Naira Putri harus setuju menandatangani kontrak pernikahan dengan CEO muda bernama Samuel Virendra.
Tanpa dia sadari, itu adalah awal mula kesabaran nya sebagai seorang wanita di uji. Bagaimana tidak? sang suami ternyata masih menjalin hubungan dengan kekasihnya.
Ternyata pernikahan kontrak mereka hanya untuk menutupi hubungan Samuel dan kekasihnya yang tidak di restui orang tua Samuel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Bukan hanya mengeluarkan contoh design seperti saat memilih undangan biasa. Manager itu mengeluarkan sebuah katalog tebal dengan ribuan design di dalamnya. Bahkan semua di antara semua itu, ada beberapa design ekslusif yang belum di cetak.
Aku menoleh ke arah Riksa, karena jujur saja aku sungguh pusing melihat design sebanyak itu. Bayangkan saja, jika melihatnya saja sudah pusing apalagi kalau aku harus memilih nya.
"Kami akan segera mencetaknya dalam dua jam, kami pastikan semua selesai tuan dan nona!" ucap manager itu yakin.
Aku terkesiap mendengar manager itu bicara seperti itu.
'Dua jam, wah kurasa mereka benar-benar profesional!' batin ku kagum.
"Kamu suka yang mana Nai?" tanya Riksa menyadarkan aku dari lamunan ku yang begitu mengagumi cara kerja perusahaan ini.
Aku segera menoleh ke arah Riksa, dan menoleh ke arah katalog itu. Saat itu dia sedang melihat ke halaman katalog. Dan saat itu aku melihat sebuah undangan berwarna pink. Konsepnya itu seperti sebuah undangan di dalam sebuah amplop yang kotak dan terlihat begitu mewah. Tapi sayang warnanya pink. Aku takut si lidah tajam itu akan marah karena aku pilih yang itu.
"Menurut mu?" tanya ku pada Riksa.
Dia malah tersenyum ketika aku bertanya padanya. Seolah tahu apa yang aku pikirkan, dia malah memutar tubuhnya menghadap ke arah ku dan bilang,
"Kamu bisa memilih yang mana bentuknya, dan warnanya bisa di sesuaikan. Kamu sudah punya pilihan?" tanya nya lagi padaku.
Mendengar apa yang dia katakan aku jadi lega. Benar kan, dia seperti tahu apa yang aku pikirkan. Tanpa menunggu, karena akan di selesaikan dala waktu singkat juga, maka aku menunjuk ke design yang aku sukai.
'Yang ini!" seru ku sambil mengarahkan jari telunjuk kanan ku ke arah undangan itu.
"Wah, pilihan bagus nona. Ini memang design terbaru kami!" sahut si manager dengan cepat.
"Baiklah, apa ada yang ingin anda rubah nona?" tanya nya lagi.
"Aku pikir warna nya jangan pink, si lidah ta... em maksud ku, mungkin warna yang lebih umum saja. Biru mungkin?" tanya ku pada manager itu.
"Biru? bagaimana kalau gold saja?" tanya Riksa mengeluarkan pendapat nya.
Aku langsung mengangguk, dan manager itu segera mencatat nya. Proses pemilihan undangan ini berlangsung dengan cepat. Aku lega, karena Riksa mau mengeluarkan pendapat nya. Jujur saja aku ingin bertanya padanya, tapi jika aku melakukan itu di depan manager, takutnya dia jadi salah paham.
Kami keluar dari ruangan itu, dan berjalan keluar gedung. Kami kembali ke mobil dan seperti biasanya, Riksa membukakan pintu mobil untukku. Aku jadi terbiasa dengan hal ini.
Riksa melajukan mobilnya keluar dari area gedung itu.
"Mau makan siang dimana?" tanya Riksa padaku.
"Terserah kamu saja!" jawab ku cepat dan dia hanya tersenyum menanggapi jawaban ku.
Setelah pertanyaan itu suasana menjadi hening. Aku juga tidak tahu harus bicara apa saat Riksa terdiam.
"Nai, kurasa ponsel mu tidak akan kembali. Apa kamu ingin ponsel yang baru?" tanya Riksa padaku.
Aku terkejut, karena ponsel itu di ambil oleh si lidah tajam. Kenap bisa ponsel itu tidak akan kembali.
"Apa bos membuangnya?" tanya ku pada Riksa.
Riksa menggelengkan kepalanya, dan itu membuat ku jadi semakin penasaran saja.
"Lalu kenapa kamu katakan ponsel itu tidak akan kembali?" tanya ku lagi sedikit mendesak.
Aku ini bukanlah orang yang mengerti dengan kata kiasan, kode, atau semacamnya. Otak ku tidak sepintar itu.
"Karena kemungkinan bos tidak ingin kamu memakai ponsel seperti itu, jadi bagaimana kalau setelah makan siang kita cari ponsel yang baru untuk mu?" tanyanya sambil menjelaskan.
Aku diam sebentar, aku sedang berfikir. Mungkin benar, mungkin dia memang sudah membuang nya karena ponsel ku itu memang tidak bagus dan sudah sangat ketinggalan jaman. Kurasa dia akan malu jika istrinya memakai ponsel seperti itu, meskipun hanya istri kontrak.
"Aku tidak punya uang!" jawab ku cepat.
Riksa kembali terkekeh.
"Kamu adalah calon istri pemilik perusahaan besar Nai, jangan katakan kalimat seperti itu lagi ya Nai. Apalagi di depan bos!" seru nya.
Aku hanya diam dan memalingkan wajah ku ke arah lain.
Beberapa saat kemudian kami sampai di sebuah restoran yang cukup besar. Halaman parkir yang luas, sudah terisi begitu banyak kendaraan. Tapi Riksa memarkirkan mobilnya di tempat khusus seperti nya, karena sebelum melakukan itu dia menunjukkan sebuah kartu pada seorang petugas berseragam hitam hitam.
Kami turun dari mobil, dan dia mengajakku masuk ke sebuah pondok yang terpisah dari bangunan utama restoran ini.
"Selamat datang tuan dan nyonya, mari silahkan!" sapa seorang pelayan cantik dengan seragam yang rapi dan dengan suara yang lembut dan sopan.
Aku dan Riksa masuk, kursinya bukan kursi kayu biasa. Ini seperti di restoran bintang lima, di dalam hotel. Aku pernah menghadiri pesta pernikahan anak pak RT, dan itu si hotel bintang lima, kursinya seperti itu.
Riksa menarik kursi dan memintaku duduk di sana. Wah, dia mang sopan dan perhatian sekali.
Riksa ikut duduk, kami bahkan tidak perlu memesan makanan. Begitu kami duduk, satu persatu makanan di antarkan ke meja kami. Ini luar biasa. Dan yang lebih membuat ku senang karena makanan nya adalah makanan yang aku sukai, ada nasi, ayam goreng, ayam bakar, berbagai macam sayuran, sambal, dan lalapan juga ada.
"Kamu suka makanan seperti ini kan?" tanya Riksa tersenyum dan membuka piring ku yang masih tertutup.
Aku mengangguk dengan cepat. Dia bahkan mengambil kan nasi untukku. Pria ini baik dan pengertian sekali.
"Makan lah, jangan malu-malu!" ucap nya sambil terkekeh.
Aku mengambil lauk dan makan dengan lahap. Karena menu sarapan tadi pagi itu benar-benar tidak bisa mengisi ruang kosong di dalam perut ku. Aku makan seperti saat berada di rumah, suasana memang begitu nyaman dan menyenangkan, bersama dengan Riksa yang membuatku begitu tenang, seperti bersama dengan keluarga sendiri. Dan makan di tempat ini, dimana hanya ada aku dan Riksa juga pemandangan yang menyejukkan mata.
Air mancur buatan di belakang kami, dan taman bunga di depan kami. Ini sungguh tempat yang begitu bagus.
"Ini tempat favorit Tante Stella, ibunya bos!" ucap Riksa di tengah dia menyatap makanan nya.
Aku menatap serius ke arah Riksa. Jadi ini adalah tempat favorit ibunya Samuel.
"Dan semua makanan disini adalah makanan yang biasa dia pesan!" jelas Riksa lagi.
"Nai, kurasa selera mu dan Tante Stella hampir sama!" jelas nya lagi dan itu membuat ku jadi diam mematung.
***
Bersambung...