Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengejar Restu
Hal yang dikhawatirkan Citra benar terjadi. Kebersamaan Bima ikut dengannya ke Bogor seketika menjadi trending topik di grup whats4pp keluargan dari pihak keluarga besar Ibu Nurul, baik yang ada di Bogor, sampai yang ada di luar kota pun langsung meledek dan menggoda Citra.
Sebagian besar dari mereka memberi dukungan, lainnya menasehati Citra agar lebih hati-hati memilih pendamping hidup kembali, agar tidak gagal seperti pernikahan terdahulu Citra.
Bima sendiri banyak berbincang dengan Uwa Ujang, Uwa Ninik juga Ibu Nurul, hingga membuat Citra terheran. Sekarang ini Bima seperti orang yang berbeda dengan mantan kakak iparnya itu dulu. Dulu Bima sambat irit bicara, membuat Citra menganggap Bima adalah sosok yang kaku, mungkin karena dia tak mengenal akrab mantan iparnya itum
"Cit, Masa kamu dan Mas Bima nggak punya hubungan spesial? Dia mau mengantar kamu ke sini, itu saja sudah kelihatan tanda-tandanya. Nggak mungkin dia ngebelain mengantar relasi bisnisnya untuk urusan pribadi kalau nggak ada maksud tertentu." Ketika memberi ASI kepada bayinya, Sekar bertanya kepada Citra yang saat itu berada di kamarnya. Sekar menduga ada hubungan spesial di antara Citra dan Bima. Tapi, Citra terkesan malu untuk mengakuinya.
"Aku sama Mas Bima nggak ada hubungan spesial, Mbak. Aku juga nggak tahu, kenapa dia menawarkan diri mengantar aku ke sini." Citra mengedikkan kedua bahunya, berlagak tak mengerti apa-apa.
"Masa kamu nggak paham, Cit? Itu 'kan cara dia melakukan pendekatan ke kamu. Eh, tapi, ngomong-ngomong dia masih single, kan?" Sekar khawatir Bima adalah pria beristri karena melihat sosok Bima seperti pria yang matang dari segi usia.
"Iya, masih single," sahut Citra.
"Ganteng gitu, kok masih jomblo, ya?" Dengan penampilan fisik dan status sosial Bima yang seorang Chief Marketing Officer, mudah sebenarnya bagi Bima untuk mencari pasangan hidup. Sehingga Sekar merasa heran dengan status single Bima.
"Itu "kan pilihan dia, Mbak. Mungkin dia merasa nyaman dengan kesendiriannya itu," jawab Citra.
"Tapi, sekarang udah nggak nyaman lagi sejak ketemu kamu, kan?" Sekar menyahuti dengan terkekeh.
Tok tok tok
"Mbak, Mas Bima mau pamit, mau ke hotel." Terdengar suara dari arah pintu kamar Sekar, Ambar muncul memberitahu jika Bima hendak berpamitan, karena ingin beristirahat di hotel.
"Aku keluar dulu, Mbak." Citra bangkit dan minta izin Sekar menemui Bima yang ingin berpamitan dengannya.
Dia Lalu melangkah keluar dari kamar Sekar menuju ruangan tamu di mana Bima masih ditemani Ibu Nurul, Uwa Ujang dan Uwa Ninik.
"Citra, Bima mau pamitan, mau check-in ke hotel dulu," ucap Ibu Nurul ketika melihat Citra muncul di ruang tamu.
"Saya permisi dulu, Pak, Bu." Bima berpamitan pada keluarga Citra, setelahnya, hanya Citra yang mengantar Bima sampai ke teras rumah Uwa-nya itu.
"Makasih, Mas sudah mau mengantar saya dan keluarga ke sini." Citra hampir terlupa mengucapkan terima kasih kepada Bima yang sudah repot-repot mengantarnya.
"Nanti malam sehabis Isya, saya datang kemari lagi, kita akan keluar," ujar Bima menegaskan jika rencana mereka pergi menikmati malam Minggu akan tetap berlangsung meskipun bukan di Jakarta.
Citra terkesiap mendengar rencana Bima yang akan datang kembali malam nanti. "Ini pasti gara-gara Ambar yang kasih ide dia menginap di Bogor." Citra menggerutu dalam hati menyalahkan adiknya, karena Ambar-lah yang menyarankan Bima ikut menginap di Bogor.
"Mas pasti capek bawa mobil sendiri ke sini, sebaiknya Mas istirahat saja, karena besok saya dan keluarga akan kembali ke Jakarta." Citra mencoba menghalangi Bima yang akan datang nanti malam. Lagi pula, mau apa lagi Bima mengajaknya keluar? Padahal Sejak pagi hingga jelang Ashar, Bima berada di dekatnya.
"Justru saya merasa capek jika harus menunggu sendirian di hotel tanpa ada yang bisa saya kerjakan." Bima beralasan, "Lagi pula kita sudah janji pergi malam Minggu, kan?" Pertemuan sebanyak apapun, sepertinya tak masuk hitungan bagi Bima, sehingga dia menagih untuk tetap pergi Sabtu malam bersama Citra menikmati malam panjang layaknya sepasang kekasih.
Citra mende5ah, tak bisa menolak permintaan Bima karena dia tak mungkin beradu pendapat dengan pria itu di depan keluarganya, hingga Citra terpaksa menyetujui permintaan Bima untuk pergi malam nanti.
***
Ddrrtt ddrrtt
Bima mendekat ke arah ponselnya yang ia letakkan di atas nakas kamar hotel saat ia mendengar alat komunikasinya itu berbunyi. Dia baru selesai mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Bima segera meraih ponselnya saat ia melihat Kevin yang menghubunginya.
"Halo, ada apa, Vin?" hanya Bima ketika mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya itu.
"Hei, Bim. Nanti malam jadi ke sini bawa wanita idamanmu itu?" tanya Kevin menyahuti.
"Sorry, tidak bisa, Vin. Aku ada di Bogor sekarang," balas Bima.
"Sedang apa kau di sana? Ada bisnis?" tanya Kevin, karena Bima jarang sekali keluar rumah dikala weekend dan seingatnya, Bima tidak mempunyai kerabat yang tinggal di daerah Bogor.
"Bukan, Vin. Aku mengantar Citra dan keluarganya menengok sepupunya yang melahirkan di Bogor." Bima menjelaskan alasannya ada di kota itu kepada Kevin.
"Hahh? Kau di rumah keluarga Citra? Wah, gerak cepat sekali kau, Bim. Sedang mengejar restu, ceritanya?" ledek Kevin mengetahui sahabatnya begitu semangat dan antusias melakukan pendekatan pada keluarga Citra.
"Aku sekarang di hotel," jawab Bima menjelaskan posisinya saat ini.
"Dengan Citra?" Suara tawa Kevin pecah ketika mempertanyakan kalimat tadi.
"Kau pikir dia itu wanita apa!? Sampai harus sehotel denganku!?" Bima tak terima, Kevin menganggap Citra wanita tak baik.
"Rileks, Bro! Nggak usah marah, aku hanya bercanda." Kevin meredam amarah Bima karena tadi meledek. "Oh ya, bagaimana respon keluarga Citra? Mereka merestui meskipun kau kakak tiri Bayu?" Kevin penasaran akan sikap keluarga Citra mengetahui kalau pria yang mendekati anak wanita mereka masih ada hubungan keluarga dengan mantan suami Citra.
Bima mendengus mendengar pertanyaan Kevin. Dia memang masih menutupi tentang keluarganya dari keluarga Citra.
"Mereka belum tahu aku kakak tiri Bayu," jawabnya.
"Owalah, bisa repot kalau mereka tahu apalagi kamu sengaja menutupinya dari mereka, Bim." Kevin menebak Bima akan sulit mendapatkan restu dari keluarga Citra.
"Setidaknya mereka sudah mengenal aku lebih dulu sebelum mereka tahu aku mantan kakak ipar Citra. Aku khawatir kalau aku mengatakan sekarang mereka langsung menolakku." Bima sudah terang-terangan tentang perasaannya kepada Citra di hadapan Kevin. Semakin lama keinginan untuk bersama Citra semakin kuat di hatinya. Dia berharap dengan kesan baik yang ia tunjukkan pada keluarga Citra bisa membantunya mendapatkan restu, sekalipun keluarga besar Citra tahu kalau dia adalah kakak tiri Bayu.
"Tapi itu nggak mengubah takdirmu kalau kamu masih ada hubungan keluarga dengan Bayu, Bim. Keluarga Citra tentu tidak ingin anaknya jatuh pada keluarga yang sama." Bukan bermaksud melemahkan niat Bima yang sedang berusaha merebut hati Citra dan keluarganya, Kevin hanya mengingat hal terburuk yang akan diterima sahabatnya itu dari keluarga Citra seandainya mereka tahu status Kevin sebagai mantan ipar Citra .
♥️♥️♥️
Bersambung ....
,
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best