NovelToon NovelToon
Katakan, Aku Villain!

Katakan, Aku Villain!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Keluarga / Antagonis / Romantis / Romansa / Balas Dendam
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Amha Amalia

*
"Tidak ada asap jika tidak ada api."

Elena Putri Angelica, gadis biasa yang ingin sekali memberi keadilan bagi Bundanya. Cacian, hinaan, makian dari semua orang terhadap Sang Bunda akan ia lemparkan pada orang yang pantas mendapatkannya.

"Aku tidak seperti Bunda yang bermurah hati memaafkan dia. Aku bukan orang baik." Tegas Elena.

"Katakan, aku Villain!"

=-=-=-=-=

Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE yaaa Gengss...
Love You~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Villain Chapter 32

*

"Siapa gadis ini?" Tanya Grandpa Jo menatap Elena.

"Elena." Bukan Elena yang menjawab, melainkan Keyra. Ia berjalan mendekati Grandpanya "Grandpa, dia Elena. Gadis yang sudah menolongku saat acara ulangtahunku waktu itu."

Grandpa Jo memperhatikan wajah Elena intens. Saat ulang tahun Keyra dirayakan, dia memang tidak ada disana karena sedang berada di Luar Negeri. Namun Grandpa Jo sudah melihat video insiden kecelakaan itu saat di beritahu asistennya "Jadi gadis ini pelayan yang meyelamatkanmu?"

"Iya Grandpa." Jawab Keyra tersenyum, sedangkan Elena sendiri merasa kikuk entah apa yang akan ia lakukan di situasi canggung ini "Saat ini aku berteman dengan Elena karena aku tahu dia orang baik." Jelas Keyra melirik Elena.

"Benarkah?"

"Iya, Grandpa tahu kan jika aku tidak mungkin salah dengan penilaianku?" Keyra merangkul lengan Grandpa Jo berusaha menarik perhatian, ia tahu jika Grandpanya sangat menyayangi dia dan selalu berada di pihaknya.

"Grandpa percaya padamu." Grandpa Jo membelai rambut cucunya lembut.

"Keyra sayang, ini sudah malam. Lebih baik temanmu suruh pulang, jika terlalu malam itu tidak baik saat pulang nanti perempuan keluar sendiri." Shella menatap Keyra tersenyum sembari memberi pengertian.

"Benar sayang, temanmu pasti lelah jadi biar dia istirahat di rumah." Timpal Faizal, ia juga tidak suka melihat kehadiran Elena disana.

Keyra menahan rasa jengah, ia tahu kedua orangtuanya sedang bermain drama seolah bersikap sangat baik di depan Grandpanya. Padahal ia tahu jika orangtuanya hanya ingin Elena pergi, orangtuanya tidak menyukai Elena.

"Kenapa buru-buru sekali. Lihatlah! Hidangan sudah tersaji, akan lebih baik kita makan bersama. Benarkan cucuku?" Ucap Grandpa Jo menatap Keyra.

"Iya." Jawab Keyra singkat.

"Tapi ayah--..." Ucapan Shella langsung di potong ayahnya sendiri.

"Gadis ini sudah menolong nyawa putrimu, hanya ucapan terimakasih saja tidak akan cukup." Seru Grandpa Jo melirik Elena yang kini menatapnya.

"Aku sudah memberinya imbalan ayah, ku rasa itu sudah cukup." Ujar Faizal mengingat uang yang pernah ia kasih untuk Elena, namun dengan tampang tak berdosanya justru Elena merobek semua uang itu.

"Itu bagus." Seru Grandpa Jo "Tapi berhubung dia disini, lebih baik kita makan bersama. Aku juga ingin berbincang dengan sosok pahlawan cucuku ini." Lanjutnya seraya tersenyum.

"Maaf, tapi sebaiknya saya pulang." Ujar Elena, berada disana juga tidak membuatnya nyaman.

Keyra mendekati Elena, berbisik agar mau makan bersamanya "El, ayolah. Kali ini saja." Elena yang hampir menolak kembali langsung saja di potong cepat sebelum ia membuka mulut "El mau kok makan disini." Seru Keyra tersenyum, tak peduli tatapan tajam dari Elena.

"Baiklah, ayo kita makan." Ajak Grandpa Jo.

Grandpa Jo sendiri duduk di kursi tengah khusus kepala keluarga, lalu di depan sebelah kanannya ada Faizal bersama istrinya. Dan di depan sebalah kirinya baru Keyra dan Elena.

Masing-masing dari mereka mulai menyantap makan malam dengan tenang dan bergulat dengan pemikirannya sendiri. Elena yang canggung mencoba biasa saja, Keyra sesekali bermanja pada Grandpa Jo dan tak lupa memperhatikan Elena. Berbeda dengan mereka, justru Faizal dan Shella makan dengan tatapan menusuk pada Elena seolah mereka mengatakan agar dia secepatnya pergi dari sana.

Tentu saja Elena tahu arti tatapan itu, namun tak ia pedulikan. Mulutnya makan dengan santai, namun hatinya berisik serta pikirannya mencoba menilai rentetan situasi di sekitarnya. Dapat ia simpulkan jika Faizal dan Shella tidak bisa berkutik di hadapan Tuan Joan Abraham atau kerap di panggil Keyra dengan sebutan Grandpa Jo. Itu artinya pemegang kendali keluarga ini adalah Tuan Joan. Otaknya berputar dengan cepat menyusun strategi yang cerdik untuk melancarkan rencananya.

Pepatah mengatakan jika kita ingin mengalahkan musuh, maka harus mengetahui tentang musuh sekecil apapun terutama kelemahan. Lalu masuk dalam kehidupannya dan... Hancurkan!

Setelah makan malam, Grandpa Jo mengajak keluarga serta Elena untuk duduk di ruang tamu.

"Saya sebagai Grandpanya Keyra mengucapkan terimakasih, karena kamu sudah menyelamatkan cucu kesayangan saya." Ujar Grandpa Jo melirik Keyra tersenyum, Keyra pun membalas senyuman itu.

"Sama-sama." Balas Elena singkat, dia tidak ingin terlalu banyak bicara. Apalagi dia belum tahu pasti bagaimana karakter dari Tuan Joan.

"Saya kagum melihat keberanianmu yang mengorbankan diri untuk menyelamatkan orang lain yang bahkan belum kamu kenal." Puji Grandpa Jo tulus pada Elena.

"Ayah, ini sudah terlalu malam. Apa ayah tidak ingin beristirahat? Aku akan meminta bibi menyiapkan kamar jika ayah ingin menginap." Shella bericara ramah, jujur saja dia muak mendengar obrolan ayahnya bersama gadis yang menurutnya tak level karena berasal dari kalangan bawah.

"Sedang ada tamu, bagaimana ayah bisa meninggalkannya." Balas Grandpa Jo melirik Elena.

"Nyonya Shella ada benarnya Tuan, sebaiknya anda beristirahat. Saya juga akan pulang." Pamit Elena. Bukan takut pada tatapan tajam Shella dan Faizal, namun dia tidak bisa gegabah dan harus menyusun rencana matang terlebih dahulu sebelum melawan mereka.

"Aku antar kamu pulang." Tawar Keyra, bagaimanapun juga dia yang mengajak Elena bermain ke rumahnya jadi dia bertanggung jawab untuk mengantar kepulangan Elena.

"Kamu tidak boleh mengantarnya." Seru Grandpa Jo membuat Keyra terkejut.

"Grandpa, aku tidak membiarkannya pulang sendiri. Ini sudah cukup malam." Pinta Keyra tak menyerah.

"Justru karena ini cukup malam, tidak baik perempuan keluar malam entah itu sendiri ataupun berdua." Ucap Grandpa Jo memberi pengertian. Keyra hendak protes namun lebih dulu ucapannya di potong "Faizal, antar gadis ini pulang."

"Aku?" Tanya Faizal terkejut.

"Apa kamu membantahku?" Grandpa Jo melempar tatapan tajam pada Faizal, saat melihat sang menantu seperti tak menyukai perintahnya.

Faizal terdiam. Dia tidak punya nyali membantah mertuanya. Di balik diamnya dia, mata Elena justru membola, mencoba mengendalikan keterkejutannya. Elena tidak mungkin di antar pulang Faizal, bisa-bisa nanti dia bertemu dengan ibunya lalu mengetahui identitas dia. Sungguh, ini bukan waktu yang tepat untuk membongkar jati dirinya.

"Saya bisa pulang sendiri." Tolak Elena sambil tersenyum.

"El, kamu pulang sama papahku ya? Ini akan lebih aman." Pinta Keyra.

"Tapi Key--..."

"Papahku baik kok, percayalah." Meski Keyra mengingat hinaan papahnya pada Elena dulu, namun ia tahu jika papahnya sebenarnya baik dan tidak mungkin macam-macam sama Elena. Apalagi yang memerintah papahnya adalah Grandpa Jo, sudah pasti papahnya tidak akan membantah.

Karena paksaan dari Keyra, akhirnya Elena mengangguk setuju meski hatinya memberontak.

Keyra tersenyum senang "Kita bertemu besok di kampus." Ucapnya lalu memeluk Elena. Sedangkan lainnya memperhatikan mereka penuh arti.

"Iya." Balas Elena segera melepas pelukannya. Dia merasa akan di terkam mamah dari Keyra yang menatapnya tajam.

"Tuan, saya ijin pulang." Pamit Elena menyalami Tuan Joan.

"Kamu gadis yang sopan." Ujar Tuan Joan.

Elena beralih mengulurkan tangan hendak menyalami Shella, namun tak mendapat balasan. Hingga suara deheman dari Grandpa Jo membuat Shella terpaksa menerima uluran tangan Elena. Namun belum sempat mencium tangannya, Shella segera menarik tangannya kembali lalu bersikap seolah membersihkan debu di tangan.

Keyra yang melihat sungguh tidak bisa berkata apapun, mamahnya keterlaluan. Ia jadi tidak enak hati pada Elena.

Sedikit tersinggung, namun Elena tak mau ambil hati "Saya permisi." Ucapnya menundukkan kepala sebagai rasa hormat lalu melangkah keluar rumah dan di ikuti Faizal karena dia akan mengantar kepulangan Elena.

"Jaga sikapmu Shella." Tegas Grandpa Jo memperingati putri semata wayangnya.

"Tanganku kram ayah." Elak Shella seraya tersenyum tak merasa berdosa sedikitpun.

Grandpa Jo hanya menghela nafasnya kasar, ia tahu betul bagaimana karakter putrinya itu. Ia sadar jika dia terlalu memanjakannya hingga sang putri bersikap seperti ini.

.

~Bersambung~

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Jangan lupa LIKE, COMMENT dan VOTE Yaaa Gengss...

Love You~

1
Fitri Purwanti
kak chat story ea kpn up nya😭😭😭
Nur Haswina
apa mungkin dia saudara kembar terpisah satu ikut mamanya satu lagi ikut papahnya
•🌻 𝓼𝓾𝓷𝓯𝓵𝓸𝔀𝓮𝓻𝓼 🌻•
yaa kukiri chatstory🥲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!