Kakak dan adik yang sudah yatim piatu, terpaksa harus menjual dirinya demi bertahan hidup di kota besar. Mereka rela menjadi wanita simpanan dari pria kaya demi tuntutan gaya hidup di kota besar. Ikuti cerita lengkapnya dalam novel berjudul
Demi Apapun Aku Lakukan, Om
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naim Nurbanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tangan kiri Wanda gemetar halus saat melangkah memberanikan diri mengurai satu per satu kancing kemeja hitam itu. Pria di depannya yang kini berstatus duda, hanya menatap Wanda tanpa suara, tatapan itu dalam, sulit ditafsirkan, seperti menyembunyikan rahasia yang berat. Wanda hampir merasa seperti ibu yang sedang mengurus anak kecil yang begitu patuh, tetapi di balik gerakannya yang lambat dan teratur, jantungnya berdegup keras, seolah menentang keberanian baru yang kali ini dia genggam.
Setelah kemeja itu terlepas, Wanita itu melangkah ke sudut ruangan mengambil handuk kecil, merendamnya dalam air dingin. Air dingin itu membantu menenangkan pikirannya yang kacau. Kembali ke sisinya, dia duduk perlahan dan dengan sentuhan penuh perhatian mulai mengusap tubuhnya yang kaku dan letih, berharap bisa sedikit menghapus lelah yang membebani.
Wanita itu menatapnya, hati bergejolak tanpa bisa dia pahami.
"Kenapa aku merasa seperti ini?" gumam Wanda pelan, seolah mencari jawaban dari ruang hampa di pikirannya.
Dia, pria biasa dengan tatapan yang tak pernah berubah, lelah, berat, seperti menanggung beban yang tak pernah ingin ia bagi dengan siapa pun. Wajahnya dingin dan diam, tapi dia bisa merasakan tiap tarikan napasnya yang terengah-engah, lambat dan berat bagai mendaki gunung tak berujung. Di tengah sunyi itu, pertanyaan terus menekan.
"Kenapa aku peduli? Apakah ini sekadar kasihan, atau ada sesuatu yang lebih?"
Tangannya sigap mengelap tubuhnya, seakan berusaha meredam badai pikiran yang menerjang tanpa henti. Tuan Marcos berdiri di samping kami, suaranya gemetar tapi penuh cinta,
"Merlin, aku menyayangimu, sayang," katanya sambil merengkuh lembut wajah Wanda yang tetap fokus menyeka badan pria itu dengan handuk basah.
Wanda, yang dulu paling membenci harus merawat pelanggan mabuk seperti Merlin, mengernyit setiap kali bau alkohol itu menyergap inderanya, memadamkan semangatnya untuk melayani. Namun sekarang, dia tak bicara. Hanya diam, seperti menguatkan dirinya sendiri dalam diamnya.
Tuan Marcos merentangkan tangannya, mencoba menahan lengan Wanda yang mulai meraih botol parfum maskulin di atas meja.
“Merlin, jangan pergi!” suaranya terdengar agak gemetar, menyisakan rindu yang kelam. Namun, Wanda cepat menyingkirkan tangan pria itu, wajahnya sedikit menegang. Bau alkohol yang masih melekat di tubuh Marcos membuatnya risih.
“Maaf, Om Marcos, aku harus buat Om wangi dulu, ya. Hehe,” katanya sambil dengan cekatan menyemprotkan minyak wangi itu ke seluruh tubuh pria yang sedang duduk itu.
Celana jeans yang tadi dipakai perlahan ia lepaskan hingga tersisa celana boxer. Wanda lalu menyerahkan kembali secangkir teh hangat.
“Om, sekarang Om sudah wangi. Ayo diminum,” ujarnya dengan suara lembut tapi tegas. Marcos mengedipkan matanya, sedikit melemah dalam genggaman rutinitas Wanda.
“Merlin... aku menyayangimu, sayang,” ucap Marcos lirih, seolah berusaha menggenggam kenangan yang sudah pergi.
“Aku Wanda, Om. Bukan Merlin, istri Om yang sudah tiada,” Wanda membalas dengan nada yang sabar namun penuh penegasan.
"Tidak! Kamu bohong!”
Marcos buru-buru menarik tangan Wanda, meremasnya hingga tubuh wanita itu terjatuh ke pelukannya, berusaha menahan diri dari kehilangan yang nyata.
Pria itu menunjukkan kasih sayangnya kepada Wanda. Wanda, yang merasa terhutang budi kepada pria dewasa yang telah banyak membantunya, membiarkan dirinya dipeluk erat di kursi panjang ruangan tersebut. Wanda merasa sulit untuk menolak ketika pria itu mulai mengeksplorasi dengan lembut. Sesekali, pria itu memberikan sentuhan yang lebih intens, namun Wanda membiarkan pria itu memimpin situasi kali ini.
"Inilah rasanya ketika seorang pria mencintai wanita dengan tulus dan penuh kasih sayang. Penuh kelembutan dan sesekali dengan intensitas yang lebih," pikir Wanda sambil menikmati setiap sentuhan hangat dari pria dewasa seperti Tuan Marcos.
Wanda menelan napas dalam-dalam, hatinya berdetak lebih cepat saat tangan Marcos menyentuhnya dengan lembut. Hangat dan nyaman menyebar dari ujung jari sampai ke dadanya, membawa perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Om Marcos, sayang..." gumamnya pelan, suaranya hampir tertahan oleh getar di tenggorokan. Mata Wanda terbuka, bertemu dengan tatapan penuh perhatian pria itu.
"Panggil namaku," bisik Marcos dengan suara lembut tapi tegas. Wanda mengangguk pelan, bibirnya tersungging jadi senyum manis.
"Marcos, sayang," katanya dengan suara lirih yang dipenuhi rasa bahagia dan rasa syukur.
Marcos membalas dengan senyum hangat, tangannya tetap menuntunnya penuh sabar. Di pelukan pria itu, Wanda merasa seperti dunia yang selama ini begitu luas tiba-tiba mengecil, menyisakan hanya kebahagiaan dan kedamaian di antara mereka berdua. Momen itu terasa hening tapi penuh makna, seperti janji tanpa kata yang mereka bagi bersama.
"Merlin, sayang, kamu suka, kan?" suara Tuan Marcos mengalir lembut, matanya menatap Wanda dengan penuh kerinduan, seperti sedang memandang istri yang telah tiada.
Wanda hanya mengangguk pelan, matanya redup tapi penuh kepuasan yang sulit diungkapkan. Tubuhnya terasa berat, hampir tak bertenaga setelah rangkaian sentuhan tanpa henti yang diberikan Marcos.
Tiba-tiba, tangan pria itu mengangkat tubuh Wanda yang tanpa busana dengan hati-hati, membawanya ke kamar. Pakaian yang tadi ia lepas berserakan di lantai ruang depan, bukti bisu dari keganasan dan keintiman yang baru saja terjadi di sana.
“Ini ranjang empuk, sayang. Kamu suka, kan? Beri aku nilai tertinggi. Suamimu ini sudah berikan semua kenikmatan dan kenyamanan yang bisa kau rasakan," bisik Marcos sambil menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Wanda hanya mengangguk, napasnya masih tersengal. Tubuhnya lemas, hasil dari beberapa kali puncak yang menguras tenaga.
"Om Marcos," suaranya lirih memecah keheningan, sebuah panggilan yang membawa campuran rasa lemah dan ketergantungan.
Ruangan dingin berhembus sejuk dari AC yang terus berdengung lembut. Di sana, mereka terjerat dalam keintiman yang intens, dua sosok yang saling beradu nafas dan sentuhan, seolah takut terlepas.
Aku, Wanda, membiarkan tubuhku mengikuti genggaman pria itu, sosok yang belum lama kukenal, namun telah membuka pintu harapan baru dalam hidupku. Namun, di balik pelukan hangat itu, ada suara kecil yang bergetar dalam hatiku.
"Apakah aku cuma jadi penghibur?" pikirku, mata menatap kosong ke dinding.
“Apa mungkin Marcos belum bisa melupakan istrinya yang telah tiada, hingga aku cuma jadi pengganti yang ia paksa terima?” Gelisah merambat perlahan, membuat tubuhku makin kikuk, meski bibir tetap tersenyum memaksakan nyaman.
Tubuhku merespon erat genggaman Marcos yang tak kunjung lepas, seolah dia takut aku menghilang begitu saja. Tapi dalam dadaku bergejolak perasaan berbeda, tertinggal dan tak dianggap lebih dari sekadar pelarian, pengisi kekosongan yang ditinggalkan almarhum istrinya.
Aku menatap tangan yang menggenggamku itu, hatiku berat membayangkan ingin melepaskan, namun kaki ini terasa seperti tertahan oleh rantai tak kasat mata yang dipasang olehnya.
"Aku ingin bebas," pikirku dalam diam, sementara jari-jarinya tetap mencengkeram, sulit untuk kugapai langkah pergi.
kau ini punya kekuatan super, yaaakk?!
keren, buku baru teroooss!!🤣💪