NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Tetangga Cuek

Menaklukkan Hati Tetangga Cuek

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Karena Taruhan / BTS / Keluarga / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tinta Kuning

Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.

Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.

Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.

jangan lupa like dan komen 💛

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sepuluh

Aku terpingkal sampai terpleset melihat reaksi wajahnya saat kugombali. Wajahnya memerah sampai ke telinga.

“Mas dokter, mau nggak jadi pacar Dinda?” ucapku, setelah dia kupaksa membantuku berdiri dari terpleset.

“Tidak!” jawabnya cepat.

Aku seketika melemaskan bahu. Apa Aku terlalu cepat mengungkapkannya? Apa belum cukup kedekatan kita semalam untukmu, Mas Taehyung kw?

Padahal konser BTS tiga bulan lagi. Jika dia menolakku, itu berarti Aku harus tetap menyiapkan uang juga untuk nonton konser. Berbeda kalau dia menerimaku, Aku tidak perlu membawa uang satu sen pun! Kata Aira.

Kan lumayan.

“Mas dokter, pikir-pikir lagi dong, jangan gegabah. Kesempatan nggak datang dua kali loh!” Aku mengajaknya bernego. Aku mengekorinya yang sedang memasukkan kambing yang sudah dia mandikan ke dalam kandang. “Mas dokter, Kalau Mas jadi pacar Dinda, nanti Dinda buatkan klepon setiap hari deh.” bujukku.

“Berhenti bicara atau Aku tinggalkan?” katanya dingin, “Kalau bukan karena Ummi yang menyanggupi permintaan Ayahmu untuk mengurus kambing ini, Aku tidak akan mau sering-sering berduaan denganmu.” katanya kejam.

Aku menghela, lagi-lagi ternyata karena permintaan Ummi Lailatul.

“Tapi kita nggak berduaan, ada puluhan embek diantara kita,” bantahku dan itu membuatnya mendelik.

“Mas dokter, klepon—”

“Mulai sekarang Aku nggak mau lagi makan itu!” dia memotong ucapanku, lalu mendengus dan memandikan kambing juga domba dengan cepat dalam diam.

Aku mengerjap dengan jawabannya, wah dia sungguh-sungguh tidak mau gaes!

Tak apa, masih ada Ummi Lailatul yang bisa Aku mintai tolong untuk menjadi perantara hubungan kami. Eaa...

“Dindaaa... ”

Aku sangat kenal suara itu. Dan langsung menoleh ke arahnya yang tengah berjalan mendekatiku.

“Kamu sudah sembuh?” tanyanya dengan raut wajah khawatir, “Aku baru aja lihat dari story, tangan kamu sedang di infus, kamu sakit?”

Ah iya, Aku memang sempat membuat story semalam sebelum tidur.

Aku mengangguk sekali, menunjukkan punggung tanganku yang ada plester kecil bekas infus semalam. “Aku sudah sembuh,” mataku beralih menatap dua plastik yang dia bawa, “Apa itu, Gas?”

“Ini mie ayam dan snack kesukaan Dinda.”

Mataku seketika berbinar, satu plastik besar hanya berisi snack! Ini adalah surga dunianya Kim Dinda. Bagas memang paling mengerti diriku.

Pun Aku memang sedang ingin makan makanan ini, karena sudah bosan hanya makan buah dan makanan orang sakit. Aku mengambil satu chiki berukuran besar untuk kumakan sekarang juga, dan plastik-plastiknya tetap kusuruh Bagas yang bawa.

“Terima kasih, Gas. Lo memang yang paling mengerti mbak. Ayo kita duduk di teras.” Aku mengajak Bagas, kutinggalkan begitu saja manusia yang sudah menolakku tadi.

Huh! Sok banget sih.

Asal dia tahu, mie ayam lebih penting dari pada dia.

“Kemarin malam Aku ke sini, tapi rumah Dinda sepi. Cuma ada suara kambing bersahutan waktu Aku datang.” ujar Bagas.

“Oh ya? Ngapain juga malem-malem lo ke sini?” tanyaku setelah menjilat ujung jariku bekas bumbu chiki.

“Mau ngajak Dinda ke pasar malam.”

Aku menghentikan langkah, menoleh ke samping menatap Bagas. “Pasar malam? Serius?”

Dia mengangguk singkat, “Iya Dinda. Dan malam ini, malam terakhir.”

Mataku membola, “Terakhir? Kita harus pergi, Gas. Nanti mbak akan ajak Aira juga.” kataku menggebu.

Bagas meletakkan plastik mie ayam ke atas meja, dan plastik snack dia letakkan di kursi kosong. Tangannya cekatan membuka box mie ayam untukku.

“Kenapa belinya tiga?” tanyaku.

“Dinda ‘kan suka kurang kalau cuma satu porsi.” katanya membuatku sumringah, Aku tepuk pelan kepalanya.

Adik yang pintar.

Aku dan Bagas mulai makan mie ayam favorit kami sembari mengobrol ringan.

“Pokoknya nanti malam Aku mau main Tong setan.”

“Jangan Dinda, nanti kamu kenapa-kenapa gimana? Terus Bagas nggak diizinkan lagi main sama Dinda.”

“Ya, lo jangan do'ain yang nggak-nggak makanya, Panjul!”

Ditengah-tengah serunya obrolanku dan Bagas, manusia kulkas menarik kursi dan duduk di sampingku. Dia mengambil mie ayam tambahan milikku.

“Hei, itu punyaku!” Aku mau merebut box mie ayam itu, tapi gerakan tangannya menghindar lebih cepat.

“Aku juga lapar habis memandikan puluhan kambing dan domba milik Ayah.” ucapnya sembari mengaduk mie ayam.

Apa katanya tadi?

Ayah? Dia memanggilku Ayahku, hanya Ayah?

Sok akrab!

Aku dan Bagas saling pandang sesaat. Kami berdua hanya memperhatikan manusia kulkas itu makan mie ayam milikku hingga tandas.

“Apa tidak ada minumnya?” katanya.

Bagas mengambil air mineral botol dalam plastik snack. “Ini, Om.” kata anak kecil itu.

Aku tertawa puas melihat ekspresi wajah manusia kulkas saat Bagas memanggilnya Om.

“Kenapa kalian diam saja?” ucapnya dengan alis terangkat. “Silahkan dilanjutkan makan kalian.”

Aku dan Bagas melanjutkan makan mie ayam kami yang tinggal sedikit.

“Dinda masih mau? Bagas belikan lagi ya?” tanya Bagas. Dia bertanya perihal mie ayam, karena punyaku satu lagi sudah dihabiskan oleh manusia kulkas.

“Nggak papa, Gas. Nggak usah, ‘kan masih ada chiki dan coklat.” jawabku santai.

Manusia kulkas berdiri dan membawa box kosong bekas mie ayam miliknya juga plastik besar berisi snack—

“Hei! Itu mau di bawa ke mana?”

“Kamu belum boleh makan ini.” katanya enteng.

Aku? Tentu saja Aku kesal. Rasanya ingin Aku lempar Bagas ke arahnya.

“Dinda, kalian pacaran ya?” selidik Bagas dengan wajah sendu. “Dia yang ada di wallpaper hape kamu ‘kan?” dia bertanya lagi hal yang sama.

Aku terdiam, perlahan menoleh ke arah Bagas yang menundukkan wajahnya.

“Dinda, kenapa kamu nggak mau jadi pacarku waktu Aku nembak kamu? Kamu bilang, masih belum bisa ngelupain mantan kamu, dan takut nyakitin Aku. Tapi nyatanya sekarang kamu tetap nyakitin Aku, Dinda.” ucapnya lirih.

Aku menggaruk dahiku, “Gas, waktu kamu nembak mbak, kamu itu masih sekolah.” Aku menelan saliva menjeda ucapanku, “Untuk mantanku, Aku sudah berusaha melupakannya.”

“Tapi kenapa kamu malah nerima dia? Bukan bilang denganku, Dinda? Apa karena Aku nggak seganteng dia?”

“Gas, tenangin diri lo—”

Dia menggeleng, “Aku akan bawa Papa untuk melamar kamu secepatnya.” katanya, dan pergi setelah mengatakan itu.

“Gas!” panggilku.

Dia berhenti, tapi tidak menoleh.

“Nanti malam jadikan?”

Aku lihat dia menghela, baru menjawab.

“Nanti Aku jemput bareng mbak Aira.” jawabnya dan benar-benar pergi.

Aku menyandarkan punggungku di sandaran kursi. Bagaimana jika Bagas benar-benar membawa Papanya melamarku? Semoga saja itu tidak terjadi, sebab Mamanya Bagas tidak suka denganku.

Aku teringat kembali dengan snack-ku. Ah, lelaki itu sungguh-sungguh menyebalkan.

Aku mengambil kunci rumah di tempat rahasia yang hanya Aku dan Ayah Ibu yang tahu. Aku akan mandi setelah ini—ah tidak, tidur dulu sebentar baru mandi. Mumpung tidak ada Ibu Elyana di rumah.

\*

Sampai sore Aku hanya di rumah, makan seadanya yang sudah Ibu siapkan dalam kulkas dan Aku hanya perlu memanaskannya di microwave.

Ibu mengirimkan pesan kalau belum bisa pulang dan menyuruhku bermalam lagi di rumah Ummi Lailatul, karena keluarga yang meninggal baru di makamkan ba'da ashar tadi. Jadi Ayah dan ibu baru bisa pulang besok pagi, agar sampai rumah tidak terlalu malam.

Sebelum ke rumah Ummi Lailatul, Aku memberi makan embek terlebih dahulu dan mandi, tidak lupa semua pintu Aku pastikan tertutup rapat dan terkunci.

Tidak ada Aaliyah dan Aisyah, rumah besar Ummi Lailatul terasa lebih sepi. Tidak ada yang bisa Aku ajak bicara setelah kedua gadis itu pergi, Ummi Lailatul pun akan mengisi pengajian setelah maghrib, jadi beliau juga pergi sebelum maghrib.

Tinggal Aku sendiri di rumah besar ini ditemani para ART-nya Ummi Lailatul. Aku memilih menunggu adzan maghrib di balkon tempat kamarku menginap.

“Itu kamarku ‘kan?” Aku bergumam. Aku terkekeh melihat warna cat jendela kamarku berwarna kuning yang berbeda sendiri dari jendela kamar lain berwarna putih.

Aku adalah pecinta kuning.

“Kalau nggak salah kamar sebelahku adalah kamarnya manusia kulkas?” Aku seketika menutup mulutku. “Apa dia pernah melihatku?”

Sebab Aku sering hanya memakai handuk saat berdiri depan jendela sembari mengeringkan rambut. Dan posisi kamarku sangat terlihat jelas dari balkon ini, bahkan sepertinya terlihat sampai keisi-isinya!

Nanti saja memikirkannya, mudah-mudahan suatu saat Aku bisa masuk ke dalam kamar manusia kulkas untuk membuktikan bahwa tebakanku salah.

Aku masuk ke dalam kamar saat mendengar adzan untuk melaksanakan shalat, lalu tadarusan sampai isya.

Ting!

Pesan dari Bagas, dia mengabari bahwa dirinya sudah di depan rumahku bersama Aira.

Aku menyambar hoodie-ku dan memakainya sebagai pengganti jilbab, lalu segera bergegas turun ke bawah. Sebelum keluar rumah Aku berpamitan terlebih dahulu dengan salah satu ART dan meminta sampaikan dengan Ummi Lailatul jika wanita paruh baya itu pulang dan mencariku.

Aku berjalan mengendap mendekati keduanya, mereka tidak tahu bahwa Aku bukan di rumahku.

“Duarrr!”

Keduanya terkejut dan mengumpat saat Aku mengejutkan mereka, sedangkan Aku tertawa jahat.

“Dinda, maksudnya apa kamu ngajak dia?” kata Bagas dengan wajah masam.

Aku menaikkan sebelah alisku, dan menoleh ke belakang.

\*\*\*

1
Sari Saputri
kim Taehyung kw sang suami antah berantah (kata kim dinda) tolong jangan membuat usaha kim dinda sia2 😄
Tinta Kuning: perang part 2 wkwk
total 1 replies
Sari Saputri
abi mertua tau aja kesukaan menantu nya
Sari Saputri
woaahahahahahaa...🤣
Sari Saputri
Eaaaa.... kim dinda tolong di ingat2 /Joyful/
Fitra Sari
lanjut donkk
Tinta Kuning: wait...
total 1 replies
Sari Saputri
derita suami kedua, kim Taehyung segala galanya mas dokter kim Taehyung kw tolong maafkan kim dinda🤭 di mohon sabar dan ikhlas nya
Sari Saputri
tamu yang di usir 🤣
Sari Saputri
si pacar posesif dan si pacar yang menuruti semua kemauan asal senang
Sari Saputri
sat set sekali Aira dan kak jonie dah langsung pacaran aja
Sari Saputri
kim Taehyung kw sudah bisa gombal-gambil yahh sekarang. semakin hari apakah semakin tergodakah kim dinda 🤣
Sari Saputri: kim Taehyung meresahkan 😄
total 2 replies
Sari Saputri
jadilah pasien teladan kim dinda 🤭
Sari Saputri: mon maaf kim dinda di
total 2 replies
Sari Saputri
Allaahu Akbar 😄
Sari Saputri
ingat kim dinda, kamu wanita bersuami
Tinta Kuning: wkwkwkkw 🤣
total 1 replies
Sari Saputri
kasihan kim dinda gak bisa mengekspresikan ke absurd nya hanya mengandalkan jempol itupun di kalahkan langsung oleh kelingking ibu El 🤣
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
Sari Saputri: hayuklah, gaskeun thor
total 2 replies
Sari Saputri
hahahahahaa.... iya lagi 🤣
Sari Saputri
ciyyeeee kim dinda di gendong mas dokter kim Taehyung kw, lanjut lagi thorr...
double up dong😍
Sari Saputri: /Heart/
total 2 replies
Sari Saputri
aaiisshhhh.... kalau masalah duit gak bisa di tolak 🤣
Sari Saputri
hahahaaaa.... maafkan readermu ini yah author yang selalu hahahahaaa... tiap baca kim dinda
Tinta Kuning: takpa takpa, di sini Kim Dinda memang hadir untuk menghibur para readers🤭
total 1 replies
Sari Saputri
baru engeh yang satu dokter khusus pria dan yang satunya khusus wanita 😄
Sari Saputri
TO THE POINT sekali kamu kim dinda, apakabar Aira tetiba langsung di sodori kim dinda untuk jadi pacarmu 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!