Gina adalah seorang office girl di perusahaan asuransi ternama di kota Jakarta. Gaji yang dia dapatkan bukan hanya untuk kebutuhannya sendiri, tapi juga untuk keluarganya di kampung.
Di masa sulit itu, Gina kembali mendapatkan kesialan ketika di suatu malam dia melihat seorang pria tak sadarkan diri terkapar di depan pintu rumah kontrakannya.
"Astaga, kesialan apalagi ini ya Tuhan," gerutunya dengan raut wajah yang seolah ingin menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Melindungi Dirinya Sendiri
Alden menatap pria asing di hadapannya ini, benar saja, wajahnya memang tidak asing.
Alden menelan ludah.
Pria itu memiliki wajah yang pernah terbesit dalam ingatannya. Tapi Alden sungguh tak mengingat lebih, tidak tahu siapa sebenarnya pria ini.
Semakin melihat pria itu, Alden malah semakin pusing. Membuatnya tak suka.
Tatapan Alden pada pria asing itu seketika berubah tajam, membuat Bryan takut dan menundukkan kepalanya dengan cepat, memberi hormat.
Tapi sungguh Alden tidak memperdulikan hormat itu, tatapannya beralih pada wanita asing itu pula. Meski dia menatap Raisa, tapi kedua tangannya tetap mendekap Gina dengan erat.
Dilihatnya wanita asing itu menangis, dan semakin lama dia menatap semakin ada rasa iba yang menjalar di dalam hati. Semakin sadar jika mereka berdua memiliki banyak kemiripan.
Raisa dan Zidane hanya berjarak 2 tahun, selama ini mereka terlihat seperti anak kembar.
Deg! jantung Alden seperti tersengat. Sekelebat ingatan di masa lalunya pun kembali berdatangan dengan acak. Buat kepalanya pusing tak terkendalai.
"Ahk!" lenguh Alden kesakitan, satu tangannya pun menekan kepalanya sendiri yang berdenyut.
"Zidane!" cemas Raisa, dia ingin menolong sang adik, namun lagi-lagi Alden menolak.
"Jangan menyentuh ku!"
"Al, jangan marah-marah terus, lebih baik kita semua masuk ke rumah!" putus Gina.
Dan disinilah mereka berempat berada, duduk di ruang tamu sederhana rumah milik Gina.
Bryan buka suara pertama kali, menjelaskan dengan hati-hati tentang jadi diri Alden atau Zidane Harwell, Bossnya, CEO Harwell Life Ansuran.
Saat Bryan menjelaskan, Alden tak banyak bicara karena Gina menggenggam erat tangannya, memberi isyarat untuk diam dulu, untuk mendengarkan lebih dulu.
"Dan beliau adalah kakak kandung Anda, Nona Raisa. Selama ini beliau lah yang menggantikan posisi anda di perusahaan," terang Bryan, itulah penjelasan terakhirnya.
Meski belum mempercayai semua cerita itu, namun Alden tidak berontak. Terlebih kepingan-kepingan kenangannya pun semakin banyak berdatangan. Tentang dia yang duduk di kursi kerja dan menggunakan setelan jas lengkap.
Seolah makin membenarkan cerita dari Bryan.
"Sekarang ayo kita pulang, mommy dan daddy sudah menunggumu Zid," ucap Raisa lirih, bicaranya terdengar seperti sebuah permohonan.
"Aku tidak akan pulang sebelum ingatan ku benar-benar pulih. Dan aku tidak akan pergi tanpa Gina," balas Alden dengan tegas, bicaranya lugas sekali.
Gina bahkan mulai merasa jika kini Alden telah perlahan berubah jadi Zidane, bukan lagi pria yang selalu merengek seperti anak kecil.
Sementara Raisa dan Bryan sesaat saling pandang. Tentang Gina belum mereka pikirkan bagaimana baiknya. Terlebih pernikahan itu terjadi hanya karena desakan dari warga. Bukan keinginan Zidane yang sesungguhnya.
Tadi Gina sudah menjelaskan tentang itu semua.
"Al, jangan bicara begitu. Pernikahan kita bukan sesuatu hal yang bisa kamu pertahankan. Jika ingatkan kamu sudah kembali cukup bayar semua hutang mu dan pergilah," terang Gina pula. Memang seperti itulah perjanjian mereka di awal. Bahkan hingga kini Gina masih sering mencatat semua uang dikeluarkan oleh Alden.
"Astaga sayang, apa kamu tega menukar ku dengan uang?" tanya Alden pula, tak menyangka sang istri masih saja bersikap matrealistis di saat seperti ini.
Alden tidak tahu, jika Gina hanya tidak ingin terlibat terlalu dalam dengan orang-orang kaya ini. Gina sedang coba melindungi dirinya sendiri. Gina sadar, pada akhirnya hanya dialah yang akan terluka. Cinta yang tak bisa memiliki dan kasta yang tak akan pernah sederajat.