Althafaris Fayyadh menaruh suka pada Mahya Humaira, salah satu cicit idola keluarga besar Kusuma, selain dirinya.
Ia menduga, sikap manis Maira untuknya merupakan signal pertautan hati mereka.
Hingga suatu masa, peristiwa tragis menimpa sang pujaan hati, membuat Fayyadh berani mengutarakan niat untuk meminang Maira.
Keluarga besar dilanda Dilema.
Banyak ikatan telah tercipta selain hubungan kekerabatan. Tak ingin merusak kedekatan yang solid, akhirnya sebuah keputusan pun diambil.
Sanggupkah Maira bertahan? Apa keputusan Mahendra untuk Fayyadh? Dan mungkinkah keduanya bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Qiev, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. LEGA
Malam hari, Orchid.
Setelah memastikan keadaan Maira dan menitipkan pada suster yang baru bergantian shift untuk menjaganya, Mahendra keluar kamar sang princess. Malam ini dia ingin melakukan multi call dengan mertua dan Amir perihal khitbah Shan beberapa hari lalu.
Saat ia membuka pintu master bed room, putra bungsunya masih menggelayut manja dengan Naya di ranjang mereka, membuat Mahen harus menunggu waktu lebih lama.
"Yaz, sana pindah. Udah kelas 11 kok masih manja sama Bunda? bentar lagi kuliah loh," tegur Mahen agar putranya tak terlalu menempel pada Naya.
"Kata Ayah aku masih abege," kilahnya masih menduselkan diri memeluk Bunda cantik yang tengah memakai skincare.
"Yaz, ish. Bunda susah gerak. Kamu nempel gini nanti di cariin jodoh sama Ayah loh setelah lulus. Dengan Dokter Ryuki nya Onty Dwi atau Raline putri Uncle Rey," kekeh Naya menggoda Mifyaz.
"Dih ogah Ryuki di atas aku, kalau Raline enggak juga deh Bun. Dia bukan cewek, kalau Kakak itu masih kalem, lembut, lah si Raline, macam rambo. Nanti aku di smac-kdown bahaya. Ketampanan Raden Mas Mifyaz Ajmi bisa sirna," gelaknya diikuti Naya.
"Mereka juga gak mau sama cowok cuek dan judes macam kamu. Yaz, Bunda punya Ayah, sana donk ah." Mahen menarik paksa putranya dari atas ranjang mereka.
Kedua pria itu berebut memeluk Naya, hingga membuat pemilik raga risih, sementara mereka asik tertawa. Hingga akhirnya Mifyaz menyerah setelah Mahen mengancam uang jajannya dipangkas minggu ini.
"Ayah main mangkas jatah jajan aku, padahal abege tampan ini gak pernah keluar rumah buat hura-hura loh. Fine Yah, aku nyerah. Malam Bun, Yah," ucapnya mengecup pipi Naya dan memeluk Mahen sebelum ia berlalu pergi keluar kamar.
Setelah kepergian Mifyaz, Naya merapikan kondisi kamar yang berantakan akibat ulah mereka berdua. Sementara Mahen mengambil laptop untuk melakukan pangggilan multi call, agar tangannya tak pegal memegang ponsel.
"Sayang, ayo. Nanti Abah dan Kak Amir keburu tidur," ajak Mahen menepuk sisi ranjang kosong disamping kanannya.
Tuut. Tuuut. Nada dering tersambung.
"Assalamu'alaikum, Mas." Suara dua orang pria di seberang.
"Wa'alaikumsalam, maaf mengganggu waktu istirahat ya Abah, Kak. Aku ingin izin karena suatu hal," ucap Mahen memulai pembicaraan.
"Tentang apa, Mas?" tanya keduanya, meski berasa di kota berbeda.
Mahen menarik nafas sejenak, menoleh pada istri tercinta di samping sebelum ia mulai bicara. Naya mengusap lembut lengan sang suami juga mengecup pipinya. "Go on, teruskan. Aku mendengarkan," bisik ibu dua orang anak lembut.
"Bismillah. Ini tentang lamaran seorang pemuda, yang namanya di sebut dalam jurnal Maira pada halaman terakhir. Knight of Rollies itu datang kemari menemuiku dan mengajukan niatan serius terhadap Maira. Sudah aku sampaikan secara detail perihal kondisi terkini putriku namun dia bersikukuh. Harus bagaimana cara ku mengambil keputusan, Bah, Kak?" Mahen mengutarakan kegundahan pada kedua anggota keluarga yang disegani.
"Alhamdulillah. Jika menurut Mas Panji dia lelaki baik dan sholeh. Nasab jelas serta bertanggung jawab, mengapa tidak? yang penting dia tahu bahwa Maira tidak dapat melakukan kewajiban sebagai istrinya, dan dia sanggupi itu maka bismillah lanjutkan," saran Amir mengemukakan opini.
"Kalau Abah, tanyakan tujuan dia dulu mengapa ingin menikahi seorang gadis dalam kondisi vegetatif, Mas. Logika sebagai laki-laki kita semua tahu kan, harus ada penyaluran syah-wat. Jikalau pun tidak, maka butuh opsi lain untuk satu hal itu. Misalkan dia dapat menahan dan sanggup mengendalikan dirinya untuk tidak bermaksiat pada Allah juga mengkhianati Maira. Maka silakan dilanjut," Abah memberikan pendapat. Beliau khawatir cucunya akan disakiti.
"Nah itu Kak, Bah. Aku khawatir bilamana ujungnya putriku di ceraikan atau bahkan di poligami. Untuk apa semua ini, jika nanti dia menyerah. Namun jawaban yang pemuda itu berikan sedikit membuat hatiku tenang," lanjut Mahendra.
"Memang dia menjawab apa Mas?" desak Amir, penasaran.
"Dia bilang urusan duniawi dalam arti impian, pekerjaan, tugas sebagai anak dalam memenuhi keinginan orang tua telah selesai. Menikahi Maira untuk menyempurnakan dan membawa bekal akhirat, menjadikan putriku ladang pahala baginya. Aku akui, dia mapan di usia seumur Fayyadh tapi itu bukan fokus utama," imbuh Mahendra lagi.
"Maa sya Allah. Putra siapa Mas," tanya kedua pria yang masih terhubung panggilan jarak jauh.
"Ezra El Qavi. Namanya Shareef Shan Qavi, Dokter Hewan dan Dosen tehnik sipil. Inilah yang jadi kegundahan kedua kami, Bah, Kak," ujar suami Ainnaya, kali ini degup jantung berdebar menantikan respon keduanya.
"Ezra? kakak ipar Arjuna bukan sih Mas?" Amir mencoba mengingat, karena keluarga Wardhani jarang berinteraksi dengan mereka, kecuali Gamaliel.
"Betul, Kak. Jadi gimana?" desak Mahendra lagi, semakin gugup menunggu respon.
"Gak gimana-gimana. Kan tidak ada hubungan nasab, bukan mahram jadi bisa menikah. Maksud Mas Panji pripun, aku kok gagal paham?" Amir bingung, merasa tidak ada masalah dengan itu semua.
"Mir, Mas mu itu bingung bagaimana reaksi Fayyadh nanti jika tahu tentang ini?" jelas Abah membantu menantunya.
"Nah, iya betul begitu Bah," lega Mahen, mertuanya paham ia kehabisan kata.
"Oh, astaghfirullah ngapuranipun Mas. Aku gak mudeng. Fayyadh perlahan akan nrimo kok Bah, kan Ezra itu menjadi kerabat karena ikatan pernikahan adiknya dengan Kusuma. Sedangkan beliau diluar lingkaran utama, lagipula semua ini adalah hak mutlak keluarga Mas Panji. Terlebih, sosok Shan ya tadi namanya, itu pria yang Maira suka. Bismillah monggo dilanjutkan, Mas," tutur Amir mengurai kebingungan dan kemelut rasa hati Mahendra selama ini.
"Kalau Abah, kembali kepada kalian. Jika yakin ini yang menjadi keinginan Maira dan dengan menikah nanti dapat menjadi pemicu bagi kesembuhan cucuku. Menyelamatkan nafsu seorang pemuda agar terhindar dari zina sebab Shareef itu sudah wajib menikah karena tujuannya maslahat. Khawatir apabila di tahan terlalu lama, dia terjerumus sebab perkara dunia sudah selesai," Abah memberikan wejangan sekaligus pendapat.
"Jadi, aku meloloskan lamaran dia, Bah, Kak," tegas Mahendra sekali lagi.
"Sudah istikharah, Mas?" tanya Amir, paham kegelisahan masih menggelayut di hati iparnya ini.
"Sudah. Hasilnya tetap ragu," balas Mahen.
"Mas, Allah sesuai prasangka HambaNya. Semua sudah di tilik dengan hati-hati, tujuannya baik kita pasrahkan hasil pada Allah saja. Yang penting, ikhtiar dan tawakkal sudah dilakoni tho?" Lagi-lagi, ayah Naya memberikan suntikan keteduhan.
"Nggih, Bah. In sya Allah. Aku menyampaikan berita ini nanti bagaimana?"
"Disampaikan saja pada keluarga besar Mas, minta doa jangan lupa. In sya Allah, kami support. Menjaga Fayyadh adalah tugasku, perlahan dia akan mengerti bahwa semua yang terjadi bukan suatu kebetulan dan tanpa maksud. Pasti ada banyak kebaikan didalamnya yang tak kita pahami selain Allah. Bismillah nggih Mas," jawaban Amir bagai oase membasahi kering dan panasnya hati pasangan Guna malam ini.
"Alhamdulillah, mau akad dimana dan kapan Mas? Abah ke sana nanti mewakili uyut ya," jawab sang mertua.
"Aku juga ke Orchid sekalian ajak Athirah dan kontrol sekolah." Amir memastikan dirinya hadir sebagai penghormatan.
"Tergantung kesiapan Shan nanti, Bah. In sya Allah dikabari secepatnya," sahut Mahendra.
"Kak, apa Fayyadh gak kenapa-kenapa nanti, Abinya hadir di pernikahan rival?" kali ini Naya menimpali.
"Nduk, sekalian ngajarin Fayyadh apa itu ikhlas. Kan dulu aku gitu, lepasin Aish dengan kedua tangan ini. Sakit sih, tapi dari situ belajar banyak. Bukan hanya hati, namun juga kepantasan diri, ngaji rogo sareng sukmo. Bukan meratapi, menyalahkan gusti Allah namun menunjukkan bahwa kita gak ada kuasa apa-apa selain karena pertolongannya," tutur Amir panjang.
"Pelan-pelan aja Mir. Anakmu kan beda mental, ada sifat Aiswa didalamnya. Fayyadh sedang di Solo, tapi kamu pura-pura gak tahu aja ya. Abah bantu cucu satu ini biar hati dia kembali lega. Sampun Mas?" Abah bicara pada kedua anak lelakinya.
"Nggih sampun Bah, Kak maturnuwun ... aku ngerti kalau nanti Kak Amir gak hadir, jangan merasa sungkan. Perasaan Fayyadh itu lebih utama," pungkas Mahen menutup percakapan berbobot dengan kedua Kusuma.
Mahendra melepas earphone dan menutup laptopnya. Dia memeluk, menghujani istri keturunan Kusuma dengan ciuman bertubi di wajah ayu.
"Apalah arti Mahendra Guna tanpa Ainnaya, keluarga Kusuma. Allah, aku beruntung banget ada didalamnya."
Hati pasangan Guna akhirnya lega setelah banyaknya jawaban meneduhkan dari keluarga.
.
.
...________________________...