Karena terlilit hutang, Lucia harus rela menjadi pelayan di sebuah mansion dan mengabdikan dirinya pada pria yang menjadi tuannya. Bukan hal mudah untuk Lucia bekerja di sana, tuannya adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di Madrid.
Louis nama pria yang mendapat julukan jaguar hitam. Dengan masa lalunya yang kelam, dia membunuh tanpa kasihan. Hatinya dingin tidak tersentuh, hanya ada kekejaman dalam hidupnya.
Lucia mencoba tidak terlibat apa pun dengan Louis. Sayangnya, malam yang kelam memaksa Lucia menerima semua benih dari Louis. Sampai akhirnya Lucia hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alianna Zeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
La Señorita 26 : Quedate conmigo
Vote sebelum membaca😘😘😘
.
.
"Jadi kau akan marah padaku hanya karena membunuh pelayan itu?" Kakinya melangkah lebar hendak menangkap Lucia yang berjalan lebih dulu. Begitu mereka sampai di ujung tangga lantai dua, tangannya menarik Lucia hingga dada mereka hampir beradu. "Mereka merendahkanmu."
"Dan satu-satunya cara dengan membunuh mereka?"
"Aku melakukannya untukmu."
"Dan aku tidak suka dengan fakta itu!" Lucia mengibaskan tangan lalu berjalan meninggalkan Louis, dia masuk ke dalam kamar dengan amarah yang masih dipendamnya. Gila rasanya jika dia melihat seseorang mati setiap hari, membuatnya mual hingga akhirnya Lucia berlari memuntahkan isi perutnya.
Tidak ada yang keluar dari mulutnya, tapi rasa mual itu membuatnya ingin memuntahkan. Hal yang membuat Lucia lebih baik adalah pijatan di belakang lehernya, usapan di punggung dengan kalimat, "Ayo ke dokter."
Lucia menggeleng, dia menutup closet dan duduk di sana. Tanpa berpikir panjang, dia menyandarkan kepalanya di perut Louis, membuat pria itu mengusap rambut pirang Lucia. "Ini parah, kau harus ke dokter."
"Jangan bunuh siapapun lagi, hargai nyawa orang lain, Señor, mereka ingin hidup."
"Hidup mereka tidak berharga, itu sebabnya aku membunuh mereka."
Kalimat yang membuat Lucia tertawa hambar, dia mendorong tubuh Louis hingga menjauh, dan Lucia bisa menatap mata hitamnya. "Serius?"
"Kita bicara di luar."
"Aku tidak mau! Kau bajingan gila pembunuh yang menembakan senjata sesukamu! Kau--Aaaa!" Lucia menjerit kaget saat Louis menggendongnya di punggung, betapa kuatnya rontaan pemilik manik biru itu, Louis tetap lebih kuat.
Dia menurunkan Lucia tepat di tengah ranjang, sedetik sebelum Lucia berontak, Louis menahan kedua tangan perempuan itu di atas kepala. "Berhenti berontak, kau menyakiti dirimu sendiri."
"Kau menyakitiku, lepaskan aku."
"Kalau kau ingin bicara, bicara sekarang."
Rontaan mulai reda, Lucia memejamkan mata sambil menarik napaa panjang. Dia membuka mata menatap pria yang masih berada di atasnya, mengunci pergerakannya. "Aku takkan melepaskan, cukup mulutmu saja yang bergerak."
"Berhenti membunuh di depanku, itu membuatku mual."
"Aku membunuh untukmu, Lucia."
"Hargailah nyawa orang lain, Louis, kau tidak tahu seberapa pedihnya kejadian yang telah mereka lewati," ucap Lucia masih berusaha melepaskan tangannya, tidak sakit, tapi membuat pergerakannya tertahan.
"Hidup mereka tidak berarti, itu yang membuatku membunuh mereka."
"Kau bukan Tuhan yang bisa memutuskan."
Louis menyeringai. "Tuhan lebih menyayangi mereka, mengharuskan aku membunuh."
"Louis!"
"Mereka dijual oleh orangtua mereka, Lucia, membayar utang, rela dijadikan budak."
"Maka lihat dari arah mereka," ucapnya dengan suara tercekat, mengingat bagaimana perjuangan dirinya kala itu. "Mereka ingin hidup yang lebih baik."
"Aku menyarankan mereka mati muda daripada menjadi budak untuk selamanya."
"Kau membuatku mual."
Kembali lagi, Louis dibuat terkekeh, dia menunduk hingga kepalanya hampir menyentuh ceruk leher Lucia. "Kau menyukaiku, dan aku membalas perasaanmu dengan itu." Dia kembali menegakan kepala. "Dan berhenti berdebat, lain kali aku akan membunuh dibelakangmu."
Mulut Lucia tertutup kembali saat hendak bicara, Louis pergi ke walk in closet tanpa memandangnya. Terlihat pria itu mengambil dasi berwarna abu, memakaikannnya dalam hitungan detik. "Mandi dan bawa Louisa keluar."
"Ini musim panas, mana ada sekolah yang buka?"
Sesaat matanya beradu dengan Lucia yang kini duduk, gaun tidurnya yang terangkat menarik perhatian Louis. Tahu apa yang dilihat pria itu, Lucia segera menutupnya dengan bantal. "Perhatikan matamu."
"Lee suka camping, di sana ada summer camp, dia pasti akan suka."
"Memulaimya dari pertengahan? Aku rasa itu bukan ide yang bagus."
"Berhenti beropini, bawa Louisa ke sana dan biarkan dia yang memutuskan."
Lucia memajukan bibir, merasa diabaikan. Apalagi Louis pergi begitu saja tanpa mempedulikannya. Membuat Lucia selalu mengira kalau yang ada dipikiran pria itu hanyalah Louisa dan Penelope.
Ketika mandi, Lucia lebih banyak diam. Mencoba melupakan hal gila, pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini. Bagaimana Louis seringkali mengotori tangannya, membuat Lucia takut akan masa depan putrinya.
Dan di lantai satu, Louisa sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya. Senyuman menghiasi wajahnya, serta dua orang wanita berkaos hitam yang berjaga di sekitarnya. Lina dan Mei yang dimaksudkan Louis.
"Mum?! Lihat apa yang Lee buat," ucapnya berlari mendekat dan memberikan selembar kertas dengan gambar mawar di sana. "Cantik 'kan?"
Lucia berjongkok, dia mencium pipi putrinya. "Ini sangat cantik, Sayang."
"Kami yang akan mengawal anda ke pusat kota, Señorita, anda bisa sarapan di luar. Jadwal kali ini cukup padat, Señorita Louisa harus memeriksa kesehatan lalu pergi untuk perawatan rambut, setelah i--"
"Berhenti berucap, Mei," ucap Lucia berdiri, dia mengambil kertas yang dipegang wanita itu. "Aku yang akan mengurus jadwal Louisa, aku akan bicara pada Louis."
"Sí, Señorita."
Lalu tangan Lucia terulur pada putrinya. "Ready to go?"
"Yaa," ucapnya dengan wajah bersinar, mereka melangkah keluar mansion. Lucia memberi tatapan terima kasih pada wanita paruh baya yang merupakan psikiater. Dengan menggendong putrinya, Lucia mendekat pada Andrean lebih dulu. "Terima kasih, Andrean."
"Untuk apa, Señorita?"
"Semuanya, aku akan meminta pada Louis untuk kebebasanmu."
Andrean tersenyum, dia menunduk sesaat sebelum berkata, "Aku senang mengabdikan diri pada Señor Louis, Señorita. Aku permisi." Dia segera mendekat pada seorang yang membawa bahan makanan.
Lucia segera melanjutkan perjalanan, sepertinya Andrean memang sibuk. Mereka menaiki mobil hitam yang berbeda dari milik Louis, lebih tinggi dan juga luas. Lina dan Mei di depan, sementara dirinya dibelakang bersama Louisa.
"Anda ingin sarapan dimana, Señorita?"
"Dimana kau ingin makan, Lee?" Tanya Lucia pada putri yang ada di gendongannya.
"Bagaimana dengan roti labu?"
"Kau tahu tempatnya, Mei?"
"Ya, ada di pinggir jalan, tidak masalah, Señorita?"
"Tentu."
Tidak lama mobil itu membelah jalanan yang mulai tersinari cahaya matahari terik, berhenti di pinggir jalan. "Biar aku saja yang turun," ucap Lucia mendahului Mei.
Diikuti Lina, mereka mendekati pedagang pinggir jalan yang menjajakan roti labu. Aromanya sungguh membuat Lucia kelaparan. Dia memesan 6 biji, roti yang sebesar kepala Louisa membuat anak itu terpana. "Itu begitu besar, Mum."
Pria tua yang menjadi pedagang itu tersenyum, dia memberikan sekantung roti yang beraroma wangi. "Terima kasih, Tuan."
Jarak dari mobil dan penjual cukup jauh, mereka harus berjalan di trotoar. Beberapa meter menuju mobil, Louisa berhenti tepat di depan tunawisma yang tertidur. "Mum, kasihan dia, bagaimana kalau kita beri makanan?"
Lucia mengangguk menyetujui, dia memberikan dua roti labu pada putrinya.
Saat Louisa menaruhnya di dekat tunawisma yang tertutup koran itu, dia terbangun. "Maaf, Nyonya, aku hanya ingin memberimu sarapan."
"Terima kasih, Señorita."
Tubuh Lucia menengang, suara ini tidak asing baginya. "Monica?"
Lalu tunawisma itu mengangkat pandangannya, dia sama terkejutnya ketika melihat Lucia yang terlihat cantik, berpenampilan layaknya nyonya. "Lu… lucia?"
***
*Seorang anak laki-laki, berusia lima tahun menyusuri gelapnya gang sempit yang becek. Gerimis tidak menyembunyikan air matanya yang jatuh, terisak sambil memeluk dua buah roti yang dibungkus koran.
"Hei, perhatikan jalanmu!" Teriak seorang pria mabuk saat anak itu tidak sengaja menabraknya.
"Maaf, Señor," ucapnya kembali melanjutkan perjalanan sambil menahan air matanya untuk tidak keluar.
Tempat kumuh di pinggiran kota Madrid, dikerumuni oleh orang-orang gila akan alkohol. Pemilik manik hitam itu berhenti di depan rumah kayu, jendelanya tertutup kayi tambalan, hampir roboh jika tidak disangga bangunan di sampingnya.
Salah satu tangan mungilnya mengetuk pintu beberapa kali. "Mama Rosita? Louis pulang…"
Tidak ada jawaban dari dalam, selama beberapa menit anak itu diam di sana sambil memanggil-manggil nama ibunya. Dinginnya udara, gelapnya malam membuat rasa laparnya semakin menjadi-jadi. Dia memilih duduk di teras kecil, yang bahkan basah oleh air hujan, tidak ada atap untuknya berteduh.
Pemilik manik hitam itu memakan roti di tangannya dengan lahap, tanpa tersisa sedikitpun. Satu hal yang bisa membuat rasa hausnya hilang, tangan mungil itu menampung air di tangannya lalu meminumnya.
Tidak lama setelah itu, pintu rumah terbuka, menampilkan wanita gemuk, tapi wajahnya masih terlihat cantik.
"Mama?"
Suara yang dibencinya, wanita itu menatap Louis kecil yang datang ke arahnya. Sebelum dia berhasil memeluk ibunya, wanita itu mendorong kepala Louis cukup keras hingga dia terjatuh. Tubuhnya terbalur oleh lumpur basah. "Mama…"
"Kenapa kau masih di sini? Pergi dan cari ayahmu, aku tidak sudi membesarkanmu seorang diri, pergi sana!"
"Tapi ini sudah malam, Mama," ucapnya sambil menangis, dia mengusap pipinya yang teraliri air mata dengan tangan yang penuh lumpur, membuatnya belepotan. "Louis ingin tidur."
"Tidur di tempat ayahmu, cari dia! Pergi sana!"
"Louis tidak tahu dia dimana," ucapnya kembali berdiri.
Rosita kembali mendorongnya kuat saat Louis hendak memeluknya. "Maka dari itu cari! Jangan ganggu hidupku, dia yang membuatmu ada, sekarang pergi!"
Tangisannya semakin keras, bocah berusia lima tahun itu ditarik paksa oleh ibunya untuk menjauhi rumah. Melewati beberapa gang hingga akhirnya berakhir di pembuangan sampah. Tanpa kasihan, wanita itu melempar putranya, meninggalkannya di dekat tumpukan tong sampah dengan air hujan yang semakin rapat.
"Mama…." Louis kecil memanggil, kakinya yang sakit membuatnya tidak bisa melangkah pergi. "Mama, Louis takut….."
Seketika matanya waspada saat mendengr suara geraman, Louis melihat ke sana ke mari, dia berusaha berdiri dan mencari asal suara dengan penuh ketakutan. Matanya membulat saat mendapati sebuah jaguar hitam yang terluka, berada diantara sampah plastik hitam membuatnya hampir tidak terlihat.
Namun, Louis dengan jelas melihat bagaimana jaguar itu berdarah, memiliki luka tembak di kaki. Nalurinya menyuruh untuk berjalan mendekat, ingin menyentuh luka itu.
Awalnya, jaguar menggeram tidak menyukai kedatangan bocah berusia lima tahun itu. Namun, saat tangan Louis menyentuh kaki jaguar hitam yamg terluka, geramannya mereda dan digantikan dengan suara rintihan.
Louis duduk di sampingnya. "Tidak apa, aku akan menemanimu," ucapnya memeluk jaguar itu.
Mereka seakan terhubung, makhluk buas itu membalas pelukan Louis, membiarkannya tertidur dengan dirinya menjadi bantalan. Di bawah guyuran hujan, langit menjadi saksi bisu bagaimana keduanya terhubung, bagaimana bocah bernama Louis itu memiliki luka yang mendalam, baik fisik maupun batin*.
.
.
Manik hitam itu terbuka seketika, keningnya berkeringat mendapati mimpi yang menjadi masa lalunya. Louis memejamkan matanya kembali, sembari memijatnya pelan. Mimpi yang selalu menguatkannya, mempertahankan apa yang didapatkannya. Dia menatap ke sekeliling ruangannya, matahari terasa berpindah cepat, padahal dia merasa mimpinya sangat singkat.
Dia mendapat pesan dari Lucia.
12.01
Louisa'S Mum : Dia tidak ingin ikut camp, aku membawanya berkeliling kota.
Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Louis segera bangkit dari duduknya, dia memakai jasnya dan melangkah keluar dari ruangannya. "Kosongkan jadwal," ucapnya ketika melewati sekretaris.
Bukan hal aneh jika Louis mengabaikan sapaan bawahannya. Bertemu dengan banyak orang membuatnya malas, itu sebabnya dia memilih menaiki lift yang dikhususkan untuknya. Mengarah langsung pada basement.
Saat melangkah mendekati mobil satu-satunya di lantai itu, Louis mendapat panggilan. Dia memakai earpiece sambil mengemudi. "De La Mendoza here."
'Señor, ada FBI berjaga di sekitar rumahku.'
"Ricco?"
'Apa yang harus aku lakukan?'
"Hentikan perdagangan untuk sementara, buat mereka sibuk di bagian lain, pancing supaya pergi ke sana."
'Sí, Señor.'
Sebenarnya, bagi Louis tidak ada yang berubah jika Dioses La Asesinos hilang. Dia mungkin akan kehilangan sebagian harta, tapi tidak semuanya. Bisnisnya di real estate yang kini mulai merambat ke taman hiburan untuk putrinya cukup menghasilkan banyak uang. Namun, jika Dioses La Asesinos benar-benar tertangkap, dirinya akan terseret sebagai oknum yang menjatuhkan kesejahteraan rakyat, merugikan pemerintah dan berakhir dengan urusan penjara.
Louis tidak menginginkannya, dia perlahan mulai mencari cara untuk tidak melibatkan keluarganya.
Sesampainya di toko "Jewel and Diamond." Louis turun, dia disambut oleh pelayan yang memang tidak melayani pelanggan. Satu-satunya yanh datang ke gedung bertingkat dua itu hanyalah dirinya.
"Ada yang bisa kami bantu, Señor?"
"Aku mencari cincin untuk kekasihku, aku akan melamarnya."
"Sebelah sini," tunjuk pelayan perempuan mengarahkan pada etalase di pinggir jendela, di sana hanya ada beberapa pasang cincin yang tersedia. Dia mengambil salah satunya. "Ini yang terbaru, dirancang oleh Aly Malohey dengan batu zamrud dari arab saudi."
Louis bahkan tidak tertarik untuk melihatnya, dia fokus pada cincin lain. "Berapa lama jika memesan di sini?"
"Tergantung tingkat kerumitannya, Señor. Anda ingin bicara dengan desainer kami?"
"Panggilkan dia."
Pelayan itu memberi isyarat pada temannya yang lain untuk memanggilkan atasan. Wibawa dan kharisma Louis tidak membuat mereka ragu untuk mengusik bos, diyakini Louis adalah pria kaya, apalagi dia datang dengan jas karya desainer ternama, dengan mobil sport yang mengkilapkan mata.
"Apakah anda suka batu ruby?"
"Aku lebih suka safir, calon istriku memiliki warna mata itu."
"Señor De La Mendoza?!" Tanya sang desainer yang menuruni tangga, dia merentangkan tangannya dengan mulut terbuka tidak percaya siapa yang mendatangi tokonya. "Lihat siapa yang datang? Pemilik Madrid? De La Mendoza Inc?"
Seketika para pelayan yang ada di sana ikut membuka mulut tidak percaya apa yang di dengar. Pelayan yang sebelumnya melayani Louis segera mundur, membiarkan kedua pria itu bersalaman. "Apa yang membawamu kemari, Señor?"
"Aku butuh cincin untuk melamar kekasihku, dibuat khusus untukku."
"Kau ingin duduk diruanganku?" Tawarnya menunjuk pada tangga, di mana di lantai dua adalah area milik Aly.
Louis menggeleng. "Aku harus pulang cepat, kita bicarakan di sini."
Aly tertawa. "Aku tidak percaya orang penting sepertimu akan menikah. Siapa wanita beruntung yang akan tidur di ranjangmu, Señor?"
"Kau punya batu safir?"
Aly mengisyaratkan pada pelayan di belakangnya untuk membawakan benda itu, sementara keduanya berbincang. Hanya terhalang etalase.
Aly mengeluarkan buku sketsa. "Cincin seperti apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin memilih batunya lebih dulu."
Tidak lama setelahnya seorang pelayan membawakan kotak hitam, begitu terbuka, begitu banyak batu safir. Satu yang menarik perhatian Louis, yaitu batu yang lebih besar dari yang lainnya, dengan warna yang lebih gelap.
"Aku ingin dia mengenakan batu ini," ucapnya memegang batu indah berwarna biru langit malam.
Aly terkekeh. "Yang itu cukup mahal, aku membawanya dari Swedia. Langka sekali."
"Kau tahu uangku banyak."
Kembali, Aly tertawa dibuatnya. "Anda bisa memilikinya, Señor Louis. Bagaimana dengam bagian cincinnya?"
"Disekitar batu besar ini, simpan beberapa berlian berwarna bening. Untuk bulatan cincin, aku ingin terdapat ukiran nama."
"Namamu? Atau mempelai wanitamu?"
"Buat saja ukiran dengan nama De La Mendoza."
"Oke." Aly mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Louis. "Apa lagi yang kau inginkan, Señor?"
"Aku ingin buka lavender, rose putih dan juga anggrek merah muda. Buat dalam satu buket, dengan tali emas. Kirim bersamaan dengan cincin safir itu."
"Bagaimana dengan mobil biru? Lamborghini baru saja mengeluarkan yang baru," saran Aly.
"Tidak, wanitaku pendek, dia tidak bisa mengemudi."
***
Sebuah mobil yang membut Lucia mengerutkan kening, dia melangkah dengan Louisa di pangkuannya, anaknya tertidur setelah seharian bermain di luar. "Apa Louis sudah kembali?"
"Ya, Tuan kembali satu jam yang lalu."
"Dimana dia sekarang?" Tanyanya kembali pada Andrean.
"Di kamarnya, aku rasa. Apa kau butuh bantuan?" Menawarkan karena melihat Lucia kesulitan membawa putrinya.
Perempuan itu menggeleng. "Dia kelelahan dan kekenyangan setelah makan malam. Aku ke atas," ucapnya berjalan cepat.
Andrean membantu Lina yang membawa barang-barang yang dibeli Louisa.
Yang membuat Lucia khawatir adalah kemarahan Louis, kiranya pria itu tidak membalas pesan karena marah tidak memasukan Louisa ke camp. Segera setelah membaringkan Louisa, pemilik kanik biru bergegas menuju kamar Louis. Tidak seperti dugaannya, dia melihat pria itu tertidur.
Membuat Lucia lega, hingga membuatnya tidak ragu untuk membuka pakaiannya di walk in closet. Cuaca yang panas, Lucia memilih memakai tanktop tali berwarna putih dengan rok pendek berbahan kaos yang membuatnya merasa sejuk.
Dalam kegiatannya mengganti baju, Lucia mengerutkan kening tahu Louis masih memakai jas dan sepatu yang lengkap. Dia segera mendekat, membuka sepatu dan kaos kaki pria yang tidur terlentang itu. Sebelum membuka jas, Lucia menatap bisu pada wajah tampan Louis. Hidung yang mancung, rahang kokoh ditumbuhi bulu dan rambut hitam legam. Bibirnya agak bergelombang, membuat Lucia kembali mengingat apa yang selalu diperbuay bagian tubuh itu padanya.
Menepis pikiran jorok, Lucia perlahan membuka jas Louis dengan penuh ke hati-hatian, hingga membutuhkan waktu lebih dari lima menit. Ketika Louis bergumam dalam tidurnya, Lucia berhenti sejenak dengan keringat yang membasahi keningnya.
Lucia juga membuka dasi yang masih rapi. Merasa cukup mengganggu tidur Louis, perempuan itu menyudahinya. Setidaknya celana panjang dan kemeja lebih baik daripada pakaian lengkap.
Menemani Louis, dia naik ke atas ranjang. Menyelimuti kaki keduanya dengan selimut tipis. Untuk sesaat, Lucia memiringkan tubuh, menyangga kepala dengan tangan supaya dia bisa memperhatikan Louis.
Pria itu mengerutkan kening dalam, dengan keringat membasahi wajah dan leher. Membuat Lucia khawatir, dia mengelap keringat itu dengan tissue di nakas. "Apa yang kau mimpikan?"
Dan kegundahan dalam tidurnya semakin jelas, Louis mengigau. "Maaf, Mama.. Maaf,.... Ampuni Louis…."
"Señor… bangunlah, kau bermimpi."
"Ampun……"
"Louis, tenang." Lucia mendudukan dirinya, tangannya menggoncang agar Louis terbangun.
Dalam tidurnya, pria itu terlihat menahan rasa sakit. Dan ketika mata hitamnya terbuka, dia menghirup udara di sekitar dengan seketika. Bergerak cepat mengambil senjata dari laci yang mana membuat Lucia ketakutan. Ketika Louis menginjakan kaki di lantai, pria itu terjatuh, dengan suara napasnya yang terlihat kesulitan.
"Louis… louis… tenanglah, itu hanya mimpi, tenang hei, lihat aku."
Wajahnya yang penuh keringat menatap ke arah pintu dengan deru napas kuat. "Aku harus membunuhnya."
"Louis… tidak." Tangannya menahan saat pria itu hendak kembali berdiri, dia merangkup wajah pria itu, memaksanya untuk menatap. "Lihat aku, lihat aku, itu semua hanya mimpi, Louis, tidak ada yang harus kau bunuh, itu semua hanya mimpi. Tenanglah, tenanglah."
Bukannya tenang, tangan Louis malah mengepal kuat, dia memejamkan matanya. "Menyingkir, Lucia, atau dirimu akan tertembak."
"Tidak, Louis, tenanglah, itu hanya mimpi."
"Pergi, Lucia."
"Tidak," ucapnya memeluk Louis seketika, yang mena membuat pria itu terlihat semakin kesulitan bernapas. Dia mencoba melepaskan pelukan Lucia, tapi perempuan itu kokoh pada pendiriannya. "Tidak ada yang harus kau bunuh, itu hanya mimpi, hanya mimpi, Louis. Kendalikan dirimu, tenanglah…."
Dan akhirnya, pria itu bisa membuang napas, senjata api di tangannya dia lepaskan. Dengan tangan bergetar, dia membalas pelukan Lucia. Ketenangan semakin dia dapatkan ketika tangan itu mengelus punggungnya. "Tenanglah, itu hanya mimpi. Tidak ada yang harus kau sakiti."
Louis menenggelamkan kepalanya di dada Lucia, perempuan itu duduk di pangkuannya. Ketenangan semakin dia dapatkan, keringat tidak lagi keluar membasahi tubuhnya.
"Jangan tinggalkan aku, Lucia…."
"Tidak, aku di sini."
"Don't leave me, don't leave me alone. Stay here, i need you."
----
Dia punya kelemahan...
Love,
ig : @Alzena2108