Bentley Reagan Carter masih betah menjomblo di usianya yang hampir kepala empat karena gadis yang selalu posesif padanya.
Elna Alexandra Graham, seorang gadis yang mencintai adik dari sang ayah, dan tenyata cinta itu juga berlabuh di hati pria matang itu...
tapi Elna tidak tau ada rahasia apa di balik pria itu, apa mereka bisa bahagia? atau malah cinta mereka terhalang restu keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
om honey milikku.
Ben dan Elna masih berpelukan, bahkan gadis itu tak sadar jika tangannya mengeluarkan darah.
"berhenti berpelukan, om Dito tolong tangan Elna itu berdarah, cucuku!" panik Samuel melihat putrinya.
"sudah berhenti panik, Elna dan Ben berhenti membuat orang khawatir," kata dokter Dito menarik Ben.
"om honey, om honey ..." kata Elna menahan Ben.
"baiklah sayang ... honey ... kita duduk di ranjang dan biarkan om Dito mengobati tangan mu ya," bujuk Ben yang di angguki oleh Elna.
bahkan keduanya begitu mesra, Elna terus tak ingin melepas atau sekedar berjauhan dengan Ben seinci pun.
Elna begitu bahagia terlebih bisa mencium aroma tubuh Ben yang begitu memabukkan.
bahkan Elna terus mengendus tubuh Ben, "hei honey, kamu sekarang kenapa suka mengendus seperti Helly begini,"
Ben bukan merasa risih, tapi hanya malu, "aku suka aroma tubuh om, ah ... mungkin ini kesenangan calon baby kita," jawab Elna tertawa.
mendengar itu, Ben langsung mengecup bibir Elna di depan semua orang.
"hei hei hei ... kami masih disini, jangan gila, Ben nikahi putriku atau aku akan memotong adikmu!" kesal Samuel yang ingin menonjok Ben.
sedang Naura memeluk suaminya itu yang hampir lepas kendali, sedang mama Mei menjewer kuping Ben.
"mama .. mama sakit ...." lirih Ben mengusap kupingnya.
"sudah, aku takut kalian berulah, lebih baik kalian segera menikah, dan berikan kami cicit yang banyak ya," kata mama mei tersenyum.
"sebelas juga boleh," tambah papa David.
"hah..." kaget keduanya.
"opa, aku bisa menjadi b*bi kalau begitu," kesal Elna pada papa David.
"bukan begitu sayang, kamu bisa hamil hanya empat kali, kalau setiap kehamilan kembar tiga," jawab papa David tertawa senang.
"om honey, lihat opa terus menggoda seperti itu, masak aku harus hamil seperti b*bi," adu Elna dengan manja.
"tapi itu bagus, rumah kita nanti akan sangat ramai, terlebih papa dan mama juga harus ada di sana untuk menjaga cicit-cicitnya bukan," jawab Ben.
"om honey menyebalkan," kata Elna ingin menangis.
dokter Dito selesai mengobati tangan Elna, Ben langsung memeluknya dan mencium pipi Elna lagi.
"sudah jangan seperti ini, kamu terlihat makin jelek sayang," kata Ben yang tak bisa jauh dari gadis kecilnya.
setelah itu, mereka berdua makan bersama,bahkan dalam satu piring.
tapi yang membuat terkejut adalah Samuel yang menjadikan dua porsi makanan jadi satu porsi.
"ini ingin aku menjadi gendut bersama," lirih Ben melihat piring yang menggunung itu.
"sudah Ben makan atau perlu aku yang menyuapi kalian," kata Naura berdiri.
"tidak perlu, aku akan menghabiskan bersama Elna, dan mama mertua tolong lihat suamimu itu, yang sudah ingin marah," kata Ben melihat reaksi Samuel.
Samuel langsung menarik istrinya itu hingga jatuh ke pangkuannya dengan begitu mesra.
"sayang kamu mau juga," tawar papa David.
"hei pak tua, jangan berulah juga, bisa-bisa kamu akan encok jika ikut-ikutan," kesal mama Mei pada suaminya.
semua orang tertawa, sedang Devan sedang berada di perusahaan, pria itu begitu sibuk terlebih dia mengantikan Samuel yang sudah libur beberapa bulan.
dia kedatangan seseorang yang kemarin di percaya untuk menyelediki tentang kebenaran Fafa.
sedang gadis itu pagi tadi sudah di bawa ke apartemen milik Devan yang baru di beli pria itu.
"halo bos, aku sudah menyelediki semuanya," kata pria itu menaruh amplop coklat di atas berkas Devan.
"apa sudah seluruhnya,"
"pasti bos, dan aku tak sangka jika keluarga mereka sejahat itu," kata asisten dari Devan
"baiklah Koko, kembali ke ruangan mu, dan aku akan melihatnya," Jawab Devan yang membuka hasil penyelidikan dari asisten Koko.
devan melihat setiap foto dan semua catatan dari bank maupun dari pengakuan yang di rekam oleh asisten Koko dari beberapa pelayan di rumah itu.
Devan pun langsung berdiri saat mengetahui tentang kebenaran semuanya.
"asisten Koko tolong wakili aku untuk rapat, jika tidak batalkan Semuanya, atau minta kak Samuel rapat karena aku ada urusan penting," kata Devan yang langsung pergi begitu saja.
"siap bos, dan urusan penting itu semoga berhasil," kata asisten Koko.
dia pun langsung menghubungi Samuel dan papa David dan beruntung Keduanya bisa datang untuk rapat, dan dia sudah selesai menyiapkan semua berkas untuk rapat.
sedang Devan menuju ke apartemen untuk bertanya langsung pada Fafa, karena gadis itu tak mengatakan apapun kemarin.
sesampainya di apartemen, Devan langsung masuk dan mengejutkan Fafa yang sedang menangis di sofa.
"Fafa!" panggil Devan.
tak terduga mendengar suara Devan, gadis itu langsung berlari dan memeluk tubuh pria dewasa itu.
Devan pun memeluk tubuh Fafa dengan erat, "kamu kenapa Fafa, kenapa menangis seperti ini?" tanya Devan.
"mama di siksa papa, dia marah karena aku kabur karena aku tak ingin menikah dengan pria kejam itu, tapi dia tetap memaksa ku," kata Fafa.
tak di duga, Devan langsung menyeret gadis itu keluar dan langsung turun ke area parkir basemen.
"om kita mau kemana?" tanya Fafa ketakutan.
"aku akan memberikan apa yang papa mu minta, asal berhenti menyiksa mu," marah Devan yang langsung menginjak pedal gas mobilnya.
mereka menuju ke rumah mewah keluarga Wicaksono, dan benar saja terlihat begitu banyak penjaga di rumah itu.
Devan tak gentar sedikitpun, toh dia juga bukan bocah ingusan lagi, Fafa terlihat ketakutan.
Devan mengandeng tangan gadis itu dan mengajaknya masuk kedalam rumah mewah itu.
"wah wah wah ... lihatlah gadis murahan ini, dia mendapatkan ikan besar dari keluarga konglomerat, tapi sayangnya aku sudah bertransaksi dengan keluarga as Shiddiq," kata ayah tiri dari Fafa.
"ha-ha-ha, memang kau tidak tau, jika keluarga itu bahkan tak sebanding dengan debu di kaki keluarga Graham kami, kau butuh berapa milyar untuk melepaskan Fafa dan ibunya," kata Devan tertawa menghina pria itu.
"sepuluh milyar, dan tak boleh kurang," kata pria itu.
"cih ternyata kamu begitu menarik dan haus harta, ini ada cek sepuluh milyar, kau bisa mencairkan segera setelah kau dapat," kata Devan menunjukkan selembar cek.
tuan Wicaksono memberikan kode untuk mengeluarkan dari ibu kandung Fafa.
"tapi dia bukan mama, dia bik Nun," kata Fafa tak percaya.
"tapi sayangnya, dia itu adalah ibu kandung mu, dan asal kau tau jika kamu sebenarnya adalah anak dari kakak bodoh ku yang sekarang gila, benar tidak bik," kata pria itu menendang bik Nun dengan kesal.
"maafkan saya nona, saya melakukan ini demi Anada yang bisa hidup baik, dan saya tak ingin anda di kenal sebagai putri dari seorang pembantu dan punya ayah yang gila," jawab wanita itu sambil sesenggukan.