Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter —22.
Keputusan Lucca untuk tidak memaksa ternyata bukan sekadar ucapan penghibur. Hari-hari setelah pesta itu mengalir pelan, nyaris tak terasa, namun konsisten. Ia tak lagi datang membawa janji besar atau desakan yang menyesakkan. Lucca memilih hadir dengan cara paling sunyi—menjemput Arka sepulang sekolah, duduk diam di ruang tamu seolah tak ingin mengusik apa pun, memperbaiki keran bocor tanpa diminta, atau sekadar memastikan pintu dan jendela terkunci rapat sebelum malam menelan rumah itu.
Ia tidak menuntut tempat, ia hanya ada.
Namun hari itu…
Viera baru saja melangkah masuk ketika hawa di dalam rumah terasa berbeda, terlalu sunyi tanpa celotehan putranya. Pengasuh berlari menghampirinya dengan wajah pucat, tangan gemetar, seolah kata-kata enggan keluar dari bibirnya.
“Bu… barusan… banyak orang datang.”
Jantung Viera langsung mencelos.
“Mereka berpakaian hitam semua,” lanjut perempuan itu dengan suara bergetar. “Datang bersama seorang wanita paruh baya. Kelihatan… sangat kaya. Berwibawa.”
Viera menahan napasnya.
“Arka…” bisiknya lirih.
Pengasuh itu menunduk, matanya berkaca-kaca.
“Mereka membawa Den Arka pergi, Bu.”
Dunia Viera seakan runtuh dalam satu tarikan napas. Tanpa menunggu sedetik pun, Viera langsung meraih ponselnya dan menelepon Lucca. Ia tidak perlu bertanya, tidak perlu menebak. Nalurinya sudah tahu, itu pasti Nyonya Marrie.
Lucca datang menjemputnya, wajah pria itu gelap, rahangnya mengeras. Tanpa banyak kata, mereka melaju menuju kediaman wanita yang selama ini menjadi bayang-bayang di antara mereka.
Begitu pintu besar itu terbuka—
“IBU!” teriak Lucca, suaranya menggema, sarat amarah yang tertahan. “Di mana putra kami?!”
“Arka!” seru Viera nyaris bersamaan, suaranya bergetar oleh panik.
Langkah mereka terhenti ketika masuk lebih dalam ke rumah itu. Bukan tangisan yang menyambut, bukan jerit ketakutan seperti yang mereka bayangkan.
Melainkan tawa.
Satu tawa dewasa yang hangat.
Dan satu tawa kecil yang begitu mereka kenal.
“Nenek curang, Arka mau yang besar!” suara Arka terdengar jelas, ceria, tanpa sedikit pun nada takut.
Viera membeku.
“Kau juga licik!” sahut Nyonya Marrie, disusul tawa ringan. “Persis seperti ayahmu waktu kecil!”
Kemarahan Lucca tertahan di tenggorokannya. Dan jantung Viera yang tadi nyaris hancur, perlahan berdebar dalam kebingungan.
Viera dan Lucca sempat saling berpandangan. Hanya sesaat, namun cukup untuk saling membaca kegelisahan yang sama. Setelah itu, langkah mereka kembali bergerak, menembus ruang yang dipenuhi cahaya hangat dan tawa kecil yang masih menggema.
Nyonya Marrie akhirnya menoleh, seolah baru menyadari kehadiran mereka. Senyum tipis terbit di wajahnya. Ia mengangkat satu tangan, melambai santai, seakan semua ini bukanlah sesuatu yang genting.
“Kalian sudah datang,” katanya ringan. “Sekarang pergilah ke butik dan persiapkan baju pengantin kalian. Aku yang akan menjaga cucuku.”
Viera tertegun. Bibirnya sedikit terbuka, matanya membulat. Kata-kata itu terasa begitu asing di telinganya. Bukankah Nyonya Marrie selama ini membencinya?
Belum sempat Viera bertanya, Nyonya Marrie kembali berbicara, nadanya tetap datar namun menusuk.
“Oh ya, karena keluargamu juga tak pernah benar-benar peduli padamu... aku sudah mengirim mereka ke luar negeri, mereka tak akan bisa kembali.”
Darah Viera seakan berhenti mengalir.
“Syarat ku hanya satu untuk merestui pernikahan kalian,” sambung Nyonya Marrie tenang. “Jangan pernah menghubungi mereka lagi, apalagi memberi bantuan apa pun.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada nyaris santai. “Dan perusahaan milik mereka sudah aku akuisisi, akan aku berikan padamu sebagai hadiah pernikahan. Ini adalah caraku berdamai, kompromi yang kupilih atas kematian suamiku oleh keluargamu.“
Viera masih berdiri di tempatnya, pikirannya kacau, hatinya campur aduk antara syok, takut, dan tak percaya.
Namun Lucca akhirnya memahami semuanya. Pria itu menghembuskan napas panjang, lalu tersenyum. Senyuman lega yang selama ini jarang terlihat. Ia menggenggam tangan Viera dengan lembut.
“Ayo, kita bicara, Vie,” ucapnya hangat. “Putra kita aman bersama neneknya.”
“Tapi—”
Viera hendak menyela, nalurinya masih menolak semua keputusan yang terasa terlalu mendadak itu. Namun suara kecil yang begitu ia kenal memotong niatnya.
“Mama, pergilah,” kata Arka ceria. “Arka masih mau main sama Nenek.”
Langkah Viera tertahan. Matanya menatap putranya, mencari tanda ketakutan—namun yang ia temukan hanya senyum polos dan mata berbinar.
Ia membuka mulut lagi ingin berkata sesuatu, namun Lucca lebih dulu menggenggam tangannya. Tarikannya lembut, seolah berkata tanpa suara bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tanpa memberi Viera kesempatan untuk ragu lebih lama, Lucca menuntunnya keluar—meninggalkan tawa kecil Arka yang masih terdengar dari dalam ruangan.
Di dalam mobil, Lucca langsung menarik Viera ke dalam pelukannya. Dekapan itu erat, penuh kelegaan yang selama ini ia simpan sendiri.
“Ibuku sudah merestui kita, Vie,” ucapnya lirih, nyaris bergetar. “Kamu pernah menulis di suratmu… kalau hubungan kita terbebas dari dendam, kamu akan menerima cintaku.”
Viera terdiam. Kata-kata itu menabrak perasaannya sekaligus. Dadanya terasa penuh, hingga suaranya enggan keluar.
Lucca perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatapnya dengan kesungguhan yang tak lagi ia sembunyikan.
“Viera,” katanya pelan namun mantap, “Maukah kamu menikah denganku?”
Air mata menggenang di mata Viera. Ia menelan napas, lalu mengangguk kecil—jawaban yang lebih jujur daripada seribu kata.
Lucca tersenyum, lalu mencium Viera dengan lembut. Namun ketika Viera membalas, ciuman itu berubah lebih dalam, lebih menuntut, seolah semua rindu yang tertahan ingin dilepaskan sekaligus.
Viera segera menahan dadanya, memutus ciuman itu dengan napas terengah.
“Kita lanjutkan nanti,” ucapnya pelan, pipinya memanas. “Setelah menikah.”
Lucca tersenyum kecil, matanya gelap oleh emosi yang ditahan. “Baik, sayangku.”
Tarikan napasnya terdengar berat, namun senyum di bibirnya tak pernah selembut itu. Akhirnya satu demi satu simpul masa lalu mulai dilepaskan.
Sementara Lucy yang semula masih mencoba melawan, akhirnya tidak berkutik ketika Lucca menekan seluruh jaringan bisnis keluarganya. Bukan dengan ancaman kosong, melainkan dengan kekuasaan yang nyata.
Sebagai “jalan keluar terhormat”, keluarga Lucy mengirimnya ke luar negeri, jauh dari lingkaran sosial dan pengaruh yang selama ini ia banggakan.
Beberapa hari kemudian, Dokter Adrian pun datang. Bukan sebagai pria yang pernah menyimpan rasa, tapi sebagai seseorang yang ingin menutup cerita dengan benar.
“Aku minta maaf, Viera. Aku tidak jujur sejak awal. Aku tidak mencintai Lucy, dan itu kesalahan terbesarku menarikmu ke dalam kebohonganku sendiri.”
Viera menatapnya tenang. “Sebenarnya... aku tidak terluka karena kebohonganmu, Dokter. Karena sejak awal, aku sudah menarik batasanku denganmu.“
Adrian mengangguk. “Aku tau, aku akan segera pindah. Dan aku berjanji… tidak akan mengganggu hidupmu lagi.”
Pernikahan Viera dan Lucca digelar dengan kemegahan yang nyaris tak terkatakan, segalanya terasa berlebihan bagi sebagian orang. Namun bagi Lucca, itu adalah pernyataan—bahwa Viera bukan lagi perempuan yang boleh disinggung, apalagi direndahkan oleh siapapun.
Ia berdiri di sisinya bukan sebagai pelindung semata, melainkan sebagai suami yang dengan sengaja menempatkan Viera di puncak, agar dunia melihat dengan jelas siapa perempuan yang ia pilih.
Nama Viera disebut dengan hormat, setiap langkahnya diperhatikan dan setiap ucapannya dihargai. Dan bagi mereka yang pernah memandang rendah—seperti Ibu Adrian, wanita yang dulu dengan mudah melukai harga diri Viera dan Arka, hanya mampu menatap dari kejauhan. Wajahnya pucat, tubuhnya limbung saat mengetahuinya. Hingga kabar itu beredar cepat, syok yang ia alami membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit.
Hari itu bukan sekadar pernikahan. Itu adalah pengumuman—bahwa Viera telah menang.
Tiga Tahun Kemudian
Waktu berjalan tanpa tergesa.
Viera berdiri di sebuah taman kota, menggenggam tangan Arka yang kini sudah jauh lebih tinggi dari yang ia ingat. Lucca berdiri tak jauh, mengobrol santai dengan seorang teman. Di seberang taman itu, Viera melihat seseorang yang tidak ia duga.
Damian, mantan suaminya.
Pria itu sedang menggendong seorang anak kecil, sementara di sampingnya berjalan seorang wanita dengan senyum lembut. Mereka tampak… utuh. Bahagia dengan cara mereka sendiri.
Tatapan Viera dan Damian bertemu. Tidak ada kejutan berlebihan, sudah tak ada lagi luka yang kembali terbuka. Damian tersenyum lebih dulu, Viera membalasnya.
Senyum yang ringan, tanpa dendam.
Mereka tidak saling mendekat, tidak juga berbincang. Mereka hanya saling mengangguk, pengakuan diam-diam bahwa hidup akhirnya membawa mereka ke tempat yang tepat.
Viera menoleh ke Lucca, lalu ke Arka. Dan saat itu ia tahu, ia sudah sampai di tempat pulang yang selama ini ia cari.
TAMAT.
*
*
*
Maaf ya ceritanya cukup sampai disini, karena rete-si karya ini jelek banget. Mungkin karena pembacanya sepi, tapi aku usahakan sampai tamat tidak gantung meskipun terkesan buru-buru selesai. Makasih semuanya 🫶😁