Edelweiss Javanica adalah seorang gadis cantik keturunan Jawa Eropa. El memiliki mata hazel sama seperti ibunya sehingga membuat banyak orang terhipnotis oleh tatapannya.
El juga seorang primadona kampus. Siapapun pasti mengenal si gadis cantik, pintar, kaya, ramah dan baik. Apalagi dia juga mempunyai kekasih yang tampan. Sungguh hidupnya terlihat begitu sempurna hingga banyak gadis yang iri padanya. Bahkan mereka memimpikan hidup seperti dirinya.
Namun ternyata hidupnya tak sesempurna yang terlihat. Kekasih tampannya sering membentak bahkan memukulnya jika ada pria lain yang menatap kagum padanya.
Akankah Edelweiss bertahan dengan kekasih posesif nya? Atau dia akan menemukan tempat bersandar yang baru dan lebih nyaman?
Baca kisah selengkapnya di SORRY, But I Love You.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setuju Menikah
Setelah membersihkan diri, Kennan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke meja makan. Dari kejauhan dia bisa melihat Dad and Momnya yang sudah memulai makan malamnya. Padahal biasanya mereka akan memulai makan malam saat ketiganya sudah berada di meja makan.
*Mungkin Dad and Mom masih marah dan kecewa dengan keputusan yang aku ambil tadi, jadi mereka berdua makan malam tanpa menunggu*ku.
"Malam Dad Mom," sapa Kennan saat sudah sampai di meja makan.
"Kamu masih disini?" tanya Michael. Namun Kennan tidak menjawabnya. Dia justru menarik kursi yang biasa menjadi tempat duduknya saat makan bersama dirumah.
"Dad kira kamu sudah mengemasi barang-barangmu dan pergi dari rumah ini," ucap Michael lagi saat Kennan sudah mulai menyendok nasi ke piringnya.
"Aku ingin bicara dengan Dad and Mom nanti setelah makan malam," ucap Kennan lalu menyendokan makanan ke mulutnya.
Michael mentap putra semata wayangnya dan seketika terlihat senyum samar yang terukir di sudut bibir Michael. Dia sudah bisa menebak apa yang akan di bicarakan putranya itu.
Mereka akhirnya makan malam dalam keheningan. Baik Michael, Mira maupun Kennan sama-sama memilih menikmati makan malam mereka tanpa berbicara sepatah kata pun.
Setelah selesai makan malam, ketiganya memutuskan untuk berbicara di ruang keluarga. Michael sudah duduk di single sofa, sedangkan Mira dan Kennan duduk berdampingan di sofa panjang.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Michael tanpa basa basi lagi.
Kennan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia mentap wajah Dad nya dengan mata yang memancarkan penuh keyakinan.
"Aku setuju menikah dengan putri sahabat Daddy," ucap Kennan mantap.
Sebuah senyum samar lagi-lagi terukir di sudut bibir Michael. Namun dengan secepat kilat dia merubah ekspresinya kembali menjadi datar sehingga membuat Kennan tak akan menyadari senyum samarnya.
Bahkan saat ini bukan hanya Michael yang merasa bahagia. Karna istrinya juga terlihat tersenyum dengan wajah memancarkan kebahagiaan yang justru lebih besar darinya setelah mendengar apa yang di ucapkan putra semata wayang mereka.
"Bukankah kamu tadi sudah menolak mentah-mentah perjodohan ini? Bahkan kamu lebih memilih tidak menganggap kami sebagai orang tuamu," ucap Michael dengan tersenyum sinis.
"Aku berubah pikiran," sahut Kennan.
"Kenapa secepat ini?" tanya Michael.
"Aku hanya berusaha meyakini apa yang Dad and Mom lakukan merupakan yang terbaik untukku. Karna kalian tidak akan pernah menjerumuskanku ke dalam kesengsaraan," ucap Kennan berkilah.
"Baiklah kalau kau setuju dengan perjodohan ini. Dad akan mempersiapkan pernikahanmu besok," ucap Michael.
"What? Besok? Apa tidak bisa di undur Dad. Bukankah ini terlalu cepat?" tanya Kennan.
"Bukankah niat baik itu harus di segerakan? Jadi kenapa harus kita tunda lagi jika besok saja bisa," sahut Mira dengan senyum yang terus terukir di bibirnya.
"But Mom....."
"Kamu tidak perlu khawatir. Kamu cukup mempersiapkan dirimu sebagai calon pengantin pria. Dan sisanya akan Dad and Mom urus," ucap Mira memotong perkataan putranya.
"Baiklah terserah kalian saja. Tapi aku memiliki sebuah persyaratan," ucap Kennan.
"Katakanlah boy. Mom akan berusaha memenuhi persyaratan dari putra kesayangan Mommy ini," sahut Mira. Tangannya kini mengelus punggung Kennan dengan lembut.
"Aku tidak ingin ada pesta pernikahan, aku juga tidak ingin mempublikasikan pernikahan ini."
"Tapi kenapa? Apa kau hanya main-main dengan pernikahan ini?" tanya Michael menatap tajam putranya.
"No Dad. Aku hanya akan mengumumkan pernikahan ini saat aku sudah mencintai istriku. Aku ingin mengelar pesta pernikahan dengan penuh kebahagiaan. Namun tidak jika mengelar pesta sekarang, aku sangat yakin baik aku ataupun istriku hanya akan memperlihatkan kebahagiaan yang palsu," ucap Kennan berkilah.
"Baiklah kalau itu alasannya Dad and Mom setuju, lagi pula Aditya juga sedang di rawat di rumah sakit," ucap Michael.
"Thanks Dad," ucap Kennan. "Aku lelah, aku ingin masuk ke kamar dulu," lanjut Kennan lalu berdiri meninggalkan ke dua orang tuanya. Dia bahkan tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi dengan calon mertuanya.
Michael dan Mira menatap putranya yang sudah berjalan menjauh. Secara bersamaan keduanya menghela nafas lega.
"Benar katamu sayang, kalau Kennan akan menyetujui perjodohan ini. Aku benar-benar lega sekarang. Tapi bagaimana kamu bisa tahu jika Kennan akan menyetujui pernikahannya dengan putri Aditya?" tanya Mira begitu penasaran. Namun sayang Michael hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
"Kau ini," ucap Mira mencebik.
"Yang penting kan sekarang Kennan sudah menyegujui pernikahan ini. Kau hubungi Sean dan suruh dia mengurus semuanya. Dan aku akan memberi kabar pada Aditya," ucap Michael.
***
Jam sudah menunjukan pukul sembilan, El menatap Aditya yang sedang melakukan panggilan telepon. Tampak semburat kebahagiaan yang terpancar dari wajah tua yang sudah mulai keriput itu.
El pun ikut tersenyum melihatnya.
Setidaknya aku masih bisa melihat senyum kebahagiaan itu sekarang. Aku bersyukur masih bisa merawat papa sekarang. Jika papa terus merasakan kebahagiaan aku yakin papa akan cepat sembuh. Dan terimakasih buat siapapun yang menelpon papa saat ini, semoga kebaikan selalu menyertainya.
Aditya mematikan panggilan teleponnya, dia menaruh ponselnya di atas nakas. Aditya menatap putrinya yang saat ini juga sedang menatapnya dengan tersenyum hangat.
"El sini sayang. Ada yang mau papa bicarain," ucap Aditya melambaikan tangannya agar El mendekat ke sisinya.
El berdiri dari duduknya dan melangkah pelan menuju ranjang papanya. "Ada apa pa?" tanya El sesaat setelah duduk di kursi di sisi ranjang pasien.
"Ada hal penting yang ingin papa bicarakan. Tapi sebelumnya papa ingin meminta sesuatu padamu sayang," ucap Aditya.
"Sesuatu?" El menautkan kedua alisnya. "Apa papa ingin makan lagi? Atau mau El belikan sesuatu?" tanya El.
"Tidak sayang, tapi sebelumnya papa katakan permintaan papa, kamu janji ya akan mengabulkan permintaan papa." Aditya menggenggam tangan El yang berada di atas ranjang pasien.
El diam beberapa saat. Tak lama kemudian dia menghela nafas panjang.
"Baiklah El janji akan kabulin permintaan papa," ucap El dengan penuh keyakinan. "Katakanlah apa yang harus aku kabulkan pa?" tanya El penasaran.
"Papa ingin besok kamu menikah," ucap Aditya.
"Tapi pa, Leo bahkan belum melamarku. Bagaimana bisa aku menikah besok?"
"Bukan dengan Leo sayang. Tapi dengan Kennan putra uncle Michael dan aunty Mira."
"Papa yang benar saja, aku tidak mau. Aku sudah punya kekasih pa, begitu pun Kennan sudah mempunyai kekasih seorang model," ucap El. Dia masih ingat saat Fanny menceritakan Kennan dan kekasihnya.
"Kennan sudah menyetujui pernikahan ini sayang. Papa harap kamu juga menyetujuinya," ucap Aditya dengan penuh permohonan.
"Tidak pa, aku tidak akan menikah kecuali dengan Leo," ucap El tegas.
gimn Megan thort