Salma gadis berusia 28 tahun sering jadi gunjingan karena belum juga menikah padahal kedua adiknya sudah berkeluarga. Hanya ibunya yang selalu memberinya kekuatan untuk tetap menatap masa depan dengan optimis dan yakin suatu hari jodohnya akan datang.
Suatu hari saudara sepupunya datang dan memintanya untuk menjadi madunya. Walau sudah berusaha untuk menolak namun akhirnya ia pun menerimanya karena merasa kasihan pada sepupunya itu. Namun bukan pernikahan bahagia yang di alaminya tapi penuh dengan neraka karena suaminya membencinya.
Dan kepedihannya bertambah manakala ia mengetahui bahwa kehidupan bak di neraka yang dialaminya ternyata sudah direncakan seseorang untuk membalas dendam padanya. Akankah ia mempertahankan pernikahannya atau menyerah dan memilih berpisah? Dan siapakah orang yang begitu dendam padanya hingga ingin menghancurkan hidupnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ye Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amnesia
Nadia yang merasa semakin terpojok setelah pengakuan dari mama Aya yang ternyata telah mengetahui semua rahasianya. Apalagi setelah kedua orang tuanya mengungkapkan fakta bahwa ia bisa hidup hingga saat ini karena pertolongan Salma. Saat ini bukannya merasa menyesal atas semua perbuatannya Nadia malah semakin menyalahkan Salma. Dalam fikirannya gadis itu selalu saja mencuri perhatian setiap orang dengan sifat lembutnya. Termasuk orang-orang yang Nadia sayangi.
"Kenapa kau masih saja hidup setelah kecelakaan mengerikan itu Ma?" geramnya dalam hati saat dilihatnya Amran yang menjenguk Salma di ruang perawatan melalui kaca pintu ruangan itu.
Tampak jika suaminya itu memberikan perhatian lebih pada Salma yang membuat hatinya semakin diliputi oleh dendam.
"Andai saja kau mati... mungkin saja mama Aya tidak akan mengungkapkan semuanya" batinnya.
"Kau kenapa berdiri disitu?" tanya bu Dian yang melihat putrinya itu berdiri mematung di depan pintu perawatan. Sebagai ibu ia seakan tahu apa yang kini sedang difikirkan oleh Nadia.
"Jangan sekali-kali kau berfikir untuk mencelakai Salma!" sambungnya yang membuat Nadia terkejut.
"Maksud ibu apa? kenapa ibu bisa berfikiran seburuk itu padaku? aku putri kandungmu bu..." kata Nadia kesal.
"Justru karena aku ibu kandungmu aku tahu apa yang kini ada di dalam otakmu itu. Cukup selama ini ibu tertipu dengan sikap lemah lembutmu..." sahut bu Dian.
"Ibu fikir sejak kau menikah kau berubah lebih baik tapi nyatanya kau malah semakin menjadi... keegoisanmu tak pernah berubah" sambungnya.
"Ibu selalu saja menyalahkan aku!" seru Nadia lalu pergi sambil menghentakkan kakinya.
Bu Dian menarik nafasnya pelan. Ia merasa sudah sangat gagal dalam mendidik putri semata wayangnya menjadi wanita yang baik. Sementara Nadia yang kesal pergi ke depan rumah sakit. Ia bingung ingin pulang namun takut jika semua orang akan semakin membencinya. Tapi jika ia tetap disana tak seorang pun yang mau mengajaknya bicara. Bahkan ibunya tadi sudah berfikiran buruk padanya. Dengan langkah gontai ia pergi ke sebuah mini market yang ada di seberang rumah sakit. Tak ada yang ingin ia beli sebenarnya tapi saat ini tempat itu sepertinya layak untuk didatangi sekedar untuk mengalihkan rasa kesalnya.
Sayup terdengar suara azan subuh saat Salma mulai dapat membuka matanya perlahan. Dilihatnya langit-langit tempatnya dirawat. Saat ia menoleh terlihat ibunya tertidur sambil duduk dengan kepala bersandar diatas brankarnya. Dengan perlahan dicobanya untuk menyentuh kepala ibunya. Wanita itu pun seakan merasakan pergerakan Salma sehingga ia langsung terbangun dan menatap Salma tak percaya. Dengan cepat di tekannya tombol untuk memanggil perawat yang ada di samping brankar Salma.
"Alhamdulillah nak... kamu sudah sadar" ucapnya dengan air mata yang berlinang. Tak lama datang dokter serta perawat yang menangani Salma.
"Bagaimana dok keadaan anak saya?" tanya bu Rahma setelah dokter selesai memeriksa Salma.
"Syukurlah bu ... anak ibu sudah sadar dan keadaannya semakin baik hanya perlu menunggu kesembuhan dari patah tulangnya saja" ungkap dokter tersebut.
Bu Rahma langsung mengucapkan syukur dan berterima kasih pada dokter yang sudah merawat Salma.
"Bu..." panggil Salma lemah.
"Iya nak?" tanya bu Rahma.
"Salma kenapa?" tanyanya pada bu Rahma.
"Kamu kecelakaan sayang..." jelasnya pada Salma. Salma mengernyitkan dahinya seperti sedang berusaha mengingat sesuatu.
"Kenapa Salma ga ingat bu?" tanyanya setelah beberapa saat. Bu Rahma menatap dokter yang merawat Salma seakan meminta jawaban atas pertanyaan Salma.
"Tidak apa-apa nona Salma... karena benturan yang keras pada kepala anda jadi ada kemungkinan jika nona Salma akan kehilangan ingatannya pada saat kecelakaan terjadi" terang dokter pada Salma. Salma menganggukkan kepalanya mengerti.
Saat itulah Amran yang mendengar jika Salma sudah sadar langsung masuk ke dalam ruang perawatan Salma. Ia ingin sekali memeluk istrinya itu.
"Lho kenapa ada suami Nadia disini bu?" tanya Salma saat melihat Amran masuk.
Seketika semua orang yang ada di ruangan tersebut tertegun terutama Amran. Ia tak menyangka jika Salma melupakan jika dirinya kini adalah suaminya.
"Apa Nadia juga ada disini?" sambung Salma sambil menatap ibunya.
"I...iya... nak ... kami semua ada di sini" sahut bu Rahma terbata karena ia pun terkejut karena putrinya tak mengingat tentang pernikahannya sendiri.
Salma tersenyum senang ... sepertinya semua orang mengkhawatirkannya sehingga mereka semua berkumpul untuk menjenguknya.
Dokter yang mengetahui kegelisahan keluarga Salma pun lalu memberikan tes pada Salma.
"Nona bisakah anda ceritakan hal terakhir yang anda ingat sebelum kecelakaan?" tanyanya lembut.
"Eum... sepertinya saat itu saya baru saja pulang dengan mengendarai sepeda dari tempat saya bekerja.... lalu arrgh..." Salma memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan.
"Suster cepat beri pasien obat penahan rasa sakit".
"Baik dok".
Lalu suster itu pun segera melaksanakan apa yang dikatakan dokter. Dan tak lama setelah mendapatkan suntikan Salma pun kembali terlelap.
"Dokter sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya?" tanya Amran panik.
"Begini .... mungkin karena benturan di kepalanya terlalu keras atau juga ada trauma lain sehingga pasien melupakan kejadian yang dialaminya selama beberapa bulan terakhir..." terang dokter.
"Apa anak saya bisa mendapatkan ingatannya kembali dok?" kini giliran bu Rahma yang bertanya.
"Saya tidak bisa memastikan bu... terkadang ingatan itu akan muncul kembali dengan sendirinya atau bahkan akan hilang selamanya jika ada trauma yang menyebabkan pasien enggan mengingat kejadian tersebut di alam bawah sadarnya".
Bu Rahma dan Amran hanya bisa terdiam mendengar penjelasan dari dokter.
"Untuk sementara biarkan pasien berada sesuai dengan apa yang diingatnya saja... jangan memaksanya untuk mengingat sesuatu agar tak membuat luka pada sistem otaknya" kata dokter itu lalu ia pun pamit untuk kembali ke ruangannya.
Sementara bu Rahma dan Amran hanya bisa terduduk di kursi yang ada di ruangan itu dengan tubuh lemas. Jika Salma tak mengingatnya apa yang bisa Amran lakukan agar dapat mendapatkan hati istri keduanya itu. Sedang bu Rahma tak tahu apa yang akan terjadi pada putrinya jika ingatannya tak kembali. Status Salma yang masih istri dari Amran membuat gadis itu tak mungkin bisa miliki masa depan dengan pria lain sedang untuk menyuruh Salma menerima Amran tak mungkin karena gadis itu sama sekali tak mengingat pernikahan yang telah mereka lakukan.
Pagi hari saat Salma terbangun dari tidurnya ia sudah melihat adiknya Shania sedang berada disampingnya.
"Nia... ibu mana?" tanyanya dengan suara lirih.
"Ibu sedang mandi sebentar kak... apa kakak juga mau dibersihkan badannya?" tanya Shania.
"Iya... rasanya badanku lengket semua" sahut Salma.
Kemudian Shania pun membersihkan tubuh Salma dengan menggunakan handuk kecil dan mengusapkannya. Saat selesai Shania pun mengganti baju Salma dengan yang bersih. Salma pun terlihat lebih segar. Saat bu Rahma keluar dari kamar mandi dan melihat Salma yang sudah rapi seketika ia tersenyum.
"Kau sudah rapi nak...".
"Iya bu... Nia yang membantu mengelap tubuh Salma..." kata Salma.
"Terima kasih Nia" sambungnya.
Tak terasa sudah dua minggu Salma di rawat di rumah sakit. Dan hari ini ia sudah diijinkan untuk pulang. Karena ingatan Salma yang belum pulih membuat gadis itu pulang ke rumah ibunya. Dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh Danu suami Shania, Salma keluar dari ruang perawatannya. Di depan sudah tampak Amran berserta mama Aya. Keduanya tampak ingin ikut mengantar Salma. Bahkan Nadia pun kini tampak ikut bergabung. Walau semua yang disana kecuali Salma tak bersikap ramah padanya.
Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka tiba di rumah bu Rahma. Salma yang tampak kelelahan langsung diantar oleh kedua adiknya ke dalam kamarnya. Sedang yang lain tampak berbincang di teras depan. Mereka memang sengaja agar pembicaraan mereka tak terdengar oleh Salma yang kamarnya tak jauh dari ruang tamu.
"Bagaimana keadaan kakak kalian?" tanya bu Rahma pada Shania dan Sakina saat keduanya menyusul ke depan.
"Kak Salma langsung tertidur bu" terang Sakina lalu duduk disamping ibunya.
"Syukurlah... lalu bagaimana sekarang?" tanya bu Rahma pada Amran. Sebab bagaimana pun dia tetap suami Salma.
"Untuk sementara biar dia tinggal di sini dulu bu... nanti saya akan sering kemari semoga dengan demikian ingatannya akan segera pulih" ucap Amran.
Sedang Nadia yang sejak tahu jika Salma kehilangan ingatannya sudah menyusun rencana agar suaminya cepat menceraikan Salma. Mendengar jika Salma akan tinggal di rumah ibunya Nadia berfikir jika itu kesempatan baik untuknya karena kini ia akan tinggal berdua saja dengan suaminya di rumah mereka. Setelah mengobrol beberapa saat Amran beserta mamanya dan juga Nadia pun pamit pulang. Begitu juga dengan kedua orang tua Nadia.
"Bu... apa kak Salma akan selamanya seperti ini?" tanya Sakina yang khawatir dengan masa depan kakaknya.
"Kita do'akan saja nak ... agar kakakmu cepat pulih terutama ingatannya" kata bu Rahma.
Sementara di dalam ternyata Salma sedang mendengarkan percakapan mereka sejak tadi. Dengan perlahan ia memutar kursi rodanya kembali ke dalam kamar. Sesampainya di dalam kamar Salma berusaha berpindah dari kursi rodanya sendiri keatas tempat tidur. Setelah berhasil berada diatas tempat tidur Salma merebahkan tubuhnya dan tak terasa air matanya mulai menetes.
"Maafkan aku bu... semua ini aku lakukan agar tak ada yang lagi dendam dihati Nadia" batinnya.
Akhirnya ia pun tertidur setelah lelah menangis. Tak disadarinya jika bu Rahma tengah memperhatikannya. Tadi saat Salma kembali ke kamarnya bu Rahma yang hendak ke dapur tak sengaja melihat putrinya itu baru masuk ke dalam kamar. Karen penasaran ia pun mengintip apa yang dilakukan putrinya itu. Sebagai seorang ibu ia tahu jika ada yang disembunyikan oleh Salma.
tapi kau sakiti dia. brti kan kau yg bodoh