NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 : Penculikan pasien

“Apa… itu benar-benar ibumu yang melakukannya?” suara Victoria melemah, hampir seperti bisikan yang takut salah ucap.

Gadis itu tidak langsung menatap. Hening. Hanya angin yang berhembus melewati dedaunan, menebarkan bayangan yang bergerak lembut di wajah mereka. Perlahan, gadis itu meraih tangan Victoria dan menggenggamnya erat, seolah mencari rasa aman. Ia bergeser, menyandarkan kepala kecilnya ke bahu Victoria.

“Tak semua aku ingat…” suaranya gemetar pelan. “Terutama waktu aku… terapi”

Nada bicaranya terhenti di tengah kalimat, ragu. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, sesuatu yang membuat tubuhnya sedikit menggigil meski udara siang itu hangat.

“Terapi kenapa?” tanya Victoria, lembut tapi penuh rasa ingin tahu.

“Mereka—”

Kalimat itu terputus saat terdengar suara panggilan keras dari kejauhan. Seorang pria, mengenakan jas dokter putih yang sedikit kusut, melangkah cepat mendekat. Suaranya berat, nada bicaranya seperti teguran yang sudah lama ia tahan.

“Sudah kubilang jangan keluar kamar tanpa izin! Perawat mencarimu sejak tadi!”

Nada keras itu membuat gadis kecil itu langsung menegakkan tubuhnya, wajahnya yang tadi tenang mendadak pucat. Bahunya menegang, dan tanpa sadar ia mulai menunduk.

Victoria segera bangkit berdiri, berdiri di depan gadis itu seperti perisai. “Aku sudah bilang pada perawat kalau aku mengajaknya jalan-jalan sebentar,” ujarnya dengan nada menahan kesal.

Dokter itu mendengus, melipat tangannya di dada. “Ini bukan jalan-jalan, ini penculikan pasien! Bagaimana kalau anak ini hilang dari pengawasanku?!”

Nada suaranya meninggi, tapi Victoria tidak bergeming. “Dokter, tolong jangan berlebihan. Para perawat tahu aku membawanya keluar.”

“Tetap saja! Anak ini bukan tanggung jawabmu! Keluarga korban membayar mahal untuk perawatannya, kalau terjadi sesuatu, kau mau bertanggung jawab?!”

Kata *membayar mahal* itu membuat Victoria terdiam sesaat, namun kemudian menatapnya tajam. Tatapannya tak lagi lembut. “Apa uang jauh lebih penting daripada anak ini?”

“H-hah?!” Dokter itu tersentak, menoleh ke sekeliling, menatap beberapa orang yang memperhatikan mereka dari kejauhan. “Aku tidak bilang begitu!”

“Kalau begitu?” Victoria melangkah maju, jaraknya kini hanya tinggal beberapa langkah dari pria itu. “Apa aku salah karena ingin pasien merasa sedikit tenang?”

Nada suaranya berubah lebih dalam, dan sesuatu dalam sorot matanya membuat dokter itu terdiam. Ia bukan lagi sekadar mahasiswi residensi yang mudah dibentak. Ada ketegasan yang menekan dari tatapan itu, membuatnya tanpa sadar melangkah mundur.

“Dokter…” ucap Victoria pelan tapi jelas, “kau tahu lebih dari siapa pun, anak ini sedang tidak baik-baik saja. Tapi di mana kau saat ia butuh seseorang bicara?”

Suasana seolah membeku. Tak ada yang bersuara, hanya desau angin yang menggerakkan ujung jas putih Victoria.

Namun sebelum pria itu sempat menjawab, suara kecil memecah ketegangan itu.

“Kakak…”

Victoria menoleh, gadis kecil itu berdiri di belakangnya sambil menggenggam tangan Victoria yang mengepal. Wajah mungilnya tersenyum lembut, meski matanya tampak sedikit basah.

“Kakak dokter, tidak apa. Aku kembali dulu ke kamar ya…”

Victoria memandangnya tanpa kata. Lalu perlahan, tangannya terulur, membelai rambut halus gadis itu. Gerakannya lembut, namun tatapan matanya menyiratkan rasa iba yang dalam.

“Kembalilah ke kamarmu,” ucapnya lembut. “Kalau sudah sampai, bilang pada perawat untuk memberimu antibiotik.”

Gadis itu mengangguk kecil, lalu melangkah pergi. Langkah kecilnya berlari pelan melewati taman, kembali ke arah gedung rumah sakit.

Sementara Victoria masih menatap punggung mungil itu sampai menghilang di balik pintu, sampai akhirnya ia mengalihkan pandangan, menatap tajam ke arah dokter di hadapannya, yang kini menunduk dengan wajah kaku tanpa kata.

“A—Apa?” suara dokter itu terdengar bergetar, napasnya tersengal pelan. Ia mundur selangkah, matanya menatap Victoria penuh kewaspadaan. “Apa gadis itu… menceritakan sesuatu padamu?” katanya lagi, kali ini lebih keras, tapi nada panik dalam suaranya tak bisa disembunyikan.

Victoria diam. Hanya matanya yang bergerak menatap wajah pria itu dari bawah bayangan rambutnya. Perlahan, sudut bibirnya terangkat samar bukan senyum, tapi sesuatu yang lebih dingin, nyaris seperti ejekan. Langkah kakinya terdengar lembut saat ia mendekat, hingga jarak di antara mereka menghilang.

Ia mencondongkan tubuh, mendekatkan bibirnya ke telinga dokter itu, lalu berbisik pelan,

“Haruskah aku memberitahumu?”

Nada suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat pria di depannya menegang. Desiran napasnya terasa seperti ancaman yang disamarkan dalam kelembutan.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!