"Di bawah lampu panggung, mereka adalah bintang. Di bawah cahaya bulan, mereka adalah pemburu."
Seoul, 2025. Industri K-Pop telah berubah menjadi lebih dari sekadar hiburan. Di balik gemerlap konser megah yang memenuhi stadion, sebuah dimensi kegelapan bernama The Void mulai merayap keluar, mengincar energi dari jutaan mimpi manusia.
Wonyoung (IVE), yang dikenal dunia sebagai Nation’s It-Girl, menyimpan beban berat di pundaknya. Sebagai pewaris klan Star Enchanter, setiap senyum dan gerakannya di atas panggung adalah segel sihir untuk melindungi penggemarnya. Namun, kekuatan cahayanya mulai tidak stabil sejak ancaman The Void menguat.
Di sisi lain, Sunghoon (ENHYPEN), sang Ice Prince yang dingin dan perfeksionis, bergerak dalam senyap sebagai Shadow Vanguard. Bersama timnya, ia membasmi monster dari balik bayangan panggung, memastikan tidak ada satu pun nyawa yang hilang saat musik berkumandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : The Final Symphony
Pesawat jet pribadi yang membawa para Hunter kini tak lebih dari sebutir debu di tengah badai Atlantik yang mengerikan. Petir berwarna hitam keunguan menyambar-nyambar di luar jendela, menciptakan distorsi gravitasi yang membuat kabin pesawat berguncang hebat. Ini bukan lagi badai meteorologi, ini adalah The Event Horizon of The Void perbatasan antara realitas manusia dan dimensi ketiadaan.
"Sistem navigasi mati total! Kita tersedot oleh tarikan gravitasi pusat!" teriak Jake sambil berpegangan erat pada kursi kendali.
Di kursi belakang, Wonyoung mendekap kotak kaca berisi Silver Vinyl. Piringan itu kini memancarkan cahaya putih yang begitu menyilaukan hingga menembus material kotak. Ukiran terakhir, "AETERNITAS", berdenyut seirama dengan detak jantung kolektif enam belas member.
"Semuanya, sinkronisasi sekarang! Jangan biarkan rasa takut memutus rantai kita!" seru Sunghoon.
Tiba-tiba, sebuah dentuman besar menghantam badan pesawat. Bukan ledakan, melainkan sensasi seolah-olah mereka menabrak permukaan air yang padat. Dalam sekejap, guncangan itu berhenti. Keheningan yang mematikan menyelimuti mereka. Saat Wonyoung membuka mata, ia melihat ke luar jendela: mereka tidak lagi di langit.
Pesawat mereka melayang di atas Cradle of The Void sebuah pulau terapung yang terbuat dari kristal hitam obsidian yang mencerminkan ribuan bintang yang mati. Di tengah pulau itu, berdiri sebuah katedral raksasa yang tersusun dari frekuensi suara yang membeku.
"Kita sampai," bisik Han, wajahnya pucat pasi. "Jantung dari segala kegelapan."
Part 2: Panggung di Ujung Dunia
Mereka keluar dari pesawat yang mendarat darurat di padang kristal. Di sini, tidak ada udara, namun mereka bisa bernapas berkat aura pelindung dari Silver Vinyl. Setiap langkah mereka menimbulkan suara denting musik, seolah-olah tanah yang mereka injak adalah tuts piano raksasa.
Di depan pintu masuk katedral frekuensi, berdiri The Archivist of Souls, The Illusionist, dan The Timekeeper. Ketiga musuh yang pernah mereka kalahkan di London, New York, dan Tokyo kini kembali, namun dalam wujud bayangan yang lebih murni dan menyatu.
Di belakang mereka, duduk di atas takhta yang terbuat dari keheningan, adalah The Great Master (Sang Penguasa). Wajahnya tidak terlihat, hanya berupa kekosongan berbentuk manusia yang mengenakan mahkota dari pecahan cermin masa depan.
"Selamat datang di konser terakhir kalian," suara Sang Penguasa bergema, bukan di telinga, tapi langsung di dalam jiwa mereka. "Kalian membawa lima esensi Kemanusiaan, Memori, Kebenaran, Waktu, dan Keabadian. Terima kasih telah mengumpulkannya untukku."
"Kami tidak membawanya untukmu!" teriak Jay sambil menghunuskan belati karbonnya.
"Benarkah? Tanpa kekuatan vampir, kalian hanyalah getaran kecil di tengah samudra ketiadaan," Sang Penguasa mengangkat tangannya. "Kalian ingin menjadi manusia? Maka rasakanlah beban menjadi manusia di hadapan kekekalan."
Seketika, gravitasi di pulau itu meningkat seribu kali lipat. Para member jatuh berlutut, tulang-tulang mereka berderit di bawah tekanan energi Void yang masif. Piringan perak di tangan Wonyoung mulai retak.
Part 3: Human Encore - Gerakan Pertama
Di tengah tekanan yang menghancurkan itu, Wonyoung merayap menuju pusat piringan perak yang tergeletak di tanah kristal. Ia melihat teman-temannya Leeseo yang menangis, Sunoo yang terengah-engah, dan Sunghoon yang mencoba bangkit dengan sisa tenaganya.
"Ini bukan soal kekuatan..." bisik Wonyoung. "Ini soal harmoni."
Wonyoung mulai menyanyikan satu nada. Rendah, namun stabil. Nada itu adalah frekuensi "HUMANITY" yang ia temukan saat ia sakit flu di Seoul. Sunghoon menangkap nada itu, menambahkan harmonisasi frekuensi "CHRONOS" dari Tokyo.
Satu per satu, member IVE dan ENHYPEN bergabung. Yujin menyumbangkan nada "VERITAS", dan Jake memberikan ritme "MEMORIA". Suara mereka menyatu, menciptakan sebuah pilar cahaya yang mulai mendorong balik gravitasi hitam Sang Penguasa.
"Apa ini?! Suara manusia tidak mungkin memiliki bobot seperti ini!" raung The Illusionistyang mulai memudar terkena gelombang suara tersebut.
"Ini bukan sekadar suara!" teriak Wonyoung sambil berdiri tegak, piringan perak di tangannya kini menyatu kembali dan berubah warna menjadi Emas Murni (The Golden Record). "Ini adalah rekaman dari setiap detik kehidupan yang kami perjuangkan! Ini adalah The Final Symphony!"
Cahaya dari piringan emas itu meledak, membentuk sebuah panggung megah yang terbuat dari energi murni di tengah katedral kegelapan. Keenam belas idola itu kini berdiri di posisi formasi terbaik mereka. Di depan mereka, Sang Penguasa bangkit dari takhtanya, menyadari bahwa ia tidak sedang menghadapi mangsa, melainkan sebuah kekuatan baru yang lahir dari penggabungan dua klan kuno menjadi satu kemanusiaan yang utuh.
"Mari kita tunjukkan padanya..." Sunghoon menggenggam tangan Wonyoung. "...bagaimana manusia mengakhiri sebuah kutukan."
Panggung cahaya yang tercipta dari The Golden Record bergetar hebat saat Sang Penguasa melepaskan gelombang Void yang menghancurkan. Namun, enam belas member tidak bergerak satu inci pun. Mereka telah membentuk formasi "Aeternitas Circle".
"Sekarang! Gunakan memori Incheon, London, dan Tokyo sebagai bahan bakar!" teriak Jake yang matanya kini bersinar dengan refleksi data emas dari piringan tersebut.
Setiap member mulai menari. Ini bukan lagi koreografi untuk hiburan, ini adalah bahasa tubuh yang menyegel dimensi. Ni-ki bergerak di titik pusat, putaran tubuhnya menciptakan pusaran angin yang menghalau kabut hitam. Di setiap langkahnya, percikan api emas memercik, membakar bayangan The Illusionistyang mencoba menyusup ke pikiran mereka.
"Kalian pikir harmoni ini akan bertahan?" raung Sang Pengarsip Jiwa dari sudut katedral. Ia mencoba menarik benang-benang emosi dari Leeseo dan Sunoo.
Namun, Sunghoon segera meluncur di depan mereka. Dengan gerakan tangan yang anggun namun kuat, ia memutar energinya. "Emosi kami bukan lagi benang yang bisa kau tarik, Pengarsip! Emosi kami adalah simfoni yang akan menulikanmu!"
Suara Sunghoon menyatu dengan dentuman bass yang dihasilkan oleh detak jantung Jay dan Heeseung. Getarannya begitu kuat hingga pilar-pilar katedral kristal hitam itu mulai retak satu per satu.
Sang Penguasa (The Great Master) mulai merasa terancam. Ia menyadari bahwa piringan emas itu tidak hanya memancarkan cahaya, tapi juga menghapus konsep "Ketiadaan" yang menjadi sumber kekuatannya. Selama ada suara manusia yang bernyanyi, The Void tidak bisa eksis.
"HENTIKAN NYANYIAN ITU!" Sang Penguasa berteriak, suaranya menciptakan gempa tektonik di pulau terapung tersebut. Ia melepaskan serangan pamungkas The Silent Erasure, sebuah gelombang suara yang bertujuan menghapus memori setiap manusia tentang IVE dan ENHYPEN.
Jika mereka dilupakan oleh dunia, maka eksistensi mereka akan lenyap di dimensi ini.
Wonyoung merasakan tenggorokannya tercekat. Suaranya hilang. Di sekelilingnya, satu per satu suara member mulai padam. Cahaya emas dari piringan itu meredup menjadi abu-abu. Dunia seolah kembali menjadi sunyi dan dingin.
"Kau bukan siapa-siapa, Wonyoung..." bisik kekosongan itu di telinganya. "Kembalilah menjadi debu bintang yang dingin."
Wonyoung hampir menyerah, namun ia merasakan genggaman tangan yang kasar namun hangat. Sunghoon. Meskipun Sunghoon tidak bisa bersuara, matanya berkata: Jangan berhenti. Rasakan aku.
Wonyoung memejamkan mata. Ia tidak lagi mencoba bernyanyi dengan pita suaranya. Ia mulai bernyanyi dengan Detak Jantungnya.
Deg...
dup...
Deg...
dup...
Satu per satu, jantung para member lainnya menyelaraskan ritme. Ritme itu merambat melalui panggung emas, masuk ke dalam sistem transmisi piringan, dan secara ajaib... frekuensi itu terhubung kembali ke seluruh dunia. Di Seoul, Paris, London, Tokyo, dan New York, jutaan fans yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun karena merasakan detak jantung yang sama di dada mereka.
Cahaya emas meledak lebih dahsyat dari sebelumnya. Kali ini, cahaya itu bukan hanya berasal dari panggung, tapi dari seluruh dunia. Jutaan harapan manusia mengalir kembali ke pulau terapung itu, memberikan "Encore" yang tak terhingga.
"Ini adalah akhir dari simfonimu, Penguasa!" teriak Wonyoung saat suaranya kembali dengan kekuatan seribu matahari.
Wonyoung dan Sunghoon berlari menuju takhta Sang Penguasa. Mereka mengangkat The Golden Record bersama-sama. Piringan itu kini berputar dengan kecepatan cahaya, memancarkan melodi paling indah yang pernah tercipta sebuah gabungan dari semua lagu yang pernah mereka bawakan, disempurnakan oleh esensi kebebasan.
"ATAS NAMA SEMUA YANG HIDUP DAN YANG AKAN DATANG... LENYAPLAH!"
Mereka menghantamkan piringan emas itu tepat ke mahkota cermin Sang Penguasa.
KRAAAAAAAAACKKKKK!
Seluruh katedral ketiadaan hancur berkeping-keping. Sang Penguasa menjerit saat tubuhnya yang hampa dipenuhi oleh memori, warna, dan suara dari miliaran manusia. Ia tidak bisa menahan beban eksistensi yang begitu padat.
Pulau terapung itu mulai runtuh, terserap ke dalam ledakan cahaya putih yang murni. Ketiga pengikutnya The Archivist, The Illusionist,dan The Timekeeper meleleh menjadi debu perak yang manis.
Di tengah ledakan itu, Wonyoung melihat Sunghoon tersenyum. Semuanya menjadi putih. Sunyi. Namun kali ini, sunyi yang damai, seperti tidur setelah perjalanan panjang yang melelahkan.
Keheningan yang melanda bukanlah ketiadaan, melainkan sebuah jeda sebelum kehidupan dimulai kembali. Saat cahaya putih itu perlahan memudar, Wonyoung merasakan permukaan dingin yang menyentuh punggungnya. Bukan kristal obsidian The Void, melainkan rumput hijau yang masih basah oleh embun pagi.
Wonyoung membuka matanya dengan susah payah. Ia berada di sebuah taman luas di pinggiran Seoul. Di atasnya, langit biru cerah membentang tanpa ada satu pun jejak kabut hitam. Ia menarik napas dalam-dalam, dan oksigen itu terasa begitu manis di paru-parunya.
"Wonyoung-ah..."
Ia menoleh. Sunghoon terbaring beberapa meter darinya. Wajahnya kotor oleh debu perak, namun matanya memancarkan kedamaian yang belum pernah Wonyoung lihat selama 300 tahun. Satu per satu, member IVE dan ENHYPEN mulai terbangun di sekitar mereka. Yujin, Jake, Jay, Leeseo... semuanya ada di sana.
"Kita... di mana?" tanya Ni-ki sambil mencoba duduk.
"Kita pulang," jawab Sunghoon pelan. Ia bangkit dan membantu Wonyoung berdiri.
Di tengah mereka, terdapat pecahan The Golden Recordyang kini telah berubah menjadi piringan hitam biasa, tanpa ukiran, tanpa pendaran cahaya. Kekuatan supernaturalnya telah habis, terpakai sepenuhnya untuk menutup gerbangThe Void selamanya.
"Han-ssi? Jake?" Wonyoung mencari sosok asisten dan otak tim mereka.
Han berdiri di bawah pohon pinus tua, tersenyum sambil memegang sebuah tablet yang layarnya menunjukkan berita normal. "Tidak ada lagi anomali waktu. Tidak ada lagi monster di Incheon. Dunia mengingat kalian hanya sebagai grup idol yang baru saja menyelesaikan tur dunia paling sukses dalam sejarah."
Tiga bulan kemudian.
Gedung Seoul World Cup Stadium dipadati oleh ribuan penggemar. Ini adalah konser penutup dari tur "The Human Encore". Tidak ada misi rahasia malam ini. Tidak ada belati karbon yang disembunyikan di balik kostum, dan tidak ada frekuensi yang harus dimanipulasi.
Wonyoung berdiri di belakang panggung, menatap bayangannya di cermin. Ia mengenakan gaun yang sederhana namun elegan. Ia menyentuh dadanya, jantungnya berdetak dengan ritme manusia yang normal. Rasa haus akan darah telah benar-benar hilang, digantikan oleh nafsu makan yang sehat dan rasa kantuk yang wajar setiap malam.
Sunghoon masuk ke ruangan, mengenakan jas putih. Ia memegang sebuah kotak kecil. "Untukmu. Hadiah atas kelulusan kita sebagai monster."
Wonyoung membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan mekanis yang jarumnya berdetak maju dengan sangat tenang.
"Sekarang kita punya waktu yang terbatas, Wonyoung-ah," bisik Sunghoon. "Dan itu yang membuatnya sangat berharga."
"Aku tidak akan menyia-nyiakan satu detik pun," jawab Wonyoung.
Mereka naik ke panggung. Saat musik dimulai, bukan lagi suara piringan emas yang terdengar, melainkan harmoni murni dari enam belas manusia yang mencintai apa yang mereka lakukan. Penonton bersorak, dan kali ini, Wonyoung bisa merasakan cinta itu tanpa bantuan sihir. Itu adalah energi paling kuat di alam semesta.
Setelah konser berakhir, di tengah pesta perayaan kecil di atap gedung agensi, Wonyoung dan Sunghoon berdiri menjauh dari keramaian. Mereka menatap pemandangan kota Seoul yang penuh dengan lampu kehidupan.
"Sunghoon-ssi, lihat itu," Wonyoung menunjuk ke sebuah bintang yang bersinar paling terang di utara. "Dulu aku pikir itu adalah rumahku. Tapi sekarang aku tahu, rumahku ada di sini, di bumi yang berisik ini."
Sunghoon menggenggam tangan Wonyoung. "Kita mungkin akan menua, kita mungkin akan dilupakan suatu saat nanti oleh sejarah, tapi melodi yang kita buat... itu akan tetap ada di udara."
Piringan hitam yang kini tak bertenaga itu diletakkan di dalam museum kecil di markas mereka sebagai pengingat. Namun, tanpa disadari oleh siapapun, di permukaan piringan itu muncul satu tulisan terakhir yang sangat kecil, hanya bisa dilihat oleh mata yang penuh kasih:
"AMOR VINCIT OMNIA" (Cinta Menaklukkan Segalanya).
Wonyoung bersandar di bahu Sunghoon. Masa lalu yang penuh darah telah terkubur, dan masa depan yang fana namun indah membentang di depan mereka. Mereka bukan lagi Star Enchanter atau Ice Prince. Mereka hanyalah dua orang yang beruntung bisa saling menemukan di tengah jutaan detak jantung dunia.
Pesan dari Penulis:
Terima kasih banyak sudah mengikuti perjalanan panjang Wonyoung, Sunghoon, dan seluruh member IVE x ENHYPEN dari awal sebagai monster hingga menjadi manusia sejati. Perjuangan mereka membuktikan kalau kekuatan terbesar bukan ada pada sihir, tapi pada kemanusiaan kita.
Gimana perasaan kalian setelah baca endingnya?
Like kalau kalian bahagia mereka akhirnya bisa hidup normal!
Komen momen favorit kalian dari bab 1 sampai 34 di bawah!
Share cerita ini ke teman-teman kalian yang butuh asupan cerita fantasi-romance yang epik!