Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
"Jel, kamu kenapa?" teriak Dinda bingung.
"Tidak apa-apa, mungkin hanya kurang tidur," balas Jelita dengan nada berteriak mencoba tetap terlihat biasa saja sambil terus melangkah.
"Kenapa? Jelita jadi aneh," bisik Ira pada Dinda dan hanya dibalas gelengan kepala oleh Dinda yang juga tidak tahu apa yang terjadi.
Wajah Jelita terasa panas karena malu. "Ini tidak nyata! Ini pasti halusinasi akibat stres!" batin Jelita mencoba menepis semuanya, meski hawa dingin yang terus menempel di punggungnya berkata sebaliknya.
"Kau berlari terlalu cepat, sayang. Hati-hati, aku tidak ingin kulit mulusmu ini terluka," bisik suara Arjuna yang terdengar menggema di sisi telinganya.
Sesampainya di toilet, Jelita langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya sambil terengah-engah. "Pergi... kumohon pergilah," isak Jelita pelan.
"Kenapa kau mengusirku? Aku baru saja mulai menikmati kedekatan kita," sahut sebuah suara dari arah depan.
Jelita mendongak dan menemukan Arjuna sedang berdiri dengan gagah di hadapannya. Arjuna melipat kedua tangannya di depan dada, sementara itu ia terus menatap Jelita dengan begitu intens.
"Apa maumu sebenarnya?! Kamu sudah membuatku malu di kampus!" teriak Jelita dengan sisa keberaniannya.
Arjuna mendekat dengan gerakan perlahan yang sangat anggun namun mengancam. Ia mengurung Jelita di antara tubuhnya. "Aku hanya ingin kau menepati janjimu, Jelita. Kau pikir kau bisa menantang sosok sepertiku lalu pergi begitu saja? Kau salah besar."
Tangan Arjuna yang pucat kini mulai bergerak nakal, menelusuri garis leher Jelita. "Semakin kau menolakku, semakin aku ingin memilikimu sepenuhnya."
Jelita merasakan tubuhnya melemas. "Jika aku kembali ke gedung itu... apa kamu akan berhenti menggangguku di kampus?" tanya Jelita parau.
Arjuna tersenyum miring. Ia menempelkan keningnya pada kening Jelita.
Cup!
"Kembalilah malam ini. Sendirian. Jika kau datang, aku akan menahan diriku di depan teman-temanmu," Ia mengecup sudut bibir Jelita dengan lembut. "Tapi jika kau ingkar lagi... aku akan menunjukkan pada semua orang siapa pemilikmu yang sebenarnya."
Arjuna menghilang bersama hembusan angin dingin, meninggalkan Jelita yang terduduk lemas. Di pergelangan tangannya, kini muncul sebuah gelang hitam kuno—tanda perjanjian yang tidak bisa dilepaskan.
"Brengsek! Kenapa dia selalu berbuat mesum!" geram Jelita sambil menatap gelang itu dengan putus asa.
Jelita kembali ke kelas dengan langkah lesu, seakan ia telah kehilangan seluruh tenaganya. Wajahnya yang biasa tegas kini tampak pucat dan kuyu. Begitu ia duduk, Ira dan Dinda langsung mengerumuninya, siap untuk menginterogasi sahabat mereka itu.
"Jel! Kamu kenapa? Tiba-tiba teriak seperti orang kesurupan," tanya Ira dengan nada cemas sekaligus penasaran.
Jelita hanya terdiam, jemarinya tanpa sadar mengusap gelang hitam kuno yang melingkar di pergelangan tangannya, berusaha menyembunyikannya di balik lengan kemeja.
"Apa mungkin kamu diikuti makhluk dari gedung tua itu?" ujar Dinda sambil menyipitkan mata, mencoba mencari jawaban dari ekspresi Jelita.
Jelita tersentak, namun ia segera menggeleng cepat. "Jangan konyol. Aku cuma kurang tidur dan terlalu stres karena tugas Pak Broto. Sudah, jangan dibahas lagi."
Meskipun mulutnya berkata demikian, Jelita tahu bahwa malam nanti, ia harus kembali ke tempat angker itu sendirian.
Sementara itu, Ira dan Dinda menatap Jelita dengan penuh curiga. Mereka saling bertukar pandang, merasa ada yang tidak beres dengan sikap sahabat mereka yang biasanya sangat logis itu.
"Sebaiknya kita ikuti Jelita diam-diam saat pulang nanti," usul Ira dengan berbisik pada Dinda agar tidak terdengar oleh Jelita.
"Benar! Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Jelita. Kita harus mencari tahunya diam-diam," balas Dinda, juga dengan suara berbisik yang sangat pelan.
Kini mereka berdua telah sepakat untuk membuntuti Jelita. Sebagai duo pencari sensasi, rasa penasaran mereka sudah mencapai puncaknya. Mereka tidak akan membiarkan rahasia apa pun yang disimpan Jelita lolos begitu saja dari pengawasan mereka.