setelah tiga tahun menjalani rumah tangga bersama dengan Amran, Zahira tetap tidak bisa membuat lelaki itu mencintainya. Amran selalu memperlakukan Zahira dengan sangat kejam. Seakan Zahira adalah barang yang tidak berguna.
sebaik apapun hal yang sudah Zahira lakukan, selalu saja tidak bernilai dan kurang di mata Amran.
" aku ingin bercerai!" ucap Zahira dengan lugas. meskipun tanganya mengepal kuat, namun semua itu adalah refleksi dirinya agar kuat dan tidak goyah dengan rayuan Amran.
" memangnya kau bisa apa setelah bercerai dariku?" Amran selalu bisa menghina Zahira dan melukai harga diri wanita itu.
Amran membuang wanita itu dan Zahira bertekad untuk tidak memberikan kesempatan bagi Amran. Lelaki yang tidak bisa lepas dari hutang budinya pada wanita lain, tidak akan Zahira pikirkan lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lafratabassum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Zahira berjalan keluar dari gedung perusahaan Renaldi Group dengan langkah lemah. Dia mengambil kemeja Amran dan sebuah jas yang di tali di pinggangnya untuk menjadi rok sederhana.
Karena gaun yang dia kenakan saat datang sudah tidak layak di gunakan. Robekannya pasti akan mengundang kecurigaan setiap orang di kantor.
Zahira tidak langsung pulang, wanita itu berjalan-jalan tak tentu arah. Demi bisa mengatur pikiran nya yang kacau.
Sesampainya di rumah, Zahira langsung menuju ke kamar mandi. Meskipun saat di ruang bersantai kantor Arman wanita itu sudah membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa pergumulan nya dengan Amran.
Tapi Zahira masih merasa perlu untuk membersihkan dirinya kembali. Selepas itu hari menjelang malam.
Biasanya ibunya akan pulang untuk mengambil makanan dan menaruh baju kotor.
Saat sedang sibuk menaruh makanan, Rani mendekati Zahira dengan tatapan yang sedikit tegang. Dia akan mengkonfirmasi sesuatu hal.
" ibu dengar rumah peninggalan kakekmu sudah terjual?" pertanyaan itu mendadak membuat dada Zahira terasa sesak.
Nasibnya terlihat semakin buruk semenjak memilih keluar dari Villa Renaldi.
" iya.. " jawab Zahira singkat.
Mendengar jawaban serta gelagat tidak semangat Putri nya membuat Rani yakin bahwa kabar dari pengacara keluarga Malik adalah benar.
Sayangnya Rani tidak bisa langsung menyalahkan, karena memang rumah itu adalah harta warisan mutlak dari tuan besar Malik pada Zahira.
Jadi Rani dengan berlagak tak tau segera melontarkan pertanyaan "berapa penawaran nya?"
Zahira tidak langsung menjawab. Dia berfikir ibunya pasti sudah mengetahui kabar ini. Tinggal menunggu waktu untuk memarahinya.
" lumayan untuk menambah tabungan biaya rumah sakit Arfan" Zahira akhirnya menjawabnya secara normatif saja. Percuma menjelaskan situasi nya pada ibunya. Tidak akan mengurangi masalah.
" Zahira, jangan mencoba terlalu keras. Saat kamu kehilangan pengaruh keluarga Renaldi kamu Pasti akan menyesalinya. Kembalilah sebelum terlambat "
Rani mengira jika Zahira sengaja menurunkan harga demi bisa mendapatkan uang dengan cepat. Putri nya itu bersungguh-sungguh ingin meninggalkan statusnya sebagai nyonya Renaldi sesegera mungkin.
Mau tidak mau Zahira segera mengalihkan topik pembicaraan " ibu tak perlu khawatir, Zahira menerima panggilan dari orkestra milik tuan Shima. jika aku diterima, setiap bulannya aku bisa mendapatkan uang ratusan juta"
Mendengar hal ini, Rani tidak tau harus berkata apa. Dia menarik nafas panjang.
" setidaknya ibu sudah memperingatkan mu"
Pembicaraan itu selesai dalam sekejap. Perasaan dongkol menyelimuti keduanya.
Hari ini pagi-pagi sekali Zahira mulai bersiap, dia membersihkan serta mengatur biolanya agar permainan nya tidak mengecewakan.
Drrttt
Ponselnya bergetar. Orkestra Tuan Shima menelpon nya lagi. Zahira mengira mereka sudah tidak sabar dengan kedatangan nya hari ini.
Namun semua angan Zahira terpaksa pupus hanya dengan kalimat " nona Zahira, kami sangat menyesal memberitahukan jika ternyata kami sedang tidak membutuhkan orang baru. Sepertinya kami telah mengalami kekeliruan data sehingga membuat kesalahan ini. Sekali lagi maafkan kami nona Zahira"
Tangan Zahira seketika lemas, dengan menggenggam ponselnya. Tangan itu berayun kecil di sisi tubuhnya, panggilan baru saja berakhir beberapa saat.
Tatapan kosong Zahira tertuju pada biola yang baru saja dia gunakan. semacam ada batu besar yang menimpa dadanya. Sesak tidak tertahan.
kini terbesit satu pemikiran jika hal ini pasti ada sangkut pautnya dengan Amran. lelaki itu pasti tidak mau Zahira mendapatkan uang dengan mudah.
Amran sejak awal selalu menyulitkan dirinya, dengan pengaruh nya yang besar itu. Sangat mungkin jika lelaki itu melakukan hal ini.
Zahira hanya bisa terduduk dalam diam beberapa saat. Dia terus memutar otaknya agar bisa mencari jalan untuk masalah finansial ini.
Setelah nya dia keluar dari kediaman, berjalan kaki dengan membawa biolanya. Dia sudah mempersiapkan diri dengan beberapa lagu klasik dan modern. dia juga sudah berdandan dengan sangat cantik. Jadi sayang saja jika tidak hari ini dia tidak tampil.
Berhubung pihak orkestra tidak menerimanya, Zahira berniat bermain saja di pinggir jalan. Wanita itu menelusuri sepanjang jalan, dan akhir nya bisa menemukan lokasi yang pas.
Dengan sedikit persiapan Zahira mulai menggoreskan tali benang biola. Irama indah mulai terdengar mengalun memenuhi jalanan kota.
Setiap orang yang lewat, selalu menoleh untuk menatap Zahira. Awalnya mereka berfikir jika Zahira adalah seorang wanita cantik yang mengamen di pinggir jalan.
Namun semakin lama beberapa orang mulai berkerumun di dekat Zahira. Lagu yang dia mainkan terdengar sangat cantik dan mengira jika Zahira adalah seorang musisi terkenal yang sedang pamer kebolehan.
Wanita itu terhanyut dalam lagunya, bahkan saking menghayatinya kedua mata Zahira tertutup sambil masuk dalam imajinasinya.
Segenap emosi yang terpendam semuanya keluar bersamaan dengan tempo dan irama lagu yang di bawakan.
Hingga suara tepuk tangan bergemuruh di akhir pertunjukan, membuat Zahira membuka matanya. Dia tidak menyangka jika banyak sekali yang memperhatikan nya.
Wanita itu tersenyum dan baru menyadari ada lelehan tipis yang tersisa di sudut matanya.
" anda sangat berbakat nona" celetuk salah seorang yang berdiri paling depan.
Zahira tersenyum sebagai balasannya.
Tak lama kerumunan itu perlahan buyar, karena di lihat tak ada tempat kantong uang. Jadi mereka semakin yakin jika Zahira adalah pemusik yang berbakat.
Saat semua orang mulai pergi, ada satu orang yang datang mendekat ke Zahira.
" nona, saya sangat terkagum dengan penampilan anda. Jika anda tertarik datanglah ke kafe ku. Di sana ada banyak penampilan dan penggemar musik"
lelaki itu memberikan sebuah kartu namanya, Zahira menerima nya dengan sedikit ragu. Antara ingin menerima nya atau bertanya berapa bayarannya.
Namun pada akhirnya, Zahira hanya tersenyum. Dan lelaki itu pergi. Zahira menatap lembar kartu nama itu dengan sedikit lebih lama.
Jika memang ini jalannya, tidak masalah. Zahira tidak akan berekspektasi apa-apa lagi.