Ini kisah season 2 dari nikah kontrak dengan om ceo tampan.
Mia Allura Atmaja putra pertama dari Alex Atmaja dan Rara Artnia, ia terpaksa kabur dari rumah orangtuanya untuk menghindari perjodohan dengan rival sang papa hingga akhirnya ia terjebak cinta segitiga dengan pengusaha muda bernama William.
Akankah ia menyerah atau memperjuangkan cintanya?
Nb : Untuk melihat visual mereka bisa cek di ig ; Duwi Sukema
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon duwi sukema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jatuh cinta
Siapa juga yang mau menikahi kamu? Kalau aku nikah pasti pilih Lura," ucap Henry dengan cepat lalu merangkulkan tangannya di bahu Lura.
"Kamu mau menikah dengan siapa? Lura?! Emang kamu tipe calon suami Lura?" Sanggah William ikut nimbrung.
"Emang bos juga tahu seperti apa kriteria calon suami Lura? Pasti orangnya seperti aku bos, tampan, tinggi, putih wajah memesona, pastinya berpengalaman dalam segala bidang. Apartemen juga punya, mobil juga, pasti kamu hidup bahagia denganku Lura, mau kah kamu menikah denganku?" ucap Henry.
Lura menapik tangan Henry dengan cepat dari bahunya sebelum kekasihnya itu cemburu.
"Honey, aku takut naik ke pesawat, karena itu dapat membuatku gelisah. Aku tak mau naik ke gunung karena itu membuatku lelah. Aku hanya mau naik ke pelaminan denganmu karena itu adalah kesempurnaan hidupku. Entah kenapa bibirku beku tak mampu berucap gombal tatkala aku ingin mengajakmu bersama mendayung biduk rumah tangga. Hanya sebuah kata sederhana yang bisa ku sampaikan, please marriage with me?" ucap Henry.
Semua orang beradu padang, semua terkejut akan ucapan Henry yang melamar Lura. Allura pun hanya diam mengangga ketika Henry di depannya berjongkok di depannya dengan mengulurkan tangannya.
"The perfect sun is not because it shines, but because there is the moon. A perfect flower is not for the beauty of its color, but because it could be a fruit. And my perfection is not because my face, but because there is you in our marriage. Will you marry me?" ucap Henry kembali dengan suara tulusnya.
"Henry, berdirilah!" perintah Lura.
Henry pun masih diam di tempat dengan mengulurkan tangan berharap jika Lura menerimanya.
"Hen, jangan bercanda! Ini tidak lucu, sudah cepat sana berdiri!" perintah Lura. Ia berjalan menjauh dari Henry duduk di sofa samping Luna.
William hanya bisa mengepalkan jari-jari tangannya yang tidak suka dengan sikap Henry. Ingin rasanya ia mengungkap jika ia lah kekasih Lura saat ini namun ia menghargai keputusan Lura jika tidak ingin mengumbar hubungan mereka ke rekan kerjanya saat ini.
Henry berjalan mengikuti Lura, untuk meminta jawaban dari semua ungkapan lamarannya.
"Hen, kamu jangan kayak anak kecil begitu dech! Sudah ada kode di tolak masih aja kamu kejar, sudahlah kamu itu nyerah saja. Lura itu sudah punya ke kasih, jangan ganggu dia lagi," geram William yang tidak suka jika Henry terus menerus menggoda kekasihnya.
Apa Lura sudah punya kekasih tapi dia pernah bilang jika dia jomlo batin Henry.
"Honey, beneran kamu sudah punya ke kasih? Siapa yang beruntung memenangkan hatimu? Seperti apa orangnya pasti dia laki-laki yang sangat beruntung sekali, jika dia membuatmu terluka aku bersedia menjadi pelampiasan kamu atau aku jadi selingkuhan kamu juga mau. Ingatlah aku selalu ada di belakang kamu menunggu kamu sampai kapanpun," cerocos Henry.
"Aku bukan tipe wanita yang serakah, aku hanya cukup memiliki satu laki-laki yang berlabuh dihatiku tidak lebih. Bagiku satu saja sudah cukup merepotkan apa lagi dua," jelas Lura. "Kamu pantas mendapatkan wanita yang terbaik. Contohnya seperti Luna, aku ini hanya orang baru yang hadir di hidup kamu. Lagi pula aku juga sudah memiliki seseorang kekasih. Aku berharap kita bisa jadi teman terbaik bahkan kalau bisa jadia saudara yang baik bukan sepasang kekasih," ungkap Lura.
Kok aku dibawa-bawa di antara mereka sich, ya emang jelas aku menyukai Henry dari dulu. Kok Lura bisa tahu jika aku menyukai dia batin Luna.
"Baiklah, anggap saja aku sebagai kakakmu saat ini," kata Henry.
"Ok kakak Henry," tawa Lura dengan panggilan barunya.
"Ra, jangan panggil gitu dech geli rasanya. Kamu panggil biasa saja siapa tahu nanti kamu berubah pikiran sudah tidak jatuh cinta lagi dengan kekasihmu itu. Kita kan tidak tahu kalau dengan seiringnya waktu bersama kamu jatuh cinta denganku, maka aku masih memiliki kesempatan kedua," jelas Henry.
"Sudah tahu di tolak masih aja ngeyel ngak tahu malu banget kamu itu," ketus Luna.
"Benar itu kata kamu, Lun. Kalau aku jadi dia sudah di tolak ya pergilah ngak berharap lagi," imbuh William.
"Hen, kalau dengan seiringnya waktu bersama akan jatuh cinta maka aku akan jatuh cinta sama William. Kenapa jatuh cinta sama William ya karena kita sering bersama seperti yang kamu katakan. Sedangkan kamu jatuh cinta sama Luna," jelas Lura.
"Benar itu, Hen. Kamu jatuh cinta saja sama Luna, aku dengan Lura," tambah William. William langsung duduk di samping Lura dengan merangkulkan tangannya di bahu Lura lalu ia mendapatkan tatap sinis dari sang empu memberi kode untuk menjaga jarak.
.
.
.
Di dalam mobil perjalan pulang, William terus menerus menggenggam tangan Lura dengan salah satu tangannya.
"Wil, lepaskan tangammu itu! Kamu ini lagi mengemudi, jalan mulai rame ini," tegur Lura yang tidak ingin terjadi sesuatu.
"Biarkan begini, aku akan sangat merindukan kamu nanti. Jika aku pergi kamu baik-baik ya jangan nakal atau selingkuh dengan Henry."
Aku takut akan kehilanganmu Lura, tapi aku salah sudah tidak pernah jujur akan masa laluku tepatnya hubunganku yang masih berstatus tunangan wanita lain. Aku janji setelah aku pulang dari New York menyelesaikan masalah dengan Shintia aku akan jujur. Semoga nanti perasaan kamu masih tetap sama mencintai diriku pikir William dengan mengecap punggung tangan Lura.
"Rindu, kamu itu makin lama makin pintar gombal ya. Setiap hari juga ketemu masih aja rindu, kangen. Kamu itu pantas dapat piala oscar karena gombalan maut kamu. Lagi pula gimana aku bisa selingkuh dengan Henry kamu aja nempel terus denganku," ledek Lura.
"Lura, besok pagi aku akan terbang ke New York mungkin aku disana satu minggu untuk menyelesaikan beberapa masalah. Pasti aku sangat merindukan kamu, sejak mengenal kamu aku tidak bisa lepas dari ketergantunganmu. Kamu yang selalu menyiapkan semua kebutuhkanku dari isi perut sampai memakaikan dasi di kerah kemejaku," tutur William dengan mengacak-acak rambutnya frustasi.
Kalau aku menunda-nunda lagi pasti semakin lama semakin menimbulkan banyak masalah. Aku ngak ingin kamu membenciku yang berbohong, Lura.
"Kok pergi New York," ucap Lura. Ia shock mendengar jika kekasihnya akan keluar negeri secara mendadak padahal tidak ada jadwal bertemu klien atau masalah perusahaan.
"Aku hanya sebentar setelah masalah selesai aku akan segera kembali, cuma satu minggu saja. Doakan saja agar masalah disana cepat kelar agar aku bisa segera pulang untuk melamar kamu," jelas William.
"Wil, emang masalah apa? Aku ikut ya," rengek Lura. "Kamu kan biasanya selalu bawa aku kemana aja. Tapi, Wil, di perusahaankan tidak ada masalah kok kamu kesana emang ada apa sich?" cecar Lura yang penasaran.
Apa aku berterus terang saja pada Lura saat ini jika aku kesana untuk mengakhiri hubunganku dengan Shintia. Kalau aku jujur pasti Lura akan marah besar dan memutuskan hubungan denganku. Aku sudah terlanjur mencintai Lura, dia wanita yang berbeda tidak seperti wanita-wanita yang pernah aku kenal.
😍😍