NovelToon NovelToon
Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam

Status: tamat
Genre:Romantis / Balas Dendam / Konflik Rumah Tangga-Pembalasan dendam / Tamat
Popularitas:17.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: La Sha

Rika harus menanggung bebannya yang bertubi-tubi didalam rumah tangganya. Ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, karena suami yang dinikahinya notabennya seorang pengangguran.

Tak disangka, setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya Rika mengetahui kebenaran tentang suaminya, bahwa suaminya bukanlah orang biasa. Dan pada saat itu juga guncangan hebat melanda rumah tangganya setelah suaminya membeberkan kebenarannya. Kebenaran alasannya menikahi Rika dan kebenaran alasannya menyembunyikan statusnya dihadapan Rika.

Langkah apa yang selanjutnya akan diambil Rika dalam menempuh hidupnya setelah ia tahu kebenarannya dan juga setelah ia mendapat cobaan yang bertubi-tubi menghampirinya?

Lalu bagaimana kisah selanjutnya, langkah apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat semua terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Indahnya hidup adalah bukan seberapa banyak orang mengenalmu tetapi seberapa banyak orang yang bahagia setelah mengenalmu

______________________________________

Alvaro tampak menyandarkan dirinya disandaran kursi miliknya. Ia benar-benar lelah hari ini karena melayani begitu banyaknya pasiennya. Dokter Alvaro adalah dokter umum yang juga merangkap sebagai dokter bedah dirumah sakit ternama miliknya sendiri. Ia memejamkan matanya sesaat dan kembali membukanya saat pintu ruangannya kembali diketok.

"Masuk!"

Seorang lelaki berusia 26 tahun dengan jas biru navy membaluti tubuhnya yang terlihat begitu atletis dibalik kemejanya. Ia tersenyum ramah saat membuka pintu dan memasuki ruang praktek Alvaro.

"Ada apa hingga kamu kemari? apa ada masalah dikantor?" tanya Alvaro menatap lelaki didepannya ini yang sudah mendudukkan dirinya pada kursi yang ada dihadapan Alvaro.

"Tidak ada, aku hanya sedang menjengukmu saja kemari sekaligus membawa beberapa berkas agar kamu tandatangani," jawabnya.

Dia adalah asisten pribadi Alvaro, bernama Kaif Akalanka yang juga sekaligus sahabatnya Alvaro, walaupun usia mereka selisih 2 tahun. Mereka tetap terlihat sangat akrab.

Key menyerahkan berkas tersebut kehadapan Alvaro. Yang langsung disambut oleh Alvaro. Ia memeriksanya terlebih dahulu sebelum dibubuhi tanda tangan.

"Bagaimana pekerjaan kamu disini?" tanya Key yang sudah meraih kembali berkas tersebut setelah Alvaro selesai menandatanganinya.

"Aku sangat sibuk karena pasien yang kutangani sangat banyak."

"Itu terlihat jelas dari wajahmu, kelihatannya kamu begitu kelelahan."

"Benarkah? Apa begitu jelas?"

Key mengerutkan keningnya, ia tampak heran dengan ucapan Alvaro barusan, ia tampak mulai perduli dengan penampilan. Biasanya setiap Key berucap begitu ia tampak acuh saja, bagai angin lalu.

"Ya iyalah, bahkan wajahmu sudah mulai ada kerutannya."

"Sialan!" maki Alvaro sambil melempar tutup bolpoin yang ada ditangannya kearah Key. Namun Key mengelak. Key tampak tergelak setelahnya.

"Mungkin sekitar 2 jam lagi aku akan menyusulmu kekantor, Key. Apa pekerjaan disana begitu banyak?"

"Tidak juga, apa kamu sudah selesai disini?"

"Iya."

Kaif hanya mengangguk saja, ia sangat paham dengan keadaan Alvaro. Sejak ia berusia dini, Alvaro sudah mengemban tanggung jawab yang sangat besar. Sejak kematian ayahnya beberapa tahun silam. Apalagi sekarang ia sudah menjadi dokter handal dirumah sakit miliknya sendiri. Ia menatap guratan kelelahan diwajah Alvaro.

Alvaro juga memiliki perusahaan yang sangat besar. Namun karena kecintaannya pada profesinya ini, ia tidak dapat melepaskan pekerjaannya sebagai seorang dokter. Karena memang pekerjaan kecintaannya sejak kecil.

Tok tok tok

Pintu ruangan kembali terdengar diketok mulai luar.

"Masuk!" perintah Alvaro. Ia tahu kalau asistennya lah yang mengetok pintunya.

Seorang laki-laki berusia 23 tahun tampak menghampiri meja Alvaro. Ia juga memakai pakaian yang sama seperti Alvaro namun tanpa jas. Ia memegang beberapa berkas ditangannya.

"Dok, ini hasil lab yang anda minta pada saya, atas nama saudari Rika," ucap Juan yang sudah meletakkan berkas tersebut diatas meja Alvaro.

Alvaro tampak mengangguk dan menatap sekilas pada berkas tersebut.

"Sekitar 1 jam lagi aku akan pulang. Jadi kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungiku," Alvaro menatap Juan yang masih berdiri dihadapannya.

"Baik, Dok. Saya permisi," ucapnya sambil mengangguk samar dan berlalu dari sana. Ia melirik kearah Key sesaat di iringi dengan sapaan ramah yang dibalas Key dengan hal yang sama. Juan adalah asisten Alvaro di rumah sakit.

"Alvaro, aku juga ingin segera kekantor, aku duluan ya," ucapnya. Ia sudah berdiri dari duduknya.

Alvaro menatap kearah Key sekilas. Ia mengangguk dan menatap kepergian Key hingga menghilang dibalik pintu ruangan. Ia berusaha memejamkan matanya kembali untuk menghalau rasa lelahnya, beberapa kali ia tampak memijat batang hidungnya. Lalu membuka matanya, tanpa sengaja matanya menangkap berkas yang baru saja diserahkan oleh asistennya tadi. Tangannya terulur untuk meraih berkas tersebut dan membacanya, tidak ada gambaran apapun disana, dari wajahnya yang terlihat datar. Ia tampak bersikap tenang dan kembali mengingat perempuan yang sudah ditolongnya beberapa hari yang lalu.

"Perempuan itu sepertinya tidak pernah menjaga pola makannya dengan baik," gumam Alvaro sambil menatap riwayat penyakit yang diderita oleh Rika. "Dia juga sepertinya tidak perduli dengan kesehatannya sendiri," gumamnya kembali setelah melihat betapa fatalnya penyakit yang dialami Rika. Ia mendesah lagi ketika mengingat Rika yang tampak sangat ketakutan saat mendengar ia sedang berada dirumah sakit waktu itu. Ia tahu kalau perempuan itu pastilah sangat sulit untuk diajak kembali kerumah sakit untuk menangani penyakit yang dideritanya. Alvaro kembali menggelengkan kepalanya karena rasa perdulinya pada perempuan yang bahkan baru pertama kali ditemuinya. Namun perempuan itu jelaslah sangat berbeda, karena selalu menolak segala pengobatan darinya.

Ia menatap kearah jam yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah 20 menit ia membuang waktunya dengan duduk santai seperti ini. Bergegas ia berdiri dan bermaksud ingin keluar ruangan. Tapi sebelum itu, ia kembali meraih berkas milik Rika dan membawanya. Entah apa yang membuatnya begitu perduli pada wanita itu, tapi yang jelas ia merasa itu hanya bentuk kepeduliaannya dan juga merupakan kewajibannya yang berprofesi sebagai seorang dokter yang mementingkan kesehatan pasiennya.

Alvaro melangkah dengan langkah ringan keluar ruangannya, ia menghampiri asistennya terlebih dahulu untuk memberitahukan padanya tentang dirinya yang akan pergi kekantornya lebih awal dari waktu yang diberitahukannya sebelumnya.

Setelahnya, ia bergegas menuju kearah mobil yang terparkir di parkiran. Ia meletakkan begitu saja berkas tersebut dibangku sebelahnya saat ia menduduki bangku kemudi mobilnya, entah apa yang akan dilakukannya mengenai berkas kesehatan tersebut hingga ikut serta dibawanya. Yang jelas, ia merasa hanya harus membawanya saja, walaupun sebenarnya ia tidak yakin akan bertemu kembali dengan wanita muda tersebut yang ditolongnya waktu itu.

Perjalanan yang ditempuhnya memakan waktu kurang lebih 30 menit dalam keadaan jalan yang cukup padat. Maklumlah suasana ibukota, selalu terkenal dengan namanya macet.

Alvaro menapaki loby kantornya yang disambut dengan anggukkan hormat dan sapaan setiap karyawan yang dilaluinya. Ia hanya memamerkan sedikit senyumnya untuk membalas setiap sapaan dan anggukan tersebut. Alvaro memang terkenal dengan sikap ramahnya, namun dia sangat tegas.

"Alvaro, kamu secepat ini sudah tiba kesini?" sambut Key yang terkejut saat melihat keberadaan Alvaro didepannya. "Apa pekerjaan disana sudah beres?" tanyanya lagi.

Alvaro hanya mengangguk saja. "Ada beberapa berkas yang ingin kuperiksa. Tolong bawa berkas kerjasama perusahaan kita yang akan diajukan seminggu kedepan!" perintahnya sambil melewati Key.

"Oke Bos!!" Sahut Key dengan nada bicaranya yang sedikit bercanda. Alvaro melirik sesaat kearah Key dengan sedikit senyum miringnya yang dibalas kekehan oleh Key.

Alvaro menempatkan dirinya dikursi kebesarannya dan tidak lupa ia menghidupkan laptopnya untuk melihat kurs saham mereka. Dan juga memeriksa hal penting lainnya.

Pintu terbuka tanpa ketokan, ia tahu kalau hanya Key dan juga ibunya yang biasa melakukan kebiasaan seperti itu.

"Ini berkasnya, memangnya ada apa hingga kamu memeriksanya sekarang?" tanya Key tampak heran. Ia memang tidak bisa menebak isi pikiran Alvaro yang sering memberi kejutan.

"Aku ingin segera mempelajarinya terlebih dahulu, kamu majukan saja pertemuan kita menjadi 2 hari kedepan!" perintahnya.

"Memangnya kenapa?" tanya Key heran.

Alvaro menatap kearah Key sesaat sebelum ia menjawabnya. "Aku ada kesibukan diluar kota untuk mengurus beberapa kendala yang ada dirumah sakit," jawabnya.

"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kamu bereskan terlebih dahulu masalah yang ada dirumah sakitmu. Urusan kantor biar aku yang menanganinya."

"Terima kasih karena kamu selalu ada untukku dan selalu membantuku." Key hanya mengangguk mendengar ucapan Alvaro barusan.

**********

1
Ai Komara
lanjut seru
Ryani
aku yg lola atau gmna sih ya🤣 asli susah pahamnya ama ni cerita. perasaan dri awal bacanya serius dah😂🙆...
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Ryani
bego. benar² si Rika. jadi ingat INDOSIAR 🤣
Idha Humanity
Alhamdulillah bagus
Eny
secara tidak langsung ayahnya mau selamat tapi tidak jadi karena ulah anaknya sendiri
Eny
ngelus dodo reeekk dontok sing jenenge Rika , kebangeten
ariv viani
males nerusin baca ...
karakter utama mleyot kayak gubug reot
kavena ayunda
hadeh np semua novel peran utama bodoh semua😂 sllu aja mau di.bodohin lelaki sejauh ini baca cm.saga daniah yg gk ngecewain🙄
dapurnya tinah
hufff
Iin Indriyani
makasih motivasinya
Cerita Emmilia
kalau blikan lagi pupus sudah
Cerita Emmilia
walaupun suratnya palsu tapi kalau dr mulut sudah bilang talak secara sadar ataupun emosi maka jatuh talak
Cerita Emmilia
ya ampyn anggq ga ada malunya, coba kalau bukan tunangany yg jahat pasti dia tetap menikahinya, bnar benar orang tidakbtahu malu
Cerita Emmilia
wah ga bisa bgitu dong kan udah ditndatangani berkas perceraian, kalaupun mau memberi kejutan ke rika tentang terbongkarny kebusukan tunangan dan ayahnya, kenaa surat prcwraian sampai juga ke tangan rika, seharusnya kan engga ,
Cerita Emmilia
thor kenapa ambar ga ngenalin angga, kan dia ada disitu juga, masa iya ga negesin wajah angga sih thir dirwstoran itu bersama tunanganya🤔
Cerita Emmilia
ada dendam apa ya thor , penasaran deh
Cerita Emmilia
speechleess aq thor
Cerita Emmilia
visual tak ade ke
Intan
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!