Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi
"Ze..e.. " Suara Maya sangat lirih memanggil nama Zee.
"Iya May.. ini aku. Aku disini.. " Pandangan Zee mengabur bersamaan dengan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya.
"S-sa-kit.. " Zee mengangguk, tangannya masih menekan luka di perut Maya.
"Iya.. tahan sebentar ya. Kamu diem aja jangan banyak ngomong May.. " Suara Zee serak akibat menahan tangis yang sebenarnya tak bisa ia tahan.
Zee menengok ke belakang, dalam hati mengumpati orang-orang kenapa lama sekali datang. Terutama Desi yang ia tugaskan mencari bantuan.
"Kenapa lama banget sih.. " Lirih Zee menatap wajah Maya yang semakin memucat dan terlihat semakin hilang kesadaran nya.
Brakk!!!
Zee terlonjak saat mendengar pintu ruang loker membentur dinding karena dorongan yang keras. Zee melihat Leon dan yang lain disana.
"Baang.. tolong Maya". Pinta Zee memohon pada Leon. Airmata sudah mengalir deras, ketegaran yang ia perlihatkan sebelumnya runtuh saat melihat bantuan datang.
" Aaakkhhh!!! ". Aurel berteriak sambil membekap mulutnya saat melihat pemandangan mengerikan di depannya.
" Ada apa ini sebenarnya?! ". Tanya Leon mendekat pada Zee.
" Panggil ambulans cepat! ". Teriak Leon entah pada siapa.
" Sudah. Sebentar lagi sampai". Semua menatap Ben sesaat sebelum kembali fokus pada Maya yang terlihat semakin lemas.
"May!!! Jangan tidur May.. bangun!! ". Sebelah tangan Zee digunakan untuk menepuk pipi Maya agar temannya itu tidak tertidur. atau lebih tepatnya pingsan.
" May jangan bikin aku takut May.. " Tangis Zee terdengar menyayat bagi siapapun yang mendengarnya. Tak terkecuali Aurel yang ikut menangis melihat Zee rapuh seperti ini.
"Ayo Zee.. Maya biar diurus sama Leon". Aurel memeluk pundak Zee, meminta gadis itu bangkit dari samping Maya. Namun Zee menggeleng
" Aku mau sama Maya, kak.. " Aurel mengalah, tak akan berhasil juga walaupun Zee dibujuk.
Tak lama dua orang petugas medis datang membawa tandu membuat Zee bisa sedikit bernafas lega.
"Tolong tetap tekan luka nya ya.. " Zee mengangguk, bangun dari duduknya saat tubuh Maya sudah dipindah ke tandu dan kedua petugas medis sudah berdiri.
"Pastikan tidak ada tamu yang tahu kejadian ini" Perintah Leon pada staff nya yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Dan ruangan ini, tidak ada yang boleh masuk sebelum polisi datang". Kembali Leon memberi perintah sebelum keluar dan berlari mengejar Zee.
"Baik pak. Laksanakan".
Sementara Ben dan Zacky yang pergi bersama dengan Zee kini hanya bisa menatap gadis cantik itu ikut masuk ke dalam ambulans yang membawa tubuh Maya.
" Kita ikuti mereka Zack.. " Zacky terkejut mendengar perintah bos nya. Namun ia segera berlalu mengambil kendaraannya.
Dan disinilah mereka, berkendara mengikuti ambulans yang membawa Maya dan Zee. Dibelakang mereka ada Leon dan Aurel yang rupanya juga menyusul.
...☘️☘️☘️☘️...
Zee menatap nanar pintu ruang IGD yang tertutup. Matanya tak henti mengeluarkan cairan bening yang sudah berulang pula ia tepis kasar. Ia benar-benar takut Maya pergi meninggalkan dirinya.
Penampilan Zee yang berantakan dan penuh darah membuat beberapa orang menatap dirinya. Meski yang jadi pusat perhatian tak menyadari nya.
Ben dan Zacky yang sudah tiba segera menghampiri Zee yang tengah berdiri seorang diri. Gadis yang biasanya terlihat sangat ceria itu kini terlihat sangat rapuh.
Tak lama dokter keluar dan menjelaskan kondisi Maya yang harus segera menjalani operasi karena lukanya terlalu dalam dan robekan yang tak beraturan membuat beberapa pembuluh darahnya putus hingga terjadi pendarahan yang cukup hebat.
"Lakukan yang terbaik". Leon menjawab dokter. Ia akan bertanggung jawab penuh pada Maya karena ini masih jam kerja dan terjadi di lingkungan kerja pula.
Sementara Zee yang mendengar Maya harus diperasi terlihat langsung lemas. Tubuhnya merosot seolah kehilangan tenaga dan kakinya tak mampu berpijak.
" Maya kak.. " Lirih Zee saat Aurel memeluknya. Ia berusaha tegar namun rasa takut ditinggalkan terlalu besar hingga dirinya tak mampu menahan airmata nya.
"Maya akan baik-baik aja Zee.. kita serahkan sama dokter. Mereka akan selamatin Maya.. " Aurel mengelus punggung Zee yang bergetar hebat.
Zee yang sudah berhasil menguasai diri segera bangkit. Ia akan menunggu operasi Maya sampai selesai, ia akan menemani Maya hingga pulih. Itu tekadnya.
Zee duduk dengan kepala tertunduk, matanya terpejam, tangannya yang berlumur darah yang kini mulai mengering itu saling bertaut satu sama lain sementara bibirnya tak henti merapalkan doa untuk keselamatan Maya.
Leon dan Aurel tengah menemui pihak kepolisian yang datang ingin menemui saksi yang menemukan Maya pertama kali. Dan itu artinya adalah Zee.
Leon dan Aurel menjelaskan kondisi Zee yang masih shock dan belum stabil. Jadilah mereka berdua yang kini tengah ditanyai oleh pihak kepolisian.
Sementara Zacky dan Ben duduk tak jauh dari Zee. Dua pasang mata tajam itu menatap Zee dalam.
"Aku pergi sebentar. Dia pasti haus". Zacky berdiri dari duduknya membuat Ben mendongak menatap asistennya.
" Kau mau meninggalkan aku disini sendiri? ". Tanya Ben pelan dengan wajah serius.
" Tidak.. kau dengan Zee, bos. Tidak sendiri". Sahut Zacky acuh membuat Ben menggeram kesal namun tak bisa berbuat banyak.
"Dasar asisten gendeng". Umpat Ben menatap punggung Zacky yang kian menjauh.
Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Zee. Sudah satu jam lebih Maya ada di dalam ruang operasi, namun dokter belum juga keluar memberi kabar pada mereka yang tengah menunggu.
" Minum dulu Zee.. " Kepala Zee mendongak saat sebotol air terulur dihadapannya.
"Terimakasih pak Zacky.. " Lirih Zee menerima air dari tangan Zacky, dan saat itu Zee baru sadar jika tangannya berlumur darah yang sudah mengering.
"Pergilah.. bersihkan dulu dirimu Zee. Kami akan menunggu disini". Tak mungkin mengharapkan si manusia arogan dan narsis bernama Ben itu untuk memberi perhatian pada Zee. Akhirnya Zacky yang memberinya.
" Tapi pak.. " Zee seolah enggan beranjak dari depan ruang operasi, namun tatapan Zacky membuat Zee akhirnya menuruti perintah lelaki itu.
Dirinya memang perlu membersihkan tangan dan wajahnya. Entah seperti apa tampilannya kini.
"Saya permisi sebentar pak.. " Zee berlalu dari sana, mencari toilet terdekat dengan ruang operasi.
"Kamu harus baik-baik aja May. Kamu nggak boleh tinggalin aku.. " Bisik Zee pada dirinya sendiri sambil terus melangkahkan kakinya menjauh dari ruang operasi.
Zee segera membasuh tangannya dengan air mengalir. Ia tatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi. Tampilannya benar-benar berantakan. Baju putihnya sudah berubah warna bercorak merah darah, wajahnya pun banyak terkena darah.
Zee juga membasuh wajahnya hingga bersih, namun pakaiannya? Biarlah, ia akan berganti pakaian nanti saja saat Maya sudah keluar dari ruang operasi. Itu pikir Zee.
Zee sudah selesai membersihkan tangan dan wajahnya dari darah. Ia ingin segera kembali ke ruang operasi untuk menunggui Maya.
"Astaghfirullah.. " Pekik Zee saat seseorang mengejutkannya. Lebih terkejut lagi melihat siapa yang membuatnya terkejut.
"Ini.. " Sebuah paperbag yang tak diketahui apa isinya disodorkan pada Zee oleh orang yang tak lain adalah Ben.
"Ganti pakaianmu". Perintah Ben membuat alis Zee berkerut dalam.
" Bukan dariku. Ini dari Aurel.. dia menitipkan nya padaku". Terang Ben yang melihat wajah Bingung Zee, Ben tak ingin Zee salah paham dan mengira jika dirinya memberi perhatian lebih pada Ben.
"Terimakasih pak Ben. Maaf merepotkan". Ucap Zee sungkan.
" Kalian memang merepotkan! ". Kesal Ben meski hanya dalam hati saja.
Beberapa saat lalu dirinya berdebat dengan Aurel perihal pakaian Zee. Ben yang enggan mengantar pakaian untuk Zee dan meminta Aurel saja yang mengantarkannya. Namun tunangan Leon itu mengatakan jika dirinya harus mengurus semua administrasi rumah sakit untuk Maya. Sementara Leon kembali ke club untuk menangani situasi disana apalagi polisi sudah sampai di club.
Sementara Zacky? Entah kemana perginya asisten gila nya itu saat sedang dibutuhkan. Dan akhirnya Ben mengalah, meskipun sepanjang jalan menggerutu namun ia tetap melakukan apa yang Aurel minta.
" Keringkan juga wajahmu! ". Entah sadar atau tidak, namun Ben memang memberi perhatian lebih pada Zee. Ia bahkan merelakan sapu tangannya untuk diberikan pada Zee agar digunakan gadis itu untuk mengeringkan wajahnya.
" T-tidak perlu pak, saya... " Ucapan Zee mengambang saat Ben memberikan saputangan nya dan berbalik meninggalkan Zee tanpa memberi waktu Zee menolak.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Citcuuuiiiutt.. eciieeee Ben, perhatian amat ama neng Zee sih Ben🤭🤭...
...Ben said: Diam kau!!! Aku begini juga kan situ yang nulis, dasar othor gendheng😡...
...🤣😂🤣🤣🤣🤣 Itu calon jodohmu Ben, dijaga dari awal dong ya😄...
...Jangan lupa ritualnya ya readers ku sayang 💕💕💕...
...Sarangheyo banyak-banyak readerskuuuu💋💋💋🥰🥰🥰🥰 😘😘😘🥰🥰😘😍...