NovelToon NovelToon
Noktah Merah

Noktah Merah

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:13.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Asri Faris

Mencintaimu seperti menggenggam bara api. Semakin dalam aku menautkan hati ini semakin nyata rasa sakit yang dirasakan, dan itu membuat aku semakin sadar, tidak ada ruang sedikitpun di hatimu untukku. Aku begitu sangat mencintainya, tapi tidak untuk dia, dia bahkan tidak pernah melihat kesungguhan aku sedikit saja.


Nabila maharani bagai menelan pil pahit dalam hidupnya, di malam pengantin yang begitu bahagia, ia disuguhkan dengan takdir atas kehancuran dirinya. Ternoda di malam pengantin, sesuatu yang ia jaga terenggut paksa oleh sahabat sekaligus adik iparnya. Bisma maulana ikhsan kamil, ada apa denganmu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 28

"Kenapa harus malu, kamu tidak perlu repot menutupi bagian tubuhmu di hadapanku, Bila, karena semua yang melekat padamu halal bagi penglihatanku," ujarnya kalem.

Bila bergeming, tidak menanggapi celotehan suaminya yang baginya hanya angin lalu. Perempuan itu seolah-olah tak peduli, bahkan menganggap tak ada rimbanya di sana. Seperti biasa, Bisma hanya bisa menyorot ramah tanpa kesal. Biarlah Bila tetap dengan pendiriannya. Fokus yang utama pria itu hanya satu, ingin lebih dekat dengan Razik.

Hening, Bisma kembali merangkak ke atas ranjang, membuai putranya yang masih terlelap, sementara Bila, sibuk memindai barang dan pakaiannya ke dalam lemari. Banyak sekali pakaian-pakaian dulu yang masih tersimpan rapi, tentu saja sudah tidak terpakai karena Bila saat ini berhijab. Ia pun mengeluarkan semuanya, dan berniat memberikannya pada Lastri.

Usai bongkar isi lemari, hari sudah menjelang cerah, matahari pun tak segan menampakkan sinarnya yang mulai terang. Si kecil Razik juga sudah terbangun, bocah itu sedari tadi nampak anteng sekaligus bingung, mengamati sekitar ruangan yang terlihat asing.

"Razik, mau ke mana?" tanya Bila dan Bisma hampir bebarengan, begitu mendapati putranya turun dari ranjang.

"Bunda ... pipis," ujarnya mendekat.

"Ayo sayang," Bila menuntun putranya ke kamar mandi.

"Razik ...." panggil Bisma mendekat, usai dari kamar mandi, Razik nampak kembali menatap sekeliling ruangan.

"Sayang, ayo sama Ayah, sini sayang, jangan takut nak, ini Ayah." Bisma berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya, sementara Razik sendiri nampak galau dengan tubuh bersembunyi dibelangkang bundanya.

"Sayang ... anak Bunda yang sholeh, boleh sayang, panggil saja begitu." Bila ikut berjongkok dan mensejajarkan tubuh bocah itu, sedikit memberi pengertiannya untuk putranya. Biar bagaimanapun, Razik dan Bisma punya ikatan yang tak bisa di tutup-tutupi.

"Boleh, Nda?" tanya Razik mengangguk, yang langsung diiyakan Bila, seketika bocah itu tak lagi ngumpet di belakang tubuh ibunya, ia terlibatt obrolan kecil bersama Bisma. Kadang sesekali bocah itu tertawa, kadang guling-guling di ranjang. Dalam waktu yang cukup singkat, Bisma mampu mengelabuhi anaknya untuk tidak lagi takut padanya. Namun, tetap dalam pengawasan Bila.

Bisma benar-benar ingin menghabiskan moment langka ini seharian tanpa gangguan. Pria itu sampai rela membatalkan sejumlah pertemuan penting yang sudah diagendakan Pandu dan timnya.

Sepupunya itu begitu keheranan ketika menerima telphon perihal cuti bosnya itu yang dadakan. Ia menggerutu kesal karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan. Pandu pun juga menghubungi sejumlah orang yang terikat untuk mengundurkan jadwal pertemuan mereka.

Bisma tidak mau tahu, hari ini pria itu ingin menikmati waktunya bersama Razik. Menikmati quality time bersama, apapun yang terjadi, ayah dari anak satu itu harus bisa mengambil hati putranya yang sudah terkontaminasi oleh bundanya, yang tidak mengenalkan dirinya. Jadi, Bisma harus ektra sabar dan pelan-pelan menyakinkan Razik.

Bu Rima yang tak sengaja melintas di depan kamarnya, melihat itu dan tentu saja lega bercampur haru. Bisma dan Razik sedang bermain bersama dengan saling tertawa lepas.

"Nanti siang, mau ikut Ayah tidak, nanti kita beli mainan yang banyak, apapun yang Razik mau, kita beli?" ujar Bisma semangat.

"Mau, mau," jawab bocah balita itu tak kalah semangat.

"Razik pingin beli apa?" tanya Bisma cukup memberi kebebasan pada anaknya.

"Apa ya, bannak ... cemuanya." Kedua tangan Razik mengudara membentuk gelembung setengah lingkaran.

"Boleh, nanti kita beli semuanya ya?" Bisma dan Razik saling tos bersama.

"Razik, tidak boleh berlebihan, sayang," tegur Bila di sela memilah pakaian. Perempuan itu diam-diam menyimak obrolan ayah dan anak tersebut. Bila tidak pernah membiarkan putranya jor-joran.

"Maaf, Bim, jangan berlebihan, Razik terbiasa sederhana dengan apa yang ia punya, tolong jangan racuni otak anak saya dengan berbagai barang yang berlebihan," protes Bila tak setuju.

"Apanya yang salah sih, Bila. Aku hanya ingin memanjakan anakku juga, jadi ... sama sekali tidak ada yang berlebihan, aku cukup mampu untuk membelikan barang itu, anggap saja mengganti waktuku tiga tahun ini yang terbuang dirampas olehmu," jawab Bisma setengah menyindir, mereka berdua saling melirik sengit. Entah mengapa mendadak kedekatan Razik dengan ayahnya seperti ancaman baru untuk dirinya.

Bila kurang suka apa-apa yang sudah ditetapkan dirinya dilanggar begitu saja, termasuk memilah jajanan, atau makanan apa saja yang baiknya dikonsumsi si buah hati. Berbeda dengan Bisma yang cenderung mengiyakan apapun yang Razik mau, tentu saja Bisma mengutamakan kesenangan bocah itu tanpa larangan dan kekangan, asal anak bahagia dan ceria, tentu saja cara itu membuat Razik kegirangan dan langsung suka, namun justru membuat Bila kesal sendiri karena jadi tidak begitu nurut dengan Bila.

Seperti siang ini saat Bila menyuruh bocah itu untuk tidur siang, Razik masih sibuk dengan mainan barunya, yang baru saja Bisma beli secara online.

"Razik ... nanti main lagi, ayo sayang bobok dulu," pintanya merasa kesusahan. Bocah kecil itu tak menggubris, asyik berceloteh dan masih terlihat sibuk dengan ayahnya.

Bila melirik suaminya kesal, mukanya di tekuk beberapa kali, gerutuan kecil yang tidak begitu jelas didengungkan dari bibirnya yang mungil. Sementara yang dilirik hanya menanggapi santai saja, sama sekali tidak terpengaruh dengan muka garang dan jengkel istrinya.

Lelah hayati Bila mengarahkan putranya, ia pun keluar kamar mencari kesibukan lainnya.

"Lastri, tolong kamu suapin Razik ya, dia baru makan sedikit tadi udah agak siang."

"Iya Non Bila," jawab Lastri cekatan. Menenteng makanan sesuai intruksi majikannya.

Belum lama Lastri kembali lagi dengan piring yang belum tersentuh isinya.

"Maaf, Non Bila, den Razik bobok," lapornya menginformasikan.

"Owh ... ya sudah, nanti saja kalau gitu," ujar Bila santai. Perempuan itu berjalan gontai menuju kamar, benar saja menemukan anaknya sedang tidur dengan Bisma di dekatnya membuai penuh kasih sayang. Dilihat dari sudut mana pun, kedua orang berbeda generasi itu, sangat mirip satu sama lain, benar-benar anak Bisma. Mulai dari hidung, alis, mulut, dagu, hampir semua wajah didominasi oleh wajah ayahnya, tentu saja Razik kecil sangat tampan.

Tanpa sadar Bila mengamati keduanya cukup lama. Ia tersenyum tipis mengamati hal itu. Walau kesal, namun jika berhubungan dengan Razik, Bila akan banyak mengalah. Diam-diam Bila tergerak menyelimuti anaknya, yang mau tidak mau juga menyelimuti Bisma, karena mereka saling memeluk, Bisma yang belum sepenuhnya terjaga, tersenyum dalam hati.

Perasaan pria itu begitu bahagia dan bersyukur tentunya. Bisa memeluk anaknya yang selama ini Bisma rindukan. Nampaknya Bila juga tidak begitu bisa marah kalau apa-apa berhubungan dengan anaknya, itu adalah jurus paling ampuh untuk menarik perempuan itu ke dalam permainannya.

Dih ... semoga ini cowok nggak GR deh, males banget harus perhatian sama dia.

Bila membatin seraya membenahi selimut untuk Razik tentunya.

.

Tbc

1
Cee Suli
part ini bikin nangis🥺🥺
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪
Wahyunni Winarto
akhirnyaa cinta tdk akan salah memilih untuk pulang🥲🥲
Wahyunni Winarto
nyesekkk sekali😭😭😭
Bundanya Syahdan
ya ampun razik, kamu datang disaat yg tidak tepat nak 😭
Bundanya Syahdan
mana ketemu mantan lagi 😭
Hani Hani89
novelnya judul nya apa yg sama Azmi
Bundanya Syahdan
wah akhirnya bila balik juga, dan langsung ketemu bisma nhhak tuh 😭
Bundanya Syahdan
ayo bisma pepet teroooss 🤭🤣
Luar biasa
Faris Fahmi
percuma menyendiri di pesantren bila
kalo masih memendam kebencian
aturan berkumpul aja sama emak2 tukang gosip, baru maklum kalo masih benci sama bisma
Linda Febri
Luar biasa
Mumun Munawwaroh
itu suamimu bila
gia nasgia
candunya Bisma
Gita mujiati
Luar biasa
Gita mujiati
Lumayan
Idhar Dar
Bagus masih mau lanjutannya
Jumi Nar
Luar biasa
Borahe 🍉🧡
jodohnya Gua Azmi nih. hahaha
Borahe 🍉🧡
haha "kok mau?? "
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!