NovelToon NovelToon
Naura, Seharusnya Kamu

Naura, Seharusnya Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Menikah Karena Anak
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku ingin menikah denganmu, Naura."
"Gus bercanda?"

***

"Maafin kakak, Naura. Aku mencintai Mas Atheef. Aku sayang sama kamu meskipun kamu adik tiriku. Tapi aku gak bisa kalau aku harus melihat kalian menikah."

***

Ameera menjebak, Naura agar ia tampak buruk di mata Atheef. Rencananya berhasil, dan Atheef menikahi Ameera meskipun Ameera tau bahwa Atheef tidak bisa melupakan Naura.
Ameera terus dilanda perasaan bersalah hingga akhirnya ia kecelakaan dan meminta Atheef untuk menikahi Naura.
Naura terpaksa menerima karna bayi yang baru saja dilahirkan Ameera tidak ingin lepas dari Naura. Bagaimana jadinya kisah mereka? Naura terpaksa menerima karena begitu banyak tekanan dan juga ia menyayangi keponakannya meskipun itu dari kakak tirinya yang pernah menjebaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laras Bertemu Rendra

Hari demi hari berlalu, hubungan kerja sama antara Bani dan Rendra semakin erat. Keduanya sering bertemu, berdiskusi, dan saling bertukar ide. Di mata Bani, Rendra adalah rekan bisnis yang profesional, tenang, dan cerdas. Tak ada satu pun kecurigaan di benaknya.

Namun di balik sikap profesional itu, Rendra menyimpan kegelisahan yang tak pernah reda. Sejak pertemuannya dengan Ameera, bayangan anak itu terus menghantuinya. Anehnya, meski kerja sama mereka sudah berjalan cukup lama, Rendra belum pernah lagi bertemu Ameera.

Seolah semesta memberi celah, pekan depan Rendra akan mengadakan acara ulang tahun anak keduanya—Rafael Elfarraz Mahavier. Dan tanpa ragu, ia menjadikannya kesempatan.

“Pak Bani,” ucap Rendra sambil menutup map dokumen. “Pekan depan ulang tahun Rafael. Saya dan istri sangat berharap Pak Bani sekeluarga bisa hadir.”

Bani tersenyum sopan. “Pekan depan ya? Insya Allah bisa. Naura juga satu sekolah dengan Rafael, jadi sekalian.”

Rendra mengangguk, senyum tipis tersungging di wajahnya. “Saya senang sekali mendengarnya.”

“Terima kasih atas undangannya, Pak Rendra.”

“Justru saya yang berterima kasih karena Pak Bani berkenan hadir.”

Percakapan kembali beralih ke urusan bisnis. Namun di balik ketenangan wajahnya, hati Rendra berbisik lirih "Aku berharap Ameera ikut datang..."

***

“Assalamu’alaikum, Umi!” Suara ceria Naura memecah keheningan rumah pesantren.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Umi Nafisah sambil melangkah ke ruang tamu. Senyumnya langsung mengembang.

“Masya Allah… Umi kedatangan bidadari.”

Naura tersenyum malu, menunduk sedikit. “Ih Umi… Naura jadi malu.”

“Kenapa malu, sayang? Naura memang cantik. Apalagi sekarang sudah terbiasa menutup aurat sejak kecil. Masya Allah, makin bercahaya.”

“Iya dong, Umi,” sahut Naura bangga. “Naura kan mau jadi seperti Mama Rania.”

Umi Nafisah mengelus kepala Naura lembut. “Anak solehah…”

Tak lama kemudian, Gus Atheef dan Ning Hanifa muncul dari balik pintu.

“Kak Hanifaaa!” Naura langsung berlari dan memeluk Hanifa erat.

“Aku kangen kakak.”

“Baru seminggu lalu ketemu padahal, udah kangen aja!” cibir Gus Atheef dari samping.

“Bilang aja Gus juga mau dikangenin Naura,” balas Hanifa sambil terkekeh.

“Kamu terlalu pede,” sahutnya santai.

“Huh, dasar beruang kutub!” Naura mendengus kesal.

Hanifa tertawa. “Naura, main di kamar kakak yuk. Kamu ke sini sama siapa?”

“Sama Mang Sugih, Kak. Papa, Bunda, sama Kak Ameera lagi gak bisa datang. Aku boleh nginep kan?”

“Tentu boleh. Senang malah, aku jadi punya teman.”

Naura tiba-tiba teringat sesuatu. “Kak Hanifa… kata Umi, Kakak habis lulus mau ke Mesir ya?”

“Iya,” jawab Hanifa lembut. “Makanya sekarang kita habiskan waktu bersama dulu.”

“Lama gak, Kak?”

“Tiga tahun.”

Naura terdiam sejenak. “Kalau gitu… aku main sama siapa dong kalau ke sini?”

“Sama Gus Atheef dong,” jawab Hanifa sambil melirik adiknya.

Naura mengerutkan hidung. “Gak mau. Gus Atheef gak mau dekat aku. Katanya bukan mahram. Lagi pula Gus pendiam banget, aku terus yang ngomong. Capek tau!”

Hanifa tertawa kecil. “Sebenernya Atheef gak gitu, kok.”

“Masa sih, Kak?”

“Iya.”

Naura menoleh ke Umi Nafisah. “Kenapa Gus begitu sama aku, Umi?”

Umi tersenyum hendak menjawab, namun Gus Atheef lebih dulu menyela, datar, “Karena kamu cerewet.”

Naura langsung mengerucutkan bibir. “Gapapa cerewet yang penting cantik kayak Mama Rania, wleee!”

Hanifa tertawa lepas.

Umi Nafisah menghela napas sambil tersenyum haru, memandangi mereka.

Di matanya, Naura bukan hanya titipan—ia adalah amanah cinta yang kelak akan membawa cerita panjang, bahkan mungkin luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

***

Aula kecil hotel itu dipenuhi balon warna pastel dan tawa anak-anak. Spanduk besar bertuliskan “Happy Birthday Rafael Elfarraz Mahavier” tergantung rapi di dinding utama. Musik anak-anak mengalun ceria.

Bani menggenggam tangan Ameera, sementara Naura berjalan di sisi Laras dengan gaun sederhana berwarna krem. Laras tersenyum tipis, menenangkan diri. Ia tak pernah menyangka undangan ulang tahun anak rekan bisnis suaminya akan terasa… sesesak ini di dadanya.

“Papa… ini tempatnya besar banget,” bisik Ameera kagum.

"Iya. Nanti kalau Ameera ulang tahun. Mau gak seperti ini?"

"Gak perlu, Pa. Ameera cuma mau sederhana aja asal ada Papa, Bunda dan Naura."

Bani tersenyum sambil mengelus rambut Ameera.

"Mas, aku ke toilet dulu ya."

"Naura juga, Pa."

"Yaudah apa perlu papa temani?"

"Gak usah, Mas. Kamu masuk saja dulu. Nanti aku sama Naura menyusul. Gapapa kan, Ameera?"

"Gapapa Ma, Hati-hati ya."

"Iya sayang."

Naura dan Laras berjalan berdampingan sambil tangan mereka berpegangan menuju toilet.

Sepuluh menit kemudian, Laras dan Naura selesai dari toilet. Laras merapikan jilbab putrinya, memastikan penampilannya kembali rapi sebelum mereka menyusul Bani dan Ameera di aula utama. “Ayo sayang, jangan lari,” ucap Laras lembut.

Naura mengangguk, namun langkah kecilnya tetap ceroboh. Baru beberapa langkah keluar dari lorong, bahunya menabrak seseorang. Gelas minuman di tangan pria itu sedikit tumpah, membasahi bagian depan kemejanya.

Naura refleks mundur, panik. “Maaf, Om… maaf banget. Aku nggak sengaja,” ucapnya polos.

Laras segera menunduk sopan. “Iya, maaf Pak. Anak saya tidak sengaja.”

Pria itu awalnya tersenyum tipis, hendak menjawab biasa saja. Namun saat ia mendongak—Senyumnya runtuh.

Napasnya tercekat.

“Laras…?”

Satu nama. Satu suara.

Dan dunia Laras seolah berhenti berputar.

Laras mengangkat wajahnya perlahan. Matanya membulat, wajahnya memucat. Tubuhnya kaku seketika, seakan seluruh kekuatan di kakinya lenyap. Ia ingin berbalik, ingin pergi, ingin pura-pura tak pernah bertemu—Namun kenyataan berdiri tepat di hadapannya. “Mas… Rendra?” suaranya hampir tak keluar.

Rendra menatapnya lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa yang berdiri di depannya bukan sekadar bayangan masa lalu.

“K-kenapa kamu bisa di sini?”

Naura menengadah, menatap wajah Rendra dengan senyum kecil.

“Hai Om!”

Rendra tersentak kecil. “Naura?”

“Iya Om!” jawabnya ceria. Ia memang mengenal Rendra, sering bertemu saat pria itu menjemput Rafael di sekolah.

Rendra menatap Naura, lalu kembali ke Laras, kebingungan bercampur kaget.

“Jadi…?”

“Iya,” Laras memotong cepat, jemarinya langsung menggenggam tangan Naura erat, seolah takut putrinya menghilang. “Naura anak saya.”

Ia menarik napas dalam, memaksa dirinya tetap tenang. “Ayo, sayang. Kita susul Papa.”

“Baik, Bunda,” jawab Naura patuh.

Laras hendak melangkah pergi ketika suara Rendra kembali terdengar.

“Laras, tunggu.”

Laras berhenti. Tidak menoleh. “Ada apa?” tanyanya datar.

“Aku… aku mau menjelaskan sesuatu.”

Laras akhirnya menoleh. Tatapannya dingin, tegas, tak menyisakan celah. “Penjelasan apa?”

“Tentang… masa lalu kita.”

Sudut bibir Laras terangkat tipis, bukan senyum, melainkan penegasan.

“Saya tidak punya masa lalu apa pun dengan Anda. Semuanya sudah terkubur.”

Ia meraih tangan Naura lebih erat. “Saya permisi.”

Laras melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Namun di balik punggung yang terlihat tegar itu, dadanya terasa sesak. Napasnya berat. Masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam… kini berdiri hidup-hidup di hadapannya.

Ketakutan terbesar Laras berdesir pelan di hatinya.

Bagaimana jika Rendra mengetahui Ameera? Bagaimana jika ia berusaha merebutnya?

Tangannya gemetar tanpa sadar.

"Ameera adalah hidupku," batinnya.

Jika dia mencoba mengambil Ameera dariku… sampai mati pun aku tidak akan membiarkannya."

Apalagi satu hal yang Rendra tidak pernah tau—Saat Laras pergi dulu, ia sedang mengandung Ameera.

Dan rahasia itu… akan menjadi badai.

***

Naura menggenggam tangan Laras erat saat mereka kembali ke aula utama. Di sana, Bani sudah menunggu bersama Ameera. Laras berusaha menata napas, menyembunyikan getar yang masih tersisa di dadanya.

“Bunda lama,” tegur Ameera lembut.

“Maaf sayang,” jawab Laras sambil mengelus rambut Ameera sekilas.

Lampu ruangan diredupkan perlahan. Musik ulang tahun mulai terdengar. MC naik ke atas panggung, mengumumkan dimulainya acara perayaan. “Baik hadirin sekalian, kita akan segera memulai acara ulang tahun putra tercinta dari Bapak Rendra Mahavier…”

Deg!

Laras menegang.

Pandangan matanya langsung tertuju ke depan. Ke arah panggung yang kini menjadi pusat perhatian semua orang.

Dan di sanalah dia melihatnya - Rendra.

Berdiri dengan jas rapi, senyum tipis terukir di wajahnya. Di sampingnya, seorang wanita dengan gaun elegan—Aurel. Tangannya menggenggam bahu seorang anak laki-laki kecil yang tampak ceria. Rafael.

Tubuh Laras terasa dingin seketika. Jantungnya berdetak terlalu keras hingga telinganya berdengung.

"Jadi benar…Anak yang ulang tahun hari ini adalah putra mas Rendra."

Pandangan Laras beralih cepat. Matanya mencari satu sosok lain yang seharusnya ada.

Anak pertama mereka…

Usianya seharusnya satu tahun lebih tua dari Ameera.

Namun tak ada.

Tak ada anak kecil lain di sisi Aurel. Tak ada sosok yang usianya mendekati Ameera.

"Ke mana anak itu…?"

Pertanyaan itu berputar di kepala Laras tanpa jawaban.

Di sisi lain ruangan, Rendra baru saja melihat Laras berdiri bersama Bani dan kedua anaknya. Wajahnya menegang seketika.

“Aurel…” bisiknya pelan.

“Ada apa?” Aurel menoleh.

“Itu… Laras.”

Aurel mengikuti arah pandangan Rendra.

Sekejap, senyum di wajahnya runtuh. “Itu… Laras?” suaranya bergetar. “Istrinya Pak Bani?”

Rendra mengangguk pelan.

Ada rasa asing yang menyesak di dada Aurel. Masa lalu yang selama ini ia kubur rapat, kini muncul tanpa permisi. Rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi, kini berdiri nyata di hadapannya.

Namun Rendra hanya menatap lurus ke depan.

Dingin.

Jarak di antara mereka terasa begitu nyata, meski berdiri berdampingan.

Aurel menelan ludah. Ia tahu, tak ada lagi yang bisa ia harapkan dari Rendra.

Sejak kebenaran itu terbongkar.

Sejak Rendra mengetahui bahwa anak yang dulu ia kira dikandung Aurel—bukanlah darah dagingnya, melainkan anak dari pria lain yang pernah mengisi hidup Aurel sebelum pernikahan mereka.

Sejak itu, semuanya berubah. Rendra tetap bertanggung jawab sebagai suami. Tetap menjalankan perannya sebagai ayah bagi anak-anak yang ada di rumah itu.

Namun hatinya—telah menutup pintu rapat-rapat untuk Aurel.

Di sudut ruangan, Laras menggenggam tangan Naura sedikit lebih erat.

Di sampingnya, Bani sama sekali belum menyadari badai yang perlahan berkumpul di sekitar mereka.

Sementara Rendra, dari kejauhan, kembali menatap Ameera.

Anak kecil itu tertawa kecil, menggenggam balon.

Dan di dadanya, firasat lama itu kembali berdenyut.

Sesuatu yang belum selesai.

Sesuatu yang perlahan, tapi pasti, akan menuntut kebenarannya sendiri.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya allah naura beban kamu berat banget.
Fegajon: akan ada pelangi setelah badai🥺
total 1 replies
Yuni Songolass
ameera ini tdk tau diri banget
Anak manis
sedih bgt jadi Naura😭
cutegirl
Naura terlalu banyak. berkorban
Arga Putri Kediri
kpn amera dpt balasNy... papanya Naura jg terlalu jahatttt....
just a grandma
kasian naura😥
anakkeren
makin seru
just a grandma
plis amira kmu jgn jahat
anakkeren
naura msh kecil gus🤭
cutegirl
happy birthday naura😍
anakkeren
makin seru
just a grandma
lanjut
just a grandma
❤️
Anak manis
lanjut
just a grandma
ceritany bikin sedih. aku srlalu menunggu up terbsru dari cerita kamu thor
cutegirl
aku yakin pasti gus atheef berjodoh dgn naura
Anak manis
seruuu tapi sedih
anakkeren
aku suka sm cerits author ini. sejauh ini ceritsnya nasih sedih dan aku merasakan sedih saat membacanya.
anakkeren
makin seru
Anak manis
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!