Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.
Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.
Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.
Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Lampu sudah dimatikan.
Suasana kamar gelap, hanya cahaya layar ponsel Bianca yang menyala ketika ia memeriksa jam hampir pukul sepuluh malam.
Bianca baru saja berbalik membelakangi Sadewa, mencoba memejamkan mata, ketika deringan ponsel memecah keheningan.
Nada dering itu tidak keras, tapi di ruang yang hening seperti itu, terasa menusuk.
Bianca meraih ponsel dari bawah bantal, alisnya sedikit terangkat saat melihat nama yang tertera.
Raka.
Aktor terkenal, model papan atas.
Bianca menoleh sekilas ke arah Sadewa. Lelaki itu belum tidur. Napasnya terlalu teratur untuk disebut terlelap, dada yang naik-turun menunjukkan ia masih terjaga.
Bianca menekan tombol hijau.
“Hallo?” suara Bianca pelan, sopan.
Sadewa tidak bergerak, tetap membelakangi Bianca, tapi telinganya fokus.
"Raka? Malam-malam begini? Kenapa?"
Suara Raka terdengar jelas meski tidak terlalu keras ada kehangatan santai, seperti seseorang yang nyaman memanggil teman dekat.
“Bianca? Maaf banget kalau ganggu. Kamu udah tidur belum?”
Nada suaranya terdengar tulus, sedikit cemas.
“Belum, kak,” jawab Bianca. “Ada apa ya?”
Sadewa merasakan dadanya mengeras tanpa alasan logis. Kata “kak” yang terucap untuk lelaki lain itu terdengar berbeda. "Kenapa harus selembut itu?"
“Aku mau minta tolong,” lanjut Raka dari ujung sambungan. “Besok aku ada pemotretan buat kampanye produk, tapi aku nggak nemu stylist yang cocok. Kamu punya selera yang bagus, aku lihat dari cara kamu nyusun file branding kemarin… aku kira kamu bisa bantu pilih outfit?”
Bianca terdiam. Tawaran itu… "besar". Tidak setiap hari seorang aktor meminta pendapatnya secara profesional.
Raka menambahkan cepat, terdengar takut menyinggung,
“Nggak harus sekarang. Kalo kamu keberatan juga nggak apa-apa. Aku cuma percaya sama taste kamu.”
Bianca menahan senyum. Ada rasa bangga, diakui.
“InsyaAllah aku bantu. Tapi aku lihat dulu besok jadwal kerja aku gimana, ya.”
“Deal.” Suara Raka cerah. “Makasih, Bianca. Eh—aku ganggu ya, malam-malam gini nelpon?”
“Enggak kok. Aku juga baru mau tidur.”
“Oke. Selamat istirahat, Bianca. Makasih banyak. Aku tunggu besok.”
Nada akhir itu terdengar hangat terlalu hangat.
Bianca menutup telepon, bibirnya masih menyimpan senyum kecil. Senyum yang tidak bisa ditahan karena merasa *dihargai*.
Cahaya ponsel menghilang.
Gelap kembali.
Tapi Sadewa tidak bisa mengabaikan sesuatu di dalam dadanya rasa tidak nyaman yang mulai tumbuh. Ia menoleh perlahan, hanya sepersekian, cukup untuk melihat garis senyum di bibir Bianca sebelum sepenuhnya padam.
“Siapa?” suara Sadewa datar, tapi terdengar serak.
Ia berusaha terdengar acuh, namun gagal.
Bianca tidak menatap balik. “kak Raka.”
Nama itu melayang di udara, jatuh di antara mereka, berat.
Ada jeda. Suatu ruang kosong yang penuh arti.
“Malam-malam gini?”
Nada Sadewa sedikit lebih rendah, hampir seperti gumaman, namun Bianca mendengarnya.
“Dia minta tolong soal kerjaan,” jawab Bianca singkat. Suaranya hati-hati.
Sadewa mengangguk pelan, kembali memandang langit-langit gelap.
Rasanya seperti ada sesuatu menusuk pelan di dadanya.
“Hmm,” hanya itu yang keluar.
Tak ingin terdengar cemburu.
Tak ingin terlihat peduli.
Tapi pikirannya berputar.
*Aktor terkenal. Semua orang suka dia. Kenapa harus Bianca?*
*Dan kenapa Bianca terlihat begitu bahagia setelahnya?*
Bianca mematikan ponselnya, menyelipkannya lagi ke bawah bantal.
Ia menarik selimut, mencoba tidur. “Selamat malam, Mas,” ucapnya pendek, formal.
Sadewa terdiam lama, sebelum akhirnya menjawab lirih:
“Selamat malam.”
Mereka kembali diam dua hati yang saling berjauhan meski berbagi ranjang, dibatasi bantal, dan kini… oleh seseorang bernama Raka.
Bantal di antara mereka terasa semakin tinggi.
Semakin tebal.
Dan tanpa sadar, batas itu bukan lagi cuma bantal.
Itu adalah rasa.
Pagi harinya saat hendak berangkat kerjaan ada sedikit ketegangan karena mama Hanum baru tau jika Bianca bekerja,tapi dengan perlahan Bianca menjelaskan jika dia butuh kegiatan agar tidak bosan akhirnya mama Hanum mengizinkan.
...****************...
Lorong lantai 18, jam istirahat hampir selesai. Bianca baru mengembalikan blueprint ke kabinet ketika suara ceria memanggilnya.
“Biancaaa!”
Raka berdiri santai di dekat vending machine, wajahnya dilapisi senyum khas selebriti. Bianca menghampiri dengan canggung.
“Eh… Kak Raka. Ada apa ya?”
Nada sopan, mata Bianca menunduk sedikit.
Raka seperti makin berbinar dipanggil begitu.
“Aku butuh pendapatmu buat konsep photoshoot internal. Kamu ikut sebentar ya?”
“A-aku masih baru Kak, takutnya—”
Raka memotong dengan senyum nakal ramahnya.
“Kamu baru justru bagus. Sudut pandangmu masih jernih.”
Bianca akhirnya mengangguk.
“Kalau gitu aku bantu sebisa aku, Kak.”
Mereka berjalan berdampingan. Jaraknya wajar tapi cukup untuk membuat siapa pun menilai mereka akrab.
Pintu lift terbuka.
Sadewa keluar.
Kemeja putih, jas hitam arang, aura CEO yang dingin.
Namun matanya langsung terpaku pada Bianca.
Lalu bergeser ke Raka.
“Pak Sadewa,” Raka menyapa duluan, nada sok hormat. “Saya pinjam Bianca bentar. Talent baru ini punya perspektif menarik.”
Bianca buru-buru menambahkan.
“Ma—maksud saya, saya bantu Kak Raka sebentar, Pak. Nggak lama.”
Sadewa mengangguk pelan.
Tatapannya sedikit lebih lama ke arah Bianca, seolah membaca sesuatu.
“Pastikan tidak mengganggu pekerjaan utama,” jawabnya datar.
Raka tersenyum senyum yang terlalu lebar untuk situasi biasa.
“Oh, tenang. Aku bakal jaga. Lagipula… aku nggak mungkin bikin orang penting di hidupku kesusahan, kan?”
Kata-kata itu menggantung.
Ambigu.
Seolah punya maksud tersembunyi.
Sadewa menatap Raka.
Sekilas. Tajam.
Namun ia tidak bisa menegur tanpa alasan profesional.
“Baik. Lanjutkan.”
Bianca membungkuk sopan dan pergi bersama Raka.
Sadewa tetap di tempat, menatap punggung mereka yang menjauh.
Di kepalanya muncul suara lirih yang bahkan tak ia sadari:
"Apa dia selalu panggil Raka dengan cara seakrab itu?"
“Terima kasih ya, Kak Raka. Maaf kalau banyak salah,” kata Bianca, merapikan map.
“Kalau kamu salah,” Raka menyengir, “biar aku yang tanggung.”
Bianca tersipu kecil.
Tepat saat itu pintu CEO terbuka.
Sadewa keluar.
Bianca langsung kaku, menunduk.
“Permisi, Pak. Saya kembali ke divisi.”
Raka menjawab lebih dulu tanpa menunggu Sadewa bicara.
“Oh iya, Pak.”
Ia menepuk pelan bahu Bianca dengan santai cukup untuk membuat Sadewa sadar.
“Terima kasih sudah ngizinin staf barunya ini bantu-bantu.”
Bianca mematung.
Raka melirik Sadewa sambil menambahkan “Jarang banget kan ada perempuan yang cerdas, cepat nyambung, dan… enak diajak kerjasama. Sayang kalo ada yang nggak ngeh sama value dia.”
Kalimat itu seperti peluru nyasar, tapi tepat sasaran.
Sadewa tidak bereaksi berlebihan.
Hanya rahangnya yang mengeras.
“Aku paham value staff-ku, Raka. Termasuk bagaimana mereka harus dihargai. Dalam batas profesional.”
Raka tersenyum miring.
“Oh tentu. Profesional.”
Tatapannya sengaja menunjuk Bianca sekilas.
“Semoga aja nggak ada yang kelewat batas.”
Bianca tidak paham.
Tapi Sadewa mengerti.
Bianca segera pamit, hampir tergesa.
“Permisi, Pak. Kak Raka.”
Begitu Bianca pergi, Sadewa berhenti sejenak sebelum bicara.
“Kamu sengaja?”
Raka mengangkat bahu.
“Aku cuma ngomong fakta. Lagipula… Bianca butuh seseorang yang menghargai dia. Siapapun itu.”
Kalimat terakhir menggantung.
Tertantang.
Sengaja menusuk.
Malam Hari di Apartemen
Setelah makan, percakapan pertama di ruang tamu terasa berbeda.
Sadewa meletakkan gelas airnya.
“Kamu panggil Raka… Kak?”
Bianca mengangguk.
“Iya. Kak Raka bilang dia lebih tua beberapa tahun. Masa saya panggil nama langsung?”
Sadewa menatap meja.
“Aku cuma nanya.”
Bianca mengangguk lagi.
Tapi ia bisa merasakan sesuatu bukan marah, tapi kecewa?
Bianca ragu bertanya.
“Kalau… kamu kurang nyaman, aku bisa—”
“Bukan begitu.” Sadewa memotong, suara menurun.
“Aku cuma… nggak suka caranya bicara ke kamu.”
Bianca menahan napas.
“Kenapa?”
Sadewa diam lama.
Lalu berkata pelan:
“Karena dia bertingkah… seolah sudah mengenal kamu lebih dulu daripada aku.”
Bianca mengerjap.
Dadanya seperti bergetar oleh perasaan yang tak terduga.
“Aku cuma kerja, Dewa…”
Nada Bianca lirih.
“Aku nggak mau bikin kamu salah paham.”
Sadewa menatapnya.
Pertama kalinya tanpa dinding di antara mereka.
“Aku yang harus belajar. Bukan kamu.”
Beberapa jam kemudian, di ranjang masing-masing sisi dengan bantal pembatas, suasana canggung masih terasa.
Ponsel Bianca bergetar.
> Kak Raka:
> Makasih ya, Bi. Kalau ada waktu, ajarin aku dikit soal layout. Kamu berbakat. Aku pengin lihat kamu berkembang.
Bianca membalas sopan:
> sama-sama Kak. Nanti aku kabari kalau sempat.
Sadewa, yang membaca situasi dari cara Bianca senyum kecil setelah menutup ponsel, menarik napas panjang.
Dalam hati, kalimat yang tak ia ucapkan"Jangan bikin aku belajar terlambat, Bianca."