"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Yang Pertama
Keduanya sudah sampai di restoran untuk makan siang. Sebelum masuk ke dalam Bella menarik tangan suaminya untuk bicara.
"Eum apa boleh aku meminta ponselku? Aku harus menghubungi Natasha, dia sahabatku sekaligus orang kepercayaan ku. Dia juga yang mengurus semua pekerjaan ku, tolong." Ucap Bella memelas dengan tatapan memohon.
Dariush menoleh dan menghela nafasnya. "Okee kamu boleh pegang ponselmu, dengan satu syarat."
"Apa?"
"Aku ingin ini." Telunjuk jari Dariush menunjuk bibir kenyal istrinya.
"Kan setiap hari kamu mencium ku, mau apa lagi?" Gerutu Bella yang sudah memanyunkan bibirnya.
"Aku ingin yang lebih." Tutur Dariush.
Bella menatap lekat bola mata nan tegas itu dan mengikis jaraknya. "Seberapa ingin?"
"Sangat."
Bella tertawa kecil "Ayo aku sudah lapar." Dengan tertawa kecil, Bella duluan masuk ke dalam. Suaminya mengikuti dari belakang. Mereka duduk dan memesan makan siang.
Mata Bella tak henti memandang setiap ornamen dinding restoran ini. "Bagus sekali, kamu pasti sering kesini bersama wanita kan?" Tanyanya penasaran.
"Iya, kamu wanita pertama dan satu satunya yang aku bawa ke sini, Arabella."
DEG
"Jangan bikin geer, Dariush!"
Dariush tersenyum kecil dan menggenggam tangan istrinya lalu mencium punggung tangan istrinya. Satu tangannya merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan kotak kecil berisikan gelang berlian.
"Ini_"
Dariush berdiri dan mendekati sang istri, dia memakaikan gelang berlian itu ke pergelangan tangan istrinya, ia juga mengecup kepala sang istri. "Cantik."
Jantung Bella seakan mau copot tangannya menyentuh gelang itu. Pertama kalinya ada pria gentle seperti Dariush. Dia tak bisa berkata apa apa. Bella hanya tersenyum manis, dia tidak munafik hatinya bahagia mendapat perlakuan manis ini.
"Hmm kamu ingin merayakan pernikahan kita dimana? Di sini atau di negara mu?" Tanya Dariush.
"Di negara ku. Aku ingin semua orang tahu kalau suamiku mafia." Tutur Bella dengan berbisik kecil penuh arti. Dariush berdecak sebal, bukan itu maksud tujuannya.
"Hmmm."
Selesai makan siang Dariush membawa istrinya ke penthouse mewah di tengah kota Milan. Cukup panjang perjalanan mereka hingga Bella ketiduran di pundak suaminya.
"Sudah sampai, honey." Ucap Dariush.
Namun Bella tidak bangun juga mungkin dia kelelahan. Dariush meminta Fabio membawa beberapa baju ganti dan makanan ringan.
Dia menggendong istrinya ke dalam penthouse-nya. Lalu merebahkan istrinya ke kasur. "Sudah sampai babe."
"Eugh...aku dimana?" Bella melenguh dia membuka matanya dan duduk bersandar di pinggiran kasur. Dariush duduk di sebelahnya dia membelai wajah teduh istrinya yang natural saat bangun tidur.
Dia mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri dan mencium lembut bibir manis yang sekarang jadi favoritnya. "Hmmmp_"
Bella juga tak menolak justru dia inisiatif duduk di atas paha suaminya. Tangan Dariush meremas b*kong sang istri penuh nafsu, hasratnya sudah menggebu. Bella melepas kan tautan itu. Dan mengusap bibir suaminya.
"Mau apa hmm?"
Dariush tersenyum kecil. "Aku mau kamu seutuhnya, Arabella." Jawabnya.
"Aku belum mencintaimu, Dariush." Lirih Bella dengan mata sendunya.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku."
"Coba saja." Tutur Bella tertawa kecil. Dia turun dari pangkuan suaminya dan berjalan ke arah jendela kaca yang besar.
"Indah sekali disini."
Dariush menghela nafasnya dia mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang sambil mencium pipinya. "Sudah seperti ini kamu belum mencintaiku?"
"Hmm...aku bukan wanita yang mudah jatuh cinta dari dulu. Berusahalah mendapatkan cinta itu." Jawab Bella datar tanpa menoleh, pandangan matanya tetap pada jendela kaca itu.
Keduanya terdiam baik Bella atau Dariush tak ada yang bicara lagi. Mereka larut dalam pikiran masing masing masih di posisinya yang tak berubah.
Tangan Dariush yang melingkar diperut istrinya merasa ada air yang menetes. "Kamu menangis?"
"Hmm!"
"Kenapa?"
"Aku rindu pekerjaanku, aku rindu negaraku. Ini bukan tempatku. Disini aku merasa asing. Sepertinya Tuhan sedang menghukumku karena kebodohanku. Aku terkurung di sini. Aku_" Ucap Bella tersenyum getir dengan bibir gemetar.
Dariush mengernyitkan dahinya dia nampak berpikir akan perkataan istrinya.
"Aku tidak akan mengurungmu lagi. Kita akan menjalani pernikahan ini seperti pada umumnya."
Bella berbalik menatap lekat bola mata suaminya yang indah dan bulat. "Huft! Aku nggak tahu apa apa tentang suamiku. Setiap bangun tidur aku berharap kalau aku udah di surga. Aku benci sama keadaan ini." Lirihnya dengan isak tangisnya.
Sikap tenang Dariush tak menjawab apa apa. Tangannya mengelus pipi istrinya yang sudah basah.
"Lepaskan aku, tolong." Ucap Bella dia merosot ke bawah Dariush dan memohon bahkan berlutut.
"Aku tidak akan melepaskan mu, Arabella. Kamu istri sah ku." Dariush membawa Bella berdiri dan memeluknya erat. Namun sang istri nampaknya tak bergeming. Dia pasrah akan keadaan ini.
"Lepaskan aku, Dariush!"
Bukannya di lepaskan pelukan itu namun Dariush justru mencium bibir istrinya lagi, dia menangkup wajah cantik itu dan meraup semua bibir istrinya. Bella mau tak mau membalas ciuman suaminya meskipun hatinya perih.
Ciuman itu makin menuntut, tangan Dariush membawa istrinya ke kasur. Mata Bella terpejam merasakan setiap sentuhan suaminya.
Tangan Dariush membuka dress yang dipakai istrinya, lalu melemparnya jauh. Ia juga membuka dasi dan kancing kemejanya.
Dengan berani bibir Dariush mulai menyesap melahap melumat gunung kembar sang istri. Bella tak menolaknya kali ini, ia justru mendesah merasakan sensasi yang luar biasa. Matanya sayu menikmatinya. Tangannya meremas sprei hingga kukunya putih.
"Ahhh..."
Seketika Bella menginginkan Dariush menyentuhnya. Padahal Bella tadi sudah memohon dilepaskan. Entah apa yang terjadi saat ini. Namun sepertinya Bella akan menikmati moment terakhirnya sebelum dia mati.
Tubuh Bella sudah polos, matanya terpejam merasakan gejolak hasrat dari suaminya. Dariush menyeringai kecil memandang keindahan didepan matanya.
Badannya yang tegap atletis ditambah tatto dan bulu halus membuat Bella menelan salivanya. Dariush sangat pintar memanjakan istrinya dia memberikan sentuhan sentuhan di titik sensitive sang istri.
"Ahhhh ssssh...!" Bella terus mendesah ketika ciuman suaminya turun ke perut dan ke lembah nirwana.
Kepalanya mengadah ke atas tangannya meremas lembut rambut suaminya. Dariush sangat lahap menyantap makanannya.
Lidahnya terus bergerak di dalam sana dengan satu jarinya. Akhirnya Bella merasa kan pelepasan pertamanya dalam hidupnya.
"Cukup Dariush aku_aku ahhh...!"
"I love you, Arabella." Ucap Dariush dengan suara paraunya yang serak.
DEG
Seketika mata Bella tertegun menatap suaminya. Namun ia enggan menjawabnya karena hatinya memang belum mencintai Dariush.
Dariush melanjutkan lagi kegiatannya. Junior gagah perkasa itu sudah siap memasuki lembah nirwana. Tenggorokan Bella tercekat kala melihat pusaka yang kokoh dan besar itu karena ini pertama kalinya.
"Tunggu!" Ucap Bella dengan menahan dada bidang suaminya.
"Kenapa?"
"Apa itu bisa masuk?" Bella menunjuk junior yang sudah menegang. "Kita coba!" Jawab Dariush.
"Eugh...!" Dariush mencoba memasukannya namun sangat susah. "Kenapa susah sekali? Jangan jangan dia masih_" Gumamnya sambil melihat istrinya merintih.
Dengan sekali hentakan Dariush berhasil menjebol gawang istrinya. Dari lembah itu keluar cairan merah mengucur. Tangan istrinya mencengkram kuat punggung suaminya.
"Sa-sakit Dariush...perih..." Bella meringis bahkan air matanya keluar. Kakinya memekik dan di dalamnya seperti ada yang robek.
"Terima kasih sudah menjaganya untukku sayang." Dariush mengecup kening istrinya lama. Dia mendiamkan dulu juniornya. Di rasa sudah membaik dia melanjutkan lagi.
"Memang biasanya wanita yang kamu tiduri tidak perawan?" Jawab Bella di sela sela rintihannya.
"Kamu yang pertama untukku, Arabella!"
Ritme yang tadinya pelan lama kelamaan menjadi cepat. Bella juga sudah menikmati permainan suaminya. Desahan demi desahan lolos dari bibir mungil Bella.
Keduanya bermain sangat lama di atas kasur. Bahkan mereka sudah berganti posisi dan mencoba berbagai gaya.
"Argh...!"