Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Honeymoon
"Kalau begini terus kayaknya papa bakalan cepat dapat cucu, ma."Ujar Wicaksono yang nampak sangat senang saat melihat keberasamaan yang terjadi di antara Bintang dan juga Damian. Keraguan yang awalnya meliputi pria itu kini benar benar sudah sirna, apalagi saat melihat Damian yang sepertinya nampak sangat menyayangi istrinya itu.
"Semoga saja pa, memangnya papa beneran udah nggak sabar buat nimang cucu ya?"Tanya Raisa, dia terlihat ikut senang saat melihat suaminya itu bahagia.
"Tentu saja, aku sangat penasaran dengan bagaimana rasanya menjadi kakek."Jawabnya dengan nada pelan.
"Wah, kalau begitu Ken juga akan menjadi paman dong."Celetuk Ken dengan nada pelan, meskipun Damian tidak pernah menerima keberadaannya tapi dia sangat meyayangi pria itu dan berharap jika suatu saat Damian akan mulai menerimanya.
"Kamu juga sesenang itu?"Tanya Raisa dengan raut wajah yang bahagia.
"Tentu saja, pasti nanti anaknya kak Bintang sama kak Damian sangat cantik dan tampan! Aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan mereka."Ujar Ken dengan mata yang berbinar.
"Papa juga."Wicaksono menimpali.
"Doain ya pa, soalnya kita lagi usaha buat juga."Ujar Damian, dia menggandeng Bintang dengan rambutnya yang masih basah begitu juga dengan Bintang.
"Pagi pagi udah basah aja rambut pengantin baru, nggak tidur lebih lama?"Tanya Wicaksono dengan ramah. Dahulu dia terdengar dingin bahkan itu yang sering Bintang dengar dari keluarga Bramono, tapi setelah bercakap cakap dengannya selama satu hari ini Bintang malah merasa jika pria itu sama sekali tidak dingin.
"Nanti deh pa, Damian lagi banyak kerjaan di kantor."Ujar Damian, selama ayahnya belum pensiun dia masih menjabat sebagai wakil CEO yang kerjanya jelas lebih banyak dari pada sang ayah.
"Papa udah ambilin cuti buat kamu dan udah pesanin tiket juga, besok kalian honeymoon ya."Ujar Wicaksono dengan nada santainya tapi hal itu tentunya membuat Bintang merasa terkejut karna sebelumnya dia belum pernah keluar dari kota ini apalagi dengan pria yang jelas jelas tidak menyukainya.
"Bagaimana jika nanti aku di bu*uh dan di muti*asi oleh Damian?" Batin Bintang, membayangkannya saja sudah membuat gadis itu bergidik ngeri di buatnya.
Sementara Bintang yang terkejut, Damian malah melebarkan senyumannya saat mendengar keputusan sang ayah. Ini adalah kesempatan yang amat bagus, jika dia berdalih liburan dan berbalik mencari Lidya maka sang ayah pasti tidak akan curiga sama sekali dengannya.
"Oh ya pa? Kemana?"Tanya Damian dengan nada penasaran, dia manarik kursi dan tersenyum kepada Bintang agar terlihat romantis di depan Raisa dan juga Wicaksono.
"Ke Korea, China,Eropa. Kalian akan jalan jalan selama dua minggu penuh."Ujar Wicaksono, dia terlihat jauh lebih bersemangat dari pada Damian dan juga Bintang.
"Oh ya? Bagus dong kalo gitu, iya nggak sayang?"Tanya Damian, dia merangkul bahu Bintang dan tersenyum kaku ke arah gadis itu.
*'Sayang?'*Ingin sekali Bintang muntah saat mendengar kata kata yang sangat berbanding terbalik dengan kejahatan Damian kepadanya selama beberapa hari ini.
"Haha iya sayang."Balas Bintang dengan nada pelan.
"Kalau begitu usaha yang banyak ya? Papa mau segera punya cucu."Ujar Wicaksono dengan senyum yang tidak bisa dia tahan lagi. Dia benar benar bahagia dengan pernikahan ini, dia hanya merasa jika Bintang adalah orang yang paling tepat untuk menangani Damian saat ini.
"Tentu saja pa, papa nggak usah khawatir. Nanti Damian bawain cucu yang lucu lucu buat papa."Balas Damian dengan nada yang setengah bercanda, setelah mengatakan itu hanya terdengar gelak tawa yang keluar dari bibir Wicaksono.
"Udah udah, ayo sarapan."Ajak Raisa, yang kemudian langsung di iyakan oleh semua anggota keluarga termasuk Bintang yang merasa sangat berterima kasih kepada Raisa yang akhirnya mampu menghentikan percakapan gila ini.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan saat akhirnya Damian dan Bintang meninggalkan meja makan, keduanya berpamitan untuk pulang dengan dalih perlu mempersiapkan diri sebelum berangkat menuju ke negara negara yang akan di kunjungi oleh mereka berdua.
"Mama kok ngerasa ada yang aneh ya pa."Raisa mencoba untuk membuka pembicaraan di antara dia dan juga Wicaksono, sementara Ken terlihat sudah meninggalkan meja makan untuk bersekolah sejak beberapa saat yang lalu.
"Aneh apanya, ma?"Tanya Wicaksono penasaran.
"Nggak, kayaknya Damian berubah terlalu cepat padahal hari itu dia menolak pernikahan ini."Ujar Raisa, dia ingat dengan jelas bagaimana Damian yang menolak pernikahan dadakan itu tapi sikap pria itu sekarang seolah olah Bintang adalah orang yang benar benar ingin dia nikahi.
Mendengar keraguan yang terlontar dari bibir Raisa, tentu saja Wicaksono langsung merasakan hal yang sama. Pria itu memangku dagunya dengan kedua tangan sembari memikirkan sesuatu.
"Kalau gitu gimana kalo kita juga ikut honeymoon, biar kita bisa pastiin mereka bener bener bikin anak."Ujar Wicaksono, dia tiba tiba saja memikirkan rencana licik untuk memastikan keduanya tetap bersama.
"Ide bagus ini pa, sekalian honeymoon kedua. Mana tahu nanti Ken dapat adek."Ujar Raisa, dia nampaknya cukup menyukai rencana yang di buat oleh Wicaksono.
"Kalau begitu ayo kita siap siap!"Ajak Wicaksono, keduanya pun langsung kembali ke kamar mereka untuk ikut mempersiapkan barang yang akan di bawa oleh keduanya.
Sementara itu di perjalanan pulang baik Damian maupun Bintang nampak hanya diam tanpa berniat untuk saling berbicara satu sama lainnya. Damian yang nampak sibuk dengan jalanan sementara Bintang hanya diam dan mengamati jalanan yang cukup sibuk pagi itu.
"Nggak usah kepedean ya kamu, aku nerima honeymoon yang di saranin papa karna mau cari Lidya. Nanti sampe China kamu sendirian yang liburan, aku bakalan balik ke Indo buat cari Lidya."Ucap Damian yang membelah keheningan di antara keduanya, dia tidak ingin Bintang salah paham dengan tujuan dia sebenarnya.
"Iya tuan, saya tahu kok."Balas Bintang, lagi pula sejak awal dia memang tidak berharap banyak dari Damian. Jika yang di katakan oleh Damian memang benar, setidaknya dia akan menghabiskan dua minggu dengan bersenang senang tanpa ada tekanan dari Damian maupun keluarga Bramono.
"Bagus kalo kamu tahu."Ujar Damian. Dia menatap Bintang sesaat, kemudian mengerutkan alisnya bingung. Dia kira gadis itu akan melakukan berbagai cara agar mereka bisa pergi honeymoon berdua dan mungkin dia juga akan melakukan segala macam hal agar dia bisa mengandung anak Damian dengan harapan ingin mewaris hartanya. Tapi gadis ini tidak seperti yang dia kira bahkan dia sama sekali tidak menampakkan ambisi yang sebelumnya di katakan oleh Widya.
Merasa jika hatinya mulai terketuk, Damian pun langsung menggelengkan kepalanya. Berusaha keras untuk menolak hatinya yang mulai berpikir baik tentang Bintang.
'Nggak nggak! Aku harus tetap sadar, bisa saja ini hanyalah bagian dari rencananya.' Ujar Damian di dalam hatinya, dia sama sekali tidak ingin mengakui jika saat ini Bintang sama sekali tidak seperti yang di katakan oleh Widya sebelumnya.