"Tidak ada pengajaran yang bisa didapatkan dari ceritamu ini, Selena. Perbaiki semua atau akhiri kontrak kerjamu dengan perusahaan ku."
Kalimat tersebut membuat Selena merasa tidak berguna menjadi manusia. Semua jerih payahnya terasa sia-sia dan membuatnya hampir menyerah.
Di tengah rasa hampir menyerahnya itu, Selena bertemu dengan Bhima. Seorang trader muda yang sedang rugi karena pasar saham mendadak anjlok.
Apakah yang akan terjadi di dengan mereka? Bibit cinta mulai tumbuh atau justru kebencian yang semakin menjalar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LyaAnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29: Ketika Ketenangan menjadi Ancaman
"Selena Aria Widyantara sudah masuk terlalu jauh dalam permainan yang baru saja dimulai."
Sayangnya, Selena terlambat menyadari perubahan hidupnya.
Mobil taksi yang membawa Selena melaju pelan meninggalkan PawPaw Cafe. Jalanan sudah dihiasi lampu-lampu yang sudah memancarkan cahayanya yang hangat. Di balik kaca jendela mobil, Selena menyandarkan kepalanya dengan menatap bayangan dirinya sendiri yang sudah sangat lelah memikirkan segala hal yang terjadi di hidupnya.
Ponselnya sudah ia genggam sedari tadi, namun Selena tidak memainkannya sama sekali. Obrolannya dengan Aksa tadi terngiang-ngiang di kepalanya, seolah seperti kaset rusak.
"Kadang, bahaya itu datang bukan dari orang yang terlihat marah. Tapi datang dari orang yang terlihat sangat tenang."
Kalimat itu terngiang-ngiang di telinganya. Kepalanya tiba-tiba sakit dan ia mengingat sesuatu. Ya, kalimat itu persis dengan email anonim yang sering ia dapatkan akhir-akhir ini.
"Apa ini, kalau dibilang kebetulan nggak banget. Ini terlalu kebetulan untuk dianggap kebetulan. Paham nggak sih," gerutunya.
"Kenapa mbak. Kebetulan ketemu saya apa gimana? Mbak nggak suka naik mobil saya? Kalau service nya kurang memuaskan. Bisa kasih tau saja langsung mbak. Jangan lewat aplikasi. Nanti rating saya turun mbak," ujar pak sopir.
Selena bingung dan langsung membantah omongan pak supir.
"Bukan pak. Ini bukan karena bapak, tapi saya ada masalah lain."
Bapak supir hanya mengangguk. Keheningan kembali menguasai taksi yang ditumpangi Selena. Setelah kurang lebih dua puluh menit, taksi tersebut sampai di depan kost Selena. Setelah menyelesaikan pembayaran, Selena tak langsung masuk di kamarnya. Melainkan, ia berdiri di depan pagar kost nya. Ia celingukan melihat apakah ia sedang diikuti seseorang apa tidak.
*****
Sedangkan, di sisi lain di kota Semarang sebuah kompleks apartemen yang cukup tinggi dengan jendela cukup lebar mengarah ke pusat kota. Bhima Artha Pradana tegak di depan laptopnya yang sedari tadi menyala.
Grafik saham naik turun dengan cepat seolah detak jantung yang memburu. Warna hijau dan merah saling menunjukkan atensi nya dengan naik turun. Namun, fokus Bhima tidak pada grafik itu. Melainkan pada seseorang.
Di tengah lamunannya, gawainya bergetar.
Satu pesan terlihat di notifikasi gawainya.
Lapor Bhim, Selena habis ketemu Aksa tadi di PawPaw Cafe.
Setelah membaca pesan tersebut, Bhima menarik napas dalam-dalam, lalu kembali mengusak wajahnya kasar.
"Ternyata lu bener-bener ngejalanin rencana ini ya, Gatra," gumam Bhima.
Ia kembali menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya dan memejamkan matanya sejenak untuk berpikir bagaimana rencana selanjutnya.
Bhima tau. Dari awal memang dia sudah tau kalau Gatra yang melakukannya. Serta mendekati Selena dengan nama Aksa bukan keputusan yang diambil asal-asalan. Masalahnya, Bhima belum tau sejauh mana permainan itu akan membawanya terjerumus.
******
Setelah berdiri lama di trotoar depan kost nya, Selena akhirnya masuk ke kamarnya. Ia menutup pintu pelan agar tidak mengganggu aktivitas penghuni kost. Mengunci pintu dua kali sekarang adalah rutinitas baru nya sekarang tanpa disadarinya.
"Nggak, insting gue udah mulai nolak Aksa. Tapi, Bhima juga pergi. Sejauh ini yang bisa ngerti gue selain Rani ya cuma Aksa."
"Arghh..... Harus gimana sih gue bersikap ni."
Lama-lama Selena frustasi dengan keadaannya sendiri.
Gawai yang sudah diletakkan di meja kerjanya kembali bergetar. Dengan segera, Selena melirik siapa orang yang menghubunginya. Tanpa di duga, dia adalah Aksa.
"Halo, kenapa Aksa?" Suaranya dibuat senormal mungkin karena ia tidak ingin Aksa mengetahui keraguannya.
"Udah sampai kost belum?" Balas Aksa dari seberang telepon.
"Udah," jawab Selena singkat.
"Syukurlah kalau sudah sampai. Tadi aku lihat kamu agak gelisah."
"Wah, detail sekali memperhatikan bahasa tubuhku, Aksa," gumamnya.
"Iya. Kenapa kamu peduli padaku, Aksa? Kita belum lama kenal. Dan kenapa kamu sangat peduli padaku," tanya Selena.
Aksa terdiam beberapa detik sambil mengulas senyum yang sulit diartikan.
"Aku tidak suka melihat seseorang terlibat dengan masalah yang bukan dialah penyebabnya," respon Aksa akhirnya.
"Apa kamu yakin, aku orang baik?" Tanya Selena kembali.
"Yakin. Kenapa harus tidak yakin?" Aksa kembali mempertegas pernyataannya.
Selena tidak tau harus merespon bagaimana lagi. Lalu, terlintas di pikirannya sebuah pertanyaan untuk Aksa. Sebelum bertanya tentang hal itu, terlebih dahulu menyamankan tubuhnya di kasur.
"Aksa, kamu percaya kebetulan nggak?"
"Tidak. Aku hanya percaya pada pola dan strategi."
"Tapi......"
Belum sempat Selena melanjutkan pertanyaannya, telepon terputus secara sepihak. Selena sempat kesal, tapi ya sudahlah. Daripada memikirkan hal itu, dia memutuskan untuk membersihkan dirinya kemudian ia tertidur.
Setelah menghabiskan dua puluh menit membersihkan diri, ia berjalan ke jendela kamarnya dan membuka sedikit tirai jendelanya.
Di bawah sana, lampu jalan sudah berpendar memancarkan sinar lembutnya. Orang-orang berjalan beriringan diselingi dengan canda tawa.
"Dia terlalu tenang untuk sebuah kejadian yang sedang aku alami. Sebenarnya, siapa dirimu Aksa." Gumamnya.
Kini, Selena diselimuti oleh kebimbangan. Ia harus percaya dengan Rani, sahabatnya. Ataukah Aksa, orang yang baru pertama kali bertemu dengannya. Namun, entah mengapa kehadiran Aksa membuat perasaan Selena perlahan semakin nyaman.
******