Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Orang Tua Bintang?
"Hujan."Ujar Inah ketika irisnya melihat air hujan yang perlahan turun dan membasahi atap kediamannya.
"Kalian nginap di sini kan? Soalnya Satria juga nginap di sini malam ini, katanya besok dia mau ajak anak anak olah raga. Sudah ibu larang karna dia pasti capek tapi dia orangnya terlalu baik jadi susah di larang."Ujar Inah, tanpa sengaja dia membangkitkan jiwa kompetitif milik Damian.
"Kita rencananya mau pu-"Bintang hendak menjawab, tapi Damian segera memotongnya.
"Kita nginap kok buk, besok aku juga ambil cuti habis olah raga mau bawa anak anak main."Ujar pria itu, lagi lagi keputusannya membuat Bintang terkejut bukan main.
'Bukannya dia pernah bilang kalo dia susah tidur kalo bukan di ranjangnya? Ada apa dengan dia, kenapa ada saja gebrakannya?'Batin Bintang bergejolak, dia benar benar tidak mengerti alasan kenapa Damian sejak tadi terus memberikan dan menawarkan hal hal yang tidak terduga. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang biasa.
"Kalau begitu, Bintang kamu bisa bersihin kamar di sebelah? Ibu mau ngomong sama suami kamu."Ujar Inah dengan ramah.
"Bisa bu, Bintang langsung beresin."Ujar gadis itu, dia sedikit ragu untuk meninggalkan Damian di sini sendirian tapi dia tidak punya pilihan karna Inah sepertinya ingin membicarakan suatu hal dengan pria itu.
Setelah Bintang meninggalkan ruangan, bu Inah juga ikut bangkit. Dia mengambil sebuah album usang dan juga sebuah kalung dan dia menyodorkannya ke hadapan Damian.
"Apa ini bu?"Tanya Damian dengan nada yang kebingungan, dia tidak mengerti kenapa Inah membawa benda benda ini ke hadapannya.
"Ini album foto Bintang, kamu mau melihatnya?"Tanya bu Inah dengan nada yang berseri seri. Bintang adalah salah satu anak yang paling dia sayangi di panti ini, dia sangat manis dan berperilaku baik jadi siapa pun yang melihatnya pasti jatuh cinta.
Damian diam sesaat, dia penasaran dengan album itu tapi ada rasa takut juga di dalam hatinya. Karna sepertinya dia sudah mulai menaruh hati, oleh sebab itu dia terus bersikap di luar kendalinya setiap kali dia berdekatan dengan Bintang.
"Nak Damian? Kok bengong?"Tanya bu Inah dengan hati hati.
"Boleh di lihat, bu?"Tanya Damian memastikan.
"Tentu saja boleh."Balas Bu Inah, dia kemudian membuka perlahan album foto itu dan mulai menunjukkan satu persatu foto Bintang di dalam sana.
Sepanjang halaman di buka, Damian tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya dan kagum dengan foto foto Bintang. Rasanya dia sangat bahagia ketika melihat foto foto itu.
"Ini foto apa buk?"Tanya Damian, dia sedikit heran karna di situ Bintang terlihat sangat dekil.
"Ini dia nyemplung got! Anak itu, dia benar benar lucu."Ujar bu Inah sekali lagi.
"Haha dia agak sedikit ceroboh ya bu? Cerobohnya itu masih ada sampai sekarang, bu."Ujar Damian, dia tertawa renyah saat melihat foto Bintang yang satu itu.
"Kalo ini?"Tanya Damian.
Matanya jatuh pada sebuah foto bayi yang terlihat di balut selimut tebal dengan wajah tenangnya, juga beberapa bercak darah yang nampak menghiasi selimut itu.
"Ini foto waktu dia di temukan, seseorang meletakkan di depan pintu kamar ibu."Ujar Bu Inah, dia tiba tiba saja teringat dengan bagaimana erangan dan raungan putus asa Bintang saat pertama kali dia menemukannya.
"Ini kalung yang ibu temukan di dalam bedongnya, mungkin sengaja di tinggalkan oleh orang tuanya sebagai tanda pengenal."Ujar bu Inah, dia menyodorkan kalung itu kepada Damian.
"Kenapa ibu menyerahkannya kepadaku?"Tanya Damian dengan alis yang mengkerut.
"Karna sepertinya kamu sangat mencintai Bintang ku."Ujar Bu Inah, matanya berkaca kaca seolah dia ikut senang karna Bintang sudah menemukan seseorang yang sangat baik untuk dirinya sendiri.
Damian diam, merasa bersalah karna sikapnya sudah membuat Bu Inah sala sangka. Dia tidak mencintai Bintang dan mungkin hanya sedikit tertarik saja. Dia juga tak berniat untuk melanjutkan perasaan ini karna di hatinya sudah bersemi nama seorang gadis yang tak lain adalah adik angkatnya.
"Meski pun dia tenang, tapi ibu tau dia pasti sangat penasaran dengan siapa kedua orang tuanya. Sejak kecil dia tidak pernah bertanya tentang kedua orang tuanya, mungkin dia takut kecewa."Imbuh Bu Inah, dia sepertinya memiliki sesuatu yang di inginkannya dari Damian.
"Kalung ini bernilai ratusan juta, ini berarti orang tua kandung Bintang mungkin adalah seseorang yang berpengaruh. Ibu harap kamu bisa mempersatukan Bintang dengan kedua orang tuanya."Ujar wanita paruh baya itu, dia akhirnya mengatakan kepada Damian apa yang sebenarnya dia inginkan dari pria itu.
"Kenapa harus Damian bu?"Tanya pria itu sekali lagi.
"Karna hanya kamu yang bisa nak, ibu percaya kamu pasti bisa menjaga Bintang. Kita tidak tahu bagaimana keadaan keluarganya saat ini dan ibu harap kamu bisa mempertemukan Bintang dengan kedua orang tuanya."Balasnya, tatapannya berbinar seolah olah dia sangat yakin jika Damian yang akan menjadi penjaga Bintang.
Damian terdiam, untuk pertama kali di dalam hidupnya dia merasa tidak berdaya di hadapan bu Inah. Dia juga merasa bersalah karna sudah membohongi wanita paruh baya yang nampaknya sangat tulus mencintai Bintang.
"Kamu bisa kan?"Tanyanya memastikan.
"Akan Damian usahakan, bu." Balas pria itu pada akhirnya, dia menatap kalung itu dalam dan diam diam juga mulai penasaran dengan siapa pemilik kalung itu juga bagaimana asal usul Bintang.
"Bintang itu anaknya baik, bahkan dia di siksa habis habisan di rumah tuan Bramono tapi dia tidak melawan sama sekali. Ibu benar benar berharap jika kamu akan membawa kebahagian bagi dia."Ujar Bu Inah dengan nada yang penuh dengan harapan.
"Maksud ibu, dia di siksa di keluarga Bramono?"Tanya Damian memastikan, setahunya gadis itu di perlakukan bak ratu bahkan ada kabar burung juga kalau Bintang lebih di sayang ketimbang Lidya.
"Awalnya ibu juga nggak tahu karna Bintang selalu nutupin, tapi setiap dia datang diam diam ke sini. Tangannya selalu biru dan berkerut bahkan terkadang mengelupas. Wajahnya pucat, seperti tidak ada kehidupan. Sekarang ibu lihat dia jadi lebih berseri, sepertinya dia bahagia sama kamu, nak."Ujar bu Inah dengan nada pelan.
Lagi, Damian diam membeku. Dia kembali terbayang dengan bagaimana kurusnya Bintang saat mereka bertemu pertama kali. Dia juga ingat jika wajahnya pucat bahkan jari jarinya mengelupas saat itu.
'Apa aku benar benar sudah salah menilainya?' Gumam Damian, pembicaraanya dengan Bu Inah membuatnya tahu beberapa hal juga membuka pandangannya terhadap kesalahan yang mungkin sudah dia perbuat kepada gadis itu.