Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengatasi Gangguan
Raungan gelisah itu terus membuat Rosa bergerak-gerak dari gendongan bibi. Rasa panas di tubuhnya membuatnya tak berhenti menangis.
Bibi mengayunkan pelan berharap tangisan Rosa reda, dia berusaha memanggil Asep untuk keluar dari kamarnya dan menyalakan mobil untuk kerumah sakit.
"Iya-iya, sebentar ya sayang. Nenek akan membawamu ke rumah sakit."
"Asep! Sep! Sep! Buka pintunya! Sep!" Tapi panggilan bibi tertelan oleh suara angin bercampur hujan yang turun dengan deras.
Melihat tidak ada jalan lain dan hampir 30 menit menunggu. Bibi akhirnya beranjak dari sana membawa Rosa yang terus-menerus menangis dalam gendongan nya. "Iya sayang, kita akan segera pergi."
Bibi memilih memanggil taksi langkahnya tergesa-gesa menuju pintu. Matanya juga tidak melihat kehadiran Alina yang sebelumnya berada di ujung tangga tadi.
"Nenek akan membawamu, kau akan baik-baik saja Rosa." Dengan cepat tangannya membuka pintu. Tapi......
"Aghh!" Bibi dikejutkan dengan sosok pria yang seperti bayangan saat guntur berkilat.
"Astaga!" Bibi langsung mendekap erat Rosa yang juga terkejut dan semakin menangis kencang.
"Maaf, aku dokter yang dipanggil karena keadaan darurat." Jelas pria itu dengan wajah yang dihiasi hujan dan tangannya yang basah mencoba memperbaiki pakaian nya. Bibi terdiam sejenak sambil berpikir, namun tangisan Rosa membuat bibi segara membawa dokter itu masuk. Hembusan angin yang menggapai bibi, langsung berhenti saat pintu tertutup.
"Bagaimana dokter?" Tanya bibi dengan cemas. Baby Rosa dibaringkan di ranjang dengan tubuh yang terus bergerak-gerak seperti ulat.
"Sudah berapa lama demamnya?" Tanya dokter sambil memeriksa bayi cantik itu.
"Baru saja dok. Tengah malam ini, sebelumnya dia baik-baik saja. Tapi mendadak tubuhnya panas." Jelas bibi membuat dokter itu mengangguk.
"Dia meminum ASI eksklusif kan?" Bibi langsung terdiam beberapa saat, dan membuat dokter itu mengerti sesuatu.
"Orang tua bayinya, dimana?" Tanya dokter kembali.
"Tidak ada dokter, aku yang mengurus nya. Apa dia akan baik-baik saja? Dia terus menangis dengan suhu tubuh yang panas." Gurat cemas belum hilang dari wajahnya.
"Dia sudah ditangani dengan cepat, untuk selanjutnya kita harus mengompresnya dengan air hangat. Menjaga suhu ruangan agar tidak terlalu panas atau dingin, Memberikan pakaian dengan bahan yang mudah menyerap keringat, tidak terlalu tebal, dan nyaman digunakan olehnya. Jangan berikan pakaian atau selimut yang berlapis agar demamnya cepat turun. Dan setelah itu suhunya akan kembali normal." Bibi mengangguk mendengar penjelasan dokter.
"Terimakasih Dok." Bibirnya tersenyum kecil, ada keajaiban saat dia sudah di tahap yang sulit.
"Sama-sama. Semoga bayi cantik ini cepat sembuh."
"Rosa, namanya Rosa."
"Cantik, seperti wajahnya." puji dokter menatap baby Rosa yang berusia 6 bulan itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Keesokkan harinya, bibi melihat Alina yang bersiap berangkat menuju kantor nya. "Nona!" Cegat bibi segera.
"Ada apa bi?" Tanya Alina sambil memperbaiki posisi jam tangan nya.
"Terimakasih, karena nona.... Demamnya Rosa sudah turun." Ujar bibi. Tidak ada balasan dari Alina, dia melanjutkan langkahnya menarik gagang pintu.
"Bibi tau, nona yang memanggil dokter." Lanjut bibi menatap punggung Alina dengan blazer putih dan dipadukan celana putih yang cocok dengan postur tubuh Alina.
"Tidak, aku hanya ingin mengatasi masalah yang membuat telinga ku terganggu karena tangisannya. Aku pergi." Bibi hanya menatap kepergian Alina dengan tarikan napas.
Bersambung......
Hai reader, boleh berikan komentar dan juga ulasan bintang 🌟 lima nya agar author semakin semangat untuk menulis novel ini. Terimakasih banyak 🥰🙏🙏