Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Hentikan, Arjuna! Cukup!" teriak Jelita dengan suara gemetar, tangannya mendekap erat dadanya yang bergemuruh.
Sebuah tulisan tangan yang samar pada sebuah kaca meja rias milik Ira tertulis:
[ Sejauh apa pun kau lari, kau tidak akan pernah bisa pergi jauh Jelita ]
Ira dan Dinda mencoba menghapusnya, namun hawa dingin yang tadinya merayap sensual di kaki Jelita perlahan memudar, namun tulisan di cermin itu tetap di sana, seolah menertawakan usaha mereka untuk menghapusnya.
Cahaya biru dari gelang Jelita meredup perlahan, namun meninggalkan pola ukiran yang kini tampak lebih tegas di kulitnya. Ukiran emas itu seolah menyatu dengan pembuluh darahnya, berdenyut pelan mengikuti ritme jantung Jelita.
Ira berusaha bangkit dengan menyangga tubuhnya pada pinggiran meja, sementara Dinda masih mematung menatap tulisan di cermin yang kini perlahan mencair menjadi tetesan air dingin.
"Jel... gelang itu," bisik Ira dengan napas tersengal. "Bukan kamu yang memakainya, tapi gelang itu yang memilikimu. Arjuna tidak perlu berada di sini secara fisik untuk menyentuhmu." Ira tampak sangat terkejut dengan kejadian yang sedang mereka alami.
Jelita menunduk, melihat gelang hitam kuno itu. Ia mencoba menariknya, namun benda itu seolah telah menjadi bagian dari kulitnya. "Aku harus ke rumah Kakek. Sekarang juga. Aku tidak bisa menunggu sampai siang, Ira. Rasa dingin ini... rasanya seperti dia sedang memperhatikanku dari dalam kepalaku sendiri." Lirih Jita berusaha tetap sadar.
Dengan perasaan panik yang memuncak, mereka bertiga kembali menaiki motor. Jelita memakai syal pinjaman dari Ira untuk menutupi lehernya yang penuh tanda "klaim". Sepanjang perjalanan, angin siang yang terik sama sekali tidak terasa panas bagi Jelita. Di telinganya, ia terus mendengar bisikan samar yang hanya bisa didengar olehnya.
" Semua ini benar-benar gila! " Ujar Dinda.
" Kita harus secepatnya melakukan sesuatu, sebelum hantu itu bertingkah semakin aneh dan keterlaluan," Usul Ira
Perjalanan menuju rumah Kakek Wiryo terasa sangat panjang bagi Jelita. Di balik syal yang melilit lehernya, ia bisa merasakan tanda merah itu berdenyut setiap kali bisikan Arjuna terdengar di telinganya.
"Jangan mencoba lari, Sayang. Sejauh apa pun kau pergi, kau membawa aromaku di kulitmu..."
Meskipun matahari bersinar terik di atas kepala, Jelita justru merasa seperti berada di dalam lemari es. Angin yang menerpa kulitnya tidak terasa sejuk, melainkan seperti sentuhan jari-jari dingin yang merayap di balik pakaiannya.
Saat motor yang dikendarai Ira melewati jalanan yang sepi, Jelita tersentak. Ia merasakan sebuah kecupan dingin mendarat di tengkuknya, tepat di atas tanda "klaim" yang ditinggalkan Arjuna.
Kau memakai syal untuk menyembunyikan tandaku, Sayang? Sia-sia. Seluruh jiwamu sudah mencium aromaku," suara bariton Arjuna bergema pelan di dalam kepalanya, membuat bulu kuduk Jelita berdiri.
"Jel? Kamu kenapa? Pegangan yang kuat!" seru Ira yang merasakan tubuh Jelita gemetar hebat di boncengannya.
Begitu mereka sampai di depan pagar rumah kayu kuno milik Kakek Wiryo, pintu rumah itu sudah terbuka lebar. Kakek Wiryo berdiri di sana, memegang sebuah tongkat kayu jati dan sebotol air yang sudah didoakan. Wajahnya yang keriput tampak sangat tegang.
"Masuklah! Cepat!" seru Kakek Wiryo tanpa basa-basi, suaranya menggelegar penuh wibawa.
Di dalam ruang tamu yang berbau kemenyan dan kayu tua, Kakek Wiryo menyuruh Jelita duduk di tengah ruangan. Tanpa bertanya, sang kakek langsung menarik syal yang melilit leher Jelita.
Mata Kakek Wiryo membelalak melihat pola ukiran emas yang berdenyut di leher cucunya. Ia segera memercikkan air dari botolnya ke arah tanda tersebut.
Begitu air suci itu menyentuh kulit Jelita, asap hitam tipis keluar dari sana diiringi suara geraman marah yang bukan berasal dari mulut Jelita. Jelita mengerang kesakitan, merasa kulitnya seperti disetrika.
"Ini bukan gangguan biasa, Jelita!" bentak Kakek Wiryo, matanya menatap tajam ke arah Ira dan Dinda. "Siapa yang membawa kalian ke gedung itu? Kalian sudah membangkitkan Pangeran yang haus darah! Dia sudah menandai Jelita sebagai persembahan hidup."
Hiks! Hiks! Hiks!
Dinda langsung bersimpuh di kaki Kakek Wiryo sambil menangis. "Maaf, Kek! Kami yang menantang Jelita ke sana. Kami tidak tahu kalau hantu itu begitu... begitu mesum dan tidak mau lepas!"
Kakek Wiryo menghela napas berat, ia menatap gelang di tangan Jelita yang kini berwarna merah membara. "Dia bukan sekadar hantu mesum, Dinda. Dia adalah pemilik sumpah yang dikhianati ratusan tahun lalu. Dan sekarang, dia menuntut bayarannya melalui Jelita."
"Duduklah yang tenang. Jika kalian tidak tahu siapa yang kalian hadapi, kalian tidak akan pernah bisa lepas," ucap Kakek dengan suara rendah yang bergetar.
Kakek Wiryo membuka gulungan kain itu, memperlihatkan lukisan kuno seorang pria yang sangat mirip dengan Arjuna—gagah, berwibawa, namun dengan tatapan mata yang penuh kesedihan.
Flashback on
Ratusan tahun lalu, Arjuna adalah seorang Pangeran dari kerajaan kecil yang dikhianati oleh penasihat kepercayaannya. Penasihat itu tidak lain adalah buyut dari keluarga Jelita. Demi kekuasaan, leluhur Jelita menjebak Arjuna dan menguburnya hidup-hidup di bawah bangunan yang kini menjadi gedung tua tersebut.
Sebelum napas terakhirnya, Arjuna tidak mengutuk dengan kemarahan, melainkan dengan hasrat. Ia bersumpah akan mengambil kembali apa yang menjadi haknya melalui keturunan perempuan dari pengkhianat tersebut.
Flashback off
"Dia tidak ingin membunuhmu, Jelita," bisik Kakek Wiryo sambil menatap cucunya dengan iba. "Dia ingin 'memiliki' kembali apa yang pernah dirampas darinya. Baginya, kau adalah pengganti dari kebahagiaan yang hilang. Itu sebabnya dia memperlakukanmu seperti miliknya sendiri."
Kakek Wiryo menunjuk gelang hitam di tangan Jelita yang kini bergetar pelan.
Gelang itu bukan sekadar perhiasan: itu adalah jantung dari kekuatan Arjuna. Setiap kali Jelita merasa berdebar atau takut, gelang itu menyerap emosinya dan mengubahnya menjadi energi bagi Arjuna untuk menampakkan diri.
"Tanda merah di lehermu itu adalah jalurnya," jelas Kakek. "Melalui tanda itu, dia bisa merasakan apa yang kau rasakan, melihat apa yang kau lihat. Itulah kenapa dia bisa mengikutimu sampai ke rumah Ira."