NovelToon NovelToon
CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / One Night Stand / Duniahiburan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

Di Shannonbridge, satu-satunya hal yang tidak bisa direncanakan adalah jatuh cinta.
​Elara O'Connell membangun hidupnya dengan ketelitian seorang perencana kota. Baginya, perasaan hanyalah sebuah variabel yang harus selalu berada di bawah kendali. Namun, Shannonbridge bukan sekadar desa yang indah; desa ini adalah ujian bagi tembok pertahanan yang ia bangun.
​Di balik uap kopi dan aroma kayu bakar, ada Fionn Gallagher. Pria itu adalah lawan dari semua logika Elara. Fionn menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan kesuksesan di London. Kini, di tengah putihnya salju Irlandia, Elara terperangkap di antara dua pilihan.
​Apakah ia akan mengejar masa depan gemilang yang sudah direncanakan, atau berani berhenti berlari demi pria yang mengajarkannya bahwa kekacauan terkadang adalah tempat ia menemukan rumah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 : Pelarian Menuju Ujung Dunia

Debu jalanan pesisir yang terjal masih menempel pada ban mobil Fionn saat mereka akhirnya berhasil menghilangkan jejak dari sedan hitam yang membuntuti mereka sejak dari gubuk Barney. Fionn membelokkan kemudi dengan nekat ke sebuah jalan setapak yang hanya cukup untuk satu kendaraan, mendaki menuju titik tertinggi di Cliffs of Moher, tempat di mana wisatawan jarang menjamah karena medannya yang menantang.

Mobil itu berhenti dengan sentakan keras tepat di bibir padang rumput yang berbatasan langsung dengan jurang sedalam ratusan meter. Elara masih mencengkeram erat tas berisi kotak besi berkarat itu, napasnya memburu, dadanya naik-turun dengan cepat.

"Kita... kita berhasil?" bisik Elara, matanya masih terpaku pada kaca spion.

Fionn mematikan mesin. Keheningan segera menyergap, digantikan oleh suara megah dari samudera Atlantik yang menghantam dinding tebing di bawah mereka. Ia menoleh ke arah Elara, melihat wajah kekasihnya yang pucat namun terlihat begitu hidup dengan adrenalin yang masih tersisa.

"Mereka kehilangan kita di persimpangan jalan masuk desa nelayan tadi. Kita aman untuk sementara, Elara," Fionn mengulurkan tangan, mengusap pipi Elara yang dingin dengan ibu jarinya. "Bernapaslah, Sayang. Kau aman bersamaku."

Elara perlahan melepaskan cengkeramannya pada tas itu. Ia menatap Fionn, lalu beralih ke jendela. Di luar sana, langit mulai berubah warna menjadi gradasi emas, ungu, dan jingga—sebuah lukisan alam yang tak mungkin bisa ditiru oleh perangkat lunak arsitektur mana pun.

Fionn membukakan pintu untuk Elara. Mereka berjalan mendekati pagar pembatas alami berupa batu-batu pipih yang disusun rendah. Angin Atlantik berhembus sangat kencang, menerbangkan rambut Elara hingga menutupi sebagian wajahnya. Fionn segera berdiri di belakangnya, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Elara, melindungi wanita itu dari hempasan angin yang bisa saja menjatuhkannya.

"Elara," bisik Fionn di antara deru angin.

"Ya?"

Fionn tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuh Elara agar mereka saling berhadapan. Di tepi tebing Moher yang legendaris ini, di tempat yang sering disebut sebagai 'Ujung Dunia', Fionn menatap mata Elara dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari samudera di bawah mereka.

"Selama bertahun-tahun, aku hidup di Shannonbridge hanya untuk menjaga masa lalu. Aku menjaga kedai Ibu, aku menjaga rahasia Ayah, dan aku menjaga diriku agar tidak pernah bermimpi terlalu jauh," suara Fionn bergetar oleh emosi yang tulus. "Aku pikir masa depanku hanyalah tentang berapa banyak cangkir kopi yang kubuat sampai rambutku memutih."

Elara terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Ia bisa merasakan kejujuran yang meluap dari genggaman tangan Fionn.

"Tapi sejak kau datang dengan semua rencana gila dan Gantt Chart-mu itu," Fionn tertawa kecil, tawa yang sangat manis dan menggemaskan di tengah situasi yang genting. "Kau menghancurkan semua tembok yang kubangun. Kau membuatku sadar bahwa masa depan bukan tentang tempat, tapi tentang siapa yang ada di sampingmu saat semuanya runtuh."

Fionn menarik napas panjang, menempelkan keningnya pada kening Elara. "Aku tidak peduli dengan ancaman Cillian. Satu-satunya masa depan yang kuinginkan, satu-satunya rencana yang tidak boleh gagal... adalah kau, Elara. Aku ingin masa depanku adalah kau. Di Shannonbridge, di Dublin, atau di ujung dunia sekalipun."

Elara terisak kecil, ia memeluk leher Fionn erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. "Aku selalu takut membuat rencana jangka panjang untuk hatiku sendiri, Fionn. Tapi bersamamu, aku tidak butuh rencana. Aku hanya butuh rumah. Dan rumahku adalah kau."

Di bawah langit yang membara dan di atas ombak yang menggelegar, mereka berciuman. Sebuah ciuman yang bukan lagi tentang pelarian, melainkan tentang kepulangan. Di titik ini, rahasia keluarga Cillian yang mereka bawa terasa ringan, karena mereka tahu bahwa mereka memiliki satu sama lain untuk menghadapi badai apa pun yang menanti di Shannonbridge.

...****************...

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya di Shannonbridge, suasana di The Crooked Spoon terasa sangat sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding kuno dan desis uap dari mesin espresso yang sedang dibersihkan. Moira Gallagher duduk di meja kayu favoritnya, sementara Bibi O’Malley sedang sibuk mengelap gelas-gelas bir dengan gerakan yang mekanis—sebuah pertanda bahwa pikirannya sedang tidak ada di sana.

"Mereka sudah pergi terlalu lama, Rose," suara Moira memecah kesunyian. Ia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan yang mulai gelap.

Bibi O’Malley meletakkan gelasnya dan menghela napas panjang. Ia duduk di depan Moira, meraih tangan adik perempuannya itu. "Fionn adalah putra Liam, Moira. Darah Gallagher mengalir di tubuhnya, ia tahu cara menjaga dirinya. Dan gadis itu... Elara... dia punya otak yang lebih tajam dari silet. Jangan khawatir."

"Aku tidak hanya khawatir tentang keselamatan mereka," Moira menunduk, matanya menatap cincin kawinnya yang mulai longgar. "Aku takut sejarah akan terulang. Liam dulu pergi mencari keadilan untuk dermaga itu, dan dia tidak pernah kembali. Sekarang Fionn pergi membawa rahasia yang sama."

"Fionn punya sesuatu yang tidak dimiliki Liam dulu, Moira," kata Bibi O’Malley dengan nada tegas namun penuh kasih. "Liam berjuang sendirian melawan keserakahan. Tapi Fionn? Dia punya Elara. Dia punya kita. Dan dia punya seluruh desa yang mulai sadar bahwa mereka telah ditipu selama bertahun-tahun."

Moira tersenyum pahit. "Kau benar. Tapi kau lihat bagaimana Pria berjas itu dan Cillian menatap mereka kemarin? Begitu juga Sinead dan Maeve, rasanya seperti melihat serigala yang sedang mengincar domba. Cillian punya uang orang tuanya, dan Sinead... wanita itu punya kebencian yang bisa membakar seluruh desa."

"Sinead hanya wanita malang yang tidak tahu cara mencintai dirinya sendiri," Bibi O’Malley mendengus sinis. "Dia pikir dengan melayani pria-pria berjas itu dia akan menjadi orang besar. Padahal dia hanya sedang menggali lubang untuk dirinya sendiri."

Moira terdiam sejenak, lalu ia menatap Bibi O’Malley dengan mata yang berkilat. "Rose, menurutmu... apakah Elara benar-benar akan tinggal? Maksudku, setelah semua badai ini selesai? Dia arsitek berbakat dari kota besar. Shannonbridge terlalu kecil untuk mimpinya."

Bibi O’Malley tertawa kecil, sebuah tawa yang menenangkan. "Moira, kau sudah melihat bagaimana Elara menatap anakmu? Dia tidak sedang melihat seorang pria desa. Dia sedang melihat seluruh dunianya. Mimpinya mungkin besar, tapi pusat dari semua mimpinya sekarang adalah Fionn. Percayalah pada insting wanita tuamu."

Moira mengangguk perlahan, sedikit rasa lega mulai merayap di hatinya. "Aku hanya ingin mereka bahagia. Aku ingin kedai ini penuh dengan suara tawa anak-anak mereka suatu hari nanti, bukan hanya suara mesin ekskavator dan ancaman hukum."

"Maka kita harus berdoa, Moira," Bibi O’Malley berdiri, mengambil lilin kecil dan menyalakannya di depan foto Liam yang terpajang di dinding. "Berdoa agar laut memberikan mereka jalan pulang, dan agar bukti yang mereka bawa cukup kuat untuk meruntuhkan menara kesombongan Cillian dan para pengusaha Dublin."

Di luar, angin malam Shannonbridge mulai berhembus kencang, membawa aroma hujan yang akan datang. Dua wanita itu terus berjaga, menjadi mercusuar tak kasat mata bagi Elara dan Fionn yang sedang berjuang di garis depan. Mereka tidak tahu bahwa di puncak tebing Moher, sebuah janji masa depan telah diucapkan—janji yang akan menjadi kekuatan utama untuk menghancurkan setiap kelicikan yang telah lama membelenggu desa mereka.

Namun, tak lama bertahan. Keheningan di dalam The Crooked Spoon pecah berkeping-keping saat pintu depan ditendang terbuka dengan kasar. Cillian melangkah masuk dengan raut wajah yang penuh kemenangan, diikuti oleh si pengacaranya, yang membawa setumpuk dokumen bersegel merah.

"Mana si pembuat kopi itu?" Cillian berseru, suaranya menggema di ruangan yang kosong. "Aku membawa kabar buruk untuk sarapan paginya. Waktu untuk membayar ganti rugi sudah habis!"

Moira berdiri dari kursinya, wajahnya pucat namun matanya menyorotkan keberanian seorang ibu. "Fionn tidak ada di sini, Cillian. Dan kau tahu betul anakku tidak berhutang satu sen pun padamu. Kejadian Malam Natal itu adalah ulahmu sendiri yang mencoba menjebak Elara!"

Si pengacara maju selangkah, menyesuaikan letak kacamatanya dengan gerakan yang sombong. "Nyonya Gallagher, mari bicara secara hukum. Kami memiliki bukti medis cedera klien saya dan kesaksian beberapa orang. Jika dua ratus ribu Euro tidak ada sore ini, kedai ini dan peternakan domba dibelakang akan resmi menjadi aset sitaan keluarga klien saya. Ini hukum, bukan perasaan."

"Hukum?" Bibi O’Malley yang sejak tadi diam di balik konter, tiba-tiba tertawa. Tawa yang kering dan tajam. "Kalian bicara soal hukum di rumah orang yang telah kalian khianati selama puluhan tahun? Kalian hanya tikus-tikus kota yang memakai jas mahal!"

"Jaga mulutmu, orang tua!" Cillian membentak, ia memukul meja kayu dengan keras. "Tanda tangani surat penyerahan ini sekarang, atau aku akan memastikan polisi menyeret kalian berdua keluar dari sini dengan tangan terborgol!"

Melihat Cillian yang mulai bertindak kasar pada mereka, sesuatu di dalam diri Bibi O’Malley meledak. Insting perlindungannya yang selama ini terpendam sebagai "ibu baptis" desa itu bangkit. Tanpa sepatah kata pun, ia meraih sapu lidi kesayangannya—sapu tua dengan gagang kayu ek yang keras—yang tersandar di sudut konter.

Plak!

Gagang sapu itu mendarat tepat di punggung tangan Cillian yang masih menempel di meja.

"Aduh! Apa yang kau lakukan, Tua Bangka?!" Cillian terpekik, memegangi tangannya yang memerah.

"Keluar dari sini sebelum aku menyapu sampah-sampah seperti kalian sampai ke dasar rawa!" teriak Bibi O’Malley. Ia mulai mengayunkan sapu lidinya dengan kecepatan yang tak masuk akal untuk wanita seusianya. Syut! Syut! Plak!

"Ini untuk kejahatan kalian keluarga kami!" Plak! Sapu itu mengenai pantat si pengacara yang mencoba melarikan diri ke arah pintu.

"Dan ini untuk setiap tetes air mata yang kau buat pada Moira!" Plak! Ujung lidi yang tajam menyabet lengan jas Cillian hingga ia terjajar ke belakang.

"Berhenti! Ini penganiayaan! Saya akan menuntut—" Pengacara itu mencoba bicara, namun ia terhenti saat Bibi O’Malley mengayunkan sapu tepat di depan hidungnya.

"Tuntut saja pada angin, Tikus Kantor! Pergi sebelum aku menggunakan sapu ini untuk membersihkan jalanan dengan wajah kalian!" Bibi O’Malley merangsek maju dengan kekuatan yang luar biasa, membuat Cillian dan pengacaranya lari tunggang-langgang keluar dari kedai.

Cillian bahkan sempat tersandung ambang pintu, jatuh tersungkur di atas lumpur salju sebelum akhirnya masuk ke mobil mewahnya dengan napas tersengal karena ketakutan. Dari jendela kedai, Moira dan Bibi O’Malley melihat mobil itu melesat pergi seolah dikejar setan.

Bibi O’Malley mengatur napasnya, merapikan sedikit sanggulnya yang miring, lalu kembali menyandarkan sapunya di tempat semula. "Seharusnya aku melakukan itu sejak Malam Natal," gumamnya tenang.

Moira menatap kakaknya dengan mata membelalak, lalu ia tertawa terbahak-bahak hingga air mata menetes. Di tengah ancaman penyitaan, mereka baru saja membuktikan bahwa kekuatan hukum terkadang tidak ada bandingannya dengan kekuatan sapu lidi seorang wanita yang sedang melindungi keluarganya.

1
Alnayra
👍🏻👍🏻👍🏻 top
d_midah (Hiatus)
ceilah bergantung gak tuh🤭🤭☺️
d_midah (Hiatus): kaya yang lebih ke 'sedikit demi sedikit saling mengenal, tanpa terasa gitu' 🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!