Tiara pergi ke kantor catatan sipil menemani bibinya yang akan bercerai dengan suaminya. Siapa sangka seorang pria menarik tangannya dan memperkenalkan dirinya sebagai calon istri pada seorang wanita tua yang berada di sebuah kursi roda.
"Ibu, dia calon istriku. Aku pasti akan menikah lagi, dan memberikan Andrew seorang ibu. Sekarang ibu sudah mau di operasi kan?" tanya pria yang menggenggam erat tangan Tiara.
"Eh, pak ini apa..."
Mata Tiara melebar, pria itu menciumnya. Begitu saja. Lalu berbisik pada Tiara.
"Bekerja samalah dengan ku. Aku akan berikan apapun yang kamu mau!"
"Wah, kalian benar-benar mesra. Baiklah, kalau begitu langsung masuk saja. Ibu baru mau dioperasi kalau kalian sudah dapat sertifikat pernikahan!"
Rahang Tiara nyaris jatuh.
"Me.. menikah? nyonya, aku masih SMA" kata Tiara tergagap.
Pria matang dan dewasa yang menciumnya tadi cukup terkejut.
'Dia masih SMA?' batinnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Brakk
Andrew yang melihat ayahnya mengandeng Tiara langsung membanting pintu mobil Will dan berjalan cepat menghampiri Tiara.
"Lepaskan tanganmu, Sialann!" pekik Andrew.
Matanya merah, urat lehernya sungguh terlihat begitu jelas ketika berteriak pada ayahnya itu.
Kata-kata yang seharusnya tidak seorang anak katakan pada seorang ayah. Mungkin sudah biasa bagi Nicholas mendengarnya. Will juga hanya bisa menghela nafas.
Will ingin sekali berteriak pad Andrew. Mengatakan semuanya yang sebenarnya, bahwa selama inipun Andrew selalu salah tentang ayahnya. Tapi, dia hanya seseorang yang tidak memiliki hubungan keluarga baik dengan Nicholas dan Andrew. Dia memang tidak punya hak sama sekali. Meskipun begitu, dia sangat geram.
Sedangkan Tiara, dia begitu terkejut. Kata-kata seperti itu bahkan tidak pernah dia pikirkan untuk dikatakan pada seseorang yang lebih tua, apalagi keluarganya. Tiara bisa melihatnya, betapa besar kebencian Andrew pada Nicholas.
Tiara pun berusaha melepaskan tangannya dari Nicholas. Bukan karena tidak mau di genggam atau takut pada Andrew. Dia hanya tidak ingin membuang keributan dan membuat masalah semakin rumit dan besar.
Sayangnya bahkan ketika Tiara berusaha melepaskan tangannya. Nicholas semakin menggenggam tangan Tiara lebih erat lagi.
'Gapura kabupaten ini gak paham situasi sih! anaknya udah kayak maung weh!' batin Tiara.
Tiara mendongak melihat ke arah Nicholas. Tapi pria itu dengan santainya malah mengajak Tiara masuk ke dalam rumah.
Andrew tidak tinggal diam, dia menarik tangan Tiara satu lagi.
"Aduh!" pekik Tiara kaget.
"Lepaskan tangan pacarku!" pekik Andrew.
Mata Tiara membulat. Andrew ini ingatan dan juga pendengarannya bermasalah atau bagaimana? kan jelas-jelas Tiara sudah putus darinya.
"Pacar apa?" tanya Tiara.
"Tiara, jangan karena marah kamu ambil keputusan yang salah. Pria tua tidak setia iku yang memaksamu kan? aku bisa membawamu pergi dari sini! lepaskan tangannya, dan ikut aku!" kata Andrew menarik tangan Tiara.
"Aduh..."
Tiara malah jadi bahan tarik-tarikan. Tiara merasa tangannya malah sakit. Sebab, Nicholas juga tidak membiarkan dirinya menjauh barang sedikit saja.
"Kalian berdua berhenti!" pekik Tiara.
"Tiara..."
Tiara melotot ketika Andrew memanggil namanya.
"Lepas gak?" bentaknya.
Andrew bahkan spontan melepaskan tangan tiara. Will saja terkejut melihat itu. Karena bahkan perintah Nicholas, Andrew tidak mau menurutinya.
Tiara gantian melihat ke arah Nicholas. Gadis itu menaikkan kedua alisnya dengan mata terbelalak.
"Masih gak dilepas?" tanyanya pada Nicholas.
Dan entah bagaimana, tangan Nicholas juga melepaskan begitu saja tangan Tiara.
"Masuk kalian berdua! cepat!" pekik Tiara pada Nicholas dan Andrew.
Will masih menjadi penonton yang budiman. Dia cukup terkejut dengan apa yang dia lihat itu sebenarnya.
"Apa aku harus mengulang dua kali?" tanya Tiara yang mulai mendengus kesal.
"Tidak perlu!" kata Nicholas yang membuka sedikit jasnya dengan sengaja menunjukkan tanda merah kebiruan di lehernya.
Mata Andrew tentu saja tertuju kesana, karena Nicholas melakukannya di depan Andrew.
"Itu..."
Tiara menutup matanya, dan menundukkan kepalanya.
'Harusnya aku tahu, pria ini sengaja. Dia ingin menggunakan tanda itu untuk membuat Andrew marah. Ayah macam apa dia?' gerutu Tiara yang langsung masuk ke dalam rumah.
Nicholas tampak menyusul dengan cepat. Andrew yang masih mengepalkan tangannya juga langsung mengikuti keduanya masuk ke dalam rumah.
Will yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Tapi dia tahu, ada hal baik di sini. Kedua pria yang sama-sama keras kepala itu. Sepertinya sudah ketemu pawangnya.
Will melihat bagaimana tadi keduanya menurut sekali pada Tiara yang meminta keduanya melepaskan tangannya. Hanya dengan sedikit pelototan saja, keduanya tak berkutik.
Will segera masuk ke dalam rumah.
"Tiara!" panggil Margaretha yang bahkan berusaha bangun dari duduknya ketika melihat Tiara datang.
Tiara segera berlari ke arah Margaretha. Dia tidak ingin membiarkan wanita yang baru saja keluar dari rumah sakit itu berdiri lama. Dia tahu, itu tak baik untuk ibu mertuanya itu.
"Ibu, bagaimana keadaan ibu?" tanya Tiara.
Nicholas duduk di samping Tiara.
Andrew yang melihat itu tidak terima.
"Kenapa harus duduk di samping Tiara. Kamu benar-benar pria tua..."
"Andrew! duduklah. Nenek ingin memberitahumu sesuatu!" kata Margaretha.
"Tiara, pindah!" ucap Andrew lumayan lantang.
Tiara sungguh tidak ingin membuat masalah. Dia tetap duduk di samping nenek Margaretha. Tapi di sebelahnya, di mana tidak di samping Nicholas.
Andrew masih mendengus kesal. Bahunya tampak baik turun. Dia mencoba memahami situasi ini. Tapi dia terlalu kesal pada tingkah ayahnya yang menurutnya semakin menyebalkan.
"Andrew, nenek pernah bilang kan kalau ayahmu sudah menikah lagi. Dan istri ayahmu yang sekarang itu, Tiara!"
Jegerr
Bak mendengar suara petir yang begitu kencang. Bukan suara petir di lagu Thunder ya. Tapi ini benar-benar seperti mendengar suara petir di siang hari. Menggelegar, dan membuat seluruh dunia Andrew berguncang.
Matanya merah, berkaca-kaca tertuju pada gadis yang entah kenapa selalu mengusik pikirannya setelah mereka putus itu.
"Tiara..." lirihnya.
Dan perlahan Andrew menggelengkan kepalanya, seolah tidak bisa mempercayai apa yang baru dikatakan oleh neneknya. Tatapannya benar-benar terpaku pada Tiara. Matanya tidak berkedip, ungkapan hati dan pikirannya yang nyaris berhenti, seolah waktu juga berhenti.
Tiara menoleh ke arah Andrew.
"Tiara, katakan ini tidak benar!" kata Andrew.
Pemuda itu masih berharap kalau semua yang dikatakan neneknya tidak benar. Atau mungkin dia berharap bahkan dia salah dengar.
Tiara melihat Andrew, mata pemuda itu. Mata yang penuh dengan pertanyaan, tidak percaya, enggan, dan air mata yang menggenang itu, itu air mata kesedihan.
'Jika saja kamu tidak pernah selingkuh Andrew, jika saat aku di minta menikah dengan ayahmu, kita belum putus. Seratus juta itu bahkan tidak mungkin bisa membuatku setuju!' batin Tiara.
Ada kesedihan di hati Tiara ketika melihat Andrew matanya berkaca-kaca dan penuh dengan air mata seperti itu. Jika Andrew berkedip, air matanya pasti mengalir di wajahnya. Dan Tiara belum pernah melihat Andrew sesedih itu sebelumnya.
"Andrew, ibu benar. Aku istri ayahmu sekarang!"
Tes tes tes
Andrew menundukkan kepalanya, dia menjadikan kedua tangannya yang terkepal sebagai penopang keningnya. Air matanya berjatuhan begitu deras di lantai.
Nicholas hampir berdiri, dia bahkan sudah mengangkat tangannya. Dia tidak pernah melihat anaknya sesedih itu. Dadanya tiba-tiba saja sangat sakit melihatnya. Tapi, dia juga tidak tahu kalau Tiara adalah mantan pacar anaknya sebelum mereka menikah. Nicholas juga tidak bisa mundur. Dia tidak ingin mundur.
"Kenapa? kenapa harus Tiara?"
Deg
Dada Tiara tiba-tiba terasa begitu sakit. Wajah Andrew basah dengan air mata. Dan dia bisa melihatnya kesedihan yang begitu besar.
'Maaf, Andrew!' batin Tiara.
***
Bersambung...
kita belum liat si Abang bulan loo🥹🥹..
walaupun tahun ini Kita dilewati
ga masalah,ada bts😜🤣🤣
terkadang hidup penuh kebohongan lebih baik dari pada tau yg mana ttg kebenaran.
karena, pasti lebih jauh sakitnya
kayak...
tau dengan jujur kalau Hannie suka boong Mulu kalau maen mafia😜🤣🤣
sedih banget,kadang seseorang untuk menutupi kekalahan nya maka akan menyerang kelemahan yang lain. kuk keluarga mamahnya. dia tau Andrew itu kelemahan Nick.
apa lagi emak tirinya yang nyeritain🤔🤭
apa jangan-jangan koma🤭