya, pria ini masih mencoba mendengarkan penuturan Kirana.
“Iya Pak, saya yakin betul, karena di lembar jawaban milik saya ada bekas lipstiknya.”, ucap Kirana spontan tanpa memikirkan konsekuensi dari jawabannya.
“Eh? Maksud kamu?”, tanya Rian tentu saja bingung
Aq n readers lain bnr" kcewa berat nie
udah nunggu stgh tahun kyknya...
hihiii wkwkwk
ayo thor kirananya cpt2 dikasih hidayah
aqu pusinggg lht ego Rana..
lbh pusingggg lg nunggu kak. mosa nih..
up nya luamaaaaaaaa🤭🤣