Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Tujuh tahun berlalu adalah waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan luka bagi sebagian orang, namun bagi Leo, waktu hanyalah lingkaran setan yang membawanya kembali pada titik yang sama, penyesalan.
Leo kini menjalani hidupnya seperti pria normal pada umumnya. Bangun pagi, bekerja, menghadiri rapat, menandatangani kontrak, tersenyum seperlunya. Di mata orang-orang, ia hanyalah pewaris perusahaan yang dingin, profesional, dan nyaris tanpa celah. Tak ada yang tahu, atau mungkin tak ada yang berani bertanya, tentang puing-puing yang ia bawa setiap hari di dalam dadanya.
Pagi itu, ia berdiri di kamar Raya.
Kamar itu tak pernah berubah.
Dindingnya masih berwarna krem pucat, tirai tipis masih menggantung dengan posisi yang sama sejak tujuh tahun lalu. Bahkan meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan goresan-goresan halus bekas ujung pulpen, jejak kecil keberadaan seseorang yang seolah ingin dihapus dunia, tapi menolak pergi dari ingatan Leo.
Sejak Raya menghilang, kamar ini menjadi miliknya. Bukan karena ia ingin, melainkan karena ia tak pernah mampu tidur di tempat lain.
Leo berdiri di depan cermin besar, uap air dari kamar mandi masih menyelimuti ruangan. Handuk putih melilit pinggangnya, menatap pantulan dirinya yang jauh berbeda.
Tubuhnya kini jauh lebih tegap dan atletis, namun kulitnya tak lagi bersih. Berbagai motif tato menghiasi lengan dan dadanya. Namun, mahakarya yang paling menyakitkan berada di punggung lebarnya. Di sana, terlukis wajah seorang gadis muda dengan detail yang luar biasa nyata. Raya.
Leo sengaja melakukannya. Ia ingin wajah Raya menjadi beban yang ia pikul seumur hidup. Sebuah tanda permanen bahwa ia adalah alasan di balik hilangnya nyawa seseorang. David dan Linda, sudah lama menyerah menghadapi kegilaan putra mereka. Bagi mereka, Leo sudah sakit jiwa, tapi bagi Leo, ini adalah satu-satunya cara agar ia tetap merasa hidup bersama dosanya.
"Aku berangkat sekarang, Raya," bisiknya lirih, seolah gadis itu sedang duduk di tepi ranjang memperhatikannya berpakaian.
Hari ini, Leo harus terbang ke luar kota untuk urusan bisnis besar. Ia akan bertemu dengan pimpinan perusahaan mitra yang merupakan sahabat karibnya sendiri, Kevin. Berbeda dengan yang lain, Kevin adalah satu-satunya orang yang tetap berada di sisi Leo saat semua orang menjauhinya, meski Kevin juga sering menegur keras sikap obsesif Leo terhadap masa lalu.
Pesawat mendarat di kota pesisir yang sejuk. Setelah seharian penuh menyisir lahan luas yang nantinya akan disulap menjadi pabrik industri makanan, lelah nampak jelas di wajah Leo. Debu proyek dan terik matahari seolah menambah beban yang memang sudah ia bawa dari rumah.
Leo akhirnya memilih bermalam di rumah singgah milik Kevin. Rumah itu besar dan luas, namun terasa lengang karena jarang ditempati. Bangunannya berdiri di deretan vila pegunungan, dikelilingi hamparan kebun teh yang hijau membentang sejauh mata memandang. Udara di sana sejuk dan bersih, membawa ketenangan yang jarang Leo rasakan selama ini.
Keesokan paginya, matahari belum sepenuhnya naik ketika Leo dan Kevin sudah duduk santai di teras rumah. Kabut tipis masih menggantung di antara barisan tanaman teh, embun pagi berkilau di ujung daun. Leo mengisap rokoknya perlahan, menikmati sunyi yang terasa nyaman, sementara Kevin bersandar santai di kursinya.
Kesunyian itu pecah oleh suara langkah kecil yang terburu-buru di atas jalan setapak berbatu.
"Om Kevin! Lili datang antar pesanan!"
Seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun muncul di pekarangan. Kaus yang dikenakannya tampak agak kebesaran, membuat tubuh mungilnya terlihat semakin tenggelam. Di tangannya, ia menenteng bungkusan plastik berisi gorengan yang masih mengepulkan uap hangat.
Kevin, yang sedang menyesap kopinya, langsung meletakkan cangkir dan tersenyum lebar. Ia bangkit, lalu berjongkok di depan bocah itu agar tinggi mereka sejajar.
"Lili sendirian? Ibu ke mana?" tanya Kevin lembut sambil menerima bungkusan itu.
"Ibu lagi antar pesanan ke rumah Juragan Bejo, Om," sahut Lili polos sambil menunjuk rumah besar di ujung jalan.
Kevin mengangguk paham. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet, dan memberikan beberapa lembar uang. "Ini untuk kuenya, ya."
"Terima kasih, Om!" ucap Lili riang. Ia baru saja hendak berbalik pergi ketika Kevin menahannya.
"Tunggu sebentar, Lili. Om punya sesuatu untukmu."
Kevin masuk ke dalam rumah sejenak dan kembali dengan sebuah paper bag cokelat. Di dalamnya terdapat sebuah boneka beruang berbulu cokelat lembut. Mata Lili seketika berbinar, mulutnya terbuka sedikit karena tidak percaya.
“Ini buat Lili?” tanyanya polos.
"Iya, itu hadiah karena Lili sudah rajin membantu Ibu," ujar Kevin sambil mengelus lembut puncak kepala bocah itu.
Tanpa aba-aba, bocah itu memeluk boneka tersebut erat-erat. Wajahnya berseri-seri. Ia berterima kasih sekali lagi sebelum berlari kecil menuju gerbang, di mana ibunya telah menunggu di balik pagar kayu yang tinggi.
"Ibu! Ibu, lihat apa yang Lili bawa! Om Kevin kasih ini ke Lili, bagus kan?" teriaknya penuh semangat.
Leo terpaku. Tatapannya tak lepas dari sosok kecil yang kini sedang memamerkan bonekanya kepada sang ibu di kejauhan. Leo tidak bisa melihat wajah wanita itu karena terhalang rimbunnya tanaman pagar, tapi tawa renyah Lili yang tertangkap angin membuat dada Leo mendadak sesak.
"Siapa anak kecil itu?" tanya Leo. Suaranya sedikit serak, lebih rendah dari biasanya.
Kevin kembali duduk, membuka bungkusan gorengan yang masih mengepulkan uap. "Namanya Lili. Lucu, kan?"
"Kamu kenal dia?"
"Ya, cukup kenal. Ibunya penjual kue keliling di sini. Setiap aku menginap di vila ini, aku tidak pernah absen memesan dagangannya. Selain karena rasanya enak, mereka orang baik," jawab Kevin santai sembari menyodorkan bungkusan plastik itu ke arah Leo. "Mau? Masih hangat."
Leo tidak menjawab. Ia melangkah mendekati pagar pembatas, mencoba mencari celah di antara rimbunnya tanaman hias untuk melihat sosok wanita yang dipanggil Ibu oleh Lili.
Di kejauhan, di balik pagar kayu besar milik Juragan Bejo, seorang wanita tampak sedang merapikan keranjang dagangannya. Ia memakai caping bambu yang menutupi sebagian wajahnya dan syal rajut kusam melilit lehernya.
Lili sampai di sana, melompat kegirangan sambil menunjukkan bonekanya. Wanita itu merendahkan tubuhnya, membelai pipi Lili dengan gerakan yang begitu lembut, sebuah gerakan yang membuat jantung Leo seakan berhenti berdetak.
"Raya?" bisik Leo pelan, hampir tak terdengar. Suaranya tercekat di tenggorokan.