Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asisten Pribadi Radit Kusumadewa
"Kuat Sya, kuat!" Tasya menepuk dadanya sendiri seraya menyemangati dirinya. Setelah beberapa tahun menolak tinggal serumah, kini Tasya hanya bisa pasrah harus tinggal di rumah Ibu Welas.
Ibu Welas adalah seorang janda kaya yang memiliki banyak rumah kontrakan. Saat mengetahui kalau Tasya adalah anak yatim piatu yang harus menghidupi keponakannya, Ibu Welas menentang hubungan Setyo dan Tasya. Namun Setyo begitu memperjuangkan Tasya sampai akhirnya mereka bisa menikah.
Tasya menatap rumah megah di depannya bak gerbang neraka yang terbuka dan siap melahapnya hidup-hidup. Entah bagaimana kehidupannya selanjutnya dan sampai kapan ia akan bertahan, tak ada yang tahu.
"Taruh barang-barang Setyo di kamarnya!" Perintah Ibu Welas dengan angkuhnya. "Kamu tidur di kamar pembantu kosong yang ada di dekat dapur!"
"Neraka level pertama dimulai," batin Tasya.
"Bu! Kenapa Tasya tidur di kamar pembantu? Bukankah kami bisa satu kamar?" protes Setyo.
"Kamarmu sempit. Kalau dia di sana, bagaimana Ibu bisa merawatmu? Kamu itu butuh tempat tidur luas agar kakimu cepat pulih," jawab Ibu Welas.
"Kalau alasan kamarku sempit masih bisa kuterima, tapi tidak di kamar pembantu juga, Bu. Rumah ini ada kamar tamu yang kosong, kenapa Tasya harus tidur di kamar pembantu sih?" protes Setyo.
"Kamar tamu akan dipakai Sisca, dia akan tinggal di rumah ini menemani Ibu." Ibu Welas tersenyum licik seraya menatap Tasya.
"Sisca? Kenapa dia harus tinggal bersama kita?" protes Setyo lagi. "Bukankah dia di luar negeri?"
Dengan senang hari Ibu Welas membanggakan Sisca di depan Tasya. "Karena dia keponakan Ibu tersayang. Cantik, baik dan perhatian. Sisca segera pulang saat tahu kamu mengalami kecelakaan, perhatian sekali dia. Seharusnya kamu menikah dengan Sisca, bukan dengan perempuan pembawa sial macam dia!"
"Bu!"
Tasya menghela nafas dalam. "Neraka level kedua dibuka, entah ada berapa level neraka lagi yang harus kuhadapi," batin Tasya.
"Sudah, kamu jangan banyak protes! Yang membiayai operasi dan kamar perawatanmu itu Ibu, bukan istrimu yang miskin itu. Sekarang kamu butuh biaya lagi buat pemulihanmu. Jangan banyak protes, turuti saja keputusan Ibu!" Ibu Welas mendorong kursi roda Setyo ke dalam kamar.
Tasya hanya bisa mengelus dada. Kini, air mata Tasya sudah kering, segala ucapan Ibu Welas yang menyakitkan seakan hanya menggelitik hatinya, menancapkan luka lalu tak lagi ia rasakan sakitnya. Bagi Tasya, air matanya kini hanya untuk Dicky seorang.
.
.
.
Hidup Tasya semakin berat setiap harinya. Masa cuti bekerjanya sudah habis, ia harus kembali masuk kerja, mengurus Setyo dan juga mengunjungi Dicky sepulang kerja.
Tasya sudah bangun di pagi buta untuk memandikan Setyo yang selalu menolak dimandikan perawat. Menyuapi dengan sabar suaminya lalu mengejar bus agar tidak terlambat bekerja.
"Sya, kamu dipanggil HRD tuh!" Salah seorang staff gudang memberitahu Tasya.
Tasya memenuhi panggilan dari HRD. Hatinya sudah cemas, ia takut cuti dadakan yang ia ambil bermasalah dan ada konsekuensi yang harus ia tanggung.
"Mulai besok Ibu Tasya Prameswari akan dipindahkan dari staff gudang menjadi asisten pribadi Bapak Radit Kusumadewa." Kepala HRD memberikan surat penempatan pada Tasya.
"Jadi asisten pribadi Pak Radit? Saya?" Tasya sangat terkejut dengan berita perpindahan bagian dirinya secara tiba-tiba.
"Betul sekali. Asisten pribadi Pak Radit kebetulan sedang dimutasi ke cabang lain. Pak Radit meminta asisten pribadi baru yang bisa menghandle pekerjaannya. Pak Radit sendiri yang meminta Ibu Tasya karena Pak Radit bilang kalau Ibu Tasya adalah temannya sejak kecil," jawab kepala HRD.
Tasya hendak membuka mulut untuk protes namun urung ia lakukan. Menjadi asisten pribadi seorang pimpinan tentu akan mendapat gaji yang jauh lebih besar dibanding menjadi staff gudang, uang tersebut akan cukup ia pakai untuk biaya berobat Dicky selanjutnya.
"Ibu Tasya bisa mulai bekerja besok. Tak perlu memakai seragam lagi. Ibu bisa memakai kemeja yang dipadankan dengan rok atau celana bahan, bebas asal sopan, mengingat sekarang Ibu akan menemani Pak Radit menemui beberapa klien dan harus menjaga citra perusahaan...." Kepala HRD lalu menjelaskan beberapa hal dan apa saja job desk Tasya.
.
.
.
"Keadaan Dicky bagaimana, Sya?" tanya Setyo saat Tasya datang ke kamarnya untuk melihat keadaannya sepulang kerja.
"Masih belum ada perkembangan, Mas. Masih di ruang NICU, entah sampai kapan." Tasya duduk di lantai lalu menyandarkan kepalanya di atas tempat tidur. Ia sangat lelah hari ini. Berada di samping suaminya membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.
"Kasihan, Dicky." Setyo mengusap rambut Tasya dengan penuh kasih. "Untuk biaya pengobatan Dicky, kamu dapat darimana, Sya?"
Tasya langsung duduk tegak mendengar pertanyaan Setyo. Ia tak menyiapkan jawaban atas pertanyaan dadakan Setyo, tak mungkin ia menjawab kalau ia dapatkan uang dari hasil melacur. Bisa diceraikan Setyo malam ini juga.
"A-aku pinjam, Mas. Pinjam dari kantor," jawab Tasya asal.
"Kamu sampai pinjam kantor begitu, Sya. Maafkan Mas ya. Mas tidak bisa bantu banyak. Mas sudah coba membujuk Ibu untuk membantu pengobatan Dicky namun Ibu menolak. Mas juga tak bisa bantu, Mas sepertinya akan kehilangan pekerjaan Mas karena tak bisa masuk kerja dalam waktu dekat." Mata Setyo berkaca-kaca. Ia belum bisa berjalan, kemana-mana harus memakai kursi roda.
Tak mau membuat suaminya makin terpuruk, Tasya berusaha membesarkan hati Setyo. "Mas tak usah pikirkan. Aku mulai besok sudah pindah bagian. Gajinya pasti lebih besar dari sebelumnya. Mas fokus saja pada proses penyembuhan ya, pekerjaan bisa dicari lagi nanti kalau Mas sudah sembuh."
Setyo terharu dengan kelembutan hati sang istri tercinta. "Terima kasih ya, Sya. Kamu sangat pengertian. Mas beruntung memiliki kamu sebagai istri Mas."
Ucapan Setyo membuat Tasya tersindir. Ia bukan istri yang baik. Ia istri yang hina. Istri yang melacur demi mendapatkan uang.
Tasya menahan semuanya di depan Setyo. Ia memainkan sandiwara dengan baik namun saat ia sendirian di kamarnya yang sempit, ia tak bisa menahan air matanya. Ia menyesal sudah berselingkuh dari Setyo. Ia sudah mengkhianati kesucian pernikahan mereka.
"Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa melakukan ini," ucap Tasya dengan lirih. Kamar pembantu berukuran 2x2 meter ini menjadi saksi banyaknya air mata Tasya yang menetes. Tak ada yang tahu, Tasya menyembunyikan semua kerapuhannya sendiri. Cukup Tasya yang tegar yang orang lain tahu.
.
.
.
Hari ini Tasya mengenakan pakaian berbeda ke kantor. Bukan lagi seragam biru khas anak gudang, melainkan setelan kemeja dan celana bahan yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Matanya masih agak bengkak sehabis menangis semalam, ia tak punya make up untuk menutupinya. Ia hanya memakai sunscreen dan lip balm seperti biasa namun tetap memancarkan kecantikannya.
Langkah Tasya terhenti di depan ruangan besar yang terletak di lantai paling atas gedung kantornya. Tak ada tulisan 'ruang CEO' namun semua orang tahu siapa pemilik ruangan tersebut.
Tasya mengetuk pintu ruangan besar dan tertutup tersebut, menunggu sampai pintu terbuka. Tasya masuk ke dalam saat pintu dibuka otomatis dari tempat duduk Radit. "Pagi, Pak."
Radit mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang ia periksa. Melihat Tasya datang, senyum lebar tersungging di wajahnya. "Pagi, Sya! Kemarilah!"
Tasya mendekati Radit. Secara tak terduga, Radit menyuruh Tasya duduk di kursi kebesarannya. "Duduk, Sya!"
"Duduk? Aku?" Tasya menunjuk dirinya.
"Iya. Duduklah!" Radit menarik pergelangan tangan Tasya dan menyuruhnya duduk. "Aku sudah buat list pekerjaan untukmu. Kamu cek sendiri, mana yang tidak sesuai bisa kamu hilangkan, akan aku suruh yang lain mengerjakannya."
Tasya mencerna ucapan Radit. "Kayaknya... terbalik deh, Pak. Seharusnya aku yang membuat jadwal Bapak lalu-"
"Tak usah!" Radit mengibaskan tangannya. "Aku hafal semua jadwalku."
Tasya menatap Radit dengan tatapan bingung.
"Cepat, periksa saja. Kita ada jadwal meeting 1 jam lagi di tempat lain." Radit memakai jas yang ia sampirkan di kursi kerjanya.
Tasya menuruti perintah Radit. Jadwal yang Radit buat sudah bagus dan rapi. Tak ada yang harus ia koreksi. Radit memintanya menyimpan jadwal yang ia buat lalu mengajak Tasya keluar meeting.
.
.
.
"Duduk di belakang saja, Sya!" Perintah Radit saat ia sudah di dalam mobil.
Tasya hendak membuka mulutnya untuk protes namun urung ia lakukan. Dengan patuh, Tasya duduk di samping Radit. Semula, tak ada percakapan sampai Radit yang memulainya terlebih dahulu.
"Bagaimana kabar anakmu, Sya?" tanya Radit.
"Anakku... masih belum sadarkan diri. Keadaannya juga masih belum stabil, Pak." Tasya menunduk memainkan jari jemarinya, menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan.
"Mau pindah rumah sakit yang lebih bagus saja?" tanya Radit.
Tasya langsung mengangkat wajahnya. Ia sudah berhutang budi pada Radit, tak mau lagi memiliki hutang yang harus ia bayar dengan tubuhnya. "Ti-tidak usah, Pak. Rumah sakit tempat Dicky dirawat sudah lengkap fasilitasnya dan bagus."
"Baiklah kalau kamu tak mau. Kabariku saja kalau kamu ingin pengobatan terbaik untuk anakmu. Aku akan membantu." Radit tersenyum namun Tasya tahu, semua ini tidak gratis. Ada yang harus ia bayar untuk setiap uang yang Radit keluarkan.
***
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣