Laura gadis malang yang dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan seorang CEO yang sudah beristri dan juga sangat dingin.
Mampukah Laura bertahan disamping Tuan CEO? Atau kembali kepada cinta pertamanya, yang ternyata adalah anak dari Mr. Edward
yang dingin itu?
"Pernikahan adalah hal yang suci dan aku akan bertahan walaupun kau terus menyakiti ku." Laura
"Kau hanya seorang selir bagiku, jadi jangan pernah berharap lebih dariku." Mr. Edward Sebastian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dirumah Ibu
Akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Lee tiba didepan rumah Orangtuaku. Lee segera keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untukku. Perlahan aku keluar dari mobil kemudian melangkah menghampiri pintu didepan rumah Orangtuaku dan berhenti disana.
"Silakan, Nyonya." ucap Lee,
Lee mempersilakan aku untuk mengetuk pintunya namun aku enggan melakukannya. Aku mundur beberapa langkah dan mempersilakan Lee untuk mengambil alih. Lee pun mengerti, iapun segera mengetuk pintunya untukku.
Tidak beberapa lama, seseorang membukakan pintu rumah itu. Dan ternyata orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ibuku sendiri, Nyonya Marina.
Wajahnya berubah ketika melihat aku berdiri didepan rumahnya. Ia juga sempat melirik koper yang berada disamping kakiku. Kini dia menatap tajam kearah Lee kemudian melemparkan senyuman hangat kepada sang Assisten Tuan Edward. Lee pun membalas senyuman Ibu kemudian membungkuk hormat.
"Nyonya Marina... atas perintah Tuan Edward, hari ini saya mengantarkan Nyonya Laura kerumah anda. Tuan Edward ingin Nyonya Laura tinggal bersama anda untuk sementara waktu. Ada yang harus diurus oleh Tuan Edward dan setelah urusannya selesai, saya berjanji akan menjemput Nyonya Laura secepatnya." ucap Lee dengan ekspresi datar,
Dengan ragu-ragu, Ibu membukakan pintu lebih lebar lagi dan mempersilakan kami untuk masuk kedalam rumahnya.
"Silakan masuk!" ucapnya,
Aku dan Lee sempat saling tatap, kemudian kamipun segera melangkah masuk dan mengikuti langkah kaki Ibu yang menuntun kami hingga ke ruang tamu.
"Silakan duduk!" sambungnya,
"Terimakasih!" ucap Lee sambil mempersilakan aku untuk duduk lebih dahulu. Baru kemudian diapun ikut duduk di sofa ruang tamu.
"Memang ada masalah apa dirumah Tuan Edward? Apa Laura diusir oleh istri pertamanya?!" seru Ibu sambil tersenyum sinis,
Lee kembali memperhatikan wajahku saat itu. Aku segera menunduk ketika Lee melihat kearah ku. Jujur, aku sangat malu dengan sikap Ibuku. Tidak bisakah ia berpura-pura menyukai ku barang sebentar saja didepan orang lain.
"Bukan seperti itu, Nyonya Marina! Tuan Edward dan Nyonya Laura sudah tidak tinggal di kediamannya. Mereka kini tinggal di Villa sambil mengurus perkebunan milik Tuan Edward. Namun karena di Perkebunan sedang ada masalah, maka untuk sementara Tuan Edward menitipkan Nyonya Laura kepada anda, agar anda bisa menjaganya." sahut Lee,
Menjaga ku? Tidak mungkin Ibu mau menjaga ku. Dia bahkan tidak pernah menyukai ku sedikitpun. Ibu melihat kearah ku dengan tatapan sinis kemudian kembali menatap Lee.
"Tuan Edward menitipkan ini untuk anda."
Lee menyerahkan sebuah amplop besar kepada Ibu dan diapun segera menyambutnya. Dengan cepat ibu membuka amplop itu dan mengintip isinya. Wajah ibu yang tadi masam, mendadak berubah menjadi lebih cerah.
"Huwahhh!!! Begini donk, jadi mantu yang perhatian sama mertua!" seru Ibu sambil mengeluarkan isi amplop yang ternyata berisi beberapa ikat uang berwarna merah.
Aku dan Lee kembali saling tatap ketika melihat reaksi Ibu memperlihatkan beberapa ikat uang kertas pemberian Tuan Edward kepada kami.
"Nyonya Marina, didalam juga ada pesan dari Tuan Edward untuk anda." ucap Lee sambil menunjuk amplop yang tadi ia serahkan.
Ibu segera memeriksa isi amplop itu kembali dan ternyata Lee benar. Ada selembar kertas yang berisi pesan dari Tuan Edward untuk Ibu. Ibu membaca pesan itu dengan seksama. Ekspresi wajahnya berubah-ubah ketika membaca pesan itu. Ada yang terlihat terheran-heran, ada juga yang terlihat agak kesal.
Setelah membaca surat itu, Ibu kembali menatap Lee sambil tersenyum aneh. Entah dia senang atau apa aku tidak mengerti.
"Baiklah, Lee. Aku akan menjaga Laura. Katakan pada Tuan Edward, terimakasih untuk hadiahnya." ucap Ibu kepada Lee.
Lee tersenyum seraya mengangguk pelan kemudian menoleh kepadaku. "Nyonya Laura, saya harus kembali. Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk segera menghubungi Tuan Edward ataupun nomor saya." ucap Lee sambil menyerahkan sebuah ponsel kepadaku.
Aku menatap ponsel itu dan sepertinya ponsel itu masih baru. Lee kemudian bangkit seraya pamit kepadaku dan juga Ibu.
"Saya permisi dulu, Nyonya Laura, Nyonya Marina. Selamat Siang!" ucap Lee
Lee melangkah keluar dari rumah Ibuku, dan kini tinggal aku bersama Ibuku yang menatap ku dengan tatapan masam.
"Aku tidak akan membuat dirimu istimewa walaupun Tuan Edward sendiri yang memintanya langsung kepadaku. Kamu tetap tidur dikamar mu yang dulu dan bersikaplah seperti dulu!" ucap Ibu seraya mengambil amplop berisi uang itu lalu pergi meninggalkan aku diruang itu sendirian.
Aku melangkah gontai menuju kamarku dulu sambil menyeret koper yang berisi pakaian yang dibelikan oleh Tuan Edward untukku. Setibanya didepan kamarku yang letaknya jauh di ujung ruangan, aku sempat terdiam sambil menghela nafas dalam.
Ku buka pintu kamar dan mulai mengedarkan pandangan ku ke setiap sudut ruangan. Sepertinya ruangan ini tidak pernah dibersihkan semenjak Tuan Edward membawa ku tinggal bersamanya.
Debu menghiasi setiap sudut bahkan sarang laba-laba pun sudah terlihat dimana-mana. Maklumlah tempat ini hanya sebuah gudang penyimpanan barang-barang yang sudah tidak terpakai dan disulap menjadi kamar untukku.
Dengan terpaksa aku harus membersihkannya hari ini. Padahal saat ini tubuhku sangat-sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh menurutku.
Aku meraih sapu dan kemoceng kemudian mulai membersihkan tempat itu. Aku juga membawa kasur lusuh ku keluar rumah untuk dijemur. Keringat ku terus menetes saat membersihkan tempat itu.
Dan setelah beberapa saat akhirnya tempat itupun sudah bersih dan siap huni. Nafasku ngos-ngosan dan kepalaku agak terasa pusing. Aku bersandar di dinding kamarku sambil melepas penat.
Tiba-tiba aku teringat akan ponsel yang diberikan oleh Lee kepadaku. Aku meraihnya kemudian mencoba melihat kontak Tuan Edward. Ternyata benar, ponsel itu baru dan kontak nya pun hanya ada dua, punya Tuan Edward dan Lee.
Ingin sekali aku menghubungi Tuan Edward, aku ingin mendengar suaranya. Belum sampai sehari aku meninggalkannya, aku sudah mulai merindukan suami dingin ku itu.
Tapi aku takut, aku takut dia akan marah padaku kalau aku menghubunginya hanya untuk basa-basi dan membuang-buang waktunya. Dengan terpaksa aku mengurungkan niatku dan menahan rinduku kepadanya.
Namun keberuntungan sedang memihak kepadaku, ponsel itu berdering dan ternyata Tuan Edward tengah mencoba menghubungi nomor ponsel ku. Dengan segera ku terima panggilan itu sambil tersenyum hangat.
"Laura?!"
Aku sangat bahagia, ternyata Tuan Edward masih mengingat ku.
"Ya, Tuan..." sahut ku sambil tersenyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.
"Laura, bagaimana keadaan mu? Owh ya, jangan lupa makan siang. Buka koper mu, disana sudah ku letakkan makan siang untukmu. Semoga kamu menyukainya." sambungnya,
Aku begitu terharu mendengarnya, ternyata Tuan Edward masih sempat menyiapkan makan siang untukku.
"Terimakasih, Tuan. Aku pasti menyukainya."
"Laura, jaga diri baik-baik. Ini hanya untuk sementara, aku pasti akan menjemput mu. Laura... (Hening) Aku mencintaimu."
Setelah mengucapkan kata terindah yang pernah aku dengar, panggilan itu terputus. Padahal aku ingin sekali mengatakan, "Aku juga mencintaimu, Tuan!"
***