NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesebelas

Anya merasakan lengan Arga melingkari tubuhnya, menahannya agar tidak terjatuh. Sentuhan itu, meski singkat, membuatnya terkejut dan salah tingkah. Ia mendongak menatap Arga, yang juga menatapnya dengan tatapan khawatir.

"Anya tidak apa-apa?" tanya Arga dengan polos.

Anya merasakan pipinya memanas. Ia segera melepaskan diri dari Arga dan berdiri tegak. "Aku nggak apa-apa. Makasih," ucap Anya singkat, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Ia membuang muka dan berjalan keluar dari kamar mandi, meninggalkan Arga yang masih berdiri di sana. Jantungnya masih berdegup kencang, dan ia tidak tahu kenapa.

"Sial," gumam Anya dalam hati. "Kenapa aku jadi begini?"

Ia mencoba menenangkan diri dan berpikir jernih. Ia tidak boleh terbawa perasaan. Arga hanyalah bocah idiot yang tidak tahu apa-apa. Ia tidak boleh membiarkan dirinya terpengaruh olehnya.

Setelah beberapa saat, Arga keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Ia menghampiri Anya dan menatapnya dengan tatapan yang sama.

"Anya marah sama Arga?" tanya Arga dengan nada sedih.

"Anya marah sama Arga?" tanya Arga dengan nada lirih dan tatapan polos yang membuat hati Anya mencelos.

Anya berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rasa gugup dan salah tingkah yang tiba-tiba menyerangnya di hadapan Arga, meskipun pipinya masih terasa panas dan memerah karena malu.

"Tidak! Sudah kubilang tidak, kan?! Lebih baik kita segera pergi dari sini sekarang juga!" ucap Anya dengan nada datar dan sedikit membentak, berusaha menyembunyikan perasaan kalut yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.

Arga hanya mengangguk kecil dengan ekspresi wajah yang bingung dan tidak mengerti. Ia merasa aneh dengan sikap Anya yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan menjauhinya.

Di dalam taksi yang melaju menuju rumah, suasana terasa hening dan canggung. Arga hanya terdiam sambil menatap pemandangan di luar jendela, sementara pikiran Anya berkecamuk dan hatinya dipenuhi dengan kebingungan. Mengapa ia merasa begitu gugup saat Arga menyentuhnya di kamar mandi tadi? Mengapa ia tiba-tiba merasa bersalah karena telah bersikap kasar dan kejam padanya selama ini?

Anya menggelengkan kepalanya dengan keras, berusaha mengenyahkan semua pikiran-pikiran aneh yang mulai menghantuinya. Ia tidak boleh membiarkan dirinya terpengaruh oleh Arga karena pernikahan ini adalah kesalahan besar dan ia tidak boleh membiarkan Arga membuatnya goyah.

"Anya," panggil Arga tiba-tiba dengan suara pelan, memecah keheningan yang mencekam di antara mereka.

Anya menoleh dengan ekspresi wajah yang datar dan dingin. "Apa yang kau inginkan, Arga?" tanya Anya dengan nada ketus.

"Anya... apa Anya benar-benar tidak marah pada Arga?" tanya Arga lagi dengan nada lirih dan tatapan penuh harap.

Anya menghela napas panjang dan membuang pandangannya ke luar jendela. "Sudah kubilang aku tidak marah padamu, Arga! Bisakah kau berhenti membahas hal ini dan membiarkanku tenang sejenak?!" jawab Anya dengan nada kesal dan membentak.

Arga terdiam dan menundukkan kepalanya, merasa takut dan tidak berdaya. Ia tahu bahwa Anya masih marah padanya, meskipun ia berusaha menyangkalnya. Namun, Arga tidak berani bertanya lebih jauh atau memprotes, karena ia takut Anya akan semakin marah dan meninggalkannya.

Arga terus mencuri pandang ke arah Anya, hatinya terasa perih dan sedih melihat Anya yang terus menjauhinya dan enggan berbicara dengannya. Arga tidak tahu apa yang telah ia lakukan hingga Anya bersikap dingin dan kasar padanya.

"Anya..." panggil Arga lagi dengan suara yang nyaris tidak terdengar, berusaha memecah keheningan yang menyiksa di antara mereka.

Anya menghela napas panjang dan memutar bola matanya dengan jengkel. "Apa lagi yang kau inginkan dariku, Arga?!" tanya Anya dengan nada ketus dan sinis.

"Anya... bolehkah Arga memegang tangan Anya sebentar saja?" tanya Arga dengan tatapan memelas dan suara yang bergetar, berharap Anya akan mengasihani dan mengizinkannya.

Anya menatap Arga dengan perasaan campur aduk. Sebagian dirinya merasa jijik dan tidak sudi untuk disentuh oleh bocah itu, namun sebagian lainnya merasa iba dan kasihan melihat ketakutan yang terpancar jelas dari kedua mata Arga yang polos. Anya tahu, Arga hanya ingin merasa aman dan nyaman di dekatnya.

Anya memejamkan matanya sejenak, berusaha mengendalikan emosi yang bergejolak di dalam dirinya agar tidak meledak dan menyakiti Arga. "Ya Tuhan, apa lagi sekarang? Kenapa harus berpegangan tangan segala hanya karena mau naik taksi?!" ucap Anya dengan nada datar dan sinis, berusaha menyembunyikan perasaan iba yang mulai tumbuh di dalam hatinya.

"Arga takut... Arga belum pernah naik taksi sebelumnya..." jawab Arga dengan suara lirih dan gemetar, membuat hati Anya semakin terenyuh.

Dengan perasaan terpaksa dan berat hati, Anya akhirnya mengulurkan tangannya kepada Arga. Ia tidak ingin hanya karena masalah sepele dan kekonyolan ini, Arga akan menangis meraung-raung di dalam taksi dan membuat dirinya merasa malu dan tidak nyaman.

Di sisi lain, Arga merasa sangat senang dan gembira karena permintaannya telah dikabulkan oleh Anya. Tanpa ragu-ragu, Arga segera meraih dan menggenggam erat tangan Anya yang terasa kecil dan lembut di dalam genggamannya.

Sentuhan tangan Arga membuat Anya merasa aneh. Ada sensasi geli dan tidak nyaman yang menjalar di tubuhnya. Ia berusaha mengabaikannya dan membuang pandangannya ke luar jendela.

"Anya, makasih ya," ucap Arga dengan tulus.

Anya hanya bergumam sebagai jawaban. Ia tidak mau menatap Arga. Ia takut kalau ia akan terbawa perasaan dan melakukan hal yang bodoh.

Selama perjalanan, Arga terus menggenggam tangan Anya dengan erat. Ia merasa nyaman dan aman berada di dekat Anya. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasa bahwa Anya adalah orang yang bisa melindunginya.

Sesampainya di rumah, Anya dan Arga langsung disambut oleh para pelayan. Mereka membawakan barang-barang Anya dan Arga ke dalam rumah.

Anya menghela napas lega. Akhirnya, ia bisa kembali ke rumahnya yang nyaman. Ia berharap, setelah ini ia bisa beristirahat dengan tenang dan melupakan semua kejadian yang telah terjadi.

"Anya, Arga ingin bertemu Ayah," ucap Arga, merasa asing dengan rumah yang sedang ia pijak.

Akhirnya, mereka tiba di rumah orang tua Anya. "Nanti saja, aku ingin istirahat dulu, aku sangat lelah," jawab Anya dengan nada datar dan dingin, tidak mempedulikan perasaan Arga.

Anya berjalan mendahului Arga dengan langkah cepat dan lebar, memaksa Arga untuk berlari kecil agar dapat mengimbanginya dan memasuki rumah megah itu.

Kedua orang tua Anya sedang duduk santai di ruang tamu, menunggu kedatangan putri mereka tercinta. Mereka tersenyum bahagia saat melihat Anya pulang bersama dengan Arga, pria yang kini telah menjadi suami sah dari putri mereka dan menantu mereka.

"Anya, putriku sayang, akhirnya kau pulang juga," ucap Dewi dengan nada lembut dan penuh kasih sayang sambil memeluk tubuh Anya dengan erat, meluapkan kerinduan yang ia pendam.

"Anya juga sangat merindukan Ibu," ucap Anya dengan nada tulus sambil membalas pelukan erat ibunya. Anya sangat menyayangi ibunya, karena hanya ibunya lah yang selalu mendukungnya dalam segala hal dan menjadi satu-satunya orang yang menentang pernikahan terkutuk ini.

Semua perasaan campur aduk yang selama ini membebani hatinya lenyap seketika saat merasakan pelukan hangat dan menenangkan dari ibunya tercinta.

Anya melepaskan pelukan ibunya dan menatapnya dengan tatapan khawatir. "Ibu, kenapa Ibu terlihat semakin kurus saja? Apa Ibu sakit?" tanya Anya dengan nada cemas dan mata yang berkaca-kaca.

"Ibu hanya sedang tidak nafsu makan, Sayang. Ibu baik-baik saja, kok. Jangan terlalu mengkhawatirkan Ibu, ya," jawab Dewi dengan senyum lembut sambil mengusap kepala Anya dengan penuh kasih sayang.

"Anya, apakah ini Ibu yang Anya ceritakan pada Arga tadi malam?" tanya Arga tiba-tiba dengan nada polos, membuat Anya dan Dewi menoleh ke arahnya.

"Iya, ini Ibuku," jawab Anya dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi.

"Anya, bolehkah Arga memanggil Ibu dengan sebutan 'Ibu' juga?" tanya Arga dengan tatapan penuh harap.

Sebelum Anya sempat menjawab, Dewi dengan cepat menyahut, "Tentu saja boleh, Arga. Kau kan sudah menjadi suami Anya, jadi kau juga berhak menganggap Ibu sebagai ibumu sendiri," ucap Dewi dengan senyum lebar dan tulus.

Dewi tahu bahwa ia tidak pernah menyetujui pernikahan ini, namun Arga juga merupakan korban di sini, sama seperti Anya. Terlebih lagi, Arga memiliki gangguan mental yang membuatnya sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian.

"Hore! Sekarang Arga punya Ibu!" seru Arga dengan nada riang dan mata berbinar-binar, melupakan semua kesedihan yang selama ini ia rasakan.

Sebagai seorang ibu, hati Dewi tersentuh melihat Arga yang begitu polos dan bahagia. Ia tahu bahwa Arga telah ditinggalkan oleh ibu kandungnya sejak kecil dan tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.

Anya, yang melihat senyum ceria Arga, tanpa sadar ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya dan sedikit menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Keceriaan Arga untuk sesaat menghangatkan hatinya yang selama ini membeku.

Bram, ayah Anya, yang sedari tadi hanya berdiri diam di samping istrinya, menatap putrinya dengan tatapan penuh kerinduan dan penyesalan.

Perasaan bersalah dan berdosa menghantui hatinya. Ia merasa bersalah karena telah memaksa putrinya untuk berkorban demi kebahagiaan dan kesejahteraan keluarganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!